Merayakan Pesta Demokrasi Bersama Keluarga Cendana

Oleh: Husein Abdulsalam - 19 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Prabowo-Sandiaga dan Partai Berkarya kalah di TPS Cendana.
tirto.id - Sigit Harjojudanto menyesap sebatang rokok sambil menyisir nama-nama yang terpampang dalam daftar calon anggota legislatif Pemilihan Umum 2019 yang dipajang di depan TPS 02 Gondangdia, Rabu kemarin (17/4). Waktu itu pukul 07:25, Sigit menengok saya yang berdiri di sampingnya.

Saya berkata, "Kira-kira pilih mana?"

Sigit menjawab singkat, "Rahasia." Lalu, dia menengok daftar nama itu lagi.

Tidak lama kemudian, dia duduk di kursi antre yang tersedia di luar TPS. Tidak ada kursi kosong tersisa di dalam TPS.

Duduk di luar TPS membuat Sigit lebih leluasa bertemu warga yang berencana menunaikan hak pilihnya. Sekitar pukul 07:40, seorang perempuan berbaju putih menyapanya.

"Pak Sigit," kata perempuan itu. Perempuan itu tak lain adiknya sendiri, Siti Hutami Endang Adiningsih. Hutami biasa dipanggil Mamiek.

Sigit dan Mamiek adalah dua dari enam anak Presiden Soeharto, keluarga yang pernah paling berkuasa di Indonesia. Sigit anak kedua, sementara Mamiek anak keenam.


Nyoblos di TPS Cendana

TPS 02 Gondangdia terletak di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Lokasinya di dekat kawasan rumah keluarga Soeharto dan anak-anaknya. Tidak heran bila TPS ini disebut "TPS Cendana."

Selain Sigit dan Mamiek, tiga anak dan sejumlah cucu Soeharto menggunakan hak pilihnya di TPS tersebut.

Si sulung, Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana alias Tutut tiba di TPS pada pukul 09:15. Hutomo Mandala Putra alias Tommy, anak kelima Soeharto, datang 45 menit setelahnya. Siti Hediati Hariyadi alias Titiek tiba belakangan, sekitar satu jam setelah Tommy.

Sejak 20 tahun lalu, ayah mereka tak lagi memegang jabatan presiden, tetapi mereka berusaha betul mengabadikan kiprahnya, termasuk lewat jalan politik.

Menjelang Pemilu 2004, Tutut mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), sedangkan Tommy mencalonkan diri sebagai ketua umum Golkar lewat Musyawarah Nasional partai itu pada 2009.

Pada 2016, Tommy diangkat sebagai ketua Dewan Pembina Partai Berkarya. Kemudian, dia didapuk sebagai ketua umum partai itu. Partai ini merupakan salah satu peserta Pemilu 2019.


Dalam pelbagai kesempatan, Berkarya tidak segan mengampanyekan slogan "Piye, Enak zamanku, to?" yang sudah muncul sejak lima tahun terakhir. Slogan ini dapat dipahami sebagai ajakan kepada pembacanya untuk bernostalgia, membayangkan nikmatnya hidup di era Soeharto.

Pada Juli 2018, Ketua DPP Berkarya Baddarudin Andi Picunang mengumumkan semua keluarga Cendana menjadi kader Berkarya. Pengumuman ini disertai foto enam anak Soeharto berdiri berjajar sambil menunjukkan salam jari tujuh, nomor urut Berkarya. Mereka berpose di depan foto Soeharto dan Siti Hartinah.

Tommy menjadi calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Papua. Titiek menjadi caleg Berkarya dari dapil DI Yogyakarta.

Pada Pilpres 2019, Berkarya merapat ke kubu Prabowo-Sandiaga. Prabowo adalah mantan suami Titiek. Menikah pada 1983, keduanya bercerai pada 1998. Namun, setiap Prabowo mencalonkan diri sebagai kandidat di Pilpres (2009, 2014, dan 2019), Prabowo dan Titiek tampil mesra.


Infografik HL Indepth Partai Berkarya
undefined

Kandas di Kandang Sendiri

Selain fakta Keluarga Cendana mencoblos di sini, tidak ada lagi yang spesial dari TPS 02 Gondangdia. Bentuk TPS sederhana saja. Atapnya adalah tenda pesta. TPS tidak dihias. Para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mengenakan kemeja batik.

Siang hari, udara panas sekali. Hanya ada satu kipas angin yang melayani para pemilih di TPS.

Di TPS ini tidak tampak simpatisan partai, paslon, atau penggemar Keluarga Cendana yang secara militan menunjukkan dukungannya.

Situasi itu berbeda dari TPS 041 Bojong Koneng tempat Prabowo mencoblos, yang diramaikan teriakan "emak-emak". Atau, TPS 13 Petogogan tempat Agus Harimurti Yudhoyono yang dijejali sejumlah warga berburu swafoto bersama anak pertama presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Lima anak Soeharto yang mencoblos di TPS ini tak banyak cakap. Kepada para wartawan, mereka berbicara seadanya.

Hiburan satu-satunya di TPS ini, mungkin, saat penghitungan suara. Salah satu petugas KPPS, yang bertugas melihat lubang coblosan, kerap menceletuk "Udah, udah" saat lubang coblosan berada di kotak PSI. Ia juga menceletuk "Es Teler 77" saat lubang coblosan ke caleg nomor urut 7 partai nomor 7 alias Berkarya.

Sunyi. Mungkin kata itu cocok menggambarkan suasana pemungutan suara di TPS Cendana.


Meski demikian, tingkat partisipasi pemilih di TPS ini tergolong tinggi. Sebanyak 224 dari 288 Daftar Pemilih Tetap TPS 02 Gondangdia menggunakan hak pilihnya.

Prabowo-Sandiaga memperoleh 75 suara. Jumlahnya hampir separuh dari raihan suara Jokowi-Ma'ruf yang memperoleh 147 suara.

Pada Pemilihan Anggota DPR, Berkarya memperoleh 39 suara. Angka itu sedikit lebih kecil daripada raihan PSI (40 suara). Partai yang juara di TPS Cendana adalah PDI Perjuangan (49 suara).

Paslon dan partai usungan Keluarga Cendana tak hanya keok di TPS Cendana. Menurut penghitungan cepat, suara Prabowo-Sandiaga lebih kecil daripada Jokowi-Ma'ruf. Sedangkan perolehan suara Berkarya di bawah ambang batas parlemen yang ditetapkan 4 persen.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Maulida Sri Handayani