Advertorial

Merayakan Daya Juang UMKM di Indonesia dengan #TerusUsaha

Oleh: Advertorial - 15 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Meski sudah terbukti menjadi tulang punggung perekonomian, perkembangan UMKM nyatanya tak lepas dari banyak aral.
tirto.id - Siapakah yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, bahkan di kala krisis sekalipun? Jika jawabanmu adalah korporasi besar dengan pegawai ribuan orang, atau perusahaan multi nasional, maka salah besar. Yang jadi tulang punggung nan kokoh dari perekonomian Indonesia adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Laporan dari Kementerian Koperasi dan UKM (2018) menyebut bahwa UMKM berjumlah total 64,2 juta unit atau 99,99 persen dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia. Sisanya, perusahaan besar, hanya 5.550 unit alias 0,01 persen. Gabungan UMKM di seluruh Indonesia ini menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan berkontribusi sekitar 61,07 persen dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Sedangkan dari laporan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia dan Bank Indonesia, disebutkan bahwa 96 persen UMKM berhasil selamat dari banyak krisis yang menumbangkan perusahaan-perusahaan besar. Ini termasuk krisis moneter yang membuat banyak perusahaan raksasa hancur lebur.

Meski sudah terbukti menjadi tulang punggung perekonomian, perkembangan UMKM juga nyatanya tak lepas dari banyak aral. Salah satunya ketika datang krisis berupa pandemi yang membuat perekonomian dunia tiarap. Protokol keamanan yang mengimbau orang-orang untuk tidak berkerumun dan menjaga jarak, membuat banyak pembeli mengalihkan transaksi via daring, alias online. Menurut hasil survei MarkPlus Inc, transaksi online perdagangan ritel melonjak 6 kali lipat selama pandemi.

Masalahnya, tak semua UMKM melek industri digital. Mereka yang tak bisa beradaptasi dengan pendekatan digital akan tergulung, kehilangan pendapatan dan terpaksa menutup tirai. Bahkan bagi yang paham dunia digital dan selama ini sudah melakukannya pun tak punya jaminan bakal selamat dari krisis global ini. Mereka tetap harus kreatif dan inovatif agar tak kalah saing.

“COVID-19 memiliki dampak signifikan bagi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat Indonesia,” ujar Airlangga Hartanto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

“Untuk itu dibutuhkan kerja sama yang solid dan partisipasi dari seluruh elemen bangsa ini untuk bergerak maju dan bangkit sebagai kesaktuan. Sektor swasta juga dapat memainkan peran penting dalam mendukung pemulihan ekonomi,” imbuhnya.

Membangkitkan Ekonomi Lewat Digitalisasi

Grab Indonesia adalah salah satu perusahaan swasta yang mengambil peran penting dalam mendukung UMKM memulihkan perekonomian Indonesia lewat program kampanye #TerusUsaha. Dalam enam bulan ke depan, akan ada 5 (lima) beberapa inisiatif yang mereka lakukan.

Pertama adalah meningkatkan keterlihatan (visibility) dan permintaan UMKM. Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara memberikan ruang beriklan di media sosial dan saluran digital Grab. Iklan yang ditayangkan pada laman utama aplikasi Grab ini gratis. Selain itu, para UMKM ini juga akan didukung oleh influencer media sosial yang bekerja sama dengan Grab. Semua biaya dan sumber daya yang diperlukan UMKM untuk membuat materi pemasaran akan ditanggung oleh Grab.

Upaya kedua, memberikan pelatihan keterampilan dan pertumbuhan bagi bisnis kecil. Dengan program Upgrade Usaha Lokal, Grab akan memberikan serangkaian program berupa pelatihan dan peningkatan keterampilan. Seperti apa bentuknya? Grab bermitra dengan organisasi nirlaba Sahabat UMKM untuk menyeleksi beberapa usaha kecil di Indonesia. Peserta yang terpilih akan mengikuti program pelatihan gratis selama 2,5 bulan.

Di pelatihan itu, para pemilik usaha kecil, mikro, dan menengah akan mendapatkan materi seperti business assessment yang fokus pada topik legalitas, pemasaran, literasi keuangan, hingga daya saing produk; product review; juga konsultasi.

Pelatihan ini diisi oleh para ahli yang sudah terbukti berpengalaman dalam membangun bisnis dari kecil hingga jadi besar. Mereka, antara lain, pemilik Anomali Coffee Irvan Helmi, Garniasih yang merupakan pakar branding dari LAB.id dan juga pengajar dari DJKI Kemenkunham, juga Hendy Setiono, pemilik Kebab Baba Rafi.

Para pemilik usaha kecil dapat mendaftarkan diri di microsite www.grabforgood.id GrabForGood mulai 20 Juli 2020, sementara program pelatihan dimulai pada awal Agustus 2020. Bagi yang belum tahu, GrabForGood adalah microsite yang dibangun khusus untuk UMKM. Ia adalah ruang lapang bagi jutaan UMKM yang ingin belajar soal pengembangan bisnis, juga ingin menimba inspirasi dari kisah-kisah sukses dan ingin bergabung dengan ekosistem digital Grab.

Inisiatif yang dilakukan oleh Grab ini berangkat dari kepedulian bahwa 87 persen bisnis kecil di Indonesia masih bergerak di tataran offline. Karena itu, Grab merasa 87 persen pengusaha skala kecil ini harus belajar memanfaatkan teknologi dan melakukan digitalisasi.

“#TerusUsaha adalah bagian dari komitmen GrabForGood yang bertujuan memberikan akses teknologi, peningkatan keterampilan, dan layanan digital,” ujar Ridzki Kramadibrata, Presiden Grab Indonesia.

Inisiatif ketiga dari kampanye #Terus Usaha adalah mengajak masyarakat yang pendapatannya terdampak COVID-19 untuk bergabung sebagai agen individu GrabKios. Dengan menjadi agen GrabKios, mereka bisa menawarkan produk finansial dan digital, mulai dari pengiriman uang, pembelian asuransi mikro, hingga pembayaran tagihan dan pulsa.

Sedangkan inisiatif keempat adalah bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk digitalisasi usaha kecil dan tradisional. Upaya ini sudah berjalan di Makassar, Manado, juga Yogyakarta. Para penjual di pasar, UMKM lokal, mendapat berbagai manfaat dari bekerja sama dengan Grab. Mereka bisa mendapatkan biaya pengiriman khusus, harga khusus untuk jasa pengiriman melalui GrabExpress, hingga belanjaan bisa dijual lewat GrabAssistant.

Apa yang dilakukan Grab dalam memberdayakan pengusaha ini, juga apa yang dilakukan di kancah gig economy ternyata berdaya ekonomi besar. Dari riset yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics pada Januari 2020, ditemukan bahwa gig economy yang disokong oleh Grab memberikan peluang ekonomi bagi pekerja informal yang mencapai 56,5 persen dari total tenaga kerja Indonesia.

Selain itu, mitra merchant GrabFood dan agen GrabKios merasakan adanya peningkatan penjualan sebesar 35 persen dan 17 persen setelah bergabung dengan Grab. Sekitar 12 persen mitra GrabFood mengatakan mereka terinspirasi untuk memulai bisnis setelah bergabung dengan Grab. Secara total, gig economy dari Grab berkontribusi sekitar Rp77,4 triliun bagi ekonomi Indonesia 2019, meningkat 55 persen dari Rp48,9 triliun pada 2018. Selain itu, pada masa pandemi ini Grab berkomitmen membantu Rp260 miliar untuk memerangi penyebaran COVID-19 di Indonesia.

“Meski dihadang oleh ketidakpastian ekonomi, kami percaya bahwa kami dapat turut berperan dalam membangkitkan ekonomi Indonesia lewat digitalisasi UMKM melalui layanan seperti GrabFood, GrabKios, dan GrabMart, sembari menciptakan peluang ekonomi lainnya bagi jutaan wirausahawan mikro,” tutur Ridzki.

Inisiatif yang dilakukan oleh Grab guna membantu UMKM, sang tulang punggung perekonomian Indonesia, ini memberikan setitik ruang terang penuh harapan bagi perekonomian Indonesia. Saat ini, seperti apa yang pernah dibilang John F. Kennedy, menyalakan lilin akan selalu lebih baik ketimbang mengutuk kegelapan. Alih-alih mengutuk pandemi, lebih baik berinisiatif melakukan kegiatan-kegiatan produktif untuk mendukung ekonomi berjalan kembali.
DarkLight