Merawat Sepi dan Ingatan di Sinematek

Firdaus di ruang kerjanya. tirto.id/Bhaga
Oleh: Faisal Irfani - 11 April 2019
Dibaca Normal 5 menit
Menjaga film adalah menjaga ingatan.
“Sekalipun mereka dari pemerintahan, kalau minjamnya enggak sesuai persyaratan, saya enggak akan kasih,” tegas Firdaus dengan nada yang yakin. “Rol film enggak bisa keluar-masuk seenaknya, butuh perlakuan yang pas karena berhubungan dengan suhu dan temperatur udara. Sekali enggak tepat, bisa rusak.”

Firdaus merupakan pegawai yang bertugas untuk merawat rol film di Sinematek. Saat kalimat di atas meluncur dari mulutnya, ia tengah mengambil gulungan Ugetsu (1953), sebuah film Jepang yang disutradarai oleh Kenji Mizoguchi. Gulungan tersebut rencananya akan dipinjam Kedutaan Besar Jepang untuk keperluan pemutaran━sekaligus menjadi gulungan keenam yang dikeluarkan Firdaus dari ruang penyimpanan.

Bagi Firdaus, kerja-kerja semacam itu sudah dijalani selama hampir 20 tahun lebih. Saban hari, Firdaus rutin mengecek kelayakan rol film, memperbaikinya bila ada yang rusak, hingga memastikan bahwa semua kebutuhan penunjang untuk seluloid di dalamnya terpenuhi tanpa kurang━dan ia melakukannya di luar kepala.

Siang itu, saya dan Firdaus berada di ruang penyimpanan koleksi film Sinematek. Ruangan ini ukurannya tak terlalu luas, sekitar lima kali enam meter, dan sepintas mirip gudang di mana para karakter di film Reservoir Dogs (1992) garapan Quentin Tarantino saling menghabisi nyawa satu sama lain.




Udara di dalam ruangan begitu dingin, sekitar sembilan derajat celcius, demi menjaga seluloid agar tetap prima. Menurut pengakuan Firdaus, ada kurang lebih 700-an judul film dan ribuan rol yang tertata begitu rapi sesuai kategorisasi. Angka tersebut menjadikan ruang penyimpanan Sinematek terlihat sempit dan padat.

Masing-masing koleksi diletakan di rak yang tinggi dan memanjang ke belakang. Sebagian besar rol yang terdapat di tiap rak merupakan film-film lawas━kendati ada satu-dua yang tergolong baru rilis. Film tertua yakni Tie Pat Kai Kawin (1935), sementara yang berusia paling muda yaitu The Raid (2014).

Sembari mata saya mengamati deret film berstatus cult dengan seksama di baris rak, dari Max Havelaar (1976), Nusa Penida (1988), hingga Gema Kampus 66 (1988), Firdaus terus bercerita mengenai apa saja yang terdapat di ruang penyimpanan.

Beberapa koleksi film Jepang, misalnya, sengaja dititipkan ke Sinematek karena di sana tak ada tempat yang bisa menampung dan merawatnya. Firdaus juga berkata bahwa di eranya, rol film 16 mm menjadi simbol kelompok elite karena harga belinya yang kelewat mahal.

Proses Mencintai

Merawat rol film, Firdaus bilang, membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang ekstra. Proses ini tak boleh dilakukan sembarangan. Harus ada perhitungannya. Jika tidak, bisa jadi masa depan koleksi film tak lagi penuh kepastian.

Dalam satu hari, Firdaus dapat mengerjakan satu sampai dua judul film. Satu judul film memakan waktu proses perawatan selama setengah hari, asalkan kondisi fisik film tersebut masih prima. Tapi, kalau film sudah rusak, waktu yang diperlukan dapat lebih dari satu hari, minggu, bahkan berbulan-bulan.

“Karena di sini koleksinya adalah film-film lama, maka banyak gambar yang pecah,” ungkap Firdaus kepada Tirto seraya menghidupkan mesin proyektor seri X-1000 di ruang kerjanya.

Sinematex

Sinematex

Perawatan film di Sinematek terdiri dari dua aspek: pembersihan dan penyambungan pita seluloid. Untuk proses penyambungan, Firdaus menggunakan alat bernama splicer. Setelah berhasil disambung, Firdaus lantas membersihkannya dengan ethanol. Fungsinya, kata Firdaus, untuk menjauhkan seluloid dari serangan jamur, air, hingga goresan yang berpotensi merusak badan pita.

Setelah kedua proses tersebut selesai, gulungan rol akan dipasang di mesin penyunting yang tersedia untuk dilihat kembali hasil visualnya, apakah proses perawatan berhasil dijalani atau tidak. Di Sinematek sendiri terdapat sepasang mesin penyunting: Shinko, produksi Jepang dan dipakai untuk pita 35 mm serta Steenbeck, bikinan Jerman untuk ukuran 16 mm.


Dari sekian banyak film yang sudah ia rawat, ada satu film yang menurutnya paling sulit untuk diproses. Adalah Honey, Money and Djakarta Fair, film yang dibikin Misbach Yusa Biran pada 1970. Film Misbach ini, menurut Firdaus, ketika datang ke Sinematek sudah berada pada kondisi yang tak layak. Hampir seluruh bagian pita seluloid tak sempurna sehingga mengharuskan Firdaus untuk menambalnya━dan itu perlu waktu sampai beberapa bulan.

“Sempat saya lumayan stres gara-gara film ini. Bahkan, ketika sudah diperbaiki pun masih ada yang terlewat. Jadinya kembali lagi dari awal,” tuturnya seraya tertawa.

Sinematex

Sinematex

Tak semua film bisa ‘diselamatkan’ Firdaus, seperti yang menimpa film Misbach lainnya berjudul Di Balik Cahaya Gemerlapan (1966). Dan ketika hal itu terjadi, Firdaus hanya bisa pasrah━atau lebih tepatnya sedih. Karena bagi Firdaus, proses pembuatan film memerlukan usaha (dan modal) yang besar. Film jadi representasi gagasan sekaligus budaya manusia.

Menjaga Nyala

Budi Ismanto menyambut saya dengan ramah saat saya menginjakan kaki di kantor Sinematek di lantai 4 Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (9/4) kemarin. Sama seperti Firdaus, Budi telah bekerja di Sinematek selama lebih dari 20 tahun.

“Sekarang beda, ya, kondisinya. Sinematek enggak lagi sama seperti ketika almarhum Pak Misbach masih di sini. Mungkin apa, ya, sebutannya?” tanyanya kepada saya.

“Tertatih-tatih?” saya menimpali.

“Iya, seperti itu,” balas Budi.

Ucapan Budi tak sepenuhnya salah. Sinematek memang seperti mati segan hidup pun tak mau. Sebagai pusat arsip film nasional, kondisi Sinematek berbeda jauh jika dibandingkan, katakanlah, dua dekade silam.

Perbedaan tersebut saya dapatkan manakala Budi menyodorkan album foto yang merekam perjalanan Sinematek pada 1996. Waktu itu, Sinematek terlihat masih punya taji: pegawai yang banyak, gedung yang masih terawat, serta laboratorium restorasi yang menjaga film agar tetap abadi.

Sekarang, pemandangan ini nyaris tak meninggalkan jejak. Hanya beberapa pegawai yang masih bertahan di dalam gedung yang tua, yang memancarkan kelelahan.

“Mungkin karena perkembangan zaman juga dan respons pemerintah yang belum maksimal ke kami. Selama ini, kami hanya mengandalkan yayasan dan hibah,” ucap Budi mengenai penyebab menurunnya kondisi Sinematek.


Dalam dunia film, Sinematek punya peran yang penting. Ia menjadi garda terdepan untuk pengarsipan segala hal yang berhubungan dengan film, mulai dari buku kajian, naskah skenario, peralatan teknis, sampai gulungan seluloid.

Sinematex

Peran tersebut terlihat jelas di Perancis. Pada 1936, Henri Langlois, seorang pegiat film, mendirikan Cinémathèque Française, institusi yang didedikasikan untuk melestarikan film-film lama dan membuatnya tersedia kembali untuk umum. Di sebuah gedung yang terletak di tepi Parc de Bercy, Paris, Langlois menjalankan kerja-kerjanya yang kelak punya sumbangsih besar untuk perkembangan sinema Perancis.

Selama pendudukan Nazi, misalnya, Langlois menyelundupkan film ke tempat yang aman agar tak dihancurkan oleh pasukan fasis Hitler. Setelah Nazi kolaps dan Perang Dunia II berakhir, film-film tersebut menjadi sumber inspirasi François Truffaut hingga Jean-Luc Godard yang kemudian menandai pembentukan gerakan sinema baru bernama Nouvelle Vague.

Atas kontribusinya tersebut, Langlois dan Cinémathèque Française menjadi pihak yang dihormati betul di industri film Perancis.

Saking dihormatinya, kala Langlois dipecat dari jabatannya sebagai Direktur Cinémathèque Française oleh Menteri Kebudayaan Perancis, André Malraux, pada Februari 1968, anak-anak muda yang dimotori oleh Truffaut, Godard, Alain Resnais, Claude Chabrol, hingga Eric Rohmer melakukan demonstrasi besar-besaran kepada pemerintah: memboikot Cannes serta mengancam menarik film mereka dari bioskop jika Langlois tidak segera dikembalikan ke posisi semula.

Di Perancis, Cinémathèque Française tak cuma jadi simbol budaya melainkan juga jadi ikon politik.

Sinematex

Sinematex

Di Indonesia sendiri kelahiran Sinematek tak bisa dilepaskan dari peran Misbach Yusa Biran, sutradara cum sastrawan kelahiran Rangkasbitung. Sinematek dibangun oleh Misbach pada 1975, bekerja sama dengan Asrul Sani, sutradara sekaligus Rektor LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta)━sekarang IKJ (Institut Kesenian Jakarta)━dan Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977.

Jalan terjal sudah menghadang Sinematek sejak awal. Yang paling kentara yaitu fakta bahwa Sinematek tak punya anggaran untuk operasional. Namun, Misbach terus bergerak. Ia rela mengurus semuanya tanpa dibayar hingga meninggalkan tawaran menulis skenario maupun membikin film yang jelas-jelas dapat menunjang penghidupannya agar Sinematek tetap berdiri.

Di tengah keterbatasan finansial, sumber daya manusia, serta skeptisisme masyarakat, Sinematek berupaya keras mendokumentasikan film-film 1920-an.

Dalam kepala Misbach, kerja-kerja pengarsipan semacam ini sangatlah penting. Ia tak ingin film, yang merupakan mahakarya pikiran manusia, lenyap begitu saja. Film adalah wajah budaya sekaligus bangsa dan, oleh karenanya, Misbach ingin senantiasa menjaganya.

Empat dekade setelah Sinematek berdiri, prinsip yang dibawa Misbach masih dipegang teguh oleh Budi maupun Firdaus. Sama seperti Misbach, keduanya tak peduli jika bekerja di Sinematek sama artinya dengan keterbatasan.

Mereka juga tak ambil pusing bila bekerja di Sinematek adalah melawan kesepian, bertungkus lumus dengan sisa-sisa kejayaan (sinema) yang coba dipertahankan, hingga apresiasi yang tak seberapa. Bagi keduanya, bekerja dan mengabdi di Sinematek adalah tentang keteguhan hati. Karena untuk mereka, merawat film adalah merawat ingatan.

Baca juga artikel terkait PERFILMAN INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
Fotografer: Bhagavad Gita
DarkLight