Merawat Ingatan Sejarah Tionghoa Indonesia Lewat Liukan Barongsai

Oleh: Mohammad Bernie - 25 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Ronald sempat berhenti bermain barongsai pasca 1965 hingga keruntuhan orde baru pada 1998.
tirto.id - Alunan simbal dan tabuhan tambur menghentak mencuri perhatian. Barongsai kuning melompat ke tiang dan dengan lincah berlari ke tiang lain di depannya.

Sesekali pemain belakang mengangkat pemain depan, kepala barongsai lalu digerak-gerakan ke hadapan penonton. Tepuk tangan bergemuruh, di antaranya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Barongsai terus melompat dari tiang ke tiang, sesekali berhenti dan menoleh ke sekeliling seraya mengedip genit. Dalam satu gerakan yang lincah barongsai melompat ke tiang di depannya dan kembali mendarat ke tanah.

Sejumlah barongsai lainnya datang menyusul dan menari bersama lalu membentangkan spanduk bertuliskan "Dirgahayu Republik Indonesia". Atraksi barongsai itu digelar di upacara penurunan bendera dalam rangka HUT RI ke-65 pada 17 Agustus 2010.

Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, Ketua Tim Barongsai Kong Ha Hong Ronald Syarif masih bisa mengingat antusiasme hingga kerepotan yang ia alami pada momen itu. Dia bercerita, timnya hendak tampil menggunakan tiang tapi di sisi lain mereka ternyata harus tampil bergantian dengan tim kesenian lain.

Untuk mengakali itu akhirnya Ronald memasang roda pada tiang-tiang barongsai. Ketika hendak tampil, tiang-tiang itu didorong masuk dan ditarik keluar saat selesai. Kerepotan itu tak bisa mengalahkan kebahagiaan dan kebanggannya.

"Kita waktu itu senang sekali bahwa yang setelah sekian lama kita bisa main barongsai lagi dengan bebas," kata Ronald saat dihubungi Tirto pada Kamis (23/1/2020).

Ronald lahir di Jakarta pada 27 September 1945. Lahir dari keluarga Hwang--seperti tokoh barongsai Tiongkok, Hwang Fei Hung-- membuat kesenian ini seolah mengalir dalam darahnya. Ronal telah berlatih barongsai sejak usia 10 tahun di tim marga Hwang. Pada masa itu barongsai sering ditampilkan dalam berbagai acara misalnya pernikahan sebagai sarana menolak petaka.

Namun pasca prahara 1965, Ronald berhenti menari barongsai. Asanya sempat terkubur.

"Waktu itu kalau menari barongsai bisa dipenjara," kata dia.



Tiga bulan sebelum dilantik oleh MPRS, tepatnya 6 Desember 1967 Presiden Soeharto meneken Instruksi Presiden No. 14. Lewat beleid itu Soeharto memerintahkan Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, serta segenap badan dan alat pemerintah, dari pusat hingga daerah, untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina.

"Dengan dalih bahwa orang Tionghoa di Indonesia memiliki ikatan kuat dengan Tiongkok, di mana Tiongkok dituding 'bermain' di balik peristiwa tersebut, maka segala bentuk ekspresi identitas, etnis, budaya, hingga religi orang Tionghoa direpresi sedemikian rupa," kandidat doktor sejarah di University of Melbourne, Australia Ravando Lie lewat keterangan tertulis pada Kamis (23/1/2020).

Sebagaimana ditulis Siew-Min Sai dan Chang-Yau Hoon dalam Chinese Indonesians Reassessed (2013), Soeharto menilai manifestasi agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina yang berpusat dari negeri leluhurnya dapat menimbulkan pengaruh psikologis, mental, dan moril yang kurang wajar terhadap warga negara Indonesia (hlm. 212).

Berangkat dari sana, mantan Pangkostrad itu berkesimpulan kebudayaan Cina perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang wajar sehingga tidak menjadi hambatan terhadap proses asimilasi.

Terkait Imlek, Suharto tidak serta merta melarang perayaan Imlek, dalam Inpres tertulis "perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.".

Karenanya saat Imlek atau hari-hari penting dalam tradisi Cina lainnya, keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia hanya merayakannya dalam lingkup kecil yang tidak leluasa. Bahkan anak-anak Tionghoa diawasi dan diintimidasi sedemikian rupa agar tidak absen sekolah pada hari-hari itu.

Demikian pun dengan barongsai, pemerintah orde baru hanya mengizinkan tarian ini dilakukan di panggung besar klenteng Sam Poo Kong, Semarang pada setiap imlek. Total ada enam perguruan yang tampil setiap tahun, antara lain Perguruan Sam Poo Tong, Perguruan Hoo Hap Hwee, Perguruan Djien Gie Tong, Perguruan Djien Ho Tong, Perguruan Hauw Gie Hwee, dan Persatuan Olahraga Silat Gabungan (Porsigab).

"Mengingat populasi orang Tionghoa di Semarang cukup besar dan tingkat akulturasi Tionghoa-Jawanya juga sangat kuat. Belum lagi begitu banyaknya klenteng yang terdapat di Semarang, di mana Barongsai kerap dimainkan di Klenteng Sam Poo Kong," kata Ravando.



Sang Singa Kembali Menari

Setelah berkuasa selama 32 tahun kekuasaan orde baru menemui senjakalanya pada penghujung abad 20. Suharto tumbang pada 21 Mei 1998, dalam kejatuhannya pun Suharto masih meninggalkan duka bagi etnis Tionghoa.

Tahun 1999, Ronald diminta menampilkan barongsai di kawasan Pantai Indah Kapuk. Pada kerusuhan 1998, wilayah itu menjadi lokasi penjarahan terparah, penampilan barongsai diharapkan mampu menolak bala dan mendatangkan rezeki kembali ke wilayah itu.

Ronald tak serta merta menerima permintaan itu. Ia sadar Inpres tahun 1967 peninggalan sang diktator masih berlaku yang artinya ancaman penjara masih terbuka. Namun setelah berpikir panjang Ronald menerima jua permintaan itu, tapi dengan catatan ia hanya akan tampil pada tanggal 17 Agustus 1999.

"Jadi dalam arti kata saya mau main pada hari itu, jadi kalau saya ditangkap saya bilang saya main barongsai untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang tercinta. Ternyata dari pagi sampai main sampai malam tidak ada yang larang berarti selamatlah kita main," kata Ronald.

Seiring dengan itu, tanggal 17 Agustus 1999 diresmikan jadi hari lahirnya tim barongsai Kong Ha Hong. Sebagai refleksi atas pentingnya toleransi di Indonesia, Ronald tidak memilih anggota timnya berdasar identitas, satu-satunya syarat ialah umur yakni paling muda 8 tahun dan paling tua 30 tahun.

Walhasil tim besutan Ronald menjadi salah satu yang paling beragam, bahkan salah satu kepala barongsai dikendalikan oleh pemuda muslim dan bagian ekor dikendalikan pemuda katolik.

Total telah lima kali tim barongsai besutan Ronald meraih gelar juara dunia, antara lain World Lion Dance Championship pada 2009, 2015 sebanyak dua kali, 2017 dan 2019. Terakhir tim ini menjadi kampiun ajang Guang Xi World Lion Dance Championship 2019 di China.


Mencari Makna Imlek Kembali

Kini, telah 20 tahun Inpres peninggalan Soeharto dicabut melalui Keputusan Presiden (Keppres) No.6/2000 yang dikeluarkan Presiden RI Keempat Abdurrahman Wahid. Namun bukan berarti tradisi Tionghoa telah kembali seperti pra-65.

Sejarawan JJ Rizal menyebut pembatasan terhadap tradisi Tionghoa di masa lalu telah mengakibatkan hilangnya ingatan soal esensi Imlek. Hal itu tergambar salah satunya dari cara pengucapan, pada masa kini ucapan Imlek yang paling familiar adalah Gong Xi Fat Zhai (Selamat menjadi kaya raya) sementara sebelum 65, ucapan yang lazim adalah Sin Chun Kiong Hi (Selamat Musim Semi Yang Baru).

Ucapan Gong Xi Fat Zhai sendiri bermuara pada tradisi di kota metropolitan Hongkong. Pelarangan tradisi Cina daratan oleh orde baru membuat keturunan Tionghoa di Indonesia mengambil ucapan Gong Xi Fat Zhai sebagai alternatif.

"Jadi satu aspek menandakan [Imlek] itu binatang ekonomi, satu aspek menggambarkan sikap ekologis. Ini kan jauh banget," kata Rizal.

Jika ditilik pada muasalnya, keturunan Tionghoa di Indonesia berakar sebagai masyarakat pertanian. Perayaan Imlek dilakukan dengan berbagai aktivitas yang berpulang pada upaya merawat ekologi agar memberi keberuntungan di musim yang baru.

Karenanya harus ada upaya untuk menyambung kembali jejak sejarah Imlek dan itu harus dilakukan oleh warga Tionghoa sendiri.


Baca juga artikel terkait IMLEK 2020 atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight