Meraup Untung dari Limbah Medis yang Berbahaya

Tumpukan sampah medis kategori berbahaya dan beracun (B3) di tempat pembuangan sementara Panguragan Wetan, Kab. Cirebon, Jawa Barat, Kamis (7/12). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Oleh: Aditya Widya Putri - 28 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Gundukan limbah rumah sakit berputar lagi untuk diperjualbelikan, legal maupun ilegal. Bagaimana alur bisnisnya?
tirto.id - Kasus pembuangan limbah rumah sakit di sebuah desa di Cirebon, pertengahan Desember lalu, mengejutkan otoritas kesehatan meski sebetulnya praktik pemanfaatan kembali, untuk didaur-ulang bahkan dipakai lagi, sudah jadi rahasia umum. Perdagangan sampah medis ini melibatkan orang-orang internal rumah sakit dan para pengepul dengan nilai transaksi bisa belasan juta rupiah per bulan.

Menganut aturan kesehatan dan lingkungan yang dimiliki Indonesia, sampah medis yang tergolong berbahaya dan beracun harus dimusnahkan; atau sampah-sampah lain itu harus dicacah dan didisinfektan sebelum didaur-ulang. Tapi banyak sampah medis ini diangkut secara gelondongan sebagaimana terlihat dalam gambaran kasus di Cirebon yang menunjukkan karung-karung berisi jarum suntik, ampul, botol infus, dan lain sebagainya.

Beberapa waktu lalu saya mendatangi tempat pembuangan akhir Tambun, Bekasi. Seorang pemulung, yang bekerja untuk pengepul, berkata bahwa karena tahu melanggar peraturan, semua jenis limbah medis dari rumah sakit langsung diangkut, tak peduli di dalamnya bercampur "popok bayi bekas, perban sisa luka, sampah darah, hingga potongan tubuh manusia." Proses memilah sampah-sampah ini baru dikerjakan di lapak pengepul.

“Saya yang memilah limbah, kemudian dijual. Potongan jari sih enggak pernah nemu, tapi masih ada darah atau apalah ... sudah biasa,” ujarnya.

Di tempat ini bau sampah adalah keseharian, dan bau yang kuat macam ini bergandengan dengan mata pencaharian ratusan keluarga. Mereka tinggal di rumah-rumah bedeng dari tripleks semipermanen, membentuk situs-situs perkampungan di tengah-tengah hamparan sampah.

Dalam satu kali kedatangan saya ke sana, tiga orang pemulung tengah memilah bergulung-gulung selang infus dan ampul, jarum suntik, dan jeriken-jeriken bekas cairan kimia. Limbah-limbah ini bernilai jual lebih mahal dibanding jenis limbah plastik lain, terutama plastik dari infus dan selang karena tergolong polietilena berdensitas rendah (LDPE).

Plastik jenis LDPE mudah dibentuk ketika panas, keras, kuat, tidak bereaksi terhadap zat kimia lain, dan bermutu tinggi. Sampah medis lain seperti jarum suntik, misalnya, dipakai untuk mainan anak-anak, sebagaimana kemudian saya dapati di Pasar Gembrong, surga lapak mainan di Jakarta Timur.

Seorang pengepul di sana mengatakan pencarian limbah medis dikumpulkan dari ceceran sampah di "bulog"—sebutan untuk tempat pembuangan sampah Tambun. Karena itulah ia tidak memasok dalam jumlah besar, maksimal sekitar 3-5 kilogram.

“Harga Rp6-7 ribu per kilo buat infus, Rp20 ribu per kilo untuk selang, Rp2-3 ribu sekilo untuk jarum suntik,” katanya.

Selain dirinya, ada sejumlah pengepul memasok limbah medis dalam skala besar, dengan predikat sebagai "pemborong." Salah satunya yang biasa melibatkan pasokan langsung dari sebuah rumah sakit di Bekasi, yang diangkut dengan truk pikap secara sembunyi-sembunyi, di atas jam 12 malam atau mendekati subuh saat rumah sakit lengang. Tempat pemborong ini terletak 20-an meter dari gundukan sampah Setu Tambun.

Ia menyelidiki saya sebentar, dengan rasa curiga, "Butuh apa?"

Saat saya bilang saya butuh limbah medis seperti infus dan selang, ia terdiam dan menimbang-nimbang, sembari tetap mematut penuh selidik.

“Botol sajalah. Saya takut kalau limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Dulu sih semua bisa dijual, obat juga kami jual. Sekarang mah kagak, ketat banget.”

“Saya enggak berani, apalagi kalau ramai bisa panjang urusan: penjara. Bisa bangkrut."

“Berani berapa?”

“Biasa Rp7 ribu. Berani lebih dikit, Rp8 ribulah,” kata saya.

“Enggak bisa, enggak cocok sama harga saya. Terlalu sedikit. Sepuluh ribu, itu juga belum pasti, bisa jadi malah Rp15 ribu, barang susah sekarang." Ia lantas mengizinkan saya melihat sampel barang-barang medis tersebut.

Seorang pemborong lain berkata bahwa ia berani menawarkan dengan harga lebih murah tetapi saya harus datang sendirian dan membawa mobil. “Kami enggak bisa antar, takut,” dia bilang.



Sekitar 200-an meter dari lapak pemborong itu, saya menjumpai pemborong lain yang menyanggupi pasokan infus dan selang.

“Memang kami main proyek gitu, saya yang sortir. Kalau mau lihat contohnya, boleh.” Ia lantas menuju ke dalam lapak dan keluar membawa dua kantong infus bekas.

“Ini sisa pengiriman kemarin," katanya. Ia menyebut sejumlah "link" ke sejumlah rumah sakit yang memasok dalam partai besar dan ia sendiri berkata "sering bolak-balik" mengambil barang-barang medis tersebut.

Ia membagi rahasia bagaimana bisa lancar menjalani praktik bisnis gelap tersebut: pengambilan sampah medis dikerjakan malam hari, ditumpuk di dasar lambung truk, lalu ditutupi sampah lain seperti kardus dan terpal.

Dalam sebulan, katanya, transaksi pembelian limbah medis secara gelondongan ini bisa empat kali. Dalam sehari, truk bisa dua kali bolak-balik. Pekerja internal rumah sakit menawarkan harga sampah medis ini per truk, antara Rp400 ribu - Rp500 ribu.

“Kami jual ke kamu Rp6 ribu - Rp7 ribu per kilo kotor, ya," kata si pemborong. "Maksudnya, kalau masih ada darah, kami enggak bersihin. Ya... disayat dikitlah buat ngeluarin airnya.”

Total dalam sebulan, pemborong ini bisa mengumpulkan minimal 8 pikap limbah medis, dengan modal antara Rp3,2 juta - Rp4 juta. Saat dijual, dengan asumsi 1 pikap berisi 350 kilogram—atau setengah dari daya tampung mobil bak terbuka—dan harga jual infus antara Rp6 ribu - Rp7 ribu per kilogram, hasilnya pengepul bisa meraup omzet antara Rp16 juta - Rp19 juta.

Dari taksiran kasar itu, bisnis limbah medis memang menggiurkan. Tapi juga mengandung risiko, dari perkara kesehatan sampai pidana.

Saut Marpaung dari Asosiasi Pengusaha Daur Ulang Plastik Indonesia—yang bermain bisnis limbah medis sebagai ceruk menguntungkan asalkan sesuai prosedur dan legal—mengatakan sampah medis dalam bentuk cacahan biasanya dipakai untuk daur ulang plastik, digiling, dicuci kembali, dan dijadikan bijih plastik. Barang jadinya berupa produk-produk plastik seperti ember dan kantong kresek.

Dalam sebulan, rata-rata cacahan yang dibeli Asosiasi bisa mencapai 50 ton. Tapi Saut juga membenarkan terkadang harus bersaing mendapatkan limbah dari para pemain gelap.

“Mereka itu berani membeli dengan harga dua kali lipat lebih tinggi dari kami karena tidak lewat prosedur,” ujar Saut.

Bagong Suyoto, ketua Koalisi Persampahan Nasional, mengatakan sudah lazim para pemulung "masih menemukan sisa-sisa cairan pasien yang menempel pada beragam limbah medis."

Bagong sudah puluhan tahun tinggal di TPA Bantargebang. Ini tempat pengelolaan sampah terbesar di Indonesia dan bahkan disebut "kerajaan" sampah paling mencolok selama puluhan tahun. Bagong terlibat dalam pemberdayaan pemulung dan pengepul. Ia berkata sampah-sampah medis tetap diambil oleh mereka bila bernilai tinggi.

“Bekas-bekas jarum suntik, selang, botol infus, dan botol obat itu mahal. Kadang ada bekas tisu, sisa-sisa operasi, potongan tubuh, tangan ... kadang ada darah,” ujarnya.

“Karena pendapatan beberapa pelapak, mau bagaimana? Kami minta supaya hati-hati saja. Kan, ada penyakit menularnya. Yang sekiranya riskan ya dimusnahkan,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait LIMBAH atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fahri Salam
DarkLight