Merapi Merbabu Complex: Kelompok Bersenjata Bekas Pejuang & Garong

Oleh: Petrik Matanasi - 3 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Merapi Merbabu Complex lahir dari kekecewaan bekas pejuang Republik setelah KMB. Pemerintah RI menyebut kelompok ini berhaluan kiri.
tirto.id - Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, sejumlah pejuang revolusi banyak yang tidak diterima masuk TNI. Sementara mantan KNIL yang merupakan bekas musuh di pelbagai palagan, justru banyak yang diterima menjadi anggota TNI. Hal ini kemudian melahirkan kekecewaan dan bibit pemberontakan. Salah satu kelompok yang kecewa dengan kondisi ini adalah Merapi Merbabu Complex (MMC).

Oleh militer Indonesia, seperti terdapat dalam Sejarah Rumpun Diponegoro dan Pengabdiannya (1977:560), kelompok ini disebut mengusung semangat kaum kiri. Maka itu, MMC segera dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Daerah-daerah yang dikaitkan dengan keberadaan gerakan ini adalah Boyolali, Ambarawa, Salatiga, Magelang, Sleman, dan Klaten.

Suparna Sastradiredja dalam tulisannya "MMC di lereng Merapi-Merbabu", yang dirilis Centre for Southeast Asian Studies pada 1988, menyebutkan bahwa nama Merapi Merbabu Complex mula-mula digunakan Belanda di masa revolusi kepada pasukan pimpinan Sumarto dan Sutrisno yang dianggap pengacau dan perampok. Label ini biasa dilekatkan Belanda kepada para gerilyawan Republik.

Sementara menurut Pemerintah RI, seperti dicatat dalam Arsip Kabinet Perdana Menteri RIS Yogyakarta 1949-1950 nomor 142 tentang keamanan di daerah sekitar Gunung Merapi Merbabu, MMC adalah pelaku penggedoran ”yang sangat menggelisahkan rakyat”. Di Klaten, tepatnya di daerah Balerante, ditemukan sejumlah peluru yang diduga milik kelompok ini.

Pemerintah mengerahkan polisi dan tentara untuk membasmi MMC. Angkatan Darat mengirimkan beberapa batalion infanteri beserta bantuan tempurnya. Sementara polisi mengirimkan Brigade Mobil (Brimob). Panglima Divisi Diponegoro, Kolonel Gatot Subroto, memerintahkan suatu operasi militer demi mengembalikan kewibawaan negara. Komando operasi dipegang langsung panglima divisi yang kepala stafnya adalah Letnan Kolonel Suadi Suromihardjo. Dalam operasi militer ini, Angkatan Udara juga dilibatkan.


Daerah yang paling penting bagi MMC adalah lereng Merapi. Sementara kota-kota di bawahnya, yakni Magelang, Solo, dan Yogyakarta menjadi basis TNI untuk melakukan penyerbuan dan perang anti-gerilya. Sejak zaman revolusi, lereng Merapi memang menjadi tempat bersembunyi para gerilyawan dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda. Menurut Kepala Polisi Yogyakarta, Soebagio, lereng Merapi juga sempat menjadi salah satu markas Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Operasi militer yang dilancarkan pemerintah berhasil menangkap para anggota MMC yang di sekitar Sleman. Sementara di Klaten, tim gabungan TNI-Polri berhasil menembak Suradi Bledeg, pemimpin MMC. Dia tewas dalam sebuah baku tembak dengan peleton dua dari Batalion 417 di Dusun Brintik, Desa Malangjiwan, Klaten, pada 1 April 1951.

”Suradi Bledeg dilahirkan pada 1921 di Musuk, Boyolali. Masa remajanya dihabiskan di daerah Simo yang merupakan tempat kelahiran ayahnya yang bernama Kasno,” tulis Julianto Ibrahim dalam Dinamika Sosial dan Politik Masa Revolusi Indonesia (2018:145). Ia menambahkan bahwa Suradi adalah benggol (kepala perampok) terkenal selain Mbah Panca dan Ketrung. Suradi, yang dimasa mudanya suka memperdalam kesaktian, sudah menjadi bandit di sekitar lereng Merapi sejak 1949.

Infografik Gerombolan Merapi Merbabu Complex
Infografik Gerombolan Merapi Merbabu Complex. tirto.id/Rangga


Meski Suradi Bledeg bukan satu-satunya pentolan MMC yang terkenal, tetapi tewasnya pemimpin MMC yang bertubuh besar, bermata hitam tajam, dan berkulit Sawo Matang itu oleh militer RI dianggap mampu mematahkan moral kelompok MMC.

Selain Suradi Bledeg, memang masih ada pentolan MMC lainnya yang cukup berpengaruh, salah satunya Kumbojono di Boyolali. Pasukan pimpinan Kumbojono oleh militer pemerintah dianggap sebagai salah satu gangguan besar yang dilancarkan MMC. Pada pertengahan 1950, pasukan ini sempat berantakan dan dihimpun kembali di daerah Musuk.

Setelah Januari 1953, operasi gabungan kembali dilakukan oleh polisi dan tentara yang bernama Operasi Tritunggal. Hasilnya, seperti dicatat dalam Sejarah Rumpun Diponegoro dan Pangabdiannya (1977:565) adalah tertangkapnya para pentolan MMC yaitu Marjo Jenggot, Jarot, Petik, Dawut, Waluyo Muksin, Margono, Sujud, dan Ripto. Lalu pada tahun 1956, operasi pembersihan dilakukan untuk menyikat sisa-sisa anggota MMC.

Setelah 1965, wilayah bekas gerakan MMC menjadi tempat pelarian orang-orang komunis. Seperti dicatat Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:140-141), Kolonel Sahirman, Kolonel Maryono, Letnan Kolonel Usman, dan kawan-kawannya yang terkait G30S melarikan diri ke daerah bekas gerakan MMC.

Angkatan Darat kemudian menggelar Operasi Merapi yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, dengan pelaksana Mayor Chalimie Imam Santoso. Dalam operasi ini Letnan Sintong dan pasukannya memakai senapan AR-15, senapan semi-otomatis yang mirip dengan M-16.



Baca juga artikel terkait KELOMPOK BERSENJATA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight