Menyelisik Syam Organizer yang Dituding Terkait Terorisme

Oleh: Irwan Syambudi - 8 April 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sebuah lembaga penghimpun dana kemanusiaan, Syam Organizer, dikait-kaitkan dengan terorisme. Bagaimana sepak terjang organisasi ini?
tirto.id - Pada Desember 2020 lalu polisi menyebut sebuah lembaga penghimpun dana untuk kemanusiaan bernama Syam Organizer terlibat dalam pendanaan terorisme. Baru-baru ini bahkan kantor mereka digeledah.

Tudingan seperti polisi juga juga dilontarkan secara tidak langsung oleh Dina Sulaeman, seorang pengamat Timur Tengah. Dalam sebuah podcast yang disiarkan melalui Youtube, 29 Maret 2021, Dina menyebut uang dari lembaga-lembaga penghimpun dari Indonesia yang disalurkan ke Suriah jatuh ke tangan teroris.

“Yang menggalang dana adalah lembaga donasi tapi mereka tidak mengatakan itu untuk teroris. Tapi rekam jejaknya, kemudian foto-foto yang beredar, itu bisa kami deteksi bahwa sumbangan dari bangsa Indonesia jatuh ke tangan teroris,” kata Dina tanpa menyebut lembaga yang ia maksud.

Pernyataan itu kemudian ditanggapi oleh Syam Organizer melalui media sosial resmi. Syam Organizer mengunggah video anak penghuni kamp pengungsian Afrin Suriah Utara yang mereka bantu lewat program 'Seikat Roti Kuatkan Pengungsi.' Syam Organizer menulis: “Apa dedek-dedek kecil yang imut-imut dan manis ini terlihat seperti teroris yang engkau katakan wahai ibu-ibu podcast yang sedang viral?”

“Daripada pusing enggak bermanfaat dan sia-sia mikirin omongan yang enggak jelas, mending fokus aja buat ngebantu saudara kita di Suriah, salah satunya ikut andil dalam mengatasi ‘kelaparan’ yang sedang melanda saudara di kamp pengungsian.”

Selain menghimpun dana secara terbuka untuk pengungsi di Suriah dan Palestina, di Indonesia Syam Organizer juga melakukan pengadaan ambulans, renovasi musala, hingga menyalurkan biaya pengobatan untuk warga tidak mampu.

Mengutip situs resmi syamorganizer.org, organisasi ini berdiri sejak 2013, memiliki kantor pusat di Jalan Suryodiningratan No.605, Suryodiningratan, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, serta kantor cabang di 21 kota di Indonesia.


Pada Minggu (4/4/2021) lalu kantor pusat mereka didatangi Densus 88 Mabes Polri. Aparat melakukan penggeledahan dan menyita barang-barang yang ada di sana. Ketua RT setempat Setyo Karjono, yang menjadi saksi penggeledahan, bilang Densus 88 menyita dokumen dan kotak donasi.

Penggeledahan dan penyitaan barang-barang di Syam Organizer dilakukan setelah terjadi serangkaian aksi teror bom di sebuah gereja di Makasar dan penyerangan di Mabes Polri.


Harus Dibuktikan

Badan Kesatuan Bangsa (Bakesbang) Kota Yogyakarta yang mengurusi lembaga kemanusiaan maupun ormas tak mengetahui kegiatan Syam Organizer. Meski dalam laman resminya mereka mengklaim terdaftar di Kemenkumham dengan nomor AHU-AH.01.06-0006744 Tahun 2017, namun kegiatan mereka tak terpantau daerah.

“Tak terpantau kegiatannya karena tak pernah lapor ke kami. Meskipun mereka daftar di Kemenkumham, mereka belum tentu lapor ke kami,” kata Kepala Bakesbang Kota Yogyakarta Budi Santosa saat dihubungi reporter Tirto, Rabu (7/4/2021).

Harusnya, kata Budi, lembaga kemanusiaan atau ormas yang berkegiatan di Kota Yogyakarta melapor ke Bakesbang yang juga menjadi bagian dari Badan Intelijen Nasional Daerah (Binda) Kota Yogyakarta.

Meski digeledah dan tak diketahui keberadaannya oleh pemerintahan setempat, peneliti terorisme sekaligus pengajar Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Al Chaidar yakin jika dilihat dari kegiatan yang diunggah ke media sosial, Syam Organizer tak terkait dengan aksi teror.

“Saya yakin mereka murni melakukan misi kemanusiaan. Mungkin polisi memiliki data lain yang saya belum tahu,” ujar Al Chaidar kepada reporter Tirto, Selasa (6/4/2021).

Sekitar tiga bulan lalu Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono menyebut Syam Organizer sebagai salah satu penggalang dana untuk aksi terorisme yang terafiliasi dengan Jamaah Islamiah (JI). Argo mengatakan teroris JI mendapatkan sumber dana dari kotak-kotak amal yang disebar di sejumlah tempat di Indonesia. Kotak amal itu menggunakan beberapa nama yayasan resmi--termasuk Syam Organizer--agar tidak dicurigai masyarakat.

“Ciri-ciri spesifik yang mengarah ke organisasi teroris tidak ada karena bertujuan agar tidak memancing kecurigaan masyarakat dan dapat berbaur,” kata Argo.


Menurut Al Chaidar, fokus polisi terhadap JI harus dialihkan sebab kelompok tersebut saat ini sudah tak aktif lagi. “Sebaiknya polisi berkonsentrasi pada jaringan yang berafiliasi dengan ISIS,” ujar Al Chaidar.

Al Chaidar juga yakin Syam Organizer tak berafiliasi dengan ISIS sebab ciri-ciri utama organisasi yang berafiliasi dengan mereka cenderung anti kemanusiaan. Sementara Syam Organizer, menurutnya, “cenderung anti takfiri (menuduh muslim lain kafir atau murtad) dan anti terorisme.”

Di Indonesia, salah satu kelompok yang berbaiat dengan ISIS adalah JAD. Kelompok inilah yang juga terlibat dalam bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada 2018 dan penusukan Wiranto pada 2019. Di Indonesia kelompok ini menggantikan dominasi teror JI--yang menginduk pada al-Qaeda--sejak beberapa tahun terakhir.

Atas dasar itu tuduhan polisi terhadap Syam Organizer dan lembaga yang lainnya perlu dibuktikan. “Jika tak memiliki bukti yang kuat maka dikhawatirkan nanti ini akan menjadi salah tangkap atau preseden yang buruk,” kata dia.

Baca juga artikel terkait ALIRAN DANA TERORISME atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight