Menyelami Sebab Tawuran "Kerajaan" Pasar Manggis-Menteng Tenggulun

Oleh: Mulia Ramdhan Fauzani - 20 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Anak muda di Pasar Manggis, Jakarta Selatan, dan Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, telah terlibat tawuran selama puluhan tahun. Mereka punya versi masing-masing kenapa itu bisa terjadi.
tirto.id - Perang, selain membuat yang menang jadi arang dan yang kalah jadi abu, juga melahirkan dendam kesumat. Ia akan diwariskan turun-temurun. Membuat amarah nyaris tak bisa dihentikan; hampir tak bisa dipadamkan.

Ini juga terjadi di kawasan Pasar Manggis, Jakarta Selatan, dan Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat. Warga di dua daerah yang hanya terpisah jarak sepeminuman teh ini sering tawuran, dan sudah menganggapnya sebagai perang yang harus ditunaikan.

Tawuran terakhir kali pecah awal Februari lalu, tanggal 5.

“Ini kayak rebutan kerajaan,” kata salah satu warga.

Laiknya kerajaan yang siap tempur, hampir setiap RW di dua daerah yang hanya dipisah seruas sungai Ciliwung ini punya panglima perangnya masing-masing.

Salah satu “pensiunan” panglima tempur ini adalah Ammar At-Taqwa (31). Pria yang bermukim di Pasar Manggis ini mengisahkan bahwa kondisi ekonomi dan pendidikan penduduk adalah modal terciptanya pasukan perang.

"Kebanyakan situasi-kondisi ekonomi keluarga mereka berada di bawah garis kemiskinan. Hampir 80 persen mereka putus sekolah, 20 persen nganggur," kata Ammar via pesan singkat pada Minggu (10/2/2019).

Para pasukan perang ini tinggal di rumah kontrakan yang terlampau sempit. Mereka harus bergantian kamar tidur dengan orangtua masing-masing. Dari sore hingga malam mereka tidur, sementara orangtua bekerja. Ketika malam datang, orangtua mereka gantian tidur di kamar, dan anak-anak ini akan keluyuran.

Seingat Amar, perseteruan dua kampung ini bermula di akhir abad ke-20. Sejak 2004, sedikitnya sudah ada 20 kali bentrokan.

"Kalau dari awal, jumlahnya mah enggak terhitung," ujar Muhamad Dopi, Ketua RW 4.


Selain penyebab umum perebutan lahan parkir, dua kampung ini punya versi masing-masing bagaimana tawuran bisa terus-menerus terjadi. Menurut warga Pasar Manggis, tawuran nyaris selalu dipicu oleh para pemuda Menteng Tenggulun yang mabuk dan berbuat onar. Dari sana, para pemuda Pasar Manggis melahirkan istilah “bela kampung” karena tak rela kerajaan mereka dilecehkan.

“Selalu dari seberang [Menteng Tenggulun] yang mulai tawuran. Lemparan botol dan batu ya awalnya dari sana. Anak-anak sini kepancing, baru kemudian tawuran beneran,” ujar Muhammad Muchtar (69), Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Pasar Manggis.

Warga Menteng Tenggulun punya pendapat berbeda.

“Pemuda sini yang hampir selalu dipancing, jadi bukan yang mulai duluan. Kalau kampung seberang [Pasar Manggis] nimpukin kami terus, ya kami-kami yang sudah tua ini, dari awalnya misahin jadi kesel dan akhirnya ikutan tawuran juga,” ujar Adi Bowo (42), mantan panglima perang Menteng Tenggulun sekaligus Ketua FKDM Menteng Tenggulun.

Sama seperti di Pasar Manggis, warga di Menteng Tenggulun juga akrab dengan putus sekolah dan kemiskinan. Dihuni oleh kurang lebih 2.000 Kepala Keluarga yang sebagian besar pendatang, banyak pemuda di kampung ini menganggur.

Warga di dua kampung ini sebenarnya punya satu kesamaan dalam menyebut musuh bersama: bandar narkoba.

Ada Bandar Narkoba?


Menurut Edwin, mantan RW di Pasar Manggis, ada banyak bandar narkoba yang berasal dari Menteng Tenggulun. Pembelinya adalah warga Pasar Manggis. Namun tidak semua adalah konsumen.

“Di sini memang ada bandar. Tapi cuma sedikit banget, dibanding di kampung seberang,” kata Edwin.


Sedangkan Bowo yang sudah pensiun sebagai panglima perang Menteng Tenggulun dan sekarang menjadi tukang ojek, menampik tuduhan bahwa bandar narkoba hanya berasal dari daerahnya.

“Dari info kepolisian, memang ada 21 bandar narkoba di sini. Tapi dari kampung sebelah ya sama saja, bandar semua itu isinya,” kata Bowo.

Selentingan soal bandar narkoba yang jadi provokator di balik semua tawuran ini makin kuat sejak setahun belakangan. Pada 2018, ketika Bowo sedang patroli bersama anggota Polsek Setiabudi, kampungnya dilempari botol-botol kaca dari arah jalan raya.

“Pas saya ubek-ubek, orangnya sudah enggak ada. Kami tanya ke abang-abang Pasar Manggis yang juga lagi jaga, ternyata kampung mereka juga dilempari botol,” kata Bowo terkekeh.

Hipotesa bandar narkoba ini juga dibenarkan oleh Polsek Setiabudi. Menurut Kapolsek Setiabudi, AKBP Tumpak Simangunsong, tawuran itu adalah decoy (pengalih perhatian). Jadi ketika tawuran terjadi, polisi terpaksa berkonsentrasi membubarkannya. Di saat bersamaan, bandar akan bertransaksi.

“Ya gimana, armada Polsek yang siaga bertugas cuma 45 orang. Mana mungkin bisa mengawasi semua yang terjadi di Setiabudi?” kata Tumpak.

Dugaan ini makin bertambah kuat sejak ada beberapa pemuda teler di Pasar Manggis dan tertangkap oleh warga dan polisi. Ketika ditanya mereka dari mana, belasan bocah dengan senjata tajam ini mengaku dari Manggarai. Ketika ponsel mereka diperiksa, ada percakapan janjian untuk tawuran.

“Mana mungkin tawuran janjian lewat HP? Lagian tawuran-tawuran kemarin, mereka selalu pakai senjata petasan yang harganya mahal. Mereka dapat duit dari mana buat beli itu, selain dari bandar?” kata Muchtar.


Sayang, dugaan adanya bandar narkoba di balik tiap tawuran ini tak pernah diusut tuntas oleh Kepolisian. Tumpak mengaku pihaknya kesulitan mengusut karena pelaku banyak dilindungi oleh warga lain.

"Setiap kali kami mau cari saksi, selalu saja ada yang melindungi. Parahnya, ini tokoh, sering juga RW nya melindungi," kata Tumpak.

Hingga sekarang, ada banyak sekali mediasi dan upaya agar tak ada tawuran lagi. Terakhir, mediasi oleh pemkot Jaksel dan Jakpus digelar Selasa, 5 Februari 2019, setelah tawuran kembali pecah. Saya hadir bersama tokoh masyarakat kedua kampung.

Para warga menilai upaya pengentasan tawuran yang dilakukan oleh Polsek dan Pemkot selalu sia-sia. Mediasi tak pernah berlanjut dengan tindakan nyata, semisal pemberdayaan ekonomi bagi pemuda kampung. Akibatnya, tawuran terus saja terjadi.

Bowo sependapat dengan warga Kampung Manggis. Solusinya adalah pemberdayaan pemuda setempat. Menurutnya, kelurahan sempat membuat satu unit usaha cuci motor untuk tempat kerja bagi beberapa orang. Namun tentu saja itu masih kurang.

“Walaupun musuh bebuyutan, kami yang tua-tua pengennya keributan ini selesai saja,” kata Bowo.

Baca juga artikel terkait TAWURAN atau tulisan menarik lainnya Mulia Ramdhan Fauzani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mulia Ramdhan Fauzani
Penulis: Mulia Ramdhan Fauzani
Editor: Nuran Wibisono