Advertorial

Menyebar Benih, Menyemai Pengusaha Berbasis Teknologi

Oleh: Advertorial - 10 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Menumbuhkan kultur wirausaha di Indonesia tidaklah mudah. Banyak aral di sana-sini, salah satu yang utama adalah permodalan.
tirto.id - Dalam sebuah kuliah umum di Nusa Tenggara Timur, Presiden Jokowi punya satu harapan: berkembangnya jumlah wirausahawan muda. Harapan Jokowi sebenarnya tak muluk, tapi tetap butuh usaha keras dan waktu panjang. Sebabnya, jumlah wirausahawan di Indonesia masih amat sedikit. Mengutip Global Entrepreneurship Index 2017, Jokowi mengatakan tingkat wirausaha Indonesia hanya menempati rangking 90 dari 137 negara.

“Rangking ini rendah sekali, karena biasanya kalau sudah lulus para mahasiswa itu akan mencari pekerjaan, tidak menciptakan pekerjaan,” ujar mantan pengusaha mebel ini.

Data dari Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah juga menunjukkan data yang sama. Per 2016, hanya ada 1,6 persen orang Indonesia yang menjadi pengusaha. Bandingkan dengan Malaysia (5 persen), Singapura (7 persen), atau Amerika Serikat (12 persen).

Memang menumbuhkan kultur wirausaha di Indonesia tidak mudah. Banyak aral di sana-sini. Salah satu yang paling utama adalah permodalan. Dalam laporan LPPI dan Bank Indonesia, pada 2014, dari 56,4 juta UKM di Indonesia, baru 30 persen yang bisa mengakses pembiayaan dari bank, dan sisanya dari skema pembiayaan non-bank.

Upaya-upaya untuk meluaskan cakupan pembiayaan ini terus dilakukan, termasuk dengan adanya Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 14 yang dikeluarkan pada 21 Desember 2012. PBI ini mengamanatkan pada bank agar mereka memberikan porsi kredit sekurang-kurangnya 5 persen dari total kredit untuk UKM. Pada 2018, rasio kredit ini bahkan ditetapkan paling rendah sebesar 20 persen dari total pembiayaan.

Selain soal pembiayaan, perkara pendataan jumlah UKM ini juga pelik. Belum ada jumlah pasti berapa angka wirausahawan di Indonesia. Menurut Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kemenko Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin, jumlahnya berkisar di angka 59 atau 62 juta. Itu pun hanya proyeksi. Karena itu, Rudy berharap ada kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan rintisan digital yang punya pijakan kuat soal teknologi dan data.

Kolaborasi antara teknologi dan wirausaha memang terasa makin penting di era digital. Penggabungan dua diksi itu bahkan melahirkan istilah technology entrepreneurship, sesuatu yang sebenarnya sudah mulai disebut sejak era 1970-an, seiring perkembangan teknologi yang melesat.

Bailetti (2012), menyebut bahwa salah satu fokus wirausaha berbasis teknologi ini fokus pada, “bagaimana, kenapa, dan kapan ia berpengaruh pada perkembangan sosial ekonomi di sebuah daerah.”

Associate professor di Sekolah Bisnis, Universitas Carleton, Kanada ini juga menjelaskan bahwa individu atau perusahaan yang tidak menggunakan teknologi, akan jadi tidak relevan pun tak kompetitif di hari-hari ini.

“Kami harap ada kolaborasi pemerintah dan platform digital soal data. Jadi kami bisa membina UMKM agar naik kelas,” ujar Rudy.

Dengan Teknologi, Hambatan Lebih Mudah Diatasi

Salah satu perusahaan berbasis digital yang ikut andil dalam mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia adalah Grab. Dengan program Grab Ventures Velocity (GVV), perusahaan rideshare ini ingin membantu banyak perusahaan rintisan untuk berkembang. Program ini pertama kali diluncurkan pada Juli 2018, dengan fokus pada pendanaan, mentoring, hingga akses pada aset teknologi milik Grab.

BookMyShow Indonesia adalah salah satu alumni angkatan 1. Perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pemesanan tiket film, event, dan karaoke ini mengalami pertumbuhan pesat sejak bergabung dengan GVV.

“Program ini sangat penting dalam perkembangan kami. Di awal bulan program ini, bisnis kami mengalami pertumbuhan 70 persen. Kami yakin tidak ada program perusahaan rintisan lain yang bisa membuat pertumbuhan sebesar itu,” ujar Karan Khetan, CEO BookMyShow Indonesia.

Sukses dengan program pertama, GVV angkatan 2 kembali diluncurkan mulai bulan Juni hingga Agustus. Dengan tema "Empowering Micro-Entrepreneurs in Southeast Asia", ada dua jalur yang disediakan oleh GVV: Empower Farmers yang akan fokus pada perusahaan rintisan yang bisa memberdayakan para petani, dan Empower Small Business untuk perusahaan rintisan yang bisa memberikan solusi untuk usaha kecil.

Di angkatan kedua ini, ada enam perusahaan Indonesia yang terpilih dari total sembilan perusahaan rintisan yang terpilih mengikuti GVV angkatan 2. Enam perusahaan itu adalah TaniHub yang menghubungkan antara petani dan konsumen; Qoala yang membantu pengguna memudahkan proses klaim asuransi; Tamasia yang memberikan akses pada masyarakat untuk membeli emas secara syariah; Porter yang bergerak di usaha pengiriman barang; Sayurbox yang mendistribusikan produksi pertanian langsung ke konsumen; dan PergiUmroh yang mengolaborasikan berbagai usaha perjalan yang menyediakan paket umrah.

Tahun ini, Grab membuka GVV angkatan 3. Kali ini ada dua jalur yang dibuka, yakni Restaurant Value Add Services dan B2B Logistic. Selain itu Grab juga bekerja sama dengan BRI Ventures, anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia yang bergerak di bidang kapital ventura untuk bersama-sama mendukung pengembangan startup di dalam negeri.

Jalur pertama fokus pada perusahaan rintisan digital yang memberikan solusi bagi pemilik UKM di bidang restoran. Nantinya, perusahaan rintisan ini akan fokus bagaimana membantu UKM makanan agar bisa menumbuhkan bisnis, mengurangi biaya, dan melancarkan operasi. Sedangkan jalur B2B Logistic berusaha menghadirkan inovasi dalam pergudangan dan trucking space.

Upaya ini disambut baik oleh pemerintah. Teten Masduki, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, menyebut UKM sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi di tanah air, dan usaha ini bisa berkembang dengan bantuan teknologi.

“Melalui Grab Ventures Velocity, saya sangat menantikan hadirnya startups potensial yang dapat memberikan solusi digital bagi UKM,” kata Teten.

Sedangkan Johnny G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika, menyoroti pentingnya GVV bagi pertumbuhan talenta digital di Indonesia. “Program ini adalah langkah tepat untuk membimbing talenta digital, dan kami berharap dapat mendorong ekonomi digital di Indonesia.”

Hingga saat ini, lulusan GVV telah memberdayakan lebih dari 117.000 pengusaha kecil. Banyak hambatan yang bisa dipapras dengan bantuan perusahaan digital ini, contohnya seperti yang dilakukan oleh TaniHub. Sejak lulus dari GVV, TaniHub mengintegrasikan layanannya dengan GrabKios.

“Dengan akses pelanggan yang lebih banyak dari GrabKios, kami bisa menyerap lebih banyak produk dari petani lokal untuk didistribusikan ke konsumen yang lebih luas. Bersama GrabKios, kami sudah mendistribusikan hasil panen petani di empat kota, yakni Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya,” ujar Pamitra Wineka, Presiden dan Co-founder TaniHub.

Program GVV angkatan 3 sudah dibuka dan dapat diikuti oleh semua perusahaan rintisan di Indonesia dan Asia Tenggara. Startup yang terpilih sebagai Angkatan 3 nantinya akan memperoleh bimbingan dari para ahli C-level di bidang perusahaan rintisan, serta kesempatan untuk menguji proyek pilot mereka di platform Grab serta akses kepada basis pelanggan Grab yang luas. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi tinyurl.com/gvvbatch3.
DarkLight