Menyantap Hewan Hidup-Hidup: Ada Menganggapnya Tradisi & Eksperimen

Ilustrasi memasak. FOTO/Istockphoto
Oleh: Eddward S Kennedy - 31 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Aksi tak lazim ini bisa membuat pelakunya dianggap kurang waras, bahkan dikriminalkan. Namun, ada pula yang memakan hewan mentah sebagai kebiasaan.
tirto.id - Sebuah video yang memperlihatkan sosok seorang pria paruh baya sedang memakan kucing hidup-hidup belakangan ini viral di media sosial. Dalam video yang disebut berlokasi di Kemayoran, Jakarta Pusat itu, banyak warganet menduga pelaku mengalami gangguan jiwa. Polisi pun didesak untuk menangani kasus langka ini.

Duta Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Femke Den Haas, seperti diberitakan Detik.com, termasuk yang meyakini bahwa pelaku pemakan kucing hidup-hidup itu mengalami gangguan kejiwaan. Sebab itu, Femke berpesan agar pelaku sebaiknya segera ditangkap karena dapat membahayakan tak hanya satwa lemah, tapi juga manusia, terutama anak-anak.

"Saya rasa orang seperti ini harus ditangkap dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Kalau sudah melakukan aksi yang brutal terhadap satwa yang tidak bisa bela diri kemungkinan pria ini bisa melakukan ke anak-anak. Itu sangat memungkinkan, sudah banyak data seorang psikopat sampai bisa membunuh manusia, setelah sebelumnya mereka aktif melakukan penyiksaan terhadap hewan. Ini psikopat juga bisa bahayakan anak-anak juga," tuturnya.

Kapolsek Kemayoran, Kompol Syaiful Anwar, ketika dimintai konfirmasi di hari yang sama, mengatakan pihaknya telah mencari pria tersebut di seputaran Kemayoran, tapi hingga saat ini belum berhasil ditemukan. Polisi hendak memastikan motif dan latar belakang pelaku hingga dapat melakukan tindakan menjijikkan tersebut.

Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, pihaknya juga tengah berupaya menelusuri keberadaan pelaku pemakan kucing hidup-hidup tersebut. Seperti diwartakan Tribunnews, Mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu juga mengatakan bahwa pelaku dapat dijerat dengan pidana ringan dan diproses hukum.

Hukum Online menyebut sejumlah regulasi yang mengatur tentang hukuman penganiayaan hewan. Pasal 302 KUHP menyebut barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya, tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup hewan, akan diancam pidana penjara paling lama tiga bulan. Bila perlakuan seperti itu menyebabkan sakit lebih dari seminggu, cacat, luka berat lain, atau mati, pelaku diancam pidana penjara paling lama sembilan bulan.

Peraturan lain terkait kesejahteraan hewan dimuat dalam pasal 92 Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan (UU 95/2012). Ada poin-poin yang melarang pemanfaatan hewan di luar kemampuan kodratnya yang membahayakan keselamatannya, termasuk memberi bahan perangsang fungsi kerja organ hewan di luar batas fisiologis hewan. Eksploitasi kekuatan fisik hewan pun dilarang dalam UU ini.

Kasus Miskaulah: Menyantap Ayam Mentah

Kasus menyantap hewan hidup-hidup bukan sekali ini terjadi di Indonesia. Pada 2017, terdapatlah Miskaulah, seorang perempuan asal Dusun Jangan Asem, Desa Trompoasri, Kecamatan Jabon, Sidoarjo yang juga punya kebiasaan tersebut, terutama ayam mentah. Bahkan, setelah menjalani terapi, kebiasaan Miskaulah tersebut tak hilang.

Diberitakan Jawa Pos, Miskaulah yang telah berusia 47 tahun tersebut mengaku bahwa menyantap ayam hidup-hidup adalah kebiasaannya sejak kecil. Tepatnya ketika anak keempat di antara 12 bersaudara itu duduk di bangku kelas V. Pemicunya tak lain karena masalah ekonomi keluarga hingga jatah makannya amat kurang. Adapun hewan mentah pertama yang disantapnya adalah ikan yang ia tangkap di sawah.

“Pas saya makan, ikannya masih hidup. Keluar darah. Membuat tubuh saya tidak lemas,” tuturnya.

Sejak itu, hampir setiap hari Miskaulah kembali melakukannya. Bahkan, ayahnya pun membiarkan saja kelakuan anaknya tersebut sejauh yang disantap bukan hewan milik orang lain. Selain ikan, Miskaulah juga menyantap yuyu (kepiting kecil), belalang, jangkrik, hingga ayam mentah. Semua hewan ia dapatkan sendiri, termasuk dengan membeli, dan bukan hasil mencuri. Sebab itulah warga di sekitarnya memaklumi kebiasaan aneh Miskaulah tersebut.

Miskaulah mengaku daging ayam mentah itu membuatnya ketagihan. Jika sehari tidak memakan ayam mentah, dia bisa lemas dan gelisah. ’’Setelah makan, badan ini terasa ringan,” ujar Miskaulah kepada Jawa Pos.

Budaya di Beberapa Tempat di Asia, (Pernah) Dicoba di Eropa

Menyantap hewan hidup-hidup sejatinya telah menjadi tradisi kuliner di beberapa negara di Asia, terutama di Jepang, Cina, dan Korea. Dikatakan tradisi, karena selain masyarakat lokal menyantapnya, hidangan tersebut juga diperjualbelikan di berbagai restoran umum. Salah satu sajian hewan mentah yang cukup populer berasal dari Jepang adalah sashimi. Biasanya, sashimi menggunakan bahan ikan, tapi kadang juga gurita, bahkan katak bertubuh besar.

Akun Youtube ahscotty pada 2012 pernah menyiarkan "Live Frog Sashimi". Video yang direkam dari restoran Asadachi di Tokyo itu memperlihatkan bagaimana proses pembuatannya oleh sang koki; katak raksasa diambil, lalu ditusuk, kemudian dikuliti, diiris-iris, sebelum kemudian disajikan di atas piring berisi es bersama irisan lemon dan kecap. Tampak jelas katak tersebut masih bergerak-gerak, tetapi perempuan yang menyantapnya santai belaka menikmatinya.

Di Korea juga ada sajian yang dinamakan sannakji, gurita hidup yang telah dipotong-potong kecil lalu disantap dalam keadaan tubuhnya masih bergerak. Secara teknis, gurita tersebut sebetulnya sudah mati, hanya saja otot-ototnya masih berfungsi sebentar hingga mampu menggerakkan tubuh—penjelasan ini juga berlaku sebagaimana sashimi katak di Jepang. Namun, tak jarang pula gurita disajikan tanpa dipotong dan disantap begitu saja dengan tambahan penyedap seperti kecap asin.

Dua bulan lalu, akun Youtube South China Morning Post mengunggah video seorang pembawa acara perempuan mencoba memakan seekor gurita hidup-hidup. Namun, apa yang terjadi malah mencelakainya. Gurita tersebut mengisap wajahnya sedemikian kuat hingga pipinya berdarah. Ia pun meringis kesakitan, kendati di awal video sempat mengira akan baik-baik saja.



Berpindah ke Cina ada sajian Yin Yang fish: ikan yang disajikan dengan cara tubuhnya saja yang digoreng, sementara kepalanya dibiarkan segar hingga masih bergerak-gerak. Durasi menggoreng tersebut dilakukan dengan sangat cepat, menggunakan minyak yang juga sangat panas, hingga ikan diperkirakan dapat tetap hidup hingga kurang lebih 10-20 menit lamanya.

Di Thailand juga terdapat santapan yang diberi nama goong ten atau secara kasar bisa diterjemahkan menjadi “udang yang berlompat-lompatan”. Sesuai dengan namanya, makanan ini menggunakan udang rebon segar yang masih hidup. Goong ten merupakan makanan tradisional yang berasal dari daerah Sungai Mekong dan biasa disajikan dengan bumbu yang terdiri dari bawang merah, cabai, lada dan perasan air jeruk lemon.

Masyarakat di Papua Barat dan Maluku juga terbiasa mengonsumsi ulat sagu hidup-hidup. Hewan yang merupakan larva dari kumbang merah kelapa dan memiliki nama ilmiah Hynchophorus ferruginesus tersebut biasanya ditemukan di pohon sagu yang sudah membusuk. Bentuk tubuhnya montok dan bertekstur agak sedikit kenyal. Menurut mereka yang telah mencobanya, rasa ulat sagu cenderung manis di bagian badan, dan asin di bagian kepala.

Sebaiknya jangan keburu menyimpulkan bahwa hanya warga Asia saja yang gemar menyantap hewan mentah. Bahkan Noma, salah satu restoran terbaik terdunia menurut Anthony Bourdain yang terletak di Copenhagen, Denmark, tahun 2012 pernah membuat sajian eksperimental untuk menu baru mereka: semut hidup sebagai pelengkap salad. Anda tertarik menyantap salad dengan topping semut?

Baca juga artikel terkait KANIBALISME atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight