Menuju konten utama

Menperin: Industri Manufaktur RI Serap 18,25 Juta Pekerja pada 2018

Pemerintah mengklaim penyerapan tenaga kerja oleh industri manufaktur terus meningkat dalam 4 tahun terakhir. Pada 2018, industri manufaktur tercatat menyerap 18,25 juta pekerja.  

Menperin: Industri Manufaktur RI Serap 18,25 Juta Pekerja pada 2018
(Ilustrasi) Pekerja menyelesaikan produksi pakaian jadi di pabrik olahan pakaian jadi C59, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/2/2018). ANTARA FOTO/Khairizal Maris

tirto.id - Kementerian Perindustrian mengklaim industri manufaktur nasional terus tumbuh. Penyerapan tenaga kerja oleh sektor industri ini pada 2018 juga meningkat dari tahun sebelumnya.

“Pada 2018, sektor industri manufaktur menyerap tenaga kerja sebanyak 18,25 juta. Jumlah tersebut berkontribusi sebesar 14,72 persen terhadap total tenaga kerja nasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, di Jakarta pada Jumat (15/2/2019).

Berdasar data dari Kementerian Perindustrian, jumlah penyerapan tenaga kerja oleh sektor industri manufaktur selama empat tahun terakhir terus mengalami kenaikan.

Pada 2015, industri manufaktur RI tercatat menyerap 15,54 juta pekerja, lalu pada 2016 mengalami kenaikan menjadi 15,97 juta orang. Sementara pada 2017, sektor ini menyerap tenaga kerja sebanyak 17,56 juta orang.

“Dari tahun 2015 ke 2018, terjadi kenaikan 17,4 persen,” kata Airlangga. Dia optimistis jumlah tenaga kerja yang diserap industri manufaktur nasional pada tahun ini kembali meningkat.

Adapun enam besar kategori sektor industri manufaktur yang menyerap tenaga kerja terbanyak pada 2018 ialah, industri makanan (26,67 persen), industri pakaian jadi (13,69 persen), industri kayu, barang dari kayu dan gabus (9,93 persen). Selain itu, industri tekstil (7,46 persen), industri barang galian bukan logam (5,72 persen), serta industri furnitur (4,51 persen).

Di tengah pelambatan ekonomi global, Kemenperin optimistis memasang target pertumbuhan industri nonmigas sebesar 5,4 persen pada 2019. Sektor-sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi, di antaranya industri makanan dan minuman (9,86%), permesinan (7%), tekstil dan pakaian jadi (5,61%), serta kulit barang dari kulit dan alas kaki (5,40%).

Pemerintah akan Fokuskan Anggaran ke Bidang SDM

Airlangga menambahkan pertumbuhan industri nasional masih perlu dipacu dari segi investasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Ketersediaan SDM yang terampil sangat diperlukan guna meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor industri,” kata dia.

Dia mengingatkan, di era revolusi industri 4.0, kebutuhan terhadap SDM berkualitas, terutama yang memiliki kompetensi menguasai teknologi digital, semakin tinggi. Bonus demografi hingga 15 tahun ke depan merupakan potensi yang harus dimanfaatkan.

“Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo mengamanatkan agar tahun ini lebih fokus dan gencar menjalankan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi, setelah fokus pada pembangunan infrastruktur,” ujar Airlangga.

Dia berpendapat penciptaan ekosistem pendukung pengembangan industri 4.0 penting dilakukan. “Dalam penguatan kualitas SDM, perlu dilakukan redesain kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan di era industri 4.0 serta program talent mobility untuk profesional,” ujar dia.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Addi M Idhom