Menuju konten utama

Menolak Takluk di Olimpiade Tokyo 2020

Olimpiade Tokyo menjadi sarana bagi atlet dari negara yang tidak dikenal dunia untuk unjuk kebolehan sekaligus meningkatkan rasa nasionalisme rakyat.

Menolak Takluk di Olimpiade Tokyo 2020
Sebuah monumen cincin Olimpiade terlihat di daerah tepi laut di Odaiba Marine Park di Tokyo, Jeapng, 2 April 2021. Foto diambil tanggal 2 April 2021. ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/hp/cfo

tirto.id - Bayangkan kamu sedang berada di luar negeri lalu tiba-tiba ada yang menjanjikan tiga unit apartemen, uang miliaran, dan tanah berukuran 400-500 meter di kampung halaman saat pulang ke Indonesia. Ini belum termasuk hadiah lain dari berbagai merek. Itulah yang dirasakan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu setelah memenangkan mendali emas di Olimpiade 2020 Tokyo yang baru saja berakhir.

Ini mungkin merupakan hadiah yang paling fantastis sepanjang sejarah olahraga bulu tangkis Indonesia, dan bahkan dunia. Kemenangan Polii dan Rahayu memang istimewa karena diperoleh pada momen sulit, ketika pandemi masih melanda.

Di sisi lain, bonus berlimpah itu sekaligus menunjukkan bahwa kemenangan atau lebih spesifik medali emas bukanlah tradisi Indonesia. Negara lain yang mendominasi Olimpiade 2020 seperti Amerika Serikat atau Jepang memang memberikan total uang lebih besar, tapi karena yang memenangkan medali pun banyak, angkanya per individu jadi lebih kecil. Misalnya peraih emas di lomba renang dari AS hanya diganjar 37.500 dolar AS atau setara Rp540 juta.

Atlet Indonesia, atau contoh lain Singapura, beruntung mendapat uang banyak kendati negara minim prestasi. Bagi orang Indonesia, ekonomi mungkin merupakan salah satu motivasi untuk menjadi atlet.

Tapi ada atlet yang tidak semujur itu. Mereka mendapat emas tapi tidak diganjar apresiasi berlimpah. Sekadar untuk berlaga pun mereka harus berusaha lebih. Meski demikian, kemenangan tetaplah harga mati.

Atlet-atlet tersebut datang dari negara yang namanya saja asing di telinga orang Indonesia. Banyak dari negara itu hanya terdiri dari pulau-pulau kecil dan sedikit penduduk. Fiji, misalnya, penduduknya hanya mencapai 900 ribu jiwa, tidak sampai sepersepuluh penduduk Indonesia. Luas wilayahnya, meski terdiri lebih dari 300 pulau, cuma berkisar 18.270 kilometer persegi atau kurang lebih 15% Pulau Jawa.

Selain itu ada pula negara Oseania lain yang turut serta seperti Kepulauan Cook, Micronesia, Kepulauan Marshall, Nauru, Palau, American Samoa, Kiribati, Samoa, Kepulauan Solomon, Tonga, Vanuatu, dan Tuvalu. Sedangkan dari Kepulauan Karibia ada Barbados, Antiagua dan Barbuda, Aruba, Andorra, Saint Vincent dan Grenadines. Dari belahan Afrika ada Chad, Benin, Cape Verde, Burkina Vaso, dan lainnya.

Inilah pentingnya Olimpiade bagi mereka: menjadi ajang unjuk gigi dan membuat negara masing-masing lebih dikenal.

Infografik Medali emas Olimpiade

Infografik Medali emas Olimpiade

Sulit karena Covid-19

Jepang membangun fasilitas bagi peserta Olimpiade yang diberi nama Olympic Village. Luas lahan yang digunakan mencapai 33 hektare di distrik elite Tokyo, Harumi. Ada 21 gedung dengan tingkatan beragam, mulai dari 14 hingga 18 lantai. Fasilitasnya tidak main-main. Selain kamar beristirahat, ada pula tempat fitness, pijat, dan kantin gratis yang buka selama 24 jam sepanjang 7 hari.

Jumlah kamar mencapai 3.600 dan cukup untuk menampung hingga 18 ribu partisipan yang turut serta dalam kompetisi ini. Negara besar seperti Cina, Inggris, atau AS bahkan mendapat satu blok untuk mereka sendiri.

Diperkirakan biaya pembuatannya mencapai 2 miliar dolar AS atau setara Rp29 triliun. Pembangunan dilakukan selama 31 bulan dan selesai pada Desember 2019.

Negara kecil yang tidak punya banyak uang tentu sangat terbantu dengan fasilitas bebas biaya ini, termasuk Fiji. Mereka meminta keringanan agar para atlet yang kesulitan memperoleh tiket perjalanan karena pembatasan Covid-19 diperbolehkan tetap tinggal. Penyelenggara Olimpiade sebelumnya meminta semua atlet mengosongkan fasilitas tersebut dalam waktu 48 jam setelah kompetisi berakhir.

Ben Ryan, pelatih rugbi 7 Fiji periode 2013-2016, menulis di The Guardian bahwa fasilitas ini “adalah tiket emas.” Dia mengatakan negara dengan sumber daya keuangan terbatas sangat terbantu dengan fasilitas bebas biaya ini. Biasanya, tempat latihan bagi atlet jauh dari penginapan sehingga membutuhkan biaya besar. Belum lagi persoalan keterlambatan ke tempat kompetisi yang mungkin saja terjadi. Itu semua menurutnya “dapat menyebabkan cukup banyak kehebohan.”

Bahkan untuk sampai ke Tokyo saja sudah merupakan pengorbanan tersendiri. Stuff melaporkan bahwa tim rugbi 7 putra Fiji “dijadwalkan tiba di Tokyo untuk Olimpiade dengan penerbangan barang yang sebagian besar mengangkut ikan beku.” Sebanyak 51 orang gabungan atlet dan staf harus rela ikut pesawat ini.

Tim ini dijadwalkan terbang langsung dari Australia ke Tokyo dengan pesawat komersial biasa, tapi rencana tersebut berubah di menit terakhir karena regulasi pembatasan baru karena pandemi Covid-19.

Samoa bahkan memutuskan tidak jadi mengirim tiga atlet angkat besi karena khawatir penyebaran Covid-19. Mereka akhirnya hanya mengirim delapan atlet yang sedang berada di luar negeri.

Menaikkan Gengsi

Rugbi 7 adalah satu-satunya cabang olahraga andalan Fiji. Di stadion, pertandingan rugbi 7 antar sekolah kerap penuh sesak.

Pada tulisannya yang lain, Ben Ryan mengenang kembali kemenangan timnya di Olimpiade lima tahun silam. Ketika berhasil menang pada Olimpiade Rio 2016, rakyat Fiji sadar betapa pentingnya perolehan medali emas bagi negara mereka yang hanya tampak secuil di peta dunia.

“Seluruh rakyat Fiji terinspirasi dan termotivasi dengan kemenangan di Olimpiade. Itu adalah efek dari medali emas,” catat Ryan.

Setelah mencundangi Britania Raya, Fiji juga menjadi kata kunci yang paling banyak muncul di mesin pencari Google. Kemenangan di Olimpiade berhasil membuat dunia menoleh pada Fiji.

Pencapaian tersebut mereka ulang pada Olimpiade tahun ini. Mereka memperoleh satu-satunya emas di Olimpiade Tokyo 2020 setelah mengalahkan Selandia Baru. “Orang-orang berjuang di Fiji dan kami memainkan pertandingan ini untuk mereka. Semua orang di Fiji akan bangga,” kata seorang pemain, Josua Vakurinabuli.

Meski populer, tapi jangan kira atlet rugbi 7 adalah profesi yang menjanjikan. Kompetisi domestik tidak cukup banyak untuk membiayai hidup sehari-hari. Josua, misalnya, juga seorang sipir.

Bermuda adalah contoh lain bagaimana Olimpiade berhasil membangkitkan nasionalisme bagi 65 ribu warga.

Flora Duffy berhasil memenangkan medali emas pada cabang olahraga triatlon dengan menggenjot sepedanya sepanjang 10 km dengan catatan waktu 1 jam 55 menit 36 detik. Namun pencapaian itu tidak dia dapat dengan mudah. Selama lima tahun terakhir, Duffy mengaku mendapat tekanan mental sangat besar. Sedari kecil dia memang bercita-cita memenangkan medali emas, tetapi tidak menyangka bakal menjadi satu-satunya harapan Bermuda.

“Kupikir semua orang di Bermuda sangat bersemangat sekaligus gugup. Sangat jarang kesempatan bagi kami untuk benar-benar memenangkan medali emas,” kata Duffy yang sekarang berumur 33 tahun. “Banyak orang yang sudah membantu saya untuk sampai di sini. Jadi saya merasa harus memenangkan medali emas.”

Untuk mengatasi itu, Duffy bekerja sama dengan psikolog dan rekan setim. Mereka membuat lingkungan yang menyenangkan dan meminimalisasi risiko stres. Upaya itu berbuah hasil. Duffy menjadi pahlawan bagi orang-orang Bermuda.

Bisa jadi Olimpiade Tokyo adalah kejuaraan terakhir yang akan dia ikuti. “Kuharap aku tidak harus merasakan tekanan seperti ini lagi,” kata Duffy dilansir Inews.

Kelly O'mara, orang yang mencatat perjuangan Duffy sebagai atlet, pernah mendapat pesan dari Neil de Ste. Croix, salah satu pelatih Duffy masa kecil. Dalam surat elektroniknya terpampang foto keponakan dari teman de Ste. Croix yang berdandan seperti atlet triatlon dalam sebuah acara. Tema acara tersebut sederhana saja: “Bergayalah seperti tokoh yang membuatmu bangga menjadi warga Bermuda.”

Sang bocah lantas memilih menjadi Duffy.

Baca juga artikel terkait OLIMPIADE TOKYO atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Olahraga
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino