Sharyn Graham Davies
Associate Professor of Social Sciences, Auckland University of Technology

Menolak Pseudosains Homofobik

31 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Tajuk sensasional, artikel clickbait, dan pseudosains tidak dapat ditoleransi ketika mempromosikan rasa takut dan kebencian.

Banyak pihak di media, termasuk penulis dan editor, menggunakan teknik ini untuk mengobarkan prasangka terhadap homoseksualitas dan komunitas LGBT.

Teknik lain yang digunakan adalah mengutip penelitian yang sudah ketinggalan zaman, atau memilih bagian-bagian penelitian, untuk membuat penulis tampak telah mendasarkan pendapatnya pada fakta.

Ketika klaim homofobik menjadi andalan media Indonesia, kita harus meluangkan waktu untuk memikirkan apa yang mereka katakan dan menilai akurasinya secara ilmiah.

Ada banyak contoh pendapat yang disajikan sebagai fakta. Salah satu yang paling keji ditemukan dalam artikel terbaru yang diterbitkan oleh Republika.

Dalam artikel yang terbit pada 10 Januari 2020 ("Reynhard: Pola yang Berulang"), Ihshan Gumilar terang-terangan membuat pernyataan yang keliru. Untuk mendukung pendapatnya, ia menggunakan studi kedaluwarsa yang telah dibantah dan salah menafsirkan orang lain. Ia mendandani opini sebagai fakta.


Gumilar menggunakan gagasan “neuroplastisitas” untuk menyatakan LGBT adalah bentuk gaya hidup dan produk dari pengaruh eksternal. Neuroplastisitas adalah gagasan bahwa otak dapat berubah. Neuro berarti otak dan plastisitas berarti dapat berubah. Sementara otak dapat berubah, tidak ada bukti untuk mendukung klaim Gumilar bahwa preferensi seksual dapat dengan mudah diubah.

Ada banyak masalah lain dalam penggunaan gagasan neuroplastisitas untuk mengatakan mudah bagi LGBT untuk tidak menjadi LGBT.

Pertama, argumen ini mengasumsikan otak selalu heteroseksual. Bahkan jika memang begitu, argumen Ihshan gugur.

Jika seksualitas terletak pada otak dan dapat dengan mudah diubah karena pengaruh eksternal, semua heteroseksual juga merupakan produk dari pengaruh eksternal. Hal ini membuat orang bertanya-tanya apakah si penulis yang mengemukakan pendapat ini hanya takut bahwa mereka sendiri akan dengan mudah menjadi gay jika mereka ada di sekitar LGBT.

Kedua, argumen ini sengaja mengabaikan kompleksitas seksualitas. Seksualitas adalah interaksi antara aspek fisik (termasuk otak, hormon, dan lain-lain) serta aspek sosial.

Ketiga, argumen ini adalah argumen yang diajukan orang pada 1950-an. Saat itu terjadi perdebatan antara alam (nature) vs pengasuhan (nurture), gender vs seksualitas. Tokoh kunci dalam debat ini adalah Milton Young, John Money, dan Robert Spitzer.

Tetapi, sebagian besar pemikiran itu keliru dan telah dibantah. Tidak mengikuti perubahan dalam teori seksualitas yang dipakai Gumilar menunjukkan kurangnya kecerdasan intelektual. Artikel seperti yang ditulis oleh Gumilar tidak menunjukkan dinamika kemajuan ilmiah dalam studi seksualitas.

Asumsi keliru lain yang dibuat Gumilar adalah LGBT melakukan pemerkosaan karena orientasi seksual mereka. Sebagai bukti, Gumilar mengutip kasus Reynhard Sinaga, yang dituduh melakukan pemerkosaan di Inggris.



Pemerkosaan digunakan untuk menegaskan kekuasaan, seperti diperlihatkan dalam pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa pada Mei 1998.

Dalam kasus pemerkosaan Reynhard Sinaga terhadap ratusan laki-laki, sebagian besar media di Inggris menahan diri untuk tidak mengaitkan pelaku dengan identitasnya sebagai gay karena orientasi seksual tidak relevan.

Media-media di Indonesia melaporkan kasus ini secara berbeda. Kasus Sinaga telah dibuat menjadi sensasi dan digunakan untuk membenarkan homofobia.

Gumilar melakukan kesalahan pseudosains ketika mengklaim perilaku Sinaga disebabkan oleh orientasi seksualnya.

Jika kita memperluas logikanya, kita harus menyimpulkan semua laki-laki heteroseksual jahat; karena laki-laki hetero-lah yang melakukan sebagian besar pemerkosaan.

Tidak ada yang mengklaim laki-laki heteroseksual memperkosa karena orientasi seksualnya. Karena itu, menggelikan bila orang menyarankan orientasi seksual Reynhard-lah yang menyebabkannya melakukan pemerkosaan.


Universitas Auckland, tempat Gumilar belajar, begitu terkejut dengan klaimnya sehingga telah meminta agar Republika menghapus segala penyebutan nama universitas.

Selanjutnya, sebagai tanggapan atas protes di Selandia Baru dan Indonesia mengenai apa yang dilakukan Gumilar, pihak kampus menegaskan kembali nilai-nilai mereka.

Universitas sekarang secara eksplisit mengatakan posisinya tegas: “Kami berkomitmen untuk menjadi tempat yang aman, inklusif, dan setara untuk semua staf dan mahasiswa kami.”

Sekarang, lebih dari sebelumnya, media Indonesia harus berhenti memberikan suara kepada orang yang homofobik, yang mendandani pendapatnya sebagai fakta.


Seperti dinyanyikan Taylor Swift, para pembenci akan terus membenci. Memang sarjana terkenal Martha Nussbaum mengatakan orang selalu takut atau bahkan jijik dengan perbedaan pada diri orang lain. Mereka yang berkuasa sering membenarkan sikap ini untuk mendapatkan hak istimewa bagi mereka sendiri. Tapi, kita tidak seharusnya menerima kebencian.

Media-media yang menerbitkan cerita menghasut dan homofobik semestinya malu dan patut dipermalukan. Kisah-kisah yang mereka tulis memiliki konsekuensi pada kehidupan nyata. Bagi Gumilar, pernyataan homofobik mungkin hanya kata-kata di atas kertas, tapi konsekuensi untuk LGBT bisa sangat buruk.


LGBT mewakili komunitas orang-orang yang jatuh cinta, yang religius, yang produktif, dan yang mendukung komunitas mereka. Orang LGBT mencintai negara mereka. Sayangnya, seringkali sulit mencintai negara yang tidak mencintai kita kembali.

Media-media Indonesia memiliki tanggung jawab untuk mendukung komunitas LGBT-nya. Indonesia harus menghormati semboyan "Bhinneka Tunggal Ika."

_____

Artikel ini ditulis bersama Dr. Dédé Oetomo (PhD, Cornell, AS) dan Hendri Yulius (Magister, Sydney, Australia). Sharyn Davies meneliti tentang gender dan seksualitas di Indonesia sejak 1994. Ia menulis tentang gerakan moralis populis di balik penolakan RUU PKS (The Conversation, 21 September 2019.)

Versi bahasa Inggris artikel ini terbit di The Jakarta Post.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight