Menjelang Hari Tanpa Air di Afrika Selatan

Oleh: Tony Firman - 25 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Warga Kota Cape Town Afrika Selatan diperkirakan menghadapi ancaman pemutusan pasokan air akibat kekeringan parah.
tirto.id - “Kami menadah air dari shower kamar mandi ke ember, dan memakainya lagi di toilet,” kata Sandra Dickson yang telah tinggal di Kota Cape Town, Afrika Selatan selama 24 tahun terakhir.

Seperti warga Cape Town lainnya, Dickson tidak punya pilihan selain menyiasati penggunaan air. “Kami melakukan banyak hal” katanya lagi kepada Al Jazeera. “Orang-orang bahkan menangkap air yang jatuh dari atapnya.”

Kemarau yang berkepanjangan selama tiga tahun, ditambah curah hujan rendah di provinsi Western Cape menjadi penyebab utama krisis air yang menimpa 3,7 juta penduduk Cape Town di awal 2018 ini.

Situasi yang makin parah membuat pemerintah daerah memperingatkan warganya agar bersiap menghadapi Day Zero (semacam “hari tanpa air”) pada 12 April mendatang apabila kapasitas air di seluruh bendungan terus menyusut di bawah 13,5 persen. Day Zero pada awalnya diperkirakan akan jatuh pada 22 April, kemudian diundur ke tanggal 21 dan akhirnya 12.

Jika Cape Town benar-benar mencapai Day Zero pada April mendatang, pihak berwenang akan mematikan keran air di seluruh kota dan menyisakan aliran di daerah yang paling miskin saja.

Pemerintah kemudian memasang sekitar 200 tempat pengumpulan air di seluruh kota dan membatasi pengambilan air 25 liter per hari untuk tiap penduduk jika Zero Day benar-benar tiba. Aparat kepolisian akan menjaga tempat tersebut. Kini pemerintah sudah mematok batas konsumsi air. Masing-masing penduduk hanya punya jatah 50 liter air dari sebelumnya 87 liter untuk seluruh kebutuhannya.

Berbagai tempat penampungan air seperti ember dan wadah lainnya jamak ditemui di rumah-rumah. Banyak pula warga yang mulai menyusuri gunung-gunung terdekat dengan membawa wadah supaya bisa membawa pulang air tawar segar.


Saat ini kapasitas bendungan yang menjadi tumpuan kebutuhan air Cape Town sudah berada di bawah 30 persen dari total gabungan. Di Cape Town, ada empat bendungan yang berdiri yaitu Berg River, Steenbras Lower, Steenbras Upper, Theewaterskloof, Voelvie, dan Wemmershoek.

Seperti dilaporkan oleh media lokal Cape Town IOL, tanaman di dasar bendungan Theewaterskloof sudah mulai terlihat akibat penyusutan air secara ekstrem. Bekas kebun anggur tua yang dulu pernah berdiri di dasar bendungan pun untuk pertama kalinya menampakkan diri. Kebun anggur ini terendam air sejak bendungan berkedalaman 25 meter itu dibangun pada 1980-an.

Di sekitar stadion Newland, sudah jamak terlihat pemandangan para warga yang memarkirkan mobil dan ikut antri air tawar yang terpancur dari keran setempat. Tak jarang, antrian sudah mengular sejak subuh.

Pabrik bir SA Breweries pun diserbu warga. Pasalnya, terdapat lima keran yang airnya berasal dari mata air alami.


Guna menghindari kerusuhan akibat rebutan air, keamanan diperketat dengan penerapan jam operasional antara pukul 5 pagi sampai 11 malam. Tiap orang yang datang juga hanya boleh membawa pulang maksimal 25 liter air. Kebijakan ini diterapkan setelah 2.000 liter air dikeruk warga dan dijual lagi ke orang lain.

Sanksi denda diberlakukan bagi mereka yang mengambil terlalu banyak air. Namun ternyata sulit mengontrol dengan pasti penggunaan air secara perorangan. Oleh karena itu, bagi pemerintah, himbauan agar tiap warga bisa menahan diri adalah jalan satu-satunya.

Krisis Air karena Perubahan Iklim

Provinsi Western Cape terletak di ujung selatan benua Afrika dan berhadapan langsung dengan Samudera Atlantik. Selama berabad-abad, pantai barat daya Afrika Selatan dikenal karena persediaan air yang melimpah karena curah hujan tinggi.

Ciri geografis kota Cape Town yang mirip mangkuk raksasa menjadikannya daerah tampungan air hujan dan dapat diandalkan untuk mengisi deretan bendungan yang mulai dibangun sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Tapi semuanya berubah dalam beberapa tahun terakhir sejak curah hujan menurun. Tingkat air bendungan berkurang drastis. “Hujan, tapi tidak cukup untuk mengisi bendungan,” kata Kevin Winter, seorang dosen senior ilmu lingkungan di University of Cape Town, kepada Al Jazeera.

“Kami mengalami perubahan pola cuaca yang cepat, yang semakin nyata dari dampak perubahan iklim ...Ada penurunan yang sangat tajam dari tingkat curah hujan dalam beberapa tahun terakhir.”


Senada dengan pernyataan Winter, Bridgetti Lim Bandi seorang pendiri situs Cape Town Water Crisis yang sejak lahir hidup di kota ini mengatakan bahwa pola curah hujan telah berubah secara dramatis dalam dua dekade terakhir.

"Kami tidak memiliki musim dingin seperti biasa lagi di Cape Town," katanya kepada Al Jazeera.

Kekeringan yang telah melanda Cape Town selama beberapa tahun terakhir belum terlihat kapan akan berakhir. Visualisasi data curah hujan menunjukkan bahwa 2017 adalah salah satu tahun terkering selama beberapa dekade terakhir. Disebutkan juga bahwa kekeringan bertahun-tahun yang parah seperti ini jarang terjadi dan mungkin hanya sekali dalam satu milenium.

Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang mungkin menyebabkan situasi tersebut. Pemerintah Cape Town telah diperingatkan agar merancang sistem pasokan air guna menanggulangi masalah krisis air dan kekeringan jangka panjang yang diperkirakan akan sering terjadi di masa mendatang.

Piotr Wolski, ahli hidrologi dari Climate Systems Analysis Group memperkirakan bahwa perubahan iklim yang sedang terjadi diperkirakan akan lebih banyak mendatangkan musim kering dan lebih sedikit musim hujan di wilayah Western Cape.


Keberadaan air di bumi sudah sangat lama. Air yang kini dipakai untuk kebutuhan sehari-hari adalah air yang sama yang dipakai oleh dinosaurus jutaan tahun yang lalu. Bumi mendaur ulang airnya dan dinamakan siklus air, yang di dalamnya termasuk siklus hujan.

Sekitar 70 persen permukaan bumi ditutupi air dan 97 persen diantaranya adalah air asin di lautan. Sisanya yang tiga persen adalah air tawar, dan dari tiga persen itu hanya kurang dari satu persen yang digunakan untuk kehidupan di bumi karena sisanya menggumpal jadi es di kutub.

Sebagai kota yang punya 300 kilometer garis bibir pantai, Cape Town tak lepas dari dampak perubahan iklim akibat pemanasan global berupa kenaikan permukaan air laut.

Infografik Cape Town


Para ahli sepakat bahwa permukaan air laut akan naik, dengan tingkat kenaikannya yang sangat bervariasi, dari 30 sentimeter hingga enam meter. Konsensus yang berlaku saat ini mengatakan bahwa pada tahun 2100 kenaikan permukaan air laut akan berada di kisaran 76cm.


Pada September 2017 lalu, Gubernur provinsi Western Cape Helen Zille merespon krisis air di daerahnya dengan menyebut bahwa ia mandi tiga hari sekali. “Saya mandi sebentar, setiap tiga hari sekali, dan sisa airnya untuk membasuh tangan di baskom. Saya biasa mencuci rambut setiap hari, tapi sekarang hanya saat mandi saja,” tutur Zille seperti dilansir BBC.

Tapi sosok Zille ini kontroversial dalam tiap pertanyaannya. Zille sebelumnya dilaporkan menolak artikel dari TimesLive yang mempertanyakan penggunaan uang pajak pemerintahan daerah untuk memasang sistem pemurnian air di kediamannya di Cape Town.

Kekeringan di Cape Town adalah sebuah gejala ekstrem dari fenomena perubahan iklim secara global, termasuk Indonesia. Di sejumlah tempat di Indonesia, krisis air di umumnya disebabkan faktor geografis, bencana alam, yang yang paling umum, musim kemarau yang jauh lebih panjang dari musim hujan.

Pada awal Desember 2017 lalu misalnya, sebanyak 7.000 kepala keluarga di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami kesulitan air bersih karena infrastruktur milik Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Handayani rusak akibat bencana banjir yang melanda wilayah itu.

Krisis air bersih, khususnya di musim kemarau, juga berkaitan dengan faktor maraknya perumahan yang didirikan dengan mengalihkan fungsi lahan produktif. Hal itu disampaikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Jawa Barat pada Oktober 2015 lalu menyikapi krisis air di daerah tersebut. Alih fungsi lahan produktif itu memberikan dampak buruk pada tanah yang tidak mampu lagi menyimpan cadangan air.

Di Kota Batu, Jawa Timur maraknya pembangunan hotel dan objek wisata buatan membuat jumlah mata air alami yang memancarkan air bersih menjadi menyusut. Dari situs resmi WALHI Jatim, sejak 2005, sekitar 111 sumber mata air di Kota Batu mengalami penurunan kualitas.

Dari pemetaan terbaru antara 2012 dan 2014, tersisa tinggal 58 titik mata air. Meski belum mencapai ke titik krisis air bersih, namun pola-pola pembangunan yang mengorbankan lingkungan bukan tidak mungkin akan mengancam ketersediaan air bersih.

Baca juga artikel terkait MUSIM KEMARAU atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf