Menjadi Bahagia dan Sederhana dengan Falsafah Janteloven

Oleh: Eddward S Kennedy - 21 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Janteloven berupaya menekan ego diri serendah mungkin, dan menekankan kepentingan kolektif.
tirto.id - Pernah dengar lagu "Blank Space" (Taylor Swift), "Problem" (Ariana Grande), "... Baby One More Time" (Britney Spears), "Since U Been Gone" (Kelly Clarkson), "I Want It That Way"(The Backstreet Boys)?

Itu adalah sebagian lagu pop paling terkenal seantero jagat, setidaknya, dalam dua dekade terakhir. Lagu-lagu yang sudah nyaris pasti selalu diputar di kafe, kedai kopi, pusat-pusat perbelanjaan, di dalam taksi atau termasuk ke dalam playlist mobil rentalan. Pertanyaan kemudian: siapa pembuatnya? Dia adalah Max Martin.

Martin merupakan seorang penulis lagu sekaligus produser musik asal Swedia. Rambutnya gondrong tertata dengan model belah tengah dan bercorak sedikit pirang. Sejak akhir 90-an, virtuoso musik pop ini banyak memproduksi berbagai lagu hits yang kerap nongkrong Billboard Hot 100.

Dalam konteks Top 10 List, sebagaimana ditulis dalam laporan Stereogum, "30 Essential Max Martin Songs", Martin telah melakukannya dengan Katty Perry sebanyak 10 kali, Swift enam kali, Spears enam kali, Pink lima kali, dan dengan Backstreet Boys lima kali.

Ketika Swift ingin mengubah genrenya yang semula bercorak country menjadi pop utuh, ia bermitra dengan Martin. Hasilnya adalah Red, sebuah album dengan beberapa lagu andalan seperti "I Knew You Were Trouble," "22," dan "We Are Never Ever Getting Back Together," yang akhirnya membuat Swift menelurkan hits pertamanya.

Menurut John Seabrook, penulis The Song Machine: Inside the Hit Factory, melesatnya karier Martin dimulai pada akhir 1990-an. Ketika itu berkolaborasi dengan boyband tidak dikenal bernama Backstreet Boys. Lalu berlanjut dengan seorang penyanyi perempuan muda berambut pirang yang bukan siapa-siapa: Britney Spears.

Seabrook menulis bahwa Max Martin "menggabungkan chord dan tekstur pop ABBA dengan tekstur big rock arena tahun delapan puluhan, serta R&B Amerika di periode awal". Secara sederhana, dapat ditafsirkan bahwa Martin telah (berhasil) merekayasa suara khas musik pop Amerika kontemporer menjadi semacam pop melodik yang dapat diterima lanskap musik global.

Pertanyaannya: dengan segala pencapaian tersebut, mengapa nama Martin cenderung asing terdengar, setidaknya dibanding penulis lagu hits lain seperti Diane Warren atau Desmond Child. Bisa jadi karena ia seorang Skandinavia. Asal tahu saja, mereka adalah orang-orang yang memang bermental ogah terkenal.

Mengenal Falsafah Janteloven


Ada banyak sekali sosok populer dari Skandinavia memiliki perangai seperti Martin.

Dalam sepakbola, ada trio Grenoli (Gunnar Gren, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm) yang pada 1950-an menjadi bintang AC Milan. Setelah mereka: Jari Litmanen, Michael dan Brian Laudrup, Jan Molby, Ole Gunnar Solksjaer, Tore Andre Flo, Henrik Larsson, Thomas Helveg, Fredrik Ljungberg, Jon Dahl Tomasson, dan tentu saja Peter Schmeichel.

Sementara di cabang olahraga individu, berderet nama tenar lain. Di tenis, misalnya, ada Bjorn Borg, sosok pertama di Open Era yang menjuarai ajang Wimbledon lima kali berturut-turut (1976-1980), serta jagoan Grand Slam Perancis Terbuka sebanyak enam kali (1974-1975, 1978-1981). Ia disebut-sebut sebagai salah satu petenis terbaik dunia.

Di ajang balapan, ada Ari Vatanen yang menaklukkan (reli) Paris-Dakkar. Sementara di Formula 1, Kimi Raikkonen jelas tak mungkin terlupakan. Dan jika Anda penggemar bulutangkis, mustahil apabila Anda melewatkan nama Morten Frost Hansen yang berasal dari Denmark, bintang segala bintang di Eropa, sosok yang saking bersahajanya sampai mendapat julukan kehormatan: "Mr. Gentleman" dari rekan seprofesinya di seluruh dunia.

Lalu di industri yang sama dengan Martin, ada tiga nama masyhur: ABBA, AHA, dan Roxette. Dan apakah Anda pernah mendengar kontroversi tentang mereka? Mungkin pernah, misalnya kasus perseteruan antara Agnetha Faltskog dengan rekan-rekannya yang lain di ABBA seperti Benny Andersson dan Bjorn Ulvaeus (sosok yang pernah menjadi suami Agnetha). Namun di luar itu, rasanya sukar menemui kontroversi --apalagi yang sengaja diciptakan-- oleh mereka.

Di ranah perfilman, Greta Garbo, aktris asal Swedia yang sempat menjadi superstar di Hollywood pada zamannya, dikenal sangat tidak suka publisitas dan memilih hidup menyendiri, terutama pasca mundur dari dunia akting di usianya terhitung masih muda. Grabo adalah anomali. Ia kerap menjadi tokoh perempuan glamor di berbagai film, tapi memilih hidup berkalang sepi. Saking misteriusnya hidup Grabo, ia sampai dijuluki “Swedish Sphinx”.

Demikianlah mental dan perangai kebersahajaan kolektif--yang dalam taraf tertentu memperlihatkan sikap ogah terkenal atau menjadi "reluctant stars", keengganan memiliki sinar seperti bintang--khas Skandinavia. Perangai ini tentunya bukan muncul begitu saja. Ada sebuah falsafah yang hingga kini masih terus dipegang teguh oleh banyak orang Skandinavia: hukum Janteloven. (Swedia=Jantelagen, Finlandia=Jantelaki, Islandia=Jantelögin).

Secara sederhana, Janteloven merupakan kode sosial yang fokus pada pencapaian dan kesejahteraan kolektif, sekaligus meminggirkan pencapaian individu. Janteloven adalah alat utama guna memahami sejarah, kebudayaan modern, nilai kehidupan (psyche), hingga bagaimana negara-negara Skandinavia menganut sistem welfare state (negara kesejahteraan), dan paling sukses menerapkannya di dunia.



Perumusan nilai-nilai falsafah Janteloven bermula dari novel A Fugitive Crosses His Tracks (1936) karya Aksel Sandemose, penulis berdarah campuran Norwegia-Denmark. Novel tersebut berkisah tentang tokoh utama bernama Espen Arnakke yang mengembara ke Jante, sebuah kota imajiner di Denmark, demi mencari ketenangan atas kegelisahan akibat pembunuhan yang ia lakukan di masa muda.

Sandemose menggambarkan Jante sebagai sebuah kota yang secara ekstrem menerapkan prinsip egaliterianisme, hingga menggariskan bahwa eksistensi keakuan tidaklah ada. Sandemose sejatinya mengambil ide Jante dari kultur di Nykøbing Mors, kota tempat ia tumbuh di Denmark. Namun, ia berpendapat bahwa ide Jante itu memang sesuatu yang secara historis dapat ditemukan di seluruh desa dan kota-kota di berbagai negara Skandinavia.

Ada 10 poin dalam hukum Janteloven. Intisari dari hukum itu adalah: jangan pernah berpikir dirimu istimewa atau lebih baik. Ada poin-poin seperti, "Jangan berpikir anda istimewa", atau "Jangan berpikir anda lebih penting ketimbang kami", maupun "Jangan berpikir orang-orang peduli pada anda".

Sandemose tidak bermaksud menjadikan 10 poin itu sebagai sebuah aturan yang mengikat. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, 10 poin itu adalah rumusan sekaligus penggambaran bagaimana karakteristik mentalitas Skandinavia selama berabad-abad. Dalam masyarakat di budaya lain, bukan tidak mungkin ada karakteristik yang serupa atau mendekati hukum Janteloven.

Infografik Falsafah Janteloven
Infografik Falsafah Janteloven. tirto.id/Sabit



Dengan berpegang kepada prinsip kebersahajaan kolektif tersebut, maka tak heran jika orang Skandinavia cenderung tidak menggebu untuk meraih capaian yang tinggi dalam hidup. Semua berlangsung mengalir belaka, baik atau buruk hasilnya. Dengan kata lain: mereka terbiasa dengan hal yang tidak muluk-muluk. Namun justru itulah yang terbaik dari falsafah Janteloven: prinsip tersebut mampu membuat orang bahagia dengan pencapaian yang biasa-biasa saja. Ini pernah diceritakan oleh Lindsay Dupuis, seorang pakar terapis dari Copenhagen kepada Quartz.

“(Dengan mengikuti 10 aturan tersebut), Anda akan mengarahkan pandangan hidup menjadi biasa-biasa saja. Mentalitas itu membuat Anda cenderung puas ketika hidup memberi Anda hal-hal yang sangat biasa. Di sisi lain, jika hidup memberikan Anda sesuatu yang melampaui ekspektasi, Anda akan sangat terkejut dan, dalam banyak kasus, menjadi sangat, sangat bahagia.”

Tentu saja hukum Janteloven tetap menuai kritik, terutama di masa sekarang. Karena secara esensial hukum tersebut berusaha menekan prinsip keakuan, maka seumpama ada orang yang ingin “keluar” dari kelompok sosialnya dan menunjukkan eksistensinya melalui pencapaian-pencapaian yang lebih tinggi, hukum Janteloven akan menjadi semacam “penjara kultural”. Dalam konteks negara, para penganut anti-Janteloven juga menganggap bahwa prinsip tersebut menghambat negara mereka untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.

Tapi buat apa meninggalkan falsafah Janteloven jika rumusan tersebut terbukti membuat hidup menjadi bahagia? Tengok saja laporan World Happiness Report 2018 (PDF) lalu. Tiga peringkat teratas adalah negara Skandinavia: Finlandia jadi pemuncak, lalu diikuti Norwegia, dan Denmark.

Bagaimana, bersedia mencoba menerapkan hukum Janteloven untuk berbahagia?

Baca juga artikel terkait KEBAHAGIAAN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono