Depresiasi Mata Uang

Menilik Penyebab & Untung Rugi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Reporter: Dwi Aditya Putra, tirto.id - 30 Sep 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
BI sebut pelemahan rupiah terjadi karena adanya sentimen penguatan dolar AS. Dolar menguat hampir terhadap semua mata uang.
tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan terus menunjukkan pelemahan. Mata uang Garuda ini bahkan sempat menyentuh level Rp15.243 pada perdagangan Rabu, 28 September 2022, pukul 11.30 WIB. Posisi itu merupakan level tertinggi pelemahan sepanjang tahun ini.

Namun nilai tukar rupiah di pasar spot di awal perdagangan Kamis, 29 September 2022, berhasil rebound. Rupiah spot dibuka di level Rp15.227 per dolar AS. Ini membuat rupiah menguat 0,26 persen dibandingkan dengan penutupan pada Rabu 28 September 2022, di Rp15.267 per dolar AS.

Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), sejak 21 September hingga 28 September 2022 memang sudah melampaui di atas Rp15.000 per dolar AS. Pada 21 September, rupiah berada di Rp15.011 per dolar AS dan puncaknya pada 28 September tembus Rp15.243 dolar AS.

“Jadi rupiah dalam waktu dekat ini bisa menyentuh angka Rp15.500 per dolar AS,” kata Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira ketika merespons pelemahan rupiah kepada reporter Tirto, Kamis (29/9/2022).

Bhima mengatakan, banyak faktor eksternal membuat mata uang Garuda kini tak lagi perkasa. Pertama, karena adanya agresifitas kebijakan moneter di negara maju menaikkan tingkat suku bunga. Kondisi itu otomatis akan menciptakan aliran modal keluar dari negara berkembang.

“Jadi ini tidak hanya terjadi di Indonesia,” kata Bhima menambahkan.

Faktor kedua adalah penguatan dolar AS yang dilihat dari dolar indeks sudah menembus level 113. Dolar indeks merupakan perbandingan antara mata uang dolar Amerika dengan mata uang lainnya. Artinya jika dolar indeks menguat, maka dolar sedang perkasa dibandingkan mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Kemudian, faktor ketiga adalah tingginya inflasi di negara berkembang. Kondisi ini, kata Bhima, membuat kekhawatiran tekanan kepada sektor keuangan. Dan terkahir adalah adanya ancaman resesi secara global. Ini membuat investor cenderung mengamankan aset yang lebih aman.

“Itu penyebabnya [rupiah melemah]” kata Bhima.



Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, perkembangan terkini perekonomian Amerika Serikat yang ditandai dengan kenaikan Fed Fund Rate diperkirakan masih akan meningkat. Hal itu akan berimbas pada pelemahan ekonomi global.

Hal tersebut juga mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS dan semakin tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi itu akan mengganggu aliran investasi portofolio dan tekanan nilai tukar di negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Dengan kondisi yang tidak pasti akibat kenaikan suku bunga yang agresif, maka Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Ibrahim meminta, BI harus terus melakukan pengawasan secara ketat dan melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi melalui perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF). Dengan begitu bisa menahan pelemahan mata uang Garuda yang tajam bisa dikendalikan.

Selain itu, pemerintah juga diminta terus melakukan intervensi dengan mensubsidi barang-barang konsumsi, bansos dan bantuan langsung tunai (BLT). Walaupun secara ekonomis belum bisa membantu secara signifikan, tapi pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja agar pengaruh global tidak terlalu besar imbasnya.

“Kemudian di saat intervensi BI dan pemerintah kurang berpengaruh, sudah waktunya Presiden Joko Widodo beserta tim ekonominya memberikan pengarahan dan solusi secara live di televisi berupa stimulus, guna untuk menenangkan pasar sehingga pelemahan rupiah bisa dikendalikan,” kata Ibrahim.


Sentimen Penguatan Dolar

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Edi Susianto memahami, pelemahan rupiah terjadi karena adanya sentimen penguatan dolar AS. Dolar menguat hampir terhadap semua mata uang.

Faktor penyebabnya, kata Edi, adalah karena para investor (pelaku pasar) mengambil langkah hati-hati karena kekhawatiran stagflasi. Di mana satu sisi bank-bank sentral sangat agresif menaikkan suku bunganya karena mengatasi inflasi.

Di sisi lain, pelaku pasar khawatir juga terhadap pelemahan ekonomi global, yang semuanya bisa berujung pada kekhawatiran resesi global. Sehingga pelaku pasar hati-hati dengan menempatkan dananya di cash market dolar AS.

“Dampaknya hampir semua saham dan obligasi mengalami pelemahan, dan terjadi aliran outflow ke dolar AS. Itu mengapa indeks USD (DXY) terus menguat dari dibawah angka 100 sampai hampir mencapai 115," ujarnya.

Oleh karena itu, sebagai antisipasi bank sentral akan terus mengawal dengan triple intervention dan operation twist. Hal ini agar mekanisme pasar dan supply demand terjaga di pasar domestik. “Dan jangan sampai ada pelemahan yang berlebihan," ujarnya.

Merujuk data BI sampai dengan 21 September 2022, nilai tukar rupiah sempat terdepresiasi 4,97 persen secara year to date (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021. Depresiasi ini diklaim relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. Seperti India sudah 7,05 persen, Malaysia 8,51 persen, dan Thailand 10,07 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Nilai tukar pada 21 September 2022 hanya terdepresiasi 1,03 persen (ptp) dibandingkan dengan akhir Agustus 2022.

Perkembangan nilai tukar yang tetap terjaga tersebut ditopang oleh pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, serta langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia.

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi," kata Perry.


Untung Rugi Pelemahan Rupiah

Terlepas dari pelemahan mata uang rupiah, Bhima Yudhistira menilai, masih terdapat keuntungan bisa diambil oleh Indonesia, terutama bagi para eksportir. Dia mencontohkan pada saat 1998 ketika rupiah melemah cukup dalam terhadap dolar AS, eksportir komoditas kopi saat itu memperoleh devisa sangat besar.

“Dampaknya tentu bagi eksportir dengan pelemahan nilai tukar rupiah akan mendapatkan keuntungan cukup tinggi. Jadi eksportir diuntungkan," kata Bhima.

Namun terlepas dari keuntungan tersebut, lebih banyak mudharatnya. Pelemahan nilai tukar rupiah pertama akan membuat harga barang-barang impor kebutuhan sehari-hari terutama pangan. Misalnya gula, garam, daging sapi, gandum, kedelai, itu ikut mengalami kenaikan. Sehingga menciptakan tekanan inflasi di dalam negeri lebih tinggi.

Jika pelemahan nilai tukar rupiah semakin dalam, maka akan membuat BI menaikan tingkat suku bunga. Dan suku bunga yang naiknya terlalu tinggi akan menyebabkan pelemahan dari pertumbuhan kredit perbankan. Akibatnya masyarakat akan mengurangi belanja akibat kenaikan suku bunga pinjaman. Misalnya belanja untuk KPR, properti maupun beli kendaraan bermotor akhirnya ditunda.

Kemudian dampak lainnya akan terasa sekali biaya bahan baku untuk industri pengolahan yang diimpor. “Sehingga akan mengalami kenaikan signifikan kalau rupiahnya melemah," kata dia.


Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

Dengan kondisi pelemahan rupiah ini, Bhima menyarankan agar masyarakat lebih banyak menghemat, menunda belanja barang-barang yang sifatnya tersier atau tidak merupakan kebutuhan pokok. Selain itu, masyarakat juga perlu menyiapkan dana darurat untuk antisipasi tekanan ekonomi akibat melemahnya kurs rupiah.

“Masyarakat juga harus menyisihkan sebagian pendapatan untuk berinvestasi ke aset yang cukup bisa berikan imbal hasil di atas dari inflasi untuk lindungi nilai aset," kata dia.

Kemudian, Bhima juga mendorong agar masyarakat bisa mencari pekerjaan sampingan atau pekerjaan tambahan. Karena nilai tukar rupiah juga bisa mempengaruhi upah diterima dan mempengaruhi juga kesempatan bekerja.

“Jadi harus kreatif mencari pendapatan tambahan,” kata dia.

Selanjutnya tidak kalah penting yakni investasi. Masyarakat bisa memilih investasi yang imbal hasilnya di atas dari inflasi. Misalnya berburu pada reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang kemudian membeli SBN ritel.

“Ada lagi sekarang mencoba untuk melihat saham-saham yang masih imun terhadap gejolak dari eksternal. Itu mungkin yang bisa direkomendasikan,” kata Bhima.


Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz

DarkLight