Periksa Fakta

Menguji Klaim Tidak Perlu Vaksinasi Dosis Kedua

Oleh: Irma Garnesia - 7 September 2021
Dibaca Normal 3 menit
Perlindungan terbaik terhadap gejala COVID-19 terlihat dari orang-orang yang menerima dua dosis vaksin.
tirto.id - Pada 28 Agustus 2021 lalu, akun Facebook bernama Pakdhe Indro (arsip) mengunggah informasi terkait hasil tes titer antibodi (ukuran banyaknya antibodi dalam tubuh). Menurut Indro, ia melakukan tes titer antibodi sebanyak tiga kali; sebelum vaksinasi, 9 hari setelah vaksinasi, dan 30 hari setelah vaksinasi.

Menurutnya, sebelum vaksinasi menggunakan vaksin buatan Sinovac, belum terbentuk antibodi. Kemudian, 9 hari setelah vaksinasi, juga belum muncul antibodinya. Lalu, 30 hari setelah vaksinasi, antibodinya mencapai 103,2. Artinya, antibodi baru terbentuk 30 hari setelah vaksinasi.

Periksa Fakta Pakdhe Indro Belum Vaksin Dosis Kedua
Periksa Fakta Pakdhe Indro Belum Vaksin Dosis Kedua. (Screenshot/Facebook/Pakdhe Indro)


Lalu, akun Pakdhe Indro menyimpulkan bahwa vaksinasi berjalan dengan baik dan membentuk respon imunitas. Namun, akun ini juga menyimpulkan bahwa vaksin cukup sekali saja mengingat sel memori imun sudah terbentuk. Di unggahan lainnya terkait vaksin antibodi, Indro menyampaikan bahwa sertifikat vaksin juga tak diperlukan.

Bagaimana fakta dan pendapat para ahli terkait pernyataan ini?


Penelusuran Fakta

Tim Tirto melakukan pengecekan terhadap akun Facebook Pakdhe Indro. Foto akun tersebut beserta namanya memiliki kesamaan dengan akun Moh. Indro Cahyono. Akun tersebut kini sudah tidak dapat ditemukan di Facebook.

Sebagai informasi, Indro Cahyono telah beberapa kali memberi pernyataan-pernyataan terkait COVID-19. Pada 3 April 2020, dalam perbincangannya dengan artis Luna Maya (arsip), Indro menyampaikan pernyataan yang dianggap menyesatkan. Dalam video tersebut, Indro mengatakan dari 496 orang yang meninggal karena COVID-19 hingga 16 April 2020, belum ada satu pun yang meninggal hanya karena virus tersebut.

Pada 13 April 2020, sebuah pesan berantai yang berisi hasil wawancara dengan Indro juga menyebut bahwa pandemi COVID-19 hanya akan berlangsung selama dua minggu. Indro juga menyatakan bahwa pasien COVID-19 dapat sembuh dengan mengonsumsi vitamin E, dan bahwa virus bisa dibuat cepat menyebar dan menempel pada manusia. Tempo menilai informasi yang tersebar ini sebagai “benar sebagian”.

Beberapa pernyataan lain dari Indro yang dianggap salah sebagian di antaranya adalah ketika ia menuliskan pada April 2020 bahwa telah terjadi 'Hyper Reality', atau kenyataan semu yang berlebihan, di tengah pandemi COVID-19, kemudian ia juga menyatakan bahwa varian E484K dari virus penyebab COVID-19 bukan sebuah varian, melainkan hanya perubahan minimal yang dibesar-besarkan. Ia juga mengkritisi penamaan "Eek" untuk varian ini, yang disebut bersifat clickbait. Kedua pernyataan ini dikategorikan tim Periksa Fakta Tirto sebagai "salah sebagian".

Lantas, bagaimana kebenaran unggahan terbaru Indro?

Menurut panduan vaksinasi dari Satgas COVID, dosis dan cara pemberian vaksin harus sesuai dengan yang direkomendasikan untuk setiap jenis vaksin COVID-19. Vaksin buatan Sinovac sendiri, yang diberikan kepada Indro, diberikan dalam 2 dosis (0.5 ml per dosis) dengan interval pemberian antar dosis 28 hari.

Hanya vaksin Cansino, yang dikembangkan oleh CanSino Biological Inc. dan Beijing Institute of Biotechnology, yang diberikan sekali saja (0,5 ml per dosis), menurut laman tersebut.

Selain itu, menurut Rebecca Aicheleter, dosen Imunologi di Cardiff Metropolitan University, dua dosis vaksin diperlukan untuk mendapatkan perlindungan maksimal.

Seperti yang ditulis Rebecca di The Conversation, “Imunolog menyebut metode pemberian dosis ganda ini sebagai ‘prime boosting’. Pada dasarnya, dosis pertama diberikan untuk mengajari sistem imun mengenali virus yang dicari. Setelah itu, sistem kekebalan tubuh memiliki waktu untuk merespons dosis pertama tersebut," katanya.

Ia melanjutkan, "Kemudian, setelah sistem kekebalan tubuh punya cukup waktu untuk merespon dosis pertama, ia ditantang lagi. Respon imun ditingkatkan pada paparan dosis kedua."

Kebanyakan vaksin, meski tidak seluruhnya, menggunakan prime boosting untuk memaksimalkan proteksi. Hal ini dikarenakan imunitas bisa menurun seiring waktu, mirip dengan kasus pada vaksin flu, selain itu virus juga dapat berubah/bermutasi seiring waktu sehingga vaksin dosis pertama tidak lagi melindungi dengan maksimal.

Seperti dibahas oleh Cleveland Clinic, riset saat uji klinis pada kedua dosis vaksin dari Pfizer-BioNTech dan Moderna, yang berbasis mRNA, menunjukkan bahwa seiring waktu, tingkat kekebalan terhadap COVID-19 menjadi stagnan. Maka, dosis kedua dibutuhkan untuk meningkatkan tingkat kekebalan melebihi yang dihasilkan oleh dosis pertama.

Sebuah penelitian terkait penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech yang melibatkan lebih dari 43.000 partisipan juga menunjukkan bahwa 12 hari setelah pemberian dosis pertama vaksin, perlindungan vaksin itu terhadap gejala COVID-19 adalah sebesar 52 persen. Kemudian perlindungan ini naik hingga 95 persen setelah dosis kedua.

Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa perlindungan vaksin AstraZeneca/Oxford terhadap gejala COVID-19, 22 hari hingga 90 hari setelah vaksinasi, adalah sebesar 76 persen. Setelah injeksi dosis kedua, efikasi vaksin meningkat menjadi 81 persen.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa proteksi terbaik terlihat dari orang-orang yang menerima dua dosis vaksin.

Lebih jauh terkait rentang waktu penaikan dan penurunan titer antibodi, Profesor Claire-Anne Siegrist, ahli vaksinologi dan imunologi, menggambarkan secara rinci bagaimana titer antibodi terbentuk secara maksimal tujuh hari setelah vaksinasi dosis kedua. Antibodi sendiri memang terbentuk setelah vaksinasi dosis pertama (maksimal di hari ke-30), namun titer antibodi akan perlahan menurun setelah hari ke-30. Maka dari itu, vaksinasi dosis kedua dibutuhkan sebagai booster antigen exposure. Lalu, seperti yang dipaparkan Claire, titer antibodi akan berada pada puncaknya, bahkan melebihi jumlah titer antibodi dari vaksinasi pertama, 7 hari setelah vaksinasi dosis kedua.

Claire menjelaskan soal titer antibodi dalam buku "Plotkin’s Vaccines" Edisi Ketujuh yang diterbitkan oleh penerbit Elsevier. WHO menerbitkan bahasan Claire terkait vaksin imunologi tersebut di sini. Pembahasan spesifik terkait titer antibodi ada di halaman 24.

Selain informasi-informasi yang mendukung pentingnya vaksinasi dosis kedua, urgensi untuk mendapatkan vaksin dosis kedua meningkat karena varian Delta virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Para ilmuwan telah menyelidiki respons antibodi dari 250 orang yang divaksinasi dengan vaksin Pfizer-BioNTech terhadap lima varian virus Corona, serta varian Alpha dan Delta. Setelah dosis pertama dan kedua, para peneliti melihat apakah kelompok uji memiliki antibodi yang mampu mencegah infeksi – yang disebut antibodi penetralisir – untuk berbagai bentuk virus ini.

Pada individu yang hanya menerima satu dosis vaksin, tingkat antibodi penetralisir untuk varian Delta secara signifikan lebih rendah daripada varian Alpha. Artinya, penelitian menunjukkan bahwa dosis tunggal mungkin masih memberikan perlindungan yang lebih baik dibanding tidak ada vaksinasi. Namun, mereka yang hanya menerima dosis tunggal tidak memiliki proteksi yang lebih baik terhadap varian Delta.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa klaim Pakdhe Indro terkait tidak diperlukannya vaksinasi dosis kedua bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading). Titer antibodi akan meningkat setelah vaksinasi dosis kedua, seperti yang ditemukan dalam studi-studi yang dikutip sebelumnya.

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6288223870202. Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight