Mengingat Kembali Drama Korea Klasik

Cuplikan adegan film drama Korea 'Descendants Of The Sun. FOTO/KBS
Oleh: Arman Dhani - 20 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Perkembangan invasi kebudayaan Korea mulai dari K-Pop hingga K-Movie membuat tayangan drama Korea menjadi sebuah tontonan wajib bagi banyak orang.
tirto.id - Seorang gadis menyamar sebagai laki-laki untuk bisa bekerja. Ini mungkin bodoh, lebih sekedar konyol, ini juga tidak masuk akal. Seorang lelaki yang lain menyewa gadis yang sedang menyamar sebagai laki-laki ini untuk membantunya membatalkan perjodohan yang diselenggarakan oleh orang tuanya.

Adegan di atas ada dalam draa Korea berjudul Coffee Prince. yang diputar pada 2007. Drama ini menjadi salah satu karya penting industri hiburan Korea karena menembus tabu relasi homoerotik dan stigma LGBT di masyarakat konservatif negara itu.

Tapi, bukankah itu hanya drama, sekedar opera sabun, tontonan yang mestinya sekedar mengisi waktu ruang?

Benar, ia memang hanya drama. Namun, kita juga bisa melihatnya dari perpektif lain: bagaimana drama Korea mempengaruhi selera tontonan masyarakat di Asia. Banyak orang tergila-gila pada drama Korea sehingga sebuah negara bisa melarang pemutaran tontonan.

Di Cina, drama Korea Descendants of the Sun dilarang dan aktornya Song Joong Ki dilarang tampil dalam semua bentuk media di Cina. Sebelumnya, drama Korea ini mencapai 440 juta penonton di Cina. Ia dilarang dengan alasan degradasi nasionalisme dan semangat kebangsaan.

Di Indonesia, Hallyu telah menyeruak dan ada di sekitar kita. Hallyu atau Korean Wave atau Gelombang Korea adalah produk-produk kebudayaan populer Korea Selatan yang berbentuk film, lagu, dan drama. Salah satu variannya, drama, menjadi tontonan yang paling banyak ditonton secara ilegal di seluruh penjuru dunia.

Ini terjadi karena banyak sekali Drama Korea yang tidak ditayangkan secara langsung di negara-negara. Drama-drama ini kadang hanya muncul di beberapa situs resmi stasiun TV setempat, sehingga bagi yang mereka tak punya akses, mereka memutuskan menonton drama ini melalui situs-situs streaming ilegal.

Japan Times menurunkan artikel pendek mengapa drama Korea bisa membius masyarakat Asia. Menurut mereka, kisah cinta Platonik, visual yang indah, dan karakter yang unik membuat drama Korea begitu disukai. Pakar periklanan dari Singapura, Jamayne Lam, menyebut penokohan dan pemilihan tokoh dari drama Korea menjadi penting. Misalnya tokoh utama yang tampan dipadu dengan bintang senior yang menarik. Ia menyebut nyaris mustahil berhenti menonton drama Korea begitu Anda memulainya.

Bagi Anda yang belum pernah menonton Drama Korea, Tim Riset Tirto menurunkan beberapa rekomendasi drama yang bisa ditonton untuk memulai kecintaan terhadap Hallyu. Tim Riset Tirto mempertimbangkan pilihan berdasarkan kepopuleran, rating, dan alasan personal seperti aktor yang tampan/cantik. Beberapa drama ini dimulai seusai tahun 2002 dengan pertimbangan kemudahaan akses tontonan di jasa layanan streaming. Kami terbuka pada rekomendasi dan Anda bisa memberikan alasan rekomendasi tontonan Drama Korea klasik di kolom komentar.

Jika Anda suka menyukai kisah cinta yang muram dan ingin mencari tontonan yang memicu tangis, Winter Sonata yang diputar 2002 bisa jadi pilihan yang baik. Dibintangi oleh Bae Yong Joon dan Coi Ji woo, drama ini berlokasi di Pulau Nami. Rating film ini mencapai 23,10 persen saat pemutarannya di Korea. Ada 20 episode dengan jalan cerita yang bisa membuat anda menangis haru dan berteriak karena duka. Kematian jadi tema yang akrab, maka persiapkan tisu dan mental Anda sebelum menonton. Namun, yakinlah drama ini bukan satu-satunya yang akan membuat anda tersedu.

Endless Love atau Autumn in My Heart adalah drama Korea yang pernah tayang dan terkenal di Indonesia pada akhir 2000 atau awal 2001. Film ini menghadirkan 16 episode yang akan membuat Anda seperti sedang mengupas bawang: mata berair, hidung meler. Sebagai bonusnya, mood Anda bisa berantakan selama berhari-hari.

Dengan rating 38,60 persen saat ditayangkan di Korea, penampilan Song Seung Hun, Song Hye Kyo, dan Won Bin akan memeras air mata Anda sejak awal. Nyaris tidak ada kebahagiaan atau kesenangan, baik dari lagu pengiring, cerita, hingga akting membuat seluruh tayangan drama ini cocok bagi Anda yang ingin merasakan luka akibat cinta yang tak utuh dan gagal.



Jika Anda enggan menonton tayangan yang penuh tangis maka drama Full House yang tayang pada 2004 bisa jadi pilihan. Drama ini menghadirkan suasana meriah, lucu, dan jenaka. Ada 16 episode dengan rating 37,80 persen saat pertama kali ditayangkan di Korea. Drama ini dibintangi oleh Song Hye Kyo dan aktor sekaligus penyanyi Rain.

Lokasi shooting drama ini adalah di Gwangyeok-si, Incheon. Pemerintah Korea sendiri pada situs resmi pariwisata mereka memberikan informasi yang lengkap lokasi-lokasi mana saja drama terkenal yang diproduksi negara itu. Ini jadi penting, karena banyak penonton-penonton drama dari seluruh dunia datang ke Korea untuk menziarahi lokasi drama favorit mereka.

Tontonan lain yang menghibur adalah Coffee Prince, seperti pembuka tulisan ini, drama ini berkisah tentang Yoon Eun Hye yang menyamar sebagai laki-laki untuk bisa bekerja di Coofee Shop. Tayang pertama kali pada 2007 drama ini menghadirkan 17 episode yang menghibur. Tentang kisah cinta segitiga, yang rumit, dan penuh gengsi.

Rating drama ini adalah 24,20 persen pada penayangannya di Korea. Drama ini membuat masyarakat Korea dipaksa berbincang dan membahas tentang homoerotisme. Meski tokoh utamanya adalah perempuan yang menyamar sebagai laki-laki, secara umum LGBT masih menjadi tema yang tabu dibahas. Drama ini membuat banyak orang kembali memperbincangkan tema itu.

Pada 2015, KOTRA, lembaga promosi kebudayaan Korea yang dibiayai negara, mempublikasikan laporan tahunan tentang sebaran Hallyu di seluruh dunia. Index ini memperlihatkan pengaruh kebudayaan populer Korea di negara-negara lain. Survei ini melibatkan 8.130 di 29 negara. Beberapa negara non-Asia yang mulai menerima kebudayaan Korea di antaranya adalah Argentina dan Amerika Serikat.

Baca juga artikel terkait KOREA atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Film)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight