Menghidupi Keroncong Tugu Kemarin, Hari Ini, dan Selamanya

Oleh: Alfian Putra Abdi - 8 November 2020
Dibaca Normal 5 menit
Keroncong Tugu bertahan di saat pandemi Corona, sebagaimana mereka bertahan melintasi zaman sejak dulu kala.
tirto.id - Jalan Raya Tugu, Semper Barat, Jakarta Utara bukan lagi hutan belantara. Itu tinggal cerita turun-temurun orang tua kepada anak-anak. Kini kawasan tersebut didominasi permukiman, pertokoan, dan tempat parkir beragam jenis truk, dari CCD hingga trinton. Sengatan sinar matahari, udara khas pesisir, dan debu-debu jalanan menjadi satu kesatuan.

Arthur James Michiels merangkum kesan tersebut dalam lagu berjudul Balada si Warung Kopi, terdapat dalam album De Mardijkers bersama grup musik Krontjong Toegoe pada 2018.

Pada Rabu 4 November siang, Arthur, generasi ke-2 Krontjong Toegoe, grup musik bentukan ayahnya Arnd Michiels pada 1988, menemani generasi ke-3, para keponakan, berlatih santai mengisi waktu selama tak ada jadwal pementasan selama COVID-19. Arend Stefanus Michiels, keponakan tertua, memainkan gitar; Reijhart Daniel H Michiels yang berusia sekolah menengah memainkan celo; dan Frans Rudolf Michiels yang masih SMP memainkan machina. Arthur sendiri memainkan ukulele.

Mereka melantunkan lagu-lagu seperti Schoon Ver van Jou, Jali-jali, dan Sirih Kuning. Suara renyah machina, bulatnya celo, dan merdunya gitar serta ukulele bertalu-talu dengan bisingnya kendaraan besar di jalan raya.

“Main terakhir Maret, kami sambut Eaja Belanda. Sampai sekarang tidak ada job. Bingung menyiasatinya. Sementara teman-teman latihan kita kasih uang transportasi, uangnya dari kas hasil main,” ujar pria 52 tahun itu kepada saya di depan rumah warisan berusia 250 tahun milik keluarga Michiels.

Terakhir mereka pentas ketika kunjungan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima dari Kerajaan Belanda di Istana Bogor pada 13 Maret 2020.

“Begitu pandemi, semua job yang sudah ada, menjadi cancel. Mulai dari gathering, pernikahan, makan malam, close semua,” imbuh Arend, yang memimpin Krontjong Toegoe estafet dari sang ayah, Andre Juan Michiels, sejak 2017.


Arthur James Michiels
Arthur James Michiels sedang menemani para keponakan: Arend Stefanus Michiels, Reijhart Daniel H Michiels, dan Frans Rudolf Michiels di basecamp Krontjong Toegoe, Semper Barat, Jakarta Utara pada Rabu (4/11/2020). tirto.id/Alfian Putra Abdi


Situasi sekarang memang berbeda jauh dibanding sebelum pandemi. Ketika itu jadwal pentas Krontjong Toegoe melimpah, dalam sebulan mencapai 4-5 kali. Terkadang jika kebanjiran panggilan, mereka mengakalinya dengan membagi dua grup. “Sampai dibantu anak-anak UPI Bandung. Mereka main di Jakarta, kami berangkat ke Padang,” ujar pria kelahiran 1996 itu.

Setelah nyaris delapan bulan tanpa pementasan dan ketika sudah merindukan pertunjukan, Arend memutuskan untuk membuat konser virtual di Museum Kebaharian Jakarta pada 10 November 2020. Mereka bekerja sama dengan pihak museum dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta. Setiap penonton harus membayar, kemudian panitia akan memberikan mereka tautan dan kode rahasia untuk mengakses tontotan.

Arend mengatakan cara ini untuk “melihat atensi orang lain, rela enggak keluar duit untuk nonton keroncong.”

Meski pandemi menghambat geliat berkesenian Krontjong Toegoe, mereka tidak mau menengadahkan tangan kepada siapa pun, termasuk pemerintah. Meskipun janji-janji untuk membantu bertebaran dari berbagai pihak, namun mereka hanya menganggap angin lalu saja. “Kalau orang mau memberikan bantuan, enggak usah kita yang cari. Mereka saja yang lihat kalau sekiranya perlu. Pantanglah kita mengemis apalagi sampai tipu-tipu,” ujar Arthur.

Kekosongan jadwal pementasan juga dialami oleh Keroncong Tugu Cafrinho, grup keroncong lain dari Kampung Tugu. Mereka terakhir pentas pada Februari 2020, ketika COVID-19 melanda Indonesia, giat-giat berkesenian mereka terhenti. Bahkan untuk sekadar latihan pun mereka tidak bisa. Padahal sebelum pandemi mereka memiliki jadwal pentas yang padat, dalam sebulan bisa sampai 5 kali.

“Latihan tidak jalan karena kami tidak ada kas. Latihan perlu kopi, jajanan, dan macam-macam,” ujar pimpinan Keroncong Tugu Cafrinho generasi ke-4, Guido Quiko, Kamis 5 November.

Guido tidak tertarik melaksanakan konser virtual, sebab ia menilai biaya produksi tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan. Ia memilih untuk berdiam diri menunggu sampai kondisi benar-benar pulih.

“Kalau teman-teman dan ponakan saya ada yang kerja dan berdagang, ada juga yang total dimusik, mereka main bukan di Tugu [Cafrinho] doang. Kalau mereka masih ketolong, tapi untuk Tugunya enggak,” ujar Guido, tahun ini berusia 51.


Menghidupi Keroncong

Musik keroncong masuk berbarengan dengan pengasingan orang Mardijker oleh Belanda ke Batavia pada 1661. Sebelumnya Belanda merebut wilayah Portugis sekaligus permukiman asal orang Mardijker di Malaka. Sejak saat itu Belanda mengubah nama fam Portugis menjadi fam Belanda seperti Andres, Cornelis, Michiels, Abraham dan Browne; terkecuali Quiko, lantaran mereka keluarga penginjil.

Arthur merupakan keturunan Augustijn Michiels, disebut Susan Blackburn dalam bukunya berjudul Jakarta 400 Tahun sebagai Mardijker terkaya pada akhir abad ke-18 (hlm. 42). Ia rutin mengadakan pesta di kediamannya dengan melibatkan ratusan budak. Augustijn merupakan Mardijker terakhir yang hidup hingga 1833.

Arthur menambahkan, Augustijn memiliki banyak tanah di beberapa daerah, salah duanya di Citeureup dan Bekasi. Kekayaan Augustijn merupakan hasil mengabdi menjadi tentara VOC dari kompi Mardijker berpangkat kolonel.

“Kekayaannya Augustijn enggak habis tujuh turunan. Tapi lu jangan anggap gua orang ada (kaya). Gua generasi ke-10,” ujar Arthur terkekeh.

Meski berasal dari marga terpandang dan mewarisi kesenian yang sudah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Pemprov DKI Jakarta pada 2015, Arthur tidak mau ambil untung dengan menggantungkan hidup hanya dengan memainkan keroncong. Selain tidak menjanjikan, ia hanya berprinsip menjaga warisan budaya sebagai bentuk tanggung jawab moral agar tidak hilang digerus zaman.

“Bapak saya punya moto yang sampai sekarang kita pegang: mari hidupi keroncong, jangan hidup dari keroncong,” ujar Arthur. “Untuk yang ingin mencari kehidupan lain di luar keroncong, silakan tinggalkan keroncong.”

Begitu juga dengan Guido sebagai generasi ke-8 marga Quiko. Ia menilai keroncong tidak bisa menghidupi diri dan keluarga sepenuhnya. Guido merupakan keponakan dari Jacobus Quiko--orang yang membentuk Orkes Keroncong Moresco Toegoe II bersama Arnd Michiels pada 1950.

“Kita jaga supaya enggak lari dari pakemnya, lestari dan abadi,” ujar Guido.


Walaupun perjuangan melestarikan musik keroncong tak selamanya mulus, tak jarang masih ada pihak-pihak yang mempersoalkan identitas dan latar belakang mereka. Arthur sempat mengalaminya, ketika Krontjong Toegoe ditolak bermain di lebaran Betawi hanya karena persoalan identitas.

“Katanya, ‘orang Tugu bukan muslim, dia enggak lebaran’. Untungnya ada pejabat Sudin Parbud Jakarta Utara menjelaskan historis kami, dari itu sudah tidak lagi,” kenangnya.

Guido menambahkan, “Betawi beruntung punya Kampung Tugu, keturunan Portugis. Karena kita lah, keroncong sampai menjadi genre.”

Tradisional dan Modern

Keroncong Tugu Cafrinho dan Krontjong Toegoe menjadi dua grup keroncong tersohor dari Kampung Tugu. Mereka lahir dari rahim Orkes Keroncong Moresco Toegoe yang dipimpin oleh Joseph Quiko pada 1925.

Meskipun keduanya mengakar pada genre musik yang sama, Guido menilai gaya mereka cenderung tradisional, d mengandalkan format instrumen gitar, machina, ukulele, celo, bas, dan biola. “Saya lebih pakem keroncong tugu, lagu enggak kami ubah, enggak ikuti apa kata musik sekarang,” ujarnya. “Mereka mengubah aransemen dan warna musiknya akhirnya hilang. Mau enggak mau ada tugu tradisional dan modern.”

Satu album Keroncong Tugu Cafrinho berjudul Keroncong De Tugu yang dirilis 2013 dan dapat didengar via Spotify, menampilkan 14 lagu lawas semisal: Oud Batavia, Kr. Moresco, Bintang Surabaya, dan Sarinah. Guido mendaku belum menciptakan lagu sendiri. “Bikin lagu keroncong tugu itu agak sulit daripada bikin lagu dangdut,” ujarnya.

Sementara dalam dua album Krontjong Toegoe: Di Pesisir Utara (2017) dan De Mardjikers (2018), mereka memadukan lagu karya sendiri dengan lagu-lagu lawas keroncong tugu. Hanya satu album berjudul Madah Nusantara (2020) memuat lagu-lagu daerah.


Arthur James Michiels
Arthur James Michiels sedang menemani para keponakan: Arend Stefanus Michiels, Reijhart Daniel H Michiels, dan Frans Rudolf Michiels di basecamp Krontjong Toegoe, Semper Barat, Jakarta Utara pada Rabu (4/11/2020). tirto.id/Alfian Putra Abdi


Secara instrumen, Arthur mengakui ada penambahan alat semisal triangle, kenong, gong, mandolin, hingga harmonika. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan musik dan kemahiran para personel. “Skill yang dimiliki personil kami [memainkan instrumen lain] ketika digabungkan [nada dasar keroncong tugu], ini yang tidak dimiliki grup-grup lain, makanya kami spesial.”

Keduanya berkontribusi menghidupi musik keroncong tugu selama puluhan tahun dengan mengadakan pentas skala lokal, nasional, hingga internasional. Bahkan Krontjong Toegoe juga aktif mengadakan pelatihan di sekolah dan universitas. Dalam rentang 2010-2019, Keroncong Tugu Cafrinho pernah pentas di Tongtong Fair di Belanda pada 2019, Gebyar 50 Tahun Taman Ismail Marzuki pada 2018, Synchronize Festival 2017 di Kemayoran, hingga acara-acara Pemda DKI Jakarta. Sementara Krontjong Toegoe pernah bermain di Padang Indian Ocean Music Festival 2019, pembukaan M Bloc Jakarta, Solo Keroncong Festival, Indonesian School di Tokyo, KBRI Portugal, dan Museu do Fado di Lisboa.

Mereka juga memiliki unit muda, seperti Cafrinho mendirikan Keroncong Tugu Cafrinho Junior. Belum lama ini mereka tampil rekaman di sebuah stasiun televisi swasta. Sementara Krontjong Toegoe memiliki De Mardijkers. Mereka pernah mengiringi legenda keroncong Waldjinah di Demak pada 2011.

Arend Stefanus Michiels sebagai pimpinan termuda dalam peta musik keroncong tugu merasa terpanggil untuk terus melestarikan warisan budaya ini. Ia tidak khawatir dengan panggilan pentas naik-turun. Seretnya pentas saat pandemi hanya masalah waktu, katanya. Ia pun yakin keroncong tugu masih digemari generasi tua. Sementara untuk generasi muda, ia merasa itulah tugasnya: memperkenalkan musik para leluhur.

“Kalau bukan gue siapa lagi. Gue akan sangat bangga menyebut diri gua pemain biola keroncong,” ujar Arend.

Baca juga artikel terkait KERONCONG atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino
DarkLight