Menuju konten utama

Menggelar Pesta Pernikahan nan Hemat

Yang jelas, Anda tak bisa mengundang semua orang yang Anda kenal.

Menggelar Pesta Pernikahan nan Hemat
Ilustrasi pernikahan hemat. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Shahnaz Soehartono tak ragu mencoret beberapa nama anggota keluarga besar yang tertulis dalam daftar rancangan tamu acara pernikahan. “Saya menginginkan suasana pesta yang intim. Saya bukan tipe ekstrovert yang bisa merasa nyaman di tengah keramaian,” kata Shahnaz.

Ketika Aldi Wiratsongko mengajak Shahnaz menikah di 2013, masing-masing dari mereka berencana mengundang 20 orang tamu, yang terdiri dari anggota keluarga inti dan beberapa teman dekat. Sang ibu keberatan dengan keinginan mereka. Bagi ibu, acara pernikahan harus tetap tampak sebagai sebuah perayaan. Shahnaz dan Aldi kemudian menambah daftar tamu masing-masing jadi 50 orang.

Persiapan pernikahan dilakukan selama empat bulan. Seluruh biaya berasal dari tabungan yang telah mereka kumpul selama setahun. Awalnya mereka hanya ingin mengalokasikan uang Rp50 juta untuk biaya pesta. Peningkatan jumlah tamu dan keharusan menyewa tempat resepsi membuat anggaran meningkat sampai Rp100 juta.

Alokasi anggaran terbesar digunakan untuk menyewa tempat resepsi. Shahnaz memilih Hotel Gran Mahakam di Jakarta Selatan. “Tamu saya sedikit sehingga saya ingin memastikan mereka bisa menyantap makanan dan minuman yang benar-benar lezat. Saya memesan 100 porsi makanan buffet. Karena memesan dengan jumlah besar, pihak hotel menyediakan ruang pesta gratis,” kata Shahnaz yang berprofesi sebagai presenter berita televisi.

Pada acara resepsi, Shahnaz tampil mengenakan gaun pernikahan seharga Rp3 juta yang dibuat oleh penjahit langganan. Rias wajah dilakukan oleh penata rias yang setiap hari mendandani Shahnaz untuk keperluan siaran. Momen pesta diabadikan oleh dua fotografer dan satu videografer yang dibayar sebesar Rp5 juta. Beberapa bagian ruang dihiasi bunga-bunga yang berasal dari dekorasi altar gereja. Untuk dekorasi, Shahnaz mengeluarkan biaya Rp6 juta.

Shahnaz merasa bahagia lantaran sukses menyelenggarakan pesta impian. “Buat saya yang paling penting ialah kesakralan upacara pemberkatan nikah di gereja. Momen tersebut ialah inti dari perayaan perjalanan cinta kami. Oleh karena itu saya lebih banyak mengundang tamu di acara gereja ketimbang resepsi,” tuturnya. Wanita ini pun lega karena telah melalui berbagai tantangan yang sebelum hari pernikahan.

“Tantangan terbesar ialah pertanyaan-pertanyaan dari keluarga dan teman. Banyak anggota keluarga yang bertanya mengapa mereka tidak dilibatkan untuk mengurus pesta. Banyak teman yang bertanya-tanya mengapa tidak diundang. Saya rasa mereka harusnya bisa berpikir bila tidak diundang tandanya relasi kami tidak begitu dekat. Sesungguhnya memilah tamu ialah hal yang sulit dilakukan, tetapi saya harus tegas. Setelah acara ada orang-orang yang sensi dengan saya.”

Beberapa kawan Shahnaz yang berasal dari kalangan public figure menganggap acara pernikahan kecil ini sebagai inspirasi. “Di sini masih banyak orang yang beranggapan tidak mungkin bisa menyelenggarakan pesta pernikahan kecil dengan sedikit undangan. Sebenarnya bisa saja asal kita tahu prioritas dan berani untuk tega,” kata wanita yang memberi tanda terimakasih berupa tanaman kaktus seharga Rp12 ribu ini.

Pernikahan kecil dan sederhana tidak bisa dirasakan oleh pasangan Sarah Hutapea dan Martin Hutajulu. Mereka berdarah Batak. Martin ialah anak laki-laki pertama dalam keluarga. Sarah adalah anak perempuan terakhir dan satu-satunya dalam keluarga. Orangtua mereka berniat merancang pesta adat Batak serta resepsi yang mengundang ribuan orang. Hal tersebut tidak menghambat Sarah dan Martin untuk merealisasikan konsep resepsi pernikahan ideal versi mereka dengan cara efisien.

“Kami tidak memilih gedung pertemuan karena memikirkan durasi pesta dan waktu yang dibutuhkan untuk loading dan unloading barang. Akan tidak nyaman bila tamu masih ada di area resepsi tetapi sudah ada orang yang membereskan perlengkapan pesta. Kami juga memilih lokasi di dekat rumah dengan pertimbangan tidak perlu menyewa hotel untuk menginap. Prinsip kami apabila memang orang yang kami undang punya niat untuk datang, mereka akan tetap hadir meski lokasi jauh dari tempat mereka,” cerita Sarah yang melaksanakan resepsi di Chakra Lounge, Bumi Serpong Damai, Tangerang.

Ia membagi tamu menjadi dua bagian untuk menjaga area resepsi agar kondusif. Undangan untuk orangtua dan mereka yang berusia lanjut ada di jam 18.00–20.00. Kawan Sarah dan Martin diundang pukul 20.00- 22.00. Cara ini digunakan untuk menjaga agar area resepsi tidak sesak.

Undangan dibuat dalam dua versi. Tiap undangan dihargai Rp4 ribu. Sarah membuat sendiri desain undangan yang bisa disimpul tanpa amplop. Untuk percetakan, Sarah memilih di Pasar Tebet, Jakarta Selatan. Pasangan ini menginginkan konsep pernikahan yang terkesan personal dan tak lekang zaman. Hal tersebut mereka wujudkan pula dalam pemilihan suvenir berupa tas. Tas berasal dari kain belacu yang dibubuhi inisial nama mereka yang berbentuk serupa logo dengan elemen tradisional Batak.

Prinsip bisa memakai benda berulang kali juga Sarah terapkan dalam pemilihan busana. Ia menghindari memilih warna putih agar bisa memakai gaun dan kebaya pernikahan di acara lain. Untuk dua baju pernikahan ia menghabiskan dana sebesar Rp3 juta. Kebaya pengantin dipasangkan dengan kain tenun Sumatera Utara yang Sarah pesan langsung dari penenun di sana.

“Pembuatannya memakan waktu enam bulan. Saya mencoba mempertahankan tradisi lewat kain ini. Kelak, kain ini menjadi hal yang bisa kami ceritakan tentang pernikahan kami. Dalam pernikahan harus ada hal yang diprioritaskan. Buat saya tradisi yang ada pada kain ini jadi salah satu prioritas.”

Infografik Menghemat Biaya Pernikahan

Upaya menghemat biaya pernikahan juga pernah dilakukan oleh pasangan Natasha Attamimi dan Fariz. Pasangan ini berencana menikah di sebuah gedung yang telah memiliki rekanan vendor dekorasi dan katering yang bisa memudahkan acara pernikahan.

Natasha terpaksa harus mengganti konsep tersebut lantaran waktu itu (almarhum) ayahnya tengah sakit. Waktu pernikahan harus dipercepat. Tasha hanya punya waktu empat bulan untuk mempersiapkan pernikahan. Anggaran pun harus diperketat di jumlah Rp80 juta.

Ia segera mencari lokasi baru untuk menikah. “Tidak disangka kami justru mendapat lokasi lapangan golf dan bisa menerapkan konsep pernikahan rustic. Hal yang sejak lama kami inginkan,” kata Natasha. Lokasi tersebut ia dapatkan dengan harga Rp18 juta. Dekorasi ditangani oleh kawan Natasha dan menghabiskan 10 juta rupiah. “Properti dekorasi kami peroleh langsung dari perajin sehingga mendapat harga yang relatif murah.”

Kawan lain merekomendasikan jasa katering yang layak untuk digunakan di acara pernikahan. Untuk 600-an tamu, ia mengeluarkan anggaran untuk makan dan minum sebesar Rp28 juta. “Katering ini jadi salah satu prioritas suami saya. Sehingga kami mempersiapkan dana yang cukup besar untuk hal ini.”

Bagi Natasha hal utama yang harus diperhatikan dalam pernikahan ialah menentukan konsep. Setelah itu hal yang harus dilakukan ialah menyusun prioritas yang penting dalam acara. “Setidaknya enam lima hal yang saya pertimbangkan yaitu rias wajah, busana, foto pernikahan, dekorasi, katering, dan lokasi. Dari keenam hal ini saya dan suami sepakat memprioritaskan lokasi dan katering. Harus ada satu dua hal yang ditonjolkan. Tidak bisa semua.”

Biaya pernikahan memang kerap jadi momok. Anggapan bahwa pesta pernikahan harus mewah dan meriah membuat banyak orang gentar. Kejadian seperti ini tidak hanya ada di Indonesia. Pada 2016, survei dari XO Group, anak perusahaan The Knot, perusahaan yang bergerak di bisnis pesta pernikahan, mengatakan bahwa rata-rata biaya pernikahan di Amerika mencapai 35,3 ribu dolar.

Namun yang patut dicatat: jumlah undangan menurun. Artinya, kebanyakan pasangan di Amerika Serikat tidak lagi terfokus pada banyaknya undangan, melainkan kedekatan personal dan kualitas pesta pernikahan.

Tak jauh berbeda dengan AS, di London, Inggris, rata-rata pesta pernikahan menghabiskan £33,8 ribu, lebih tinggi £7 ribu dari biaya pernikahan di seluruh wilayah Inggris.

Untuk menekan biaya pesta pernikahan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Shahnaz dan Aldi memprioritaskan jumlah undangan. Sedangkan Sarah dan Martin mencari lokasi yang dekat dengan rumah. Natasha dan Fariz fokus ke lokasi dan katering. Trik lain adalah bikin undangan dengan harga terjangkau, karena undangan tak akan disimpan. Hanya sekali dibaca, lalu akan dibuang. Dengan menekan pos-pos anggaran yang dirasa kurang penting, maka seharusnya biaya pesta pernikahan bisa lebih murah lagi.

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan lainnya dari Joan Aurelia

tirto.id - Gaya hidup
Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono