Advertorial

Menggandeng Perusahaan Digital Jadi Solusi di tengah Pandemi

Oleh: Advertorial - 23 Agustus 2021
Dibaca Normal 4 menit
Asuransi Allianz terus mengeksplorasi kerja sama di bidang travel insurance, sebagai respons terhadap perubahan gaya hidup orang Indonesia.
tirto.id - Seperti banyak usaha lain di Indonesia, perusahaan asuransi juga merasakan imbas pandemi. Pada masa pagebluk ini, tantangan yang dihadapi perusahan asuransi juga semakin bervariasi. Tapi paling tidak, di lini asuransi kesehatan, minat masyarakat bertambah. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Mei 2021, sektor asuransi mencatatkan penghimpunan premi sebesar Rp12,5 triliun.

Meski demikian, pandemi tetap menyisakan problematiknya sendiri. Pada asuransi umum misalnya, perusahaan asuransi merasakan penurunan pendapatan premi yang tajam dibanding tahun-tahun sebelum pandemi. Pergerakan manusia yang sangat dibatasi selama lockdown dan PPKM tentu saja mengakibatkan beberapa lini bisnis asuransi umum mengalami penurunan.

Tirto menemui Mariani Solihah, Head of Partnership Affinity Allianz Indonesia, lewat platform daring untuk berbincang soal langkah-langkah yang ditempuh perusahaan asuransi di tengah pandemi. Terkait beberapa lini asuransi umum yang sedang lesu, Mariani sedang menyiapkan strategi untuk menyiasatinya.

“Strategi ke depan adalah terus melakukan eksplorasi dan memberikan akses akan perlindungan yang relevan kepada nasabah dan menyesuaikan dengan perkembangan situasi yang dihadapi,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan strategi lain yang sudah dilakukan untuk menjaga denyut nadi industri asuransi. Misalnya lewat berbagai proyek kolaborasi dengan perusahaan teknologi digital dan telekomunikasi seperti Gojek dan Telkomsel.

Berikut petikan wawancara dengan Mariani Solihah:

Sebagai Head of Partnership Affinity, bagaimana cara Anda agar tetap up-to-date terhadap perkembangan gaya hidup dan teknologi digital terutama dalam hubungannya dengan potensi kolaborasi?

Terus memperhatikan tren market. Tren perilaku masyarakat dalam pola belanja. Karena hal itu bisa kita kaitkan dengan proteksi yang relevan dengan kebutuhan mereka. Juga menjalin kerja sama dengan insure tech / digital broker untuk membangun network dan opportunity ke potential partner yang menjadi sasaran kami.

Menurut Anda, mentalite dan perilaku seperti apa yang dibutuhkan bagi pemegang peran Head of Partnership Affinity dan bagaimana Anda menajamkan kompetensi?

Selalu up-to-date akan kondisi market Kita harus bisa menganalisis kebutuhan pasar. Kreativitas itu penting karena kita harus bisa memberikan solusi kepada partner maupun nasabah dari partner yang merupakan target dari proteksi yang ditawarkan. Bagaimana agar semua win-win. Intinya, kita harus memberikan solusi. Solusi produk, solusi dalam hal customer experience, itu yang saya rasa harus kuat dimiliki Head of Partnership Affinity. Ia juga harus bisa, mengawinkan eksternal dan internal stakeholder.

Apa tantangan terbesar Anda selama berkarier di bidang asuransi?

Citra asuransi itu serius banget dan mungkin asuransi bisa dibilang kaku. Ya barangkali kalau yang muda-muda merasanya asuransi bukan sesuatu yang menarik. Untuk jadi pekerjaan kurang seksi. Tapi itulah yang menjadi tantangan. Kadang-kadang untuk mencari sumber daya yang mumpuni dan kapabel memang terbatas.

Tantangan berikutnya dari sisi distribusi. Karena pengertian atau edukasi tentang asuransi masih minim, masyarakat belum mengerti sepenuhnya apa itu asuransi; sehingga kesadaran akan kebutuhan terhadap asuransi masih rendah. Jadi tantangannya adalah bagaimana kita bisa meyakinkan masyarakat bahwa asuransi itu penting. Mereka butuh proteksi.

Kondisi pandemi menjadi tantangan, tapi di lain sisi juga merupakan peluang. Paling tidak, pandemi ini bisa menjadi semacam moment of truth bahwa asuransi memang penting. Secara tidak langsung, ini diharapkan bisa membangun awareness masyarakat tentang kebutuhan akan proteksi.

Bagaimana Anda menghadapi tantangan tersebut?

Untuk tantangan dari sisi sumber daya manusia, pada akhirnya harus kita yang mengadakan training dari awal. Rekrut fresh graduate dan memberikan training yang cukup. Disisi lain asuransi juga berkembang. Dulu kesannya tradisional, sekarang sudah berkembang menuju digital. Jadi kita juga fokus kepada digital insurance. Kita menyasar pula ke retail dan menawarkannya secara digital. Bekerja sama dengan mitra-mitra strategis juga jadi solusi pada saat ini. Inisiatif-inisiatif ini secara tidak langsung juga membantu edukasi asuransi ke masyarakat secara umum.

Inovasi dan strategi semacam apa yang perlu dikembangkan pada saat ini dan bagaimana cara mencapainya?

Tentunya strategi dan inovasi yang kami lakukan harus bisa beradaptasi dengan kondisi yang saat ini kita hadapi, yakni kondisi pandemi, dengan fokus utama terus memberi layanan terbaik kepada tenaga pemasar maupun nasabah Allianz dengan solusi proteksi yang kami tawarkan. Selain itu, kita terus memantau tren pasar dan potensi yang ada untuk terus memberikan proteksi ke masyarakat secara luas dan membesarkan pangsa pasar dari asuransi

Cara konkret apa yang dilakukan?

Kebetulan yang saya handle adalah distribusi partnership affinity, di mana impact dari pandemi cukup signifikan pada distribusi ini. Contohnya lini bisnis seperti travel insurance, sangat terimbas di kondisi pandemi ini.

Strategi ke depan adalah terus melakukan eksplorasi dan memberikan akses akan berbagai perlindungan yang relevan kepada nasabah dan menyesuaikan dengan perkembangan situasi yang dihadapi. Banyak proteksi relevan yang memang dibutuhkan masyarakat yang bisa kita tingkatkan melalui kerja sama dengan mitra bisnis maupun rekan insurance tech / digital broker.

Bisa sebutkan bidang apa saja yang jadi target kerja sama?

Pada 2020, kita cukup banyak meluncurkan kerja sama, contohnya dengan Gojek yang ditawarkan di aplikasi GoSure. Lalu ada pula dengan GoSend, yakni perlindungan pengiriman barang. Untuk kerja sama terkait produk travel insurance, masih ada yang kita luncurkan walau volumenya karena pandemi memang jauh [lebih sedikit] dibanding sebelum pandemi.

Bisa jelaskan dampak yang diharapkan dari peningkatan angka penetrasi asuransi di Indonesia?

Tujuan besar perusahan asuransi adalah agar kita bisa mengasuransikan masyarakat Indonesia. Memberikan perlindungan, memberikan peace of mind dengan produk-produk asuransi progresif yang kita miliki. Ini tentunya ada peranan besar dari penetrasi asuransi. Tugas kita sebagai pelaku industri itu adalah mengedukasi masyarakat mengenai asuransi. Sehingga mereka mengerti asuransi dan kebutuhan akan asuransi pun timbul dan pada akhirnya mendorong tingkat penetrasi. Upaya itu diimbangi dengan kerja sama dengan mitra yang memiliki akses terhadap masyarakat luas atau database pelanggan yang kuat, sehingga kita memberi jalur yang mudah kepada masyarakat untuk mendapat produk asuransi.

Sejak kapan gagasan untuk fokus terhadap perlindungan gaya hidup dan pemanfaatan teknologi digital ini muncul dan bagaimana respons publik sejauh ini?

Di Allianz, kita selalu memantau kebutuhan proteksi di masyarakat seperti apa trennya. Jadi memang kita terus berinovasi. Untuk produk yang berkaitan dengan gaya hidup, sudah kita mulai 10 tahun ke belakang. Waktu itu kita awali dengan produk travel insurance. Kita kerja sama dengan travel agen konvensional. Travel agen ini mempromosikan asuransi perjalanan ketika nasabah datang untuk membeli tiket atu paket perjalanan. Jadi kita fokus memberikan perlindungan lifestyle yang sesuai kebutuhan nasabah ketika ia mengakses produk atau jasa mitra kita.

Pada 2014, kita bekerja sama dengan Garuda untuk produk yang sama. Sampai saat ini, kita banyak berinovasi serupa, terutama untuk produk lifestyle. Saat ini, kita bekerja sama dengan berbagai insurance tech / digital broker seperti Pasar Polis, Cermati, Qoala, dan banyak nama lain. Kemudian kita juga punya beberapa produk atau solusi perlindungan yang bekerja sama dengan Gojek yang ditawarkan bersamaan dengan produk dan servis Gojek.

Kita juga bekerja sama dengan Home Credit Indonesia. Kita tawarkan asuransi untuk gadget sehingga ketika orang bisa menambahkan proteksi untuk gadget-nya ketika melakukan pembiayaan gadget-nya melalui Home Credit. Kemudian yang baru diluncurkan adalah kerja sama dengan Telkomsel untuk asuransi kecelakaan diri.

Bagaimana respons sejauh ini?

Hasilnya positif karena kuncinya kita harus menawarkan proteksi yang relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Contohnya kerja sama dengan Gojek. Ketika nasabah memakai jasa GoSend, otomatis ada kebutuhan perlindungan terhadap barang yang diantar. Begitu juga dengan contoh kerja sama dengan Home Credit.

Bagaimana cara Anda mengurasi mitra yang layak menjadi kolaborator Allianz pada saat ini?

Memiliki presensi dan basis pelanggan yang kuat karena tujuan akhirnya adalah bagaimana memberikan proteksi ke lebih banyak lagi masyarakat di Indonesia. Kita juga memberikan produk inovatif yang relevan terhadap kebutuhan nasabah yang juga disesuaikan dan melengkapi produk dan servis yang ditawarkan mitra/partner kita.

DarkLight