Mengenang Pulisball: Filosofi Tony Pulis bersama Stoke City

Oleh: Renalto Setiawan - 14 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Taktik Tony Pulis yang dianggap membosankan justru berhasil membuat geger Premier League.
tirto.id - Setelah kepergian Steve Cotterill pada 31 Oktober 2002 silam, Terry Conroy tidak setuju saat Stoke City memilih Tony Pulis sebagai pelatih baru mereka. Menurut legenda Stoke tersebut, mereka seharusnya merekrut pelatih baru yang mempunyai reputasi besar.

Conroy beralasan, “kami adalah Stoke City dan kami adalah klub besar.”

Alasan Conroy itu jelas menggelitik. Kala itu Stoke tidak lagi sehebat pada awal tahun 70-an, saat Conroy masih aktif mengintimidasi pertahanan lawan dari sisi lapangan. Sebaliknya, mereka justru menjadi pesakitan di Championship. Saat Cotteril mengundurkan diri Stoke hanya menang 3 kali dalam 13 pertandingan. Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk sekadar menarik perhatian. Medioker.

Pulis datang ke Stoke juga tak membawa apa-apa, kecuali cerita tentang keberhasilannya membawa Gillingham promosi dari League Three (divisi keempat liga Inggris) ke League Two (divisi kedua liga Inggris) pada musim 1995-1996. Saat itu Gillingham memang membikin banyak orang geleng-geleng kepala. Bukan, bukan karena prestasinya, melainkan karena gaya bermainnya yang sangat kuno: mereka bermain bertahan dan mengandalkan bola-bola lambung, seolah bola lebih cocok dimainkan di udara.

Dengan gaya seperti itu, Gillingham hanya mampu mencetak 49 gol dalam 46 pertandingan. Sebaliknya, rekor pertahanan mereka sangat mengagumkan: anak asuh Tony Pulis itu hanya kebobolan 20 gol. Di seluruh piramida sepakbola Inggris, pencapaian Gillingham itu tiada banding. Manchester United yang berhasil menjadi kampiun Premier League pada musim itu bahkan kebobolan 35 gol meski bermain delapan pertandingan lebih sedikit daripada Gillingham.

Gaya kuno itu lantas diterapkan Pulis di Stoke dan berhasil menyelamatkan klub itu dari jeratan degradasi. Mereka finis di peringkat ke-21, satu tingkat di atas zona degradasi.

Sayangnya, setelah itu pemilik dan para penggemar Stoke merasa bosan dengan pendekatan Pulis. Puncaknya terjadi pada musim 2004-2005 lalu. Kala itu, dalam 17 pertandingan secara berurutan (30 Oktober 2004-19 Februari 2005), Stoke hanya menang 1-0, bermain imbang 0-0, atau kalah 1-0. Musim itu lantas dikenal sebagai “binary season”. Pulis didepak pada akhir musim dan berlabuh di Plymouth.

Menariknya, setelah Stoke melakukan pergantian pemilik, Pulis kembali ke Stoke pada musim panas 2006. Penggemar Stoke jelas tak terima dengan kembalinya Pulis. Richard Grisdale, salah seorang penggemar Stoke, bahkan berbuat nekat. Ia rela menghabiskan uang sebesar 200 paun untuk mencetak 10.000 kartu merah. Rencananya, kartu merah itu akan dibagikan ke penggemar Stoke lainnya lantas diarahkan ke Pulis saat pertandingan. Namun, ide Grisdale tersebut tak pernah terlaksana. Satu musim setelahnya, Pulis berhasil membawa Stoke ke Premier League untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dan gaya kuno Stoke di bawah asuhan Pulis itu justru membuat geger Premier League.

Orang-orang Menyebutnya Sebagai Pulisball

Menurut Michael Cox, analis sepakbola Inggris, pendekatan taktik Tony Pulis dikenal dengan sebutan “Pulisball” (The Mixer, 2017). Dalam fase bertahan, biasa bermain dengan formasi 4-4-2, Stoke akan bermain menyempit dan bertahan secara mendalam. Empat pemain belakang akan berdiri berdekatan dengan empat pemain tengah. Untuk membentuk “the back eight”, Pulis lantas memperlakukan empat pemain tengah itu sebagai lini pertahanan kedua.

Dengan pendekatan seperti itu, Pulis ingin memaksa tim lawan melakukan serangan dari sisi lapangan. Dan saat mereka membombardir pertahanan Stoke dengan umpan silang, ia mempunyai kartu as dari pendekatan taktiknya itu: bek-bek tengah yang jangkung dan jago dalam duel udara. Pada musim 2008-2009, Stoke memiliki Abdoulaye Faye, Ryan Sawcross, hingga Danny Higginbotham.

Sementara itu, dalam fase menyerang Pulis memiliki cara yang lebih sederhana: mengandalkan umpan-umpan lambung. Untuk memaksimalkan hal tersebut, ia juga gemar memasang penyerang yang jago dalam duel-duel di udara. Ricardo Fuller adalah salah satunya. Penyerang asal Jamaika yang memiliki tinggi 1,91 meter itu merupakan top skorer Stoke sewaktu bermain di Championship pada musim 2007-2008. Kala itu, ia berhasil mencetak 15 gol.

Yang menarik, terutama dalam menyerang, pendekatan Pulis itu tentu sangat mudah dimentahkan oleh lawan. Bagaimanapun, mengendalikan bola di udara tentu jauh lebih sulit daripada memainkannya dari kaki ke kaki. Untuk itu, Pulis juga mempunyai senjata rahasia yang pada mulanya tak diduga oleh tim Premier League lainnya: kemampuan lemparan ke dalam yang dimiliki oleh Rory Delap.

Delap setidaknya mampu melakukan lemparan ke dalam sejauh 36,5 meter.

“Pada saat aku bermain di Stoke, manajer (Pulis) tahu segalanya tentang kekuatan lemparan ke dalamku dan bermaksud untuk memanfaatkannya sepenuhnya... salah satunya adalah melakukan lemparan langsung ke daerah pertahanan lawan, tetapi Anda membutuhkan pemain lain yang cukup berani agar itu dapat bekerja, “ tutur Delap.


Kemampuan Delap ini lantas ditunjang dengan kecerdikan Pulis. Saat kondisi memungkinkan Delap melempar langsung ke kotak penalti lawan, dua bek tengah Stoke biasanya akan ikut ke depan. Mereka akan bergerombol ke dalam kotak penalti lawan bersama pemain-pemain Stoke lainnya untuk membuat kiper lawan berada dalam posisi tidak nyaman.

Kelak, pendekatan ini pernah membuat Arsene Wenger mencak-mencak. Pada tahun 2010 lalu, ia sampai mengatakan,” Anda tidak bisa mengatakan bahwa ini sepakbola; ini adalah rugby terhadap penjaga gawang.”

Selain itu, Pulis juga mengatur agar luas lapangan Stadion Britannia, markas Stoke, berada di batas minimum regulasi Premier League, sehingga memudahkan Delap dalam melakukan lemparan ke dalam. Dibantu dengan bentuk kuno Stadion Britannia yang sudut-sudutnya terbuka, angin bisa membuat lemparan jauh yang dilakukan Delap semakin menarik untuk dilakukan.

Hitung-hitungan Pulis tersebut manjur. Setelah lemparan ke dalam Delap berbuah assist saat Stoke mengalahkan Aston Villa 3-2 pada pertandingan kedua Premier League musim 2008-2009, tim-tim Premier League lainnya mulai ciut terhadap pendekatan taktik Stoke tersebut. Selain itu, beberapa pelatih juga kagum. Luiz Felipe Scolari, yang saat itu melatih Chelsea, adalah salah satunya.

“Aku pikir ia (Delap) lebih baik menggunakan tangannya daripada kakinya saat memainkan bola – itu fantastis,” tutur Scolari. Mantan pelatih timnas Brasil itu tak luput memuji pendekatan Pulis, “Barangkali itu bukan sepakbola indah tapi sepakbola efisien... Mereka langsung menaruh bola di dalam kotak karena mereka cerdas. Aku menyukai pelatih ini. aku menyukainya karena dia berbeda.”

Hingga November 2008, Stoke berhasil mencetak 13 gol di Premier League dan sebagian besar di antaranya terjadi berkat lemparan ke dalam Delap. “Pulisball” pun menjadi bahan pembicaraan. Tom Lamont, kontributor The Guardian, bahkan sampai menyebut bahwa “lemparan ke dalam Delap merupakan inovasi terbesar di Premier League.”

Karena begitu efektif, Barney Roney dan Pau Doyle, dua penulis The Guardian, juga melakukan analisis terhadap pendekatan taktik Pulis tersebut. Mereka bertanya kepada Don Howe, mantan pelatih Inggris yang mempopulerkan lemparan jauh ke sepakbola dunia pada 1982 silam: Bagaimana cara menghentikan Stoke mencetak gol dari lemparan ke dalam Delap?

Infografik Stoke City Era Tony Pulis
Infografik Stoke City Era Tony Pulis


Menurut Howe, setidaknya ada tiga cara untuk menghentikan lemparan ke dalam Delap. Pertama, saat Delap melakukan lemparan jauh, tim lawan harus mengawal big men Stoke juga dengan big men yang mereka miliki. Tujuannya jelas: untuk memperbesar peluang mendapatkan bola pertama.

Kedua, salah satu tujuan dari bergerombolnya pemain-pemain Stoke di dalam kotak penalti adalah untuk mengganggu penjaga gawang. Maka, Howe menyarankan agar para pemain bertahan menjauhi goal area. Dari sana kiper tinggal berhadapan dengan pemain-pemain Stoke. Karena goal area merupakan daerah istimewa kiper, pemain-pemain Stoke tidak bisa seenak jidat dalam mengganggu kiper.

Dan ketiga, Howe menyarankan agar jangan sampai terkena lemparan ke dalam di daerah berbahaya saat menghadapi Stoke. Hal tersebut memang sulit untuk dilakukan, tapi paling manjur ketimbang dua pendekatan lainnya.

Sejak saat itu, dampak dari lemparan ke dalam Rory Delap memang mulai berkurang. Namun, terutama saat bermain di Stadion Britannia, Stoke tetap sulit untuk dikalahkan. Selama bola masih bisa dimainkan di udara, Stoke masih baik-baik saja. Stoke pun akhirnya berhasil bertahan di Premier League, finis di peringkat ke-12. Dan “Pulisball” terus dikenang sampai sekarang.

Baca juga artikel terkait LIGA INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono