Obituari

Mengenang Mikhail Gorbachev, Penggagas Keterbukaan di Uni Soviet

Penulis: Nuran Wibisono, tirto.id - 31 Agu 2022 14:48 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Mikhail Gorbachev dikenal sebagai pemimpin yang "membelah" Uni Soviet menjadi dua pandangan.
tirto.id - Mikhail Gorbachev berjalan bersama cucu perempuannya, Anastasia Virganskaya, di tengah Moskow yang sedang hujan salju. Mereka kemudian masuk ke Pizza Hut, lantas membuat satu keluarga yang sedang makan jadi berbelok fokus.

“Itu Gorbachev,” kata sang ayah sinis. Ia kemudian mulai mengeluh. “Karena dia, kita mengalami kemunduran ekonomi!”

Sang anak lelaki menimpalinya.

“Berkat dia, kita bisa punya kesempatan.”

Ayahnya tak mau kalah.

“Gara-gara dia, situasi politik kita jadi tidak stabil!”

“Berkatnya, kita bisa punya kebebasan.”

“Kekacauan total!”

“Harapan!”

“Politik tak stabil,” ujar sang ayah mengulangi keluhannya.

Perdebatan tanpa juntrung itu dipotong oleh sang nenek.

“Berkat Gorbachev, kita bisa menikmati banyak hal… Termasuk Pizza Hut.”

Semua setuju, berdiri, dan melempar salute pada Gorbachev.

Iklan Pizza Hut itu dirilis pada 1998 dan bikin banyak orang kaget dan marah. Iklan yang ditayangkan secara global, kecuali di Rusia itu dianggap sebagai simbol “kemenangan” kapitalisme di Rusia, setelah Uni Soviet bubar pada 1991. Gorbachev, sebagai pemimpin terakhir Soviet, dituding menjadi sales pizza dari Amerika Serikat, dan lebih jauh: agen kapitalisme.

David Broeder yang menulis “The Man Who Brought Pizza” untuk Jacobin menyebut kehadiran Gorbachev di iklan Pizza Hut itu sebagai “...simbol proyek reformasi yang gagal. Sebuah kegagalan.”

Gorbachev memang bukan orang yang asing dengan kegagalan–juga kemiskinan dan kemalangan. Lahir dari keluarga petani rudin di Privolnoe pada 2 Maret 1931, Gorbachev kecil sudah terbiasa dengan tragedi. Di masa kelaparan besar (1932-1933), dua paman dan satu bibinya meninggal kelaparan. Ayahnya sempat ditahan di gulag ketika Nazi masuk ke Uni Soviet.

Namun di luar dugaan, hidup Gorbachev kecil bahagia. Dalam buku biografi Gorbachev: His Life and Times, William Taubman menulis: ini berkat sifat alamiah Gorbachev yang ceria dan optimis. Ini membuat semua kesengsaraan bagai kerikil kecil belaka.

“Kami miskin, bahkan sebenarnya kami ini bisa masuk ke dalam golongan pengemis. Tapi secara umum, aku merasa bahagia,” ujar Gorbachev.

Cara mendidik orang tua Gorbachev juga menempa mentalnya. Gabungan dari ibunda yang disiplin, keras, dan tak segan main tangan; serta kasih sayang dari ayahnya yang lembut dan dihormati kawanannya, membuat Gorbachev tak asing dengan berbagai perangai manusia. Ia ada di tengah, menyerap dan mempelajari semua emosi yang ia bisa.

Keluarganya punya sejarah sebagai para pekerja keras, dan menurunkan etos ini ke Gorbachev. Saat musim semi tiba, dia turut bertanggung jawab mengelola kebun yang jadi sumber pangan keluarga. Ibunya, Maria Gorbacheva, sudah bangun sebelum subuh, menggali tanah dan menyiangi rumput liar. Setelah itu, Gorbachev akan mengambil alih tugas ibunya yang pindah kerja di kolkhoz (lahan kolektif).

Pekerja keras di kebun, Gorbachev juga pembelajar tekun di atas meja. Dia sadar bahwa pendidikan adalah jalan untuk bisa naik ke atas–dan menjadi siswa teladan di sekolah.

Maka, tulis Taubman, ketika akhirnya meninggalkan Privolnoe untuk kuliah di Moscow State University, Gorbachev sudah menjadi seorang pria yang “...kuat, berpikir merdeka, dan percaya diri, bahkan sampai ke titik arogan.”

Yang Papa yang Cemerlang

Di Moscow State University, kampus paling bergengsi di Uni Soviet, Gorbachev mengambil jurusan Hukum. Almanak menunjukkan tahun 1950. Saat itu Uni Soviet sedang membangun ulang imperiumnya setelah perang, dan banyak membutuhkan teknokrat serta tenaga ahli.

Penampilan, juga logat Gorbachev, sering jadi sorotan teman-temannya. Di kampus elite, dengan orang-orang kosmopolit, Gorbachev jadi liyan. Dmitry Golovanov, seorang kawan kuliahnya, mengenang Gorbachev sebagai orang yang, “...punya tampilan kaum jelata.” Sedangkan Nadezhda Mikhaleva ingat betapa penampilan tak penting bagi Gorbachev muda.

“Dia hanya punya satu jas, dan dia mengenakannya terus menerus selama lima tahun,” kenang Mikhaleva.

Di kampus, Gorbachev mengakui kalau dia adalah mahasiswa yang ambisius (ambitsioznyi). Dia sering begadang hingga larut malam untuk belajar.

“Kenapa aku jadi pelajar yang ambisius? Entahlah, itu hal alamiah mungkin. Kenapa ada lima hingga tujuh persen orang di dunia ini bisa jadi mendirikan usaha mereka sendiri, sedangkan sisanya jadi tenaga kerja? Ini perkara karakter,” ujarnya.


Setahun berlalu, sekat tebal antara yang kaya dan yang papa runtuh. Gorbachev menunjukkan diri sebagai murid Fakultas Hukum yang cemerlang. Perasaan bangga dan kualitasnya sebagai seorang mahasiswa, mengantarkannya lulus pada 1955. Gorbachev yang datang sebagai orang desa miskin ketika di awal kuliah, menjadi orang yang sama sekali berbeda ketika lulus.

Moscow State University berhasil menanamkansekaligus mengokohkan–kerangka berpikir yang kelak memengaruhi tindakan dan pandangannya ketika masuk dunia politik.

“Di sana aku belajar pengetahuan dasar dan kekuatan diri yang krusial dalam menentukan pilihan-pilihan yang kubuat. Di sana, aku memulai proses panjang memikirkan ulang sejarah negaraku, keadaannya masa kini, dan seperti apa ia di masa depan. Satu hal yang pasti: tanpa lima tahun kuliah, tak akan pernah ada Gorbachev Si Politisi,” ujarnya.

Infografik Mikhail Gorbachev
Infografik Mikhail Gorbachev. tirto.id/Fuad


Terbuka dan Membangun Ulang

Senin 11 Maret 1985, Gorbachev yang dijuluki Mecheny --The Marked One, merujuk pada tanda lahir besar di batok kepalanya-- sampai di vilanya di luar Moskow pada pukul empat pagi. Sejak sehari sebelumnya, dia dan para koleganya sibuk gara-gara kabar buruk: Konstantin Chernenko, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, meninggal dunia.

Andrei Gromyko, Menteri Luar Negeri Uni Soviet, mengusulkan Gorbachev untuk menggantikan Chernenko. Gorbachev, saat itu menjabat sebagai Ketua Komite Luar Negeri Uni Soviet, cukup terkejut dengan penunjukannya yang tanpa tentangan para kolega di Politbiro–dewan pimpinan tertinggi di Partai Komunis.

“Ini adalah kejutan untuk suamiku. Kami tak pernah mendiskusikan ini sebelumnya,” kenang istri Gorbachev, Raisa Titarenko.

Namun, William Taubman yang menulis buku biografi Gorbachev, menyangsikan kalau Gorbachev tak pernah mendiskusikan penunjukan ini–atau pun kemungkinan dia naik suatu saat nanti–dengan istrinya. Pasalnya, Gorbachev dikenal selalu mendiskusikan apa pun, termasuk karier dan pilihan-pilihan politiknya, dengan istrinya.

Gorbachev mengaku bahwa dia awalnya enggan mengambil jabatan maha penting di negaranya itu. Ia merasa belum siap. Saat itu, kenang Gorbachev di momen reuni bareng kawan-kawan kuliahnya, Ia akan mundur dari pencalonan jika ada satu saja orang Politbiro yang menentang.

Pada akhirnya, Gorbachev Si Politisi melenggang ke pucuk tertinggi Partai Komunis Uni Soviet dengan dukungan mutlak anggota Politbiro. Gorbachev, menurut mereka, memiliki “...energi kreatif tak terbatas, dan tekad untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik.”

Victor Chebrikov, Ketua badan intelijen Uni Soviet Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB), menyebut bahwa Gorbachev adalah, “...suara rakyat kita, mudah berbaur, tahu cara mendengarkan orang lain.”

Kemampuan mendengarkan orang lain, dan juga pandangan-pandangan yang lahir sedari kuliah, ini yang nantinya jadi dasar untuk membangun ulang Uni Soviet.

Glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) adalah gagasan Gorbachev yang berawal dari kemauannya mendengar dan merangkul, termasuk para “musuhnya”, yakni negara-negara Barat. Ia juga menekankan pentingnya demokrasi–yang lagi-lagi adalah simbol bahwa ia memang mau mendengarkan orang lain.


Dengan gagasan yang disebarkan dengan cepat, bahkan mungkin terlalu cepat, Uni Soviet seperti tak sanggup menahan roda yang berputar demikian gegas. Maka terjadilah dikotomi yang nampak di iklan Pizza Hut ala Gorbachev ini. Benturan ini pada akhirnya membesar dan berujung pada runtuhnya Uni Soviet.

Fred Kaplan, mantan Kepala Biro Boston Globe di Moskow pada 1992, mengatakan bahwa ini adalah tragedi Gorbachev. Ia seperti kebingungan berpijak dan sikapnya menjadi oksimoron. Di satu sisi, dia ingin Uni Soviet lebih demokratis, termasuk memberikan hak bicara dan memberlakukan pasar bebas, tapi di sisi lain, ia masih ingin bercokol sebagai penguasa di Partai Komunis yang adalah antitesis dari semua ide Gorbachev tentang keterbukaan dan reformasi.

“Partai Komunis pada akhirnya tak kuat menahan benturan ini. Ia tak bisa direformasi tanpa menjadi runtuh. Hal ini yang kemudian jadi pelajaran bagi pemimpin negara otoriter lain, terutama di Cina yang menyaksikan dari kejauhan: reformasi ekonomi dulu, bukan politiknya,” tulis Kaplan.

Selepas Uni Soviet runtuh, Gorbachev mendirikan Yayasan Gorbachev pada 1992. Untuk mendanai yayasan ini, Gorbachev menulis buku, juga memberikan kuliah yang dipatok dengan tarif mahal. Selain itu, Gorbachev tak segan menjadi bintang iklan, termasuk untuk Pizza Hut, dan kelak untuk Louis Vuitton.

“Aku menentang keputusannya untuk jadi bintang iklan,” tutur Raisa. “Namun aku memahami kenapa dia melakukan itu.”

Setelah bertahun-tahun masih aktif–termasuk membuat lagu, menulis kolom dan buku, serta jadi pengkritik konsisten Vladimir Putin–Gorbachev jatuh sakit dan kesehatannya terus menurun sejak 2020. Pada 30 Agustus 2022 waktu Moskow, Gorbachev meninggal dunia di usia 91 tahun. []

Baca juga artikel terkait MIKHAIL GORBACHEV atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Politik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Rio Apinino

DarkLight