Mengenang Kiprah Presiden Habibie: dari Teknologi Sampai Politik

Oleh: Alexander Haryanto - 11 September 2020
Dibaca Normal 1 menit
BJ Habibie meninggal pada 11 September tahun lalu, berikut kiprahnya di dunia teknologi dan politik.
tirto.id - Presiden ketiga RI BJ Habibie meninggal dunia tepat pada 11 September tahun lalu. Hingga kini, namanya akan terus dikenang berkat segala terobosannya, baik sebagai birokrat, politikus, negarawan maupun sebagai ilmuwan.

Karya besar Habibie dalam dunia kedirgantaraan adalah Pesawat N-250 Gatot Kaca yang diproduksi oleh IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia). Pesawat ini pertama kali lepas landas pada 10 Agustus 1995 di Lapangan Udara Husein Sastranegara Bandung.

Pesawat yang menggunakan teknologi fly-by-wire itu dikemudikan oleh pilot penguji Erwin Danuwinata (alm) dan co-pilot Sumarwoto serta teknisi Hindrawan Hary Wibowo dan Yuares Riadi.

Dalam buku The true life of Habibie: cerita di balik kesuksesan (hlm 200) karya A Makmur Makka dikisahkan, pesawat N-250 Gatot Kaca ini digodok di "Kawah Candradimuka" IPTN. Kala itu, ini merupakan pesawat penumpang (commuter) perta yang memakai teknologi mutakhir fly-by-wire.

Di jajaran komersial saat itu, N-250 adalah pesawat yang memakai teknologi fly-by-wire setelah Airbus A340 (Eropa) dan Boeing 777 (Amerika Serikat). Tetapi, dua pesawat tersebut adalah pesawat jet berkapasitas besar.


Masa Bakti Sebagai Presiden

Dengan masa kerja sebagai presiden selama 1 tahun 5 bulan, Habibie tidak hanya menyelamatkan Indonesia dari krisis moneter, tetapi juga ikut menyelesaikan masalah Timor Timur dan lain-lainnya.

B.J Habibie dilantik sebagai Presiden ketiga RI untuk menggantikan Soeharto pada tanggal 23 Mei 1988. Dalam waktu singkat, setelah mengangkat sumpah sebagai presiden, ia pun mengumumkan kabinetnya yang diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan.

Pengangkatan Habibie sebagai presiden dilakukan di depan Mahkamah Agung karena saat itu Gedung DPR/MPR masih diduduki oleh puluhan ribu mahasiswa.

A Makmur Makka dalam buku The true life of Habibie: cerita di balik kesuksesan, menjelaskan terobosan yang dilakukan Habibie saat menjadi presiden. Pertama, memisahkan Bank Indonesia dari campur tangan pemerintah. Sebab, ia tidak ingin Bank Sentral dipengaruhi oleh presiden, menteri atau siapa pun.

Kedua, ia membebaskan tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol) yang ditahan karena menentang pemerintahan Presiden Soeharto. Menurut dia, apa yang dilakukan tapol itu tidak menentang UUD 1945.

Ketiga, ia meninggalkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjadi payung bagi kebebasan pers di Indonesia. Undang-undang itu disahkan Habibie pada 23 September 1999.

Keempat, Habibie pernah melakukan terobosan dengan mengendalikan dolar dari Rp16.800 menjadi Rp7.500 pasca-krisis 1998.

Kelima, Habibie juga pernah meratifikasi Konvensi ILO No.87 dan melakukan pencabutan larangan pendirian serikat buruh independen. Hal itu memberikan masyarakat kebebasan untuk berserikat dan berkumpul.

Keenam, menghapus istilah "pribumi" dan "non-pribumi" lewat Inpres 26/1998 dan penghapusan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia melalui Inpres 4/1999. Hal ini memberikan dampak yang baik kepada etnis Tionghoa di Indonesia, terutama dari berbagai intimidasi, kebencian dan kekerasan, selama masa Orde Baru.

Walaupun tidak sempurna, Habibie cukup berhasil dalam menjalankan pemerintahan transisi pasca-Orde Baru. Menurut pengamat Hak Asasi Manusia (HAM) Andreas Harsono, BJ Habibie adalah tokoh yang memiliki visi besar bagi demokrasi Indonesia.


Baca juga artikel terkait HABIBIE atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Politik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight