Mengenang Gempa Bumi Cianjur 1879

Kontributor: Hevi Riyanto, tirto.id - 28 Nov 2022 00:01 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Cianjur memang kerap diguncang gempa sejak zaman dulu.
tirto.id - Gempa bumi berkekuatan 5,6 skala ritcher melanda Cianjur pada 21 November 2022. Gempa yang terasa di beberapa kota seperti Bandung dan Jakarta ini memorak-porandakan Cianjur dan sekitarnya. Goncangan ini menyebabkan bangunan roboh, tebing longsor, dan menelan banyak koban jiwa. Per 27 November 2022, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, korban jiwa sudah mencapai 321 orang.

Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, daerah yang berada di atas sesar Cimandiri ini selalu diguncang gempa sejak zaman dulu.

Salah satu gempa besar yang pernah terjadi di Cianjur adalah gempa pada 1879. Fenomena alam ini kembali menghancurkan Cianjur, kota yang 15 tahun sebelumnya juga sempat hancur karena meletusnya Gunung Gede.


Meletusnya Gunung Gede membuat Kota Cianjur rusak parah. Bencana ini langsung mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mewujudkan rencana pemindahan Ibu Kota Karesidenan Priangan dari Kota Cianjur menuju Bandung pada tahun 1864.

Gempa tahun 1879 mulai terjadi malam hari tanggal 28 Maret. Disinyalir, pusat gempa berada di Jalan Raya antara Cugenang dan Sukamantri. Pos pengamat di Bandung mencatat, terdapat tiga guncangan yang terjadi dari jam 19 sampai 21 malam. Guncangan besar yang terjadi sekitar jam 20.30 menghasilkan kehancuran yang cukup masif.

Setelah itu, guncangan susulan terus berlangsung sepanjang hari dan malam di tanggal 29 Maret. Goncangan cukup besar dirasakan jam 1 pagi tanggal 30 Maret, kemudian menyusul jam 7:45, dan 9:25 pagi.

Rangkaian gempa ini juga menyebabkan kerusakan beberapa gedung di Bogor, termasuk menimbulkan retakan besar di dinding gedung kantor kereta api negara Staatsspoorwegen. Perusahaan ini sedang mengerjakan proyek jalur kereta api Priangan yang menghubungkan Bogor-Cicalengka, yang juga melewati Kota Cianjur.

Beberapa bangunan perusahaan rusak dan bahkan roboh. Misanya penggilingan padi milik perusahaan John Pryce & Co ditemukan telah rata dengan tanah. Goncangan ini membuat rumah-rumah penduduk rusak parah, termasuk rumah di perdesaan dan perkampungan Tionghoa yang rusak dan penghuninya harus dievakuasi karena cukup riskan untuk ditempati.

Di dalam kota, keadaan tidak jauh berbeda. Gempa membuat bangunan gudang garam runtuh. Kemudian merobohkan kantor telegraf dan peralatannya diungsikan ke gudang untuk sementara. Begitu pula dengan nasib Jalan Raya Pos. Jalan yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels ini rusak parah di banyak tempat, terutama di dalam kota.

Gempa membuat dinding beranda depan dan belakang rumah bupati roboh. Selain itu, gempa merobohkan tembok pembatas benteng. Menurut Jan Breman dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa, gempa bumi tersebut membuat kediaman sekaligus kantor Bupati Cianjur hancur. Kejadian ini membuat Bupati Cianjur dan istri mengalami cedera di bagian tangan.


Kerusakan juga melanda sebuah masjid yang ikut roboh. Kejadian ini menelan korban jiwa termasuk penghulu kepala Cianjur. Beliau meninggal bersama 5 orang jamaahnya karena tertimpa reruntuhan masjid saat gempa terjadi.

Di saat bersamaan, guncangan menyebabkan kebakaran di satu rumah. Penghuninya merupakan suami istri yang mengalami memar di kepala dan gigi tanggal saat panik menyelamatkan diri. Masyarakat sekitar mencoba menolong dan sebagian menuju rumah pemadam kebakaran untuk mencari alat pemadam. Sayangnya, mereka harus kembali dengan tangan kosong, karena mereka menemukan peralatan pemadam kebakaran sudah terkubur di bawah puing-puing atap yang ambruk.

Infografik Mozaik Gempa Cianjur
Infografik Mozaik Gempa Cianjur. tirto.id/Quita


Trauma gempa yang dirasakan masyarakat membuat mereka enggan kembali dan tidur di rumah mereka. Apalagi, gempa susulan sesekali menggoyang bumi di saat malam. Semuanya, baik pribumi maupun orang kulit putih berdampingan di jalanan atau di halaman rumah. Mereka berbaring dan tidur untuk melewatkan malam di bawah langit terbuka.

Beberapa waktu kemudian, tenda-tenda didirikan di pinggir jalan atau pekarangan rumah untuk menampung penduduk dan menyelamatkan barang rumah tangga. Kondisi tenda yang digunakan sangat memprihatinkan karena terlihat akan bocor jika diterpa hujan dan terasa sangat panas saat siang.

Orang Tionghoa yang menjadi pedagang juga meletakan barang dagangan dan barang rumah tangganya di sisi jalan. Jejeran barang-barang ini menyerupai sebuah festival pasar malam.

Suasana terasa mencekam karena ratapan dan tangisan para korban terdengar sangat menyedihkan. Lebih mencekam lagi ketika para pencuri yang datang dari arah Bogor ternyata mengambil kesempatan untuk beroperasi di lokasi yang terkena gempa.

Keberadaan pencuri yang mengambil kesempatan dalam musibah ini sangat diwaspadai oleh masyarakat. Asisten residen di Cianjur melakukan penggandaaan pengamanan yang melibatkan 150 orang penjaga setiap malam yang bertugas menjaga barang-barang yang masih menumpuk di jalan. Tugas penjagaan ini dilakukan bergiliran supaya kondisi badan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga. Alhasil, sebanyak 4 pencuri berhasil diamankan polisi.

Dalam musibah ini, Asisten residen memang sangat aktif membantu masyarakat terdampak di Cianjur. Dia melakukan keliling setiap malam, tidur sedikit, dan memperhatikan kepentingan rakyat, tanpa meninggalkan pekerjaannya yang biasa.

Asisten Residen pula yang mengawasi semua penjahat yang ada di penjara. Karena gempa ini, penjara di Cianjur mengalami rusak berat. Sebanyak 156 narapidana akhirnya dipindahkan ke penjara tambahan yang terbuat dari bambu. Penjara darurat ini dijaga oleh prajurit bersenapan yang berkoordinasi dengan polisi.

Cobaan terus menerus menerpa daerah Cianjur kala itu. Bencana gempa disusul jebolnya dinding kawah Gunung Gede menyebabkan air sungai Ci Anjur menjadi sangat keruh dan berbau belerang. Setelah itu, angin berhembus sangat kencang pada tanggal 2 sampai 4 April 1879. Masyarakat yang mulai tenang, kembali dihinggapi ketakutan karena angin yang berasal dari selatan membuat beberapa rumah hampir ambruk.

Gempa ini sempat menghentikan kehidupan ekonomi di Cianjur karena kegiatan perdagangan di sana hampir terhenti. Para pedagang porselen misalnya, mengalami kerugian yang sangat besar karena guncangan memecahkan barang-barang mereka. Gerobak tidak henti-hentinya melintas di jalan-jalan Cianjur untuk mengangkut pecahan-pecahan porselen dan barang pecah belah yang akan dibuang.

Akibat gempa ini, harga perabotan sempat naik, begitu pula dengan harga beras yang semula seharga 0,90 per gantang menjadi 1,10 per gantang.

Bencana gempa tersebut dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan foto yang mengendus bencana gempa Cianjur sebagai lahan bisnis. Perusahaan seperti Woodbury & Page, Firma Bruining, dan G. Kolff & Co. menjual foto-foto objek yang diterjang gempa dengan harga sekitar 2,5 gulden per foto.

Dalam sebuah iklan baris yang dipasang di Bataaviasche Handelsblad, 3 April 1879, perusahaan Woodbury & Page menyediakan foto di Cianjur seperti kondisi terbaru masjid, rumah Dr. Le Rutte yang roboh, penjara, dll.

Kondisi Cianjur mulai pulih sekitar dua minggu pasca gempa. Masyarakat sudah mulai tenang dan kembali ke kesibukannya masing-masing.

Baca juga artikel terkait GEMPA atau tulisan menarik lainnya Hevi Riyanto
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight