Mengenang Colin L. Powell, Mengingat Perang Brutal Amerika

Oleh: Sekar Kinasih - 26 Oktober 2021
Dibaca Normal 7 menit
Colin L. Powell meninggal dunia. Dia berperan besar dalam banyak perang yang dibuat AS, termasuk invasi ke Irak, atas dasar hoaks senjata pemusnah massal.
tirto.id - Colin L. Powell, tokoh di balik hoaks senjata pemusnah massal untuk menjustifikasi invasi Amerika Serikat ke Irak, meninggal dunia pada usia 84 tahun karena komplikasi akibat Covid-19. Meskipun telah menerima dosis utuh vaksin, kondisi kesehatan Powell memang lebih rentan karena dia mengidap riwayat kanker darah dan gejala awal parkinson.

Powell malang melintang di dunia kemiliteran selama lebih dari tiga dekade. Powell muda mengawali karier di Vietnam sampai akhirnya menjadi jenderal bintang empat. Powell ikut mengawasi serbuan pasukan AS ke Panama (1989) dan dan Perang Teluk (1991), dua operasi militer besar yang dianggap sukses dari kacamata Paman Sam.

Setelah itu Powell semakin diidolakan di lingkaran eksekutif Gedung Putih. Dirinya membuat sejarah sebagai orang kulit hitam pertama yang menjabat Penasihat Badan Keamanan Nasional AS, Ketua Staf Kepala Gabungan (perwira militer tertinggi di angkatan bersenjata AS), dan Menteri Luar Negeri.

Sebagai Menlu di bawah administrasi Presiden George H. W. Bush, Powell berperan besar dalam meyakinkan komunitas internasional tentang senjata pemusnah massal milik rezim Saddam Hussein. Tuduhan ngawur ini berbuah jadi misi perang ke Irak, yang kelak membunuh sedikitnya 184 ribu rakyat sipil.


Asal Bos Senang

Powell lahir di New York pada 1937 atau menjelang dekade akhir Depresi Besar. Bapak ibunya, pendatang asal Jamaika, sehari-hari membanting tulang sebagai buruh garmen di kawasan padat Manhattan. Seperti orangtuanya, Powell remaja rajin bekerja. Dilansir dari autobiografi It Worked for Me: In Life and Leadership (2012), saat berusia 14 tahun Powell sudah belajar cari uang dengan menurunkan barang-barang dagangan dari truk di toko milik tetangganya.

Menginjak umur 18, Powell bergabung dengan Serikat Pekerja Minuman Bersoda agar bisa mengantongi izin kerja penuh waktu sepanjang musim panas. Profesi yang pernah dilakoninya mulai dari tukang angkut dan supir untuk Coca-Cola sampai pengepel lantai di pabrik Pepsi. Sementara di sekolah, Powell mengaku “pekerja keras dan berdedikasi” meskipun bukan murid yang cemerlang.

Menurut Powell, pengalaman masa muda ikut membentuk kariernya. “Selalu lakukan yang terbaik, seberapa sulit atau bencinya dirimu dengan pekerjaanmu, bos-bosmu, lingkungan kerja, atau kolegamu,” jelas Powell.

Prinsip tersebut dipegang erat saat Powell berkuliah di City College of New York, di mana ia bergabung dalam program pelatihan militer pemerintah tingkat kampus, Reserve Officers' Training Corps (ROTC). Setelah menyelesaikan studi dan program ROTC pada 1958, Powell resmi memulai karier di Angkatan Bersenjata AS. Semenjak itu pula, Powell menegaskan, “Saya tidak pernah mencoba melawan prioritas-prioritas para atasan. Justru saya bekerja keras secepat dan setegas mungkin untuk menyelesaikan tugas-tugas dari mereka.”

Masih dikutip dari bukunya, Powell menulis, “Lebih cepat saya memuaskan para atasan, lebih cepat mereka berhenti mengganggu saya tentang urusannya, dan semakin cepat pula saya bisa beralih ke prioritas saya sendiri. Selalu berikan raja haknya terlebih dahulu.”

Mirisnya, prinsip di atas dipakai Powell untuk memenuhi tujuan-tujuan kelam. Powell muda pernah menutupi kejahatan yang dilakukan atasannya, Brigjen John W. Donaldson. Tahun 1968-69, Donaldson dilaporkan membunuh enam sipil Vietnam dari atas helikopter, serta melukai dua orang lain. Dilansir dari buku Nick Turse berjudul Kill Anything That Moves: The Real American War in Vietnam (2013), Donaldson berusaha memengaruhi para saksi agar mengubah testimoni mereka.

Powell, yang sudah delapan bulan bekerja untuk Donaldson di Vietnam kala itu, tentu saja ikut memberikan pembelaan sembari memujinya sebagai “komandan brigade yang agresif dan berani.” Akhirnya, Donaldson lolos dari jerat hukum.


Powell juga terlibat dalam investigasi yang dirancang untuk mengaburkan fakta-fakta penting di balik pembantaian Mỹ Lai di Vietnam Selatan tahun 1968. Kala itu, satu divisi tentara AS membunuh sedikit sedikitnya 350 warga desa, termasuk anak-anak, perempuan, dan orangtua yang tidak bersenjata.

Sebelum beritanya menyeruak setahun kemudian, Powell sudah diberi mandat untuk menelusuri laporan dari seorang serdadu, Tom Glen, yang mengetahui aksi brutal sepasukan tentara AS terhadap penduduk lokal.

Akan tetapi, dikutip dari artikel Robert Parrt di In These Times, alih-alih mewawancarai Glen secara langsung Powell malah menelan mentah-mentah klaim dari atasan Glen bahwa anak buahnya tidak berada di garda terdepan untuk cukup tahu kejadiannya. Laporan dari Powell pun diakhiri dengan pernyataan bahwa “hubungan antara tentara AS dan rakyat Vietnam sangatlah baik.” Hal ini, menurut Parrt, dijadikan “kesempatan untuk membuat jajaran tinggi militer terkesan” pada Powell.

Tak berapa lama, seorang investigator mendatangi Powell agar mengecek jumlah korban jiwa di pihak musuh pada bulan terjadinya insiden Mỹ Lai. Totalnya berjumlah 128 jiwa—angka yang cukup besar untuk memantik rasa ingin tahu Powell. Akan tetapi, kecurigaan itu tidak pernah membuat Powell mempertanyakan atau menyadari bahwa suatu pembantaian pernah terjadi.

Memang Powell tidak terlibat langsung dalam kejahatan perang Mỹ Lai. Namun, seperti David Corn tulis untuk The Nation, ia sudah menjadi “bagian dari sebuah institusi (dan divisi) yang berusaha keras menyembunyikan cerita tentang Mỹ Lai.” Powell tidak menampik kebrutalan yang terjadi selama pasukan AS berada di Vietnam. Akan tetapi, seperti elite militer lainnya, ia “diam” dan “tidak tertarik untuk mengupas kebenaran-kebenaran mengerikan ini,” tulis Corn.

Jadi Kesayangan Gedung Putih

Memasuki usia 42, Powell diangkat menjadi brigadir jenderal—otomatis menjadikannya jenderal bintang satu paling muda kala itu. Kariernya semakin meroket sampai mulai diperhitungkan di Gedung Putih.

Sepanjang 1983-1986, Powell menjadi penasihat militer senior untuk Caspar Weinberger, Menteri Pertahanan di kabinet pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Weinberger termasuk salah satu pejabat di lingkaran Reagan yang divonis hukuman karena terlibat skandal penjualan senjata ke Iran, suatu kedok untuk menyokong grup-grup kontrarevolusi di Nikaragua, Amerika Tengah.

Dikutip dari tulisan Kelsey Atherton di Jacobin, pada 1985, Powell rupanya pernah hadir pada satu pertemuan terkait negosiasi senjata untuk menukar tawanan perang dan dilaporkan tahu banyak hal tentangnya.

Powell bekerja untuk Menhan Weinberger selama tiga tahun. Setelah itu, ia menjadi wakil penasihat, kemudian penasihat utama, di Badan Keamanan Nasional AS sampai administrasi Reagan selesai awal 1989. Presiden Republikan penerus Reagan, George W. Bush, lantas mengangkat Powell sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan, jabatan tertinggi di Angkatan Bersenjata AS.


Beberapa bulan setelah memangku jabatan tersebut, Powell mengawasi jalannya Operation Just Cause, invasi pasukan AS ke Panama untuk melengserkan diktator Jenderal Manuel Noriega. Noriega yang sedari lama menjadi sekutu AS dan aset bagi Badan Intelijen AS (CIA) dipandang sudah terlalu dekat dengan intelijen-intelijen asing sehingga perlu disingkirkan. Di bawah pengawasan Powell, misi ini menelan antara 500 sampai 1.000 korban jiwa rakyat sipil Panama (sebagai perbandingan, 23 tentara AS meninggal dunia). Namun, militer AS memujinya sebagai “kesuksesan”.

Powell kembali disorot publik saat menjadi arsitek Perang Teluk, invasi AS ke Timur Tengah pada awal 1991. Disokong oleh sekitar 500 ribu pasukan AS, operasi ini bertujuan untuk mencegah Irak mencaplok negeri paling kaya minyak sedunia, Arab Saudi, sekaligus melengserkan pemerintah Irak pimpinan Saddam Hussein yang menganeksasi Kuwait enam bulan sebelumnya. Dalam waktu singkat, militer AS dapat mengalahkan pasukan Irak yang sumber dayanya terbatas.

Akan tetapi, alih-alih menyebut Perang Teluk sebagai momen kemenangan—yang dikontraskan dengan kegagalan AS di Vietnam—lebih tepat untuk menamainya “pembantaian”, meminjam istilah dari Robert Jensen, dosen jurnalisme di University of Texas Austin. Jensen menulis pada 2000 bahwa invasi AS ke Irak dan Kuwait masuk dalam kategori “kejahatan perang” Konvensi Jenewa karena rakyat sipil turut jadi target pembunuhan.

Dalam perang yang berlangsung sekitar 5 minggu ini, lebih dari 88.500 ton bom dijatuhkan pasukan AS ke Irak. Yang mengerikan, 70 persennya meleset dari target utama. Diperkirakan belasan sampai puluhan ribu pasukan Irak dan 2.300 warga sipil meninggal dunia karenanya, seiring bom menghancurkan sumber daya pangan, air bersih, dan infrastruktur lain yang sudah menunjang kehidupan rakyat banyak. Padahal, satu minggu setelah perang berlangsung, Powell pernah sesumbar, “Kami tidak terburu-buru [menyerang pasukan Irak]. Kami tidak mencari korban jiwa dalam jumlah besar.”

Powell masih menjadi Ketua Kepala Staf Gabungan selama beberapa bulan di kepemimpinan presiden Demokrat, Bill Clinton, sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri dan pensiun dari jagat militer pada 1993. Pada hari itu, Powell dipandang sebagai “figur publik paling populer di Amerika,” tulis Eric Schmitt dari The New York Times. Rakyat menghargai Powell karena “sikapnya yang terus terang, kualitas kepemimpinannya, dan kemampuannya bicara blak-blakan.” Popularitas ini membuat Powell dijagokan jadi kandidat presiden, yang rupanya tidak ia minati.

Hoaks Perang Irak 2003

Powell diangkat oleh George H.W. Bush sebagai Menteri Luar Negeri pada 2001. Semenjak itu, ia menjadi bagian dari administrasi yang berada di balik invasi AS ke Afganistan setelah peristiwa 9/11. Seiring waktu, perang melawan teror ini bergeser menjadi ambisi untuk menghancurkan rezim Saddam Hussein di Irak. Di sinilah Powell dipandang punya peran besar.

Pada 5 Februari 2003, Powell tampil di hadapan Dewan Keamanan PBB untuk mempresentasikan gambar foto dan rekaman yang disebutnya sebagai bukti tentang kepemilikan senjata pemusnah massal Irak. Semuanya, menurut Powell, adalah “fakta-fakta dan kesimpulan berdasarkan intelijen yang solid.” Powell menyimpulkan, “Tidak ada keraguan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata biologis dan kemampuan untuk memproduksi lebih banyak, lebih banyak lagi dalam waktu cepat.”

Faktanya, pada 2004 dan 2005, inspektor menyatakan Irak sudah tidak punya lagi senjata pemusnah massal atau kemampuan untuk memproduksinya, bahkan sebelum AS menginvasi pada Maret 2003. Intelijen AS dipandang sudah memberikan informasi yang “sangat salah”.


Infografik Colin Powell
Infografik Colin Powell. tirto.id/Fuad


Dalam pidatonya di PBB, Powell juga berusaha mengaitkan aktivitas terorisme Irak dengan jaringan Al-Qaeda. Ia menyampaikan bagaimana Irak memberikan suaka pada jaringan teroris pimpinan Abu Musab al-Zarqawi, yaitu “kenalan sekaligus kolaborator Osama bin Laden dan letnan-letnan Al-Qaeda.” Padahal, dilansir dari Frontline, intelijen melaporkan Zarqawi hanya pernah pergi sekali ke Afganistan untuk mencoba menemui Osama bin Laden. Dirinya juga dianggap kurang mumpuni untuk jadi bagian dari Al-Qaeda.

Akhirnya, pidato Powell dipandang mendorong popularitas Zarqawi. Dalam beberapa bulan, ia mulai dapat banyak pengikut di Irak. Merekalah yang kelak menyuburkan konflik sektarian dan membuka jalan bagi berdirinya Negara Islam (ISIS).

Ketika Jason Breslow dari Frontline bertanya pada Powell tentang Zarqawi dalam wawancara pada 2016, ia mengaku tidak tahu-menahu (padahal nama Zarqawi disebut sampai 21 kali dalam pidatonya). “Saya cuma seorang salesman yang hari itu mempresentasikan suatu produk, tapi produk yang berasal dari komunitas intelijen,” kilah Powell.

Pidato yang disampaikan di PBB, menurut Powell, merupakan “kegagalan besar intelijen.” Pada waktu sama, pidato itu tidak dianggapnya spesial atau penting karena “dadu sudah dilemparkan.” Powell menegaskan bahwa Presiden Bush dan Kongres telah memutuskan untuk melakukan serangan militer ke Irak sekitar tiga bulan sebelum ia menyampaikan pidato hoaks di PBB.

Tak lama setelah mengundurkan diri dari administrasi Bush pada 2005, Powell mengakui bahwa hoaks-hoaks yang disampaikannya di hadapan komunitas internasional itu sudah jadi “aib” yang menodai karier cemerlangnya selama puluhan tahun. Akan tetapi, tak satu pun konsekuensi hukum dari pengadilan pernah Powell terima sampai akhirnya ia tutup usia pada 18 Oktober 2021.

Dipuji dan Dicaci

Setelah meninggal, Powell tetap digambarkan layaknya pahlawan oleh media arus utama AS. The New York Times melihatnya sebagai seorang “penerobos” karena menjadi orang kulit hitam pertama yang diangkat sebagai penasihat keamanan, pejabat tertinggi militer, sekaligus Menlu. Associated Press menyebutnya “serdadu dan diplomat pelopor dengan reputasi harum di kalangan presiden-presiden Republikan dan Demokrat.” Time memujinya sebagai “advokat garang untuk kesempatan bagi para imigran dan pembela martabat yang teguh.”

MSNBC tidak ketinggalan menyiarkan sesi khusus dengan Richard Haass, eks-diplomat sekaligus presiden think tank nirlaba kenamaan AS, Council on Foreign Relations, yang mengenang Powell sebagai “salah satu orang paling jujur secara intelektual” yang pernah ia temui.

Pujian yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh mantan Presiden Bush. Menurut Bush, Powell adalah tokoh “favorit” presiden-presiden AS yang bergantung pada “bimbingan dan pengalamannya.” Bush menambahkan, Powell begitu disayang sampai-sampai dianugerahi Presidential Medal of Freedom—penghargaan tertinggi bagi warga negara atas kontribusinya untuk AS—sebanyak dua kali. Selain Powell, hanya ada Ellsworth Bunker (1894-1984), pebisnis-diplomat penyokong Perang Vietnam, yang menerima dua keping medali ini.


Pada waktu sama, komentar-komentar getir terdengar riuh nun jauh di Irak. Muntadher Alzaidi, jurnalis yang pernah melempar sepatu kepada Bush pada 2008, berkicau di Twitter, “Saya sedih dengan kematian Colin Powell tanpa diadili atas kejahatannya di Irak.. Tapi saya yakin pengadilan Tuhan akan menantinya.”

Warga Irak lainnya, Maryam, memandang Powell tak lebih dari seorang pembohong. “Dia berbohong, dan kamilah yang harus terjebak dalam perang-perang tiada akhir,” ujar Maryam.

Senada, Suha Mutlak di Mosul berkata, “Dia (Powell) adalah alasan di balik terbunuhnya sepupu-sepupu saya, dan bahwa keluarga saya harus hidup di tenda selama tiga tahun.” Oleh karena itu, Mutlak menolak untuk melihat akhir dari misi perang AS di Irak sebagai suatu kemenangan. “Kemenangan macam apa ini? Bukan [kemenangan] buat mereka, apalagi bagi kami.”

Baca juga artikel terkait OBITUARI atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Politik)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Rio Apinino
DarkLight