Mengenal Terapi Penyembuhan Hipnosis

Ilustrasi hipnoterapi. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 10 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
Hipnosis tak sembarangan bisa dilakukan pada semua orang.
Seorang akan tertidur begitu melihat kertas tisu terbakar atau mendengar hitungan maju hingga angka ketiga. Setelahnya, ia mulai membongkar sendiri aib dan bercerita tentang keluh kesah hidupnya. Sementara itu, sang pemberi sugesti dan orang-orang di sekelilingnya menikmati aktivitas tersebut sebagai hiburan gratis yang disuguhkan pada mereka.

Begitulah kira-kira aksi hipnosis yang selama ini dipertontonkan di layar kaca: tak jauh-jauh dari urusan bongkar-bongkar masalah asmara atau eksploitasi cerita sedih masa lalu. Subjek hipnosis nantinya akan terbangun dengan amnesia singkat dan ditertawakan karena “tak sinkron” saat menjawab pertanyaan yang diajukan sugestor.

Dalam aksi itu, tak ada manfaat positif yang diterima subjek hipnosis. Kecuali rasa malu atau “lega” karena telah berhasil curhat di depan orang banyak. Padahal, sejatinya praktik hipnosis punya nilai lebih ketimbang sekadar bincang-bincang bongkar aib. Ia adalah salah satu bantuan psikoterapi.

Menurut laman WebMD, hipnoterapi adalah teknik terapi yang dilakukan untuk membuat seseorang rileks dan fokus, sehingga kesadaran untuk menerima sugesti menjadi meningkat. Dalam keadaan ini, ragam hal yang terjadi di sekitar orang tersebut akan terblokir sementara. Mereka jadi lebih mudah mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan kenangan menyakitkan yang tersembunyi dari pikiran sadar.

Beberapa terapis menggunakan hipnosis untuk memulihkan memori yang ditekan alam sadar. Namun, di tahap ini terkadang kualitas informasi yang diingat pasien tidak selalu bisa diandalkan. Hipnosis dapat menciptakan ingatan palsu, umumnya terjadi karena saran atau pertanyaan yang diajukan terapis salah arah.

Selama ini, hipnosis digunakan oleh psikolog atau psikiater sebagai analisis pasien atau terapi sugesti. Dalam menganalisis pasien, pendekatan hipnosis akan membuat mereka jadi lebih rileks untuk mengungkap akar gangguan psikologis yang ia alami. Sementara hipnosis sebagai terapi digunakan agar pasien lebih mudah menangkap saran dan mengubah persepsi.


Teknik terapi ini membantu perawatan pasien dengan berbagai kondisi fobia, cemas, gangguan tidur, dan sedih berlarut. Selain itu, ia juga bisa membantu kontrol rasa sakit seperti pada pasien rematik artritis, kanker, nyeri pasca-bersalin, atau prosedur perawatan lainnya. Namun catatannya, praktik terapi ini tak bisa diterapkan pada semua orang. Hanya pasien dengan diagnosis tertentu yang bisa menjalaninya.

“Indikasinya terbatas, tidak bisa diterapkan pada pasien psikosis atau gangguan disosiatif (kepribadian ganda),” terang dr. Jiemi Ardian, seorang dokter ahli kejiwaan sekaligus hipnoterapis yang berpraktik di Solo, Jawa Tengah, kepada Tirto.

Sayangnya indikasi itulah yang seringkali diabaikan atau malah tidak diketahui oleh sebagian terapis. Jamaknya dilakukan oleh mereka yang tidak menempuh pendidikan psikolog atau psikiater. Kursus kilat selama beberapa hari tentu tak bisa mengimbangi semua ilmu kejiwaan hipnoterapis yang berlatar belakang psikolog dan psikiater.



Laman National Health Service (NHS), organisasi kesehatan di Inggris, juga menekankan hal serupa yang diungkapkan Jiemi. Sebelum memutuskan hipnosis, sebaiknya pasien berkonsultasi terlebih dahulu terhadap kemungkinan gangguan kepribadian tertentu. Sebab, terapi ini justru akan memperparah kondisi individu dengan gangguan disosiatif.

Kondisi tersebut terjadi karena praktik hipnosis membuka celah antara alam sadar dan bawah sadar manusia lalu “mengganggunya”. Namun, celah tersebut harus dibuka dengan kesiapan mental karena ragam kenangan buruk tersimpan di sana. Sementara itu, individu dengan gangguan disosiatif seperti bipolar atau skizofrenia memiliki kondisi mental berat.

Mereka tak hanya terganggu perasaannya, tapi juga struktur gen dan fungsi sarafnya. Jiemi mengasosiasikan kondisi tersebut seperti cacat fisik, tak disembuhkan tapi bisa dipermudah adaptasinya dengan bantuan alat-alat medis. Seperti misal bantuan kaki palsu pada individu dengan tunadaksa.

“Kita tak bisa perbaiki gen yang membuat pikirannya terganggu dengan hipnosis. Akan sia-sia otak-atik pikiran dan perasaan, dimana itu hanya gejalanya saja.”


Dokter yang sudah membuka praktik selama sepuluh tahun ini kemudian menceritakan pengalamannya menangani pasien bipolar yang mendapat hipnosis. Selama ini, si pasien melakukan kontrol dan mengimbangi terapinya dengan konsumsi obat-obatan, gejala gangguan disosiatifnya cenderung dapat ditekan. Namun, suatu saat keluarganya mengambil langkah untuk melakukan hipnosis, dengan harapan menyembuhkan pasien secara instan.

Sesaat pasca-hipnosis kondisinya memang seakan membaik. Namun, setelahnya, perempuan itu justru bersikap impulsif dan reaktif. Perasaannya mengalami fluktuasi cepat dan drastis, dari marah dan sering memukul tiba-tiba bisa langsung menangis tersedu-sedu. Akibatnya ia harus dirawat inap dan diberi obat-obatan injeksi untuk memulihkan kondisi seperti sedia kala.

“Makanya kita menyarankan teman-teman praktisi untuk edukasi dan tukar pikiran. Karena dampaknya akan berujung ke pasien juga.”

Baiknya, jika ingin menggunakan jasa hipnosis, pastikan dulu kondisi gangguan psikis yang dialami. Jangan sampai niat menyembuhkan justru membikin gangguan semakin parah. Datanglah ke tenaga profesional hipnosis yang memiliki latar belakang ilmu kejiwaan supaya mendapat penanganan tepat.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGIS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight