Mengenal Telemedicine Beserta Kelebihan dan Kekurangannya

Oleh: Ahmad Efendi - 13 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Telemedicine adalah layanan kesehatan berbasis teknologi informasi yang memungkinkan pasien berkonsultasi dengan dokter tanpa bertemu langsung.
tirto.id - Kehadiran telemedicine bisa menjadi jawaban untuk kemudahan mengakses pelayanan kesehatan.
Inovasi layanan kesehatan pada era internet tersebut membantu pasien memanfaatkan waktunya lebih efisien karena tidak harus datang ke rumah sakit atau failitas kesehatan untuk berkonsultasi.

Apalagi, di tengah pandemi corona yang belum mereda, para pasien sangat disarankan untuk tidak datang ke rumah sakit, kecuali ada kebutuhan mendesak atau keadaan darurat. Imbauan tersebut muncul untuk mencegah risiko penularan virus corona (Covid-19).

Dikutip dari laman American Academy of Family Physicians (AAFP), telemedicine adalah teknologi yang memungkinkan pasien berkonsultasi dengan dokter secara privat, tanpa harus bertatap muka secara langsung.

Konsultasi dengan dokter membantu pasien mendapatkan informasi mengenai dugaan diagnosis, perawatan atau penanganan pertama pada penyakit maupun kasus cedera, hingga tips-tips untuk meningkatkan kesehatan tubuh.

Di beberapa negara dunia, penggunaan teknologi telemdicine sudah dilakukan sejak lama. Namun di Indonesia, teknologi ini baru mulai umum digunakan dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan berubahnya pola kehidupan pada era digital, banyak sektor mengikuti perkembangan ini, termasuk kesehatan. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah memiliki divisi khusus yang berkaitan dengan bidang kesehatan digital.

Telemedicine merupakan salah satu hasil utama dari perkembangan sektor kesehatan di bidang digital. Menurut WHO, ada empat hal yang mendasari keberadaan telemedicine, yaitu:
  • Bertujuan sebagai pendukung perawatan secara klinis
  • Menjadi solusi atas masalah jarak dan geografis dalam layanan kesehatan
  • Inovasi menggunakan teknologi informasi terbaru
  • Meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat luas.
Di Indonesia, penggunaan telemedicine dianggap bisa mengatasi sejumlah tantangan yang selama ini menghambat pemerataan akses kesehatan, seperti persebaran tenaga kesehatan yang belum merata, masalah geografis, dan kurangnya fasilitas kesehatan di beberapa wilayah tertentu.

Contoh penggunaan telemedicine yang kini sedang marak di Indonesia adalah fitur chat langsung dengan dokter yang bisa dilakukan melalui aplikasi. Dengan fitur tersebut, pengguna bisa dengan bebas berdiskusi langsung dengan dokter, kapan saja dan di mana saja mereka berada.

Namun, telemedicine masih punya beberapa keterbatasan. Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal ABC Cardiol, seperti dilansir laman National Institute of Health, menyimpulkan kelemahan utama telemedicine adalah dokter tidak dapat memeriksa pasien secara langsung. Keterbatasan tersebut tentu berpengaruh pada kualitas diagnosa.

Tidak adanya pemeriksaan fisik langsung yang dilakukan dokter ke pasien membuat para tenaga kesehatan belum bisa memberikan diagnosa secara pasti melalui telemedicine. Paling jauh, dokter hanya akan memberikan kemungkinan diagnosis disertai dengan pembanding lainnya.

Hal ini bisa dipahami, mengingat proses untuk menegakkan diagnosa merupakan langkah berlapis yang terkadang juga perlu disertai dengan berbagai pemeriksaan penunjang.

Meskipun demikian, teknologi telemedicine bisa saja merambah ke cakupan fitur yang lebih luas. Selain mempermudah konsultasi dengan dokter, kelak tidak menutup kemungkinan akan muncul tekonologi atau aplikasi yang memungkinkan perekaman detak jantung, tekanan darah, hingga pemeriksaan yang lebih rumit lainnya.

Saat ini saja, sudah ada teknologi sensor yang diletakkan di permukaan kulit, untuk mengetahui kondisi tubuh secara sistemik. Teknologi seperti ini bisa mendukung perkembangan telemedicine secara pesat.


Fokus Penggunaan Telemedicine

Melihat kelebihan dan kekurangan telemedicine, sah rasanya jika menyebut fitur ini belum bisa jadi solusi sapu jagad untuk masalah layanan kesehatan terhadap masyarakat.

Oleh sebab itu, WHO merekomendasikan beberapa fokus yang dapat dilakukan dalam penggunaan layanan telemedicine.

Pertama, sebagai sarana teknologi untuk mempermudah kontrol perawatan, seperti menjawab pertanyaan seputar pengobatan yang sedang atau sudah selesai dijalani oleh pasien.

Kedua, untuk mempermudah pasien dalam mengetahui hasil laboratorium secara tepat, terutama jika semua hasil terbaca normal.

Ketiga, memberikan akses untuk bisa berkomunikasi dengan tenaga kesehatan dari tempat yang sulit dijangkau.

Keempat, memberikan kemudahan bagi pasien mendapatkan pengetahuan seputar prosedur medis sederhana yang bisa dilakukan di rumah, seperti pertolongan pertama saat diare atau cedera.

Kelima, memberikan saran tentang spesialisasi kedokteran yang cocok dengan masalah kesehatan yang sedang dialami pasien. Misalnya, pemberian saran seputar spesialisasi dokter gigi, atau sub spesialisasi dokter anak.

Keenam, memangkas antrean di fasilitas kesehatan dan membuat pelayanan kepada pasien lebih efisien.

Meski masih ada pro-kontra yang muncul terhadap fitur ini, telemedicine adalah perkembangan teknologi yang tidak bisa terelakkan lagi keberadaannya. Peraturan dari sisi dokter maupun pasien pengguna pun masih terus digodok, untuk mencari jalan tengah yang bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Ke depannya, penggunaan layanan telemedicine akan terus dirancang bukan untuk menggantikan kunjungan ke dokter, tetapi sebagai pendamping perawatan yang semakin baik, efisien, dan tentu saja tepat.


Baca juga artikel terkait DOKTER atau tulisan menarik lainnya Ahmad Efendi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight