Mengenal Rusa Bawean, Salah Satu Maskot Asian Games 2018

Oleh: Irfan Teguh - 11 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Salah satu maskot yang digunakan pada Asian Games 2018 adalah rusa bawean, hewan endemik yang dilindungi dan terancam punah.
tirto.id - Dalam hitungan minggu Asian Games XVIII akan segera digelar. Acara pembukaan dijadwalkan akan dihelat pada 18 Agustus 2018. Indonesia yang kali ini kembali menjadi tuan rumah, telah dan tengah merampungkan sejumlah sarana untuk dipakai pada hajatan olahraga terbesar se-Asia tersebut. Pernak-pernik juga telah dipersiapkan oleh penyelenggara, termasuk maskot yang telah dipilih secara resmi.

Panitia penyelenggara memilih tiga hewan khas Indonesia sebagai maskot Asian Games 2018, yaitu burung cendrawasih, badak bercula satu, dan rusa bawean. Dibandingkan dengan dua hewan lainnya, rusa bawean relatif paling tidak dikenal masyarakat, meski statusnya sama-sama sebagai hewan langka yang terancam punah.

Ketika pemerintah kolonial Belanda melindungi sejumlah rusa asli Indonesia lewat Ordonansi dan Undang-undang Perlindungan Satwa Liar No. 134 dan No. 266 Tahun 1931 dari segala bentuk perburuan, penangkapan, dan pemilikan, rusa bawean tidak termasuk ke dalam kategori hewan yang dilindungi itu.

Jauh setelah undang-undang tersebut dikeluarkan oleh Belanda, perlindungan terhadap hewan-hewan itu kemudian diperkuat oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 yang mencakup semua jenis rusa dan termasuk rusa bawean.

Dalam rentang tiga tahun (2014-2016) populasi rusa bawean menunjukkan angka yang tidak terlalu besar tapi jumlahnya cukup stabil. Dalam catatan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (PDF) Provinsi Jawa Timur, populasi rusa bawean pada tahun 2014 berjumlah 275 ekor, tahun 2015 sebanyak 325 ekor, dan tahun 2016 berjumlah 303 ekor.

“Rusa ini merupakan satu-satunya rusa tropis yang mempunyai daerah penyebaran yang sangat terbatas dan tersempit (90 km persegi), dan sebagian besar habitatnya berada dalam kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean seluas 3.831,6 hektar,” tulis Wirdateti dkk. dalam “Kualitas Kriopreservasi Semen Rusa Bawean Hasil Penangkaran” (jurnal Berita Biologi Vol. 12 No. 3, Desember 2013)

Sesuai namanya, rusa ini adalah hewan endemik Pulau Bawean yang letaknya di kawasan Laut Jawa dan secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Gresik. Secara geologis, menurut catatan Achmad Iqbal dalam Analisis Daya Dukung Habitat dan Model Dinamika Populasi Rusa Bawean di Suaka Margasatwa Pulau Bawean (2004), Pulau Bawean terbentuk dari sisa-sisa gunung berapi tua.

Selain itu, hampir 85 persen Pulau Bawean terdiri dari lapisan sedimen batuan tua yang terdiri atas batu kapur, lapisan pasir, tanah liat dan batu. Di sana juga terdapat beberapa buah gunung, seperti Gunung Bengkowang, Gunung Besar, Gunung Kastoba, Gunung Gadung, Gunung Dedawang, dan Gunung Tinggi.

“Bentangan pergunungan berada di sekitar tengah pulau dengan keterjalan lereng antara 5 sampai 75 persen,” imbuhnya.



Infografik Rusa Bawean




Menurut Achmad Iqbal, Pulau Bawean termasuk ke dalam Pulau Benua yaitu pulau yang pada masa lampau terhubung dengan daratan atau benua lain, lalu terpisah karena permukaan laut menjadi naik. Hal ini dapat mengurai beberapa kemungkinan asal muasal rusa bawean yang terdapat di pulau tersebut.

Meski demikian, Wilson & Reader yang menulis Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (1993) menulis bahwa asal-usul dan bagaimana rusa bawean bisa mencapai pulau tersebut tidak diketahui secara pasti. Keterangan berbeda seperti dikutip Achmad Iqbal, ditulis oleh A.C.V. van Bemmel dalam One of the Rarest Deer of the World (1953), mengatakan bahwa rusa bawean terpisah dari kerabatnya sekitar masa Diuvial, yaitu saat daratan Selat Sunda terpisah karena permukaan air laut naik.

Teori terhubung dan terpisahnya Pulau Bawean yang menyebabkan rusa bawean menjadi endemik pulau tersebut diperkuat oleh para peneliti rusa lain yang menyatakan bahwa rusa bawean berasal dari spesies Axis. Spesies tersebut mencapai Pulau Bawean pada zaman Pleistosin saat pulau itu masih menyatu dengan Pulau Jawa. Pendapat lain mengatakan bahwa nenek moyang rusa bawean berasal dari Filipina.

“Rusa bawean teridentifikasi sebagai jenis satwa baru oleh Salomon Muller pada tahun 1836 di daerah Tuban, kemudian pada tahun 1841 berhasil ditangkap rusa bawean di habitat aslinya di Pulau Bawean,” tulis Achmad Iqbal mengutip dari A.C.V. van Bemmel.

Masih berdasarkan Analisis Daya Dukung Habitat dan Model Dinamika Populasi Rusa Bawean di Suaka Margasatwa Pulau Bawean (2004), meski secara umum para ahli taksonomi sepakat bahwa rusa bawean termasuk dalam kelompok rusa paling primitif seperti rusa hog, tapi terdapat dua perbedaan dalam memperkirakan asal-usulnya.

Sebagian berpendapat bahwa Axis kuhili berasal dari kelompok rusa hog yang didatangkan dari India melalui perdagangan sekitar 2000 tahun yang lalu dan selanjutnya membentuk jenis tersendiri. Sebagian lagi menyatakan bahwa nenek moyang rusa bawean merupakan bagian dari populasi yang pernah ada di daratan Sunda sebagai bagian dari kelompok rusa hog, kemudian rusa tersebut mampu bertahan hidup dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Para ahli sempat berpolemik dalam penamaan rusa bawean secara ilmiah, tapi pada akhirnya rusa bawean dimasukkan ke dalam marga Axis, dan jenis (spesies) kuhili dengan beberapa pertimbangan, di antaranya: (1) Tidak mempunyai gigi taring, dan gigi tengah agak menurun. (2) Ranggah dengan cabang utamanya panjang dan menurun panjangnya secara proporsional dengan semakin kompaknya ranggah utama. (3) Tengkorak pendek dengan penulangan hidung yang lurus dan berkubah serta caudal margin tidak membulat. (4) Bulu pendek dan halus, dan lain-lain.

Achmad Iqbal menambahkan bahwa jika dilihat secara struktur morfologinya, rusa bawean termasuk kelompok rusa berbadan kecil denga tinggi rusa dewasa rata-arat hanya 165 cm. Secara umum warna bulu tubuhnya kecoklatan dengan sedikit campuran warna kekuningan. Lapisan bulu termasuk halus dan berkilau dengan lembut. Ekornya tidak terlalu panjang, kecoklatan di bagian atas dan putih di bagian belakang dan bawah. Pada rusa jantan tidak dijumpai bulu malai atau untaian. Saat anak rusa bawean dilahirkan terdapat warna totol putih sepanjang punggungnya yang akan hilang beberapa hari setelah lahir.

"Panjang tubuh rusa dewasa mencapai 140 cm dengan tinggi kaki depan sekitar 315 cm. Ranggah pada yang jantan dewasa hanya mencapai tiga cabang. Berat lahir anak rusa bawean dapat mencapai antara 1.0 kg hingga 1,5 kg pada rusa betina, dan 1,5 kg hingga 2,0 kg pada rusa jantan. Pada rusa dewasa beratnya dapat mencapai 50-60 kg," tulisnya.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Maulida Sri Handayani