Mengenal Pura Mangkunegaran, Lokasi Unduh Mantu Kaesang-Erina

Penulis: Yandri Daniel Damaledo, tirto.id - 5 Des 2022 13:11 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Mengenal sejarah Pura Mangkunegaran di Solo yang jadi lokasi unduh mantu pernikahan Kaesang dan Erina.
tirto.id - Putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep akan segera melangsungkan pernikahannya dengan Erina Gundono, pada 11 Desember 2022.

Salah satu lokasi tasyakuran pernikahan Kaesang dan Erina adalah di Pura Mangkunegaran Solo.

Acara di Pura Mangkunegaran akan digelar pada siang dan malam hari, dengan dihadiri oleh sekitar 6000 tamu undangan.


Adapun Joko Widodo mengungkap alasan mengapa Pura Mangkunegaran dipilih menjadi lokasi tasyakuran, yaitu karena gedung pernikahan miliknya Graha Shaba Buana di Jalan Letjen Suprapto Solo sedang tidak bisa digunakan, karena sudah terlanjur dipesan.

"Ya karena gedungnya kepakai, sebetulnya kita punya gedung sendiri, dulu Mas Gibran sama Mbak Kahiyang juga nikah di situ, tapi karena sudah dipesan, kita enggak bisa pakai," kata Jokowi seperti dilansir dari Antara, Minggu (4/12/2022).

Mengenal Pura Mangkunegaran Solo


Pura Mangkunegaran Solo atau Istana Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya.

Bangunan istana ini mulai dibangun pada tahun 1757 oleh Mangkunagara I dengan mengikuti model keraton.

Lokasinya berada di Jl. Ronggowarsito No.83, Keprabon, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta. Jawa Tengah.

Dilansir dari situs resmi Puro Mangkunegaran, untuk memasuki Puro Mangkunegaran akan melewati sebuah gapura hijau. Di sebelah timurnya terdapat bangunan Kavallerie Artillerie.

Secara arsitektur kompleks bangunannya memiliki bagian-bagian yang menyerupai keraton, seperti memiliki pamedan, pendapa, pringgitan, dalem, dan keputren. Seluruh kompleks dikelilingi oleh tembok, hanya bagian pamedan yang diberi pagar besi.

Menurut sejarahnya, pura ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Kadipaten Mangkunagaran ditandatangani oleh kelompok Raden Mas Said, Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I), Sunan Pakubuwana III, dan VOC pada tahun 1757.

Pangeran Sambernyawa, julukan bagi Raden Mas Said, diangkat menjadi "Pangeran Adipati" bergelar Mangkunagara I.

Sebagaimana bangunan utama di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, Pura Mangkunagaran mengalami beberapa perubahan. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang populer saat itu.

Saat memasuki pintu utama, akan tampak pamedan, atau lapangan perlatihan prajurit pasukan Mangkunegaran.

Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam tempat tempat berdirinya Pendopo Ageng yang berukuran 3.500 meter persegi.

Pendopo yang dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang orang ini, selama bertahun-tahun dianggap pendopo yang terbesar di Indonesia.

Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di Alas Kethu, hutan yang dahulu dimiliki Mangkunagaran, di perbukitan Wonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku.

Warna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna pari anom yang merupakan warna khas keluarga Mangkunegaran. Di bagian langit-langit pendopo terbentang Batik Kumudowati.

Terdapat delapan kotak dimana bagian tengahnya masing-masing memiliki warna dan arti yang berbeda. Berikut penjelasannya.

    • Kuning berarti mencegah rasa kantuk
    • biru mencegah musibah
    • hitam mencegah rasa lapar
    • hijau mencegah frustasi
    • putih mencegah pikiran seks birahi
    • oranye mencegah perasaan takut
    • merah mencegah kejahatan, dan
    • ungu mencegah pikiran jahat.

Tepat di belakang pendopo terdapat Pringgitan. Bangunan ini berbentuk kuthuk ngambang Pringgitan digunakan untuk pertunjukan wayang kulit. Di tempat ini juga terdapat foto KGPAA Mangkunegara IX beserta GKP Mangkunegara IX.

Selanjutnya Ndalem Ageng, sebuah bangunan berbentuk limasan yang memiliki luas kurang lebih 1.000 meter persegi. Saat ini Ndalem Ageng berfungsi sebagai museum.

Selain memamerkan petanen (tempat persemayaman Dewi Sri) berlapiskan tenunan sutera yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar adipati-adipati Mangkunegaran serta berbagai benda-benda seni.

Di belakang Dalem Ageng, terdapat keputren yakni tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Di dalamnya terdapat taman yang ditumbuhi pohon, bunga, semak hias, sangkar berisi burung, patung-patung klasik bergaya Eropa, serta kolam air mancur.

Menghadap ke taman terbuka, terdapat Pracimoyasa, sebuah ruang keluarga berbentuk segi delapan yang digunakan untuk rapat. Di dalam bangunan terdapat perabotan dari Eropa. Kaca-kaca berbingkai emas terpasang berjejer di dinding.


Infografik SC Pura mangku-negaran
Infografik SC Puramangku-negaran. tirto.id/ecun


Paket Wisata Puro Mangkunegaran


Puro Mangkunegaran dibuka untuk umum, setiap hari pukul 09.00 – 14.00 WIB. Pengunjung akan didampingi oleh pemandu yang cakap seputar seluk- beluk Puro Mangkunegaran.

Pengunjung dapat menikmati kemegahan dan keindahan istana Mangkunegaran serta mengunjungi museum yang menyimpan berbagai koleksi berbagai benda bersejarah.

Sebagai pusat kegiatan kesenian, setiap hari Rabu dilaksanakan latihan Tari Gaya Mangkunegaran, sedangkan setiap hari Sabtu diselenggaran latihan karawitan. Berikut paket wisata di Puro Mangkunegaran:

1. Minimal diikuti 25 orang

2. Workshop Tari:

- Tari Gambyong Retno Kusumo (putri)

- Tari Bondoyudo (putra)

3. Kuliner: apem, kolak dan ketan

4. Teh atau air mineral

5. Mengunjungi Museum.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Yantina Debora

DarkLight