Mengenal Legenda "Pribumi" Indonesia: Manusia Kerdil

Manusia Kerdil di Indonesia .tirto.id/Quita
Oleh: Tony Firman - 31 Maret 2017
Dibaca Normal 4 menit
Video Youtube yang menampilkan sosok pendek dan bugil mengingatkan pada manusia-manusia kerdil di banyak wilayah nusantara.
Akun Youtube bernama Fredography mengunggah sebuah video yang kemudian menjadi viral. Berdurasi 1 menit 57 detik, video berjudul "HEBOH ! Kaget ada orang telanjang di hutan Aceh" sejak 22 Maret kemarin ini menayangkan aktivitas para pemotor trail yang dikejutkan dengan munculnya sosok misterius dari sebelah kiri.

Salah satu anggota pemotor sempat terjatuh karena kemunculan tiba-tiba sosok tersebut. Pemotor yang merekam mengejar makhluk tersebut yang sempat menengok ke arah mereka. Sosok mini berperawakan manusia ini berlari dengan cepat dan berbelok ke kiri memasuki semak-semak tinggi.

Para anggota pemotor tampak menepi dan berusaha mencari keberadaan makhluk tersebut. Namun hingga tayangan video usai, ia tidak tampak ditemukan lagi. Video ini telah disaksikan oleh lebih dari 7 juta orang. Sosok mini berperawakan manusia tersebut disebut-sebut adalah bagian dari Suku Mante di Aceh. Suku Mante memiliki ciri-ciri fisik yang sama seperti pada sosok misterius yang terekam, yaitu berpostur kerdil.

Menurut laporan Antara, berdasarkan laman acehprov.go.id, berdasarkan asal usulnya, etnis Aceh salah satunya berasal dari Suku Mante, lebih tepatnya orang-orang Mante-Batak yang dinamakan kawom atau sukee lhee reutoh.

Laman indonesia.go.id, yang dikelola oleh Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, menyebutkan Suku Mante diduga berkerabat dekat dengan Suku Batak, Gayo dan Alas. Namun, sampai saat ini belum ada yang dapat menyimpulkan secara pasti bahwa sosok misterius bertubuh mini tersebut adalah bagian dari Suku Mante atau etnik suku pedalaman Aceh lainnya.

Membicarakan perihal manusia mini di Indonesia, berbagai daerah ternyata memiliki legenda akan keberadaan sosok ini. Umumnya mereka berada terasing di hutan-hutan pedalaman dan sulit ditemui dengan pasti.

Di Sulawesi misalnya, tepatnya di Bone, Sulawesi Selatan. Kisah keberadaan manusia kerdil yang mendiami hutan-hutan juga diyakini oleh penduduk setempat.

Suku orang kerdil di Bone Sulawesi ini dikenal sebagai Suku Oni. Keberadaan suku Oni pertama kali diungkapkan oleh Ahmad Lukman, mantan kepala Desa Mappesangka. Ia mengaku pernah berjumpa dengan orang-orang yang tingginya hanya sekitar 70 centimeter ini. Bahkan ia mengaku pernah mengunjungi tempat tinggal mereka di dalam gua, di kawasan hutan Tanjung Palette, seperti dilansir National Geographic.

Di Taman Nasional Meru Betiri, Jember Jawa Timur, sebagian penduduk setempat juga meyakini keberadaan manusia kerdil di kawasan hutan lindung tersebut. Namun, baik di Bone dan Jember hingga saat ini belum dapat dibuktikan secara pasti dan ilmiah. Beberapa lainnya menganggap kisah tersebut hanya sebuah legenda setempat dari mulut ke mulut.

Di Sumatera sendiri, tepatnya di area Taman Nasional Kerinci Seblat, yang terkenal adalah keberadaan Orang Pendek. Banyak saksi dilaporkan menduga melihat sosok ini mulai dari era kolonial Belanda, dan penduduk setempat. Ciri-cirinya adalah sosok tegap yang ditutupi bulu pendek, berjalan menggunakan kedua kakinya dengan tinggi tubuh mulai 80 sampai 150 sentimeter.

Berbeda dari cerita tentang keberadaan orang mini di wilayah lainnya, Orang Pendek telah benar-benar menarik minat para peneliti luar negeri untuk terjun langsung di belantara hutan Sumatra. Mereka hendak mengungkap apakah spesies ini bagian dari rantai manusia purba atau masuk dalam ragam primata Orang Utan lainnya.

Namun hingga kini belum pernah ditemukan dan terekam dengan jelas keberadaan sosok Orang Pendek selain hanya sampel jejak dan pengalaman para peneliti sendiri beserta pengakuan penduduk pedalaman lainnya yang pernah berjumpa dengan Orang Pendek.

Manusia Kerdil yang Berhasil Ditemukan

Di wilayah Indonesia bagian timur, tepatnya di Flores. Keberadaan manusia-manusia kerdil bertubuh mini dengan tinggi rata-rata satu meter kali ini benar-benar ada dan berhasil ditemukan. Karena posturnya yang mungil, mereka juga dijuluki Hobbit.

Indonesian Centre for Archaeology bersama gabungan para arkeolog Australia pada tahun 2003 melakukan ekspedisi ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Misi utama awalnya adalah untuk mencari bukti migrasi manusia Homo Sapiens dari Asia ke Australia, mereka bahkan tidak mengharapkan menemukan spesies baru dalam ekspedisi penelitiannya kali ini.

Ketika sampai di sebuah gua bernama Liang Bua dan melakukan serangkaian penelitian dan penggalian lebih dalam, mereka terkejut ketika menemukan kerangka lengkap hominin namun ukurannya mini dibanding kerangka manusia pada umumnya dan sementara dijuluki sebagai LB1 merujuk pada nama Liang Bua.

Penggalian terus dilakukan dan menemukan tujuh kerangka lainnya namun tidak lengkap dan melakukan uji penanggalan menghasilkan perkiraan awal berusia antara 38.000 sampai 13.000 tahun yang lalu dan dimuat dalam tulisan ilmiah berjudul "Further Evidence for Small-bodied Hominins from the Late Pleistocene of Flores, Indonesia." Mereka kemudian secara ilmiah diberi nama Homo floresiensis.

Dari identifikasi, perbedaan yang mencolok dari kerangka jenis manusia modern atau Homo sapiens adalah postur tubuhnya yang kecil, kapasitas tengkorak tempat otak yang turut mengecil beserta bentuk gigi yang berbeda. Temuan Homo floresiensis ini diresmikan tanggal 28 Oktober 2004 dan dijuluki sebagai Hobbit karena temuannya bersamaan dengan rilis trilogi film Lord of the Rings.

Dilansir Antara, setelah penggalian terbaru dari 2007 sampai 2014 yang meningkatkan pemahaman mengenai situs gua Liang Bua, para ilmuwan mengevaluasi lagi usia sedimen yang berisi sisa-sisa Homo floresiensis dan tulang-tulang mereka.

“Sisa-sisa kerangka Hobbit berusia 60.000 sampai 100.000 tahun sementara perkakas batu mereka berusia 50.000 sampai 190.000 tahun, kata arkeolog Thomas Sutikna dari Universitas Wollongong dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Indonesia yang mengindikasikan usia lebih tua dari perhitungan awal.

Hingga saat ini, sejak 14 tahun lalu pertama kali ditemukan, penelitian masih terus dikembangkan untuk mengumpulkan bukti-bukti pendukung dan temuan baru lainnya. Para peneliti juga mengatakan bahwa saat ini masih belum ada bukti langsung bahwa manusia Hobbit ini pernah pertemu dengan manusia modern seperti saat ini. Meski spesies manusia modern atau Homo sapiens sudah menjangkau pulau-pulai sekitar dan mencapai daratan Australia sekitar 50.000 tahun lalu.

Lanskap Liang Bua beserta tiap lapisan tanahnya secara umum memang menarik perhatian para arkeolog. Di dalam gua tersebut juga banyak ditemukan sisa-sisa kehidupan mulai dari 450 tahun hingga 18.000 tahun lalu, termasuk sejarah manusia selain Homo floresiensis yang pernah mendiami tempat tersebut dari masa Plestosen hingga Holosen.

Karena temuan Homo floresiensis yang memicu kekacauan dalam masyarakat sains ini, empat ilmuwan Indonesia dari Indonesian Centre for Archaeology, yaitu Rokus Awe Due, E Wahyu Saptomo, Jatmiko, dan Thomas Sutikna, masuk dalam jajaran ilmuwan dengan pemikiran ilmiah paling berpengaruh sedunia tahun 2014 menurut versi Thomson Reuters, di London, Inggris.

Meski memberi sumbangsih pemikiran dan temuan arkeologi berkelas dunia, seperti dilaporkan National Geographic, diskursus dan perhatian dalam negeri terhadap temuan spektakuler ini justru tidak menggema. Arkeolog senior Universitas Indonesia Prof. Mundardjito menilai sama sekali tidak ada perhatian pemerintah terhadap peneliti yang telah benar-benar bekerja dan menghasilkan temuan luar biasa.



Tahun 2014, giliran di lembah So’a di Flores ditemukan pula kerangka hominin berpostur mini layaknya Hobbit di Liang Bua. Adalah ilmuwan Australia Dr Gert van Den yang memimpin rombongannya menemukan fosil manusia kerdil ini di Mata Menge.

Sejak aktivitas penelitian tahun 2010, menurut laporan National Geographic, mereka telah menemukan ribuan peralatan batu dan fosil-fosil gajah kecil, tikus raksasa, komodo dan buaya. Baru ketika penelitian diperluas tahun 2014, mereka menemukan sisa-sisa tengkorak hominin, termasuk satu fragmen rahang bawah, enam gigi dan sepotong kecil tulang tengkorak. Setelah melakukan CT scan terhadap fragmen rahang, ditemukan bahwa tengkorak tersebut adalah milik spesimen dewasa.

Usianya diperkirakan ada di era 700.000 tahun silam yang berarti jauh lebih tua dari Homo floresiensis yang ditemukan sebelumnya. Hasil temuan yang kemudian dimuat dalam jurnal Nature ini menyatakan fosil berasal dari jenis Homo erectus yang menunjukkan besarnya kemungkinan terjadinya pembalikan dalam evolusi manusia, dimana tubuh manusia termasuk otaknya, mengalami pengecilan.

"Ini merupakan makhluk aneh - tingginya hanya 1 meter dengan ukuran otak kecil dan perpaduan karakter primitif dan lebih maju - dan tak seorang pun tahu pasti apa ini dan apa yang harus kami simpulkan," kata Dr van den Bergh seperti dilansir Australia Plus.

Dia mengatakan ada sejumlah hipotesis mengenai temuan ini, termasuk bahwa ini merupakan versi kerdil dari Homo erectus atau bahwa ini berasal dari leluhur manusia yang lebih kecil seperti Homo habilis.

"Sekarang temuan ini menunjukkan bahwa 700 ribu tahun silam leluhur Homo floresiensis telah sama kecilnya dengan manusia hobbit sendiri, dan kedua, ini menghubungkan antara Homo erectus dan Homo floresiensis," ujarnya lagi.

Sama seperti situs purba di Liang Bua, Lembah So’a juga dikenal sebagai gudangnya berbagai artefak dan fosil makhluk hidup purba sebelum penemuan fosil manusia Mata Menge ini.

Eksistensi manusia kerdil di wilayah Indonesia nyatanya dapat dibuktikan meski hanya tinggal kerangka dan usia masa kehidupannya sangat tua. Legenda keberadaan manusia kerdil yang masih hidup di berbagai wilayah pedalaman hutan Indonesia lainnya hingga detik ini masih perlu pembuktian ilmiah lebih dalam.

Baca juga artikel terkait ACEH atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight