Mengenal Kanker Otak Glioblastoma yang Diderita Agung Hercules

Oleh: Widia Primastika - 19 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kanker otak glioblastoma merupakan jenis tumor ganas grade IV.
tirto.id - Aktor dan penyanyi dangdut Agung Hercules dilaporkan menderita penyakit kanker otak. Seperti diberitakan Antara, sang istri, Mira Rahayu, menginformasikan ihwal penyakit dari Agung itu melalui salah satu komentar di akun Instagramnya.

Mira menjelaskan sang suami tengah mengidap kanker otak glioblastoma grade IV. Mira pun mengunggah gambar Agung yang kala itu dirawat di RSUD Tangerang. Dalam gambar itu terlihat tubuh Agung menyusut dan kepalanya botak. Berbeda ketika ia masih eksis di layar kaca.


Apa itu Glioblastoma?

Menurut Cancer Council Australia, sebuah badan amal yang berfokus pada penanganan seluruh jenis kanker di Australia, kanker otak terdiri dari dua jenis, yakni tumor otak primer (tumor yang dimulai di otak dan tidak menyebar ke seluruh tubuh) dan tumor otak sekunder (tumor yang bermula dari bagian tubuh yang lain).


Dalam dunia medis, ada 40 jenis tumor otak yang dikelompokkan dalam dua kategori besar, yakni tumor jinak, yang tumbuh secara lambat dan tak mungkin menyebar, seperti meningioma, neuroma, tumor hipofisis, dan craniopharyngioma. Selain itu, ada pula tumor ganas yang biasa disebut kanker, yang bisa menyebar ke bagian lain dari otak atau sumsum tulang belakang. Jenisnya meliputi astrositoma, oligodendroglioma, glioblastoma, dan glioma campuran.

Dalam kasus kanker otak yang dialami Agung Hercules, ia menderita penyakit kanker otak Glioblastoma Multiforme (GBM). Eric C. Holland dalam komentarnya yang berjudul “Glioblastoma multiforme: The terminator” (2000, PDF) menjelaskan bahwa GBM adalah jenis kanker otak yang paling agresif dari, kumpulan tumor yang timbul dari glia atau prekursor dalam sistem saraf pusat.

American Brain Tumor Association (ABTA) mengungkapkan bahwa glioblastoma adalah kanker otak grade IV. Pada jenis ini, tumor bersifat infiltratif dan menyerang daerah otak terdekat. Namun terkadang, tumor bisa menyebar ke sisi yang berlawanan dari otak melalui serat koneksi (corpus callosum).

Glioblastoma adalah kanker yang cukup serius, sebab ia bisa muncul de novo. Artinya, bisa langsung muncul dalam bentuk kanker grade IV. Tumor ini adalah bentuk yang paling sering dijumpai dari jenis glioblastoma dan memiliki sifat lebih agresif dan mempengaruhi pasien dewasa.

Pertumbuhan Kanker pada Glioblastoma

Studi Farina Hanif dkk yang berjudul “Glioblastoma Multiforme: A Review of its Epidemiology and Pathogenesis through Clinical Presentation and Treatment” (2017, PDF) mengungkapkan bahwa GBM merupakan salah satu tumor langka dengan jumlah kejadian 10 per 100.000 orang. Jika dibandingkan dengan keseluruhan insiden kanker otak, penderita glioblastoma mengambil porsi 12-15 persen (PDF). Namun, para penderita kanker ini memiliki tingkat harapan hidup yang pendek, sekitar 11 sampai 15 bulan sejak penyakit terdeteksi.

GBM sebenarnya bisa terjadi pada semua kelompok umur, tapi jumlah penderita terbanyak ada di rentang usia 55 sampai 60 tahun. Risiko serangan glioblastoma akan meningkat seiring bertambahnya usia. Secara umum, kasus GBM pada pria lebih tinggi dibanding perempuan.

Gejala dari kanker otak glioblastoma hampir menyerupain gejala flu atau virus umum lainnya. Stuart Pitson, seorang periset senior NHMRC, Centre for Cancer Biology dari University of South Australia dalam artikelnya di The Conversation mengatakan bahwa pusing, mual, muntah, dan rasa mengantuk adalah hal yang bisa dialami oleh penderita dari penyakit ini.


“Meski begitu, gejala-gejala yang telah diuraikan di atas bisa juga terjadi karena alasan lain, tapi gejala tersebut umum terjadi pada pasien glioblastoma, tapi jika lokasi tumor di otak berbeda, mungkin mereka memiliki serangkaian gejala lain, seperti lemah di salah satu sisi tubuh, ingatan, dan kesulitan berbicara, serta perubahan penglihatan,” ungkap Pitson pada.

Pitson menyampaikan bahwa kanker ini termasuk kategori penyakit yang sukar disembuhkan. Berbeda dari serangan kanker di bagian tubuh lainnya, pada glioblastoma, hampir mustahil operasi pengangkatan seluruh tumor dilakukan. Dalam sebagian besar kasus, sel itu bisa diangkat kurang dari 90 persen.

Selain itu, obat yang biasa dikonsumsi oleh pasien tidak bekerja secara efektif karena ada hambatan di otak. “Alasan lain, mereka begitu sulit untuk diobati adalah bahwa banyak obat tidak efisien masuk ke otak untuk beraksi terhadap tumor. Ada penghalang unik yang disebut ‘penghalang darah-otak’ yang membatasi perjalanan molekul, seperti banyak obat kemo, dari aliran darah ke otak,” ujar Pitson.

Penanganan Pasien Kanker Otak

Dokter Spesialis Bedah Tumor dan Kanker Otak dari Comprehensive Brain and Spine Centre Surabaya, dr. Agus C. Anab, Sp.BS. menjelaskan bahwa diagnosa pertama dari penyakit kanker otak bisa menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Jika letak kanker ada di posisi yang tersembunyi, biasanya pasien akan langsung diradiasi.

Dokter biasanya akan menyarankan operasi jika kondisi pasien memungkinkan.


“Operasi ini tentu tekniknya macam-macam, dengan teknologi semakin aman, [menggunakan] teknologi key hole surgery, teknik minimal invasive, [teknik ini] maksimal hasilnya dengan risiko yang minimal,” ujar Agus kepada Tirto, Selasa (18/6/2019) malam.

Infografik Kanker otak glioblastoma
Infografik Kanker otak glioblastoma. tirto.id/Nadya


Agus menyampaikan operasi tersebut bertujuan mengurangi tekanan di otak akibat tumor yang akan menimbulkan gangguan fungsi.

“Yang kedua untuk memastikan diagnosanya, jenis tumor apa, tumor jinak atau tumor ganas, yang ganas bisa disebut dengan kanker, gradenya berapa, tergantung dari jenis PA (patologi anatomi),” kata Agus.

Selain itu, Agus mengungkapkan bahwa operasi pada penderita kanker otak penting untuk mengetahui terapi lanjutan untuk pasien. “Misal kayak Hercules, [kanker otak] grade IV,” ujarnya.

Mengenai harapan hidup pasien kanker otak, Agus menyatakan ada berbagai faktor yang berpengaruh, seperti jenis tumor, lokasi penyebaran, dan letak tumor.

“Dan harapan hidup itu statistik, tetap semua itu kembali ke diri [pasien], bahwa semangat untuk sehat sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Semangat itu penting, supaya tidak stres, dan lingkungan sekitarnya seperti keluarga dan teman-teman terdekatnya penting,” tandasnya.

Baca juga artikel terkait KANKER OTAK atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf