Mengenal Istilah Kejang Febrile atau Kejang Demam pada Anak

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 27 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Dalam banyak kasus, kejang demam atau kejang Febrile biasa terjadi pada anak berusia 12 hingga 18 bulan.
tirto.id - Kejang Febrile atau disebut kejang demam biasa terjadi pada anak kecil berusia 3 bulan hingga 3 tahun, terutama ketika demam tinggi melebihi 39 derajat celcius. Namun, dalam banyak kasus, kejang demam biasa terjadi pada anak berusia 12 hingga 18 bulan, demikian sebagaimana ditulis Healthline.

Kejang demam juga sering terjadi akibat infeksi sehingga menyebabkan lonjakan suhu tubuh. Meski menakutkan, kejang demam yang dialami anak cenderung tidak berbahaya dan tidak menunjukkan masalah kesehatan lain yang lebih serius.

Ciri-ciri tubuh anak yang mengalami kejang demam ini, sebagaimana dilansir Mayo Clinic, akan bergetar seluruhnya dan bahkan kehilangan kesadaran. Namun, beberapa anak-anak hanya mengalami kedutan dan kaku di satu area tubuh. Kejang demam pun diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu:

  • Kejang demam sederhana, yang terjadi selama beberapa detik hingga 15 menit. Kejang ini tidak kambuh dalam kurun waktu 24 jam, dan tidak spesifik untuk satu bagian tubuh tertentu.
  • Kejang demam kompleks, terjadi lebih dari 15 menit dan terjadi lebih dari sekali dalam kurun waktu 24 jam. Kejang ini juga bisa terbatas pada satu bagian sisi tubuh anak.

Apabila anak mengalami kejang demam lebih dari 15 menit, segera mungkin bawa mereka ke dokter, terutama jika terjadi kejang pada beberapa bagian tubuh dan kesulitan bernapas. Selain itu, Kids Health juga menyarankan Anda untuk segera membawa si kecil ke dokter bila kulit anak membiru, tidak merespons secara normal, dan mengalami kejang lain dalam kurun 24 jam.

Apa yang harus dilakukan bila anak kejang?

Bila Anda melihat anak kejang, usahakan untuk tetap tenang. Selain itu, lakukan beberapa tips di bawah ini, sebagaimana disarankan Ikatan Dokter Anak Indonesia:

  1. Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti listrik dan pecah-belah.
  2. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar, sehingga anak terhindar dari bahaya tersedak.
  3. Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut. Sebab, memasukkan sendok, kayu, jari orang tua, atau benda lainnya ke dalam mulut, atau memberi minum saat anak sedang kejang, dapat berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas apabila luka
  4. Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang.
  5. Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.
  6. Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orang tua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur. Setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi dokter.

Sementara untuk mencegah anak mengalami kejang saat demam, Anda dapat berupaya untuk menurunkan suhu tubuh anak. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat penurun panas seperti paracetamol atau ibuprofen. Perlu diingat, bahwa sebaiknya hindari obat yang mengandung bahan aktif asam asetilsalisilat karena dapat menyebabkan efek samping yang serius pada anak.

Kompres anak dengan air hangat pada dahi, ketiak, atau liparan siku untuk membantu menurunkan suhu tubuh anak. Senantiasa ukur secara reguler suhu tubuh anak dengan termometer untuk memonitor kesehatan anak.



Baca juga artikel terkait DEMAM atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight