Mengenal Hypersexual Disorder serta Gejala & Penyebabnya

Oleh: Adilan Bill Azmy - 19 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Hiperseksual adalah salah satu gangguan yang terjadi pada seseorang yang mengalami kecanduan seks atau disebut hypersexual disorder, apa saja gejala dan penyebabnya?
tirto.id - Hiperseksual merupakan salah satu gangguan yang terjadi di mana pengidapnya mengalami kecanduan terhadap seks.

Hiperseksual bisa juga disematkan kepada orang yang melakukan hubungan seks dengan intensitas lebih tinggi dari orang normal, atau orang yang terlalu sering membayangkan seks lewat fantasi.

Orang-orang yang mengalami gangguan hiperseksual bisa diakibatkan karena aktivitas pornografi, masturbasi, seks berbayar, seks dengan banyak pasangan, dan lain-lain.

Menurut situs Psychology Today, aktivitas-aktivitas ini dapat mengakibatkan gangguan dalam berbagai sektor kehidupan, seperti pekerjaan dan hubungan percintaan.

Di dunia psikologi, definisi gangguan hiperseksual masih menjadi perdebatan. Kebiasaan seksual yang kompulsif menjadi sulit untuk didefinisikan, karena sulit untuk mengira-ngira kapan aktivitas seksual menjadi masalah.

Para ahli psikologi sering menggunakan panduan dari Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder (DSM-5) untuk mengidentifikasi masalah kesehatan mental.

Karena perilaku seksual kompulsif tidak terdaftar dalam DSM-5, maka ganggaun tersebut digolongkan dalam kategori "gangguan kesehatan mental lain", sejajar dengan gangguan kontrol impuls dan perilaku kecanduan.

Menurut situs Mayoclinic.org, para ahli psikologi menggolongkan perilaku seksual kompulsif seperti hiperseksual sebagai kegiatan seksual yang dilakukan secara ekstrem.

Kegiatan seksual yang dimaksud dapat membahayakan dan berdampak negatif. Meski masih perlunya konsensus ahli tentang hiperseksual, namun perawatan dan konseling dengan psikolog tetap dianjurkan.

Menurut Robert Weiss, ahli seksologi klinis dan psikoterapi menyatakan, ada beberapa kriteria diagnosa yang bisa diambil dari gangguan hiperseksual.

Laman Psychcentral.com menyatakan, kriteria ini telah diangkat untuk dimasukkan dalam DSM-5 sebagai kriteria diagnosa penderita gangguan hiperseksual.

1. Dalam kurun waktu 6 bulan mengalami tiga dari lima kriteria berikut secara intens dan berulang:
  1. Fantasi, dorongan, dan kegiatan seksual yang berlebihan sehingga mengganggu kegiatan non seksual sehari-hari
  2. Menjadikan fantasi seksual, dorongan seksual, dan kegiatan seksual sebagai pengalihan dari stres dan tekanan hidup
  3. Berulang kali gagal dalam mengurangi fantasi, dorongan, dan kegiatan seksual.
  4. Terlibat berulang kali dalam fantasi seksual, dorongan, maupun kegiatannya dalam menanggapi suasana hati (contoh: kecemasan, depresi, rasa bosan, dan rasa marah).
  5. Melakukan aktivitas seksual namun dengan mengabaikan bahaya yang ditimbulkan pada diri sendiri maupun orang lain, baik secara fisik maupun emosional.
2. Mengalami tekanan dalam kehidupan sosial yang terkait dengan frekuensi dan intensitas berfantasi seksual, memunculkan dorongan, atau berperilaku seksual.

3. Fantasi, dorongan, dan perilaku seksual ini bukan berasal dari efek zat eksogen, seperti narkoba atau obat-obatan lainnya.



Penyebab


Perilaku hiperseksual belum bisa ditebak penyebabnya. Anak-anak atau remaja dapat mengalami peningkatan perilaku seksual yang tidak sesuai dengan perkembangannya, karena pengalaman traumatis, tekanan, atau penyakit mental lainnya.

Sementara itu, belum ada definisi standar untuk hiperseksualitas pada anak-anak. Anak-anak yang pernah mengalami pelecehan seksual bisa menyebabkan peningkatan perilaku seksual bagi mereka.

Sedangkan perilaku seksual yang beresiko tinggi bisa dikaitkan dengan faktor sosial mereka, seperti keluarga yang berantakan dan tekanan sosial di masyarakat.

Menurut situs Psychology Today, penting untuk mempertimbangkan peran budaya dalam membentuk perilaku hiperseksualitas. Budaya yang lebih memandang seks sebagai nilai positif, memungkinkan untuk tidak menilai perilaku seksual di atas sebagai sesuatu yang berlebihan.

Perawatan


Penderita hiperseksual perlu untuk mendapatkan perawatan. Dilansir Mayoclinic.org, perilaku seksual kompulsif dapat ditanggulangi dengan psikoterapi, obat-obatan dan kelompok swadaya.

Tujuan utama perawatan adalah membantu pengidap untuk mengelola dorongan dan mengurangi perilaku berlebihan sambil mempertahankan aktivitas seksual yang sehat.

1. Psikoterapi.

Psikoterapi alias terapi wicara dapat membantu bagaimana mengelola perilaku hiperseksual. Ada beberapa jenis psikoterapi, yaitu:

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
alias terapi perilaku kognitif, adalah suatu terapi yang digunakan untuk masalah kesehatan mental yang luas, seperti depresi, fobia, hingga Obsessive-Compusive Disorder (OCD).

Terapi ini menganjurkan seseorang untuk melihat diri sendiri dengan cara yang berbeda, yang nantinya akan berguna bagi kehidupannya sehari-hari.

Terapi ini mengidentifikasi keyakinan dan perilaku yang tidak sehat, negatif, dan menggantinya dengan cara-cara yang lebih adaptif untuk mengatasi masalah.

  • Terapi Penerimaan dan Komitmen (Acceptance and Commitment Therapy, ACT).
Terapi ini menekankan pada penerimaan pemikiran dan dorongan serta komitmen terhadap langkah-langkah yang telah dirumuskan sebelumnya. ACT bertujuan untuk memilih tindakan yang lebih konsisten dengan nilai-nilai penting.

  • Terapi Psikodinamik
Terapi ini didasarkan pada asumsi bahwa seseorang mengalami masalah emosional karena belum terselesaikan, konflik yang umumnya tidak disadari, yang sering berasal dari masa kanak-kanak.

Tujuan dari terapi ini untuk memahami dan mengatasi perasaan dengan lebih baik dengan berbicara tentang pengalaman. Terapi psikodinamik diberikan selama setidaknya beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun.

2. Terapi obat-obatan.

Pengobatan yang tepat dapat mengurangi aktivitas kimiawi pada otak yang berkaitan dengan perilaku obsesif, sehingga menurunkan dorongan seksual pada pasien. Pengobatan yang tepat tergantung pada kondisi kesehatan mental lain yang mungkin dimiliki pasien.

Obat-obatan yang umum digunakan seperti antidepresan, Naltrexone, pengendali mood, dan obat-obatan jenis anti-androgen.

3. Kelompok Swadaya.

Pasien dapat secara swadaya berbagi dengan orang-orang yang memiliki pengalaman yang sama, berbagi pengalaman bersama, dan belajar menangani hiperseksual dari orang lain yang sudah sembuh.

Jika tertarik pada kelompok swadaya, carilah yang memiliki reputasi baik dan yang membuat nyaman. Kelompok semacam itu tidak sesuai dengan selera semua orang. Tanyakan kepada ahli kesehatan mental untuk mendapatkan saran kelompok swadaya terbaik.


Baca juga artikel terkait HIPERSEKSUALITAS atau tulisan menarik lainnya Adilan Bill Azmy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Adilan Bill Azmy
Penulis: Adilan Bill Azmy
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight