Mengenal Aseksualitas, Saat Seseorang Tidak Tertarik pada Seks

Oleh: Adilan Bill Azmy - 17 Januari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Beberapa orang tidak memiliki ketertarikan seksual sama sekali. Meskipun demikian, bukan berarti orang-orang aseksual tidak mengalami bentuk ketertarikan lain.
tirto.id - Manusia memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup. Abraham Maslow, psikolog terkemuka dunia merumuskan kebutuhan manusia ke dalam lima tahap. Kebutuhan paling dasar manusia adalah kebutuhan fisik, yang meliputi udara, makanan, minuman, tempat tinggal, kehangatan, tidur, dan sebagainya.

Maslow dalam model yang ia kembangkan turut memasukkan hubungan seks sebagai kebutuhan fisik manusia. Dilansir situs SimplyPsychology.org, Maslow berpendapat bahwa hubungan seks juga merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan.

Akan tetapi, tidak semua orang menganggap hubungan seks sebagai kebutuhan. Beberapa kalangan tidak menganggap hubungan seks sebagai kebutuhan, hingga tidak merasakan kenyamanan dalam hubungan seksual. Bahkan sebagian orang mengaku sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap hubungan tersebut.

Fenomena ini kemudian memunculkan orientasi baru dalam kehidupan seksual manusia, yaitu aseksualitas.

Menurut situs Asexuality.org, orang dengan orientasi ini tidak memiliki ketertarikan terhadap hubungan seksual. Orang dengan orientasi aseksual juga tidak tertarik kepada orang lain secara seksual. Selain itu, orang-orang yang mengaku aseksual juga tidak ingin membuat dirinya menarik bagi orang lain atau sebaliknya, dalam hal seksual.

Untuk memahami aseksualitas secara mendalam, perlu diketahui terlebih dahulu kondisi apa saja yang membuat seseorang masuk kategori aseksual. Situs Healthline.com menjabarkannya secara gamblang.

1. Beberapa orang tidak memiliki ketertarikan seksual sama sekali. Meskipun demikian, bukan berarti orang-orang aseksual tidak mengalami bentuk ketertarikan lain.

Berikut bentuk ketertarikan yang bisa dialami oleh orang-orang aseksual:
  • Ketertarikan romantis: keinginan untuk berada dalam hubungan romantis dewngan seseorang.
  • Ketertarikan estetis: merasa tertarik dengan seseorang berdasarkan rupa atau penampilan orang tersebut.
  • Ketertarikan sensual atau fisik: ingin bersentuhan, berpelukan, atau bermesraan dengan orang lain.
  • Ketertarikan platonis: ingin berteman dengan orang lain.
  • Ketertarikan emosional: ingin memiliki hubungan emosional dengan orang lain.
  • Orang-orang aseksual sangat mungkin mengalami bentuk-bentuk ketertarikan di atas.

2. Orang-orang aseksual mungkin memiliki ketertarikan seksual, namun hanya pada keadaan tertentu. Misalnya, seorang demiseksual--yang disebut-sebut masih dalam lingkaran aseksual--mengalami ketertarikan seksual hanya saat berada dalam hubungan yang dalam dengan seseorang.

Dalam artian, mereka hanya bisa mengalami ketertarikan seksual ketika dalam sebuah hubungan romantis yang dalam, seperti dalam pernikahan.


3. Beberapa orang aseksual mungkin memiliki libido atau hasrat seks, meskipun tidak memiliki ketertarikan seksual. Perlu diketahui, libido, hasrat seks, dan ketertarikan seksual adalah tiga hal yang berbeda.

Libido: biasa dikenal sebagai dorongan seksual, libido merupakan keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Selain itu, libido juga dapat diartikan sebagai keinginan untuk mengalami kepuasan seksual dan pelampiasan seksual. Bagi beberapa orang aseksual, libido sedikit mirip dengan keinginan untuk menggaruk bagian tubuh yang gatal.

Hasrat seks: hal ini berhubungan dengan gairah berhubungan badan, baik karena alasan kesenangan, hubungan personal, pembuahan, maupun alasan lainnya.

Ketertarikan seksual: hal ini menciptakan keinginan untuk mendapatkan seseorang yang menarik yang berujung pada keinginan untuk berhubungan seksual dengan orang tersebut.

Orang yang tidak aseksual juga mungkin memiliki libido yang rendah, dan bahkan tidak punya gairah seksual. Di samping itu, orang-orang aseksual juga masih mungkin memiliki libido dan hasrat seksual.

Sehingga, beberapa orang aseksual masih mungkin bermasturbasi atau bahkan berhubungan seksual. Perlu diperhatikan, aseksual tidak selalu diartikan sebagai seseorang yang tidak bisa menikmati hubungan seksual. Pengertian aseksual terbatas pada tidak adanya ketertarikan seksual pada diri seseorang.

Ada sejumlah alasan mengapa orang-orang aseksual memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seksual, mulai dari untuk memuaskan libido, memiliki keturunan, hingga untuk menunjukkan atau memperoleh kasih sayang dari pasangan

Di sisi lain, ada pula orang-orang aseksual yang memiliki sedikit libido maupun gairah seks, atau bahkan tidak memiliki keduanya sama sekali. Namun, hal ini tidak menjadi masalah. Sebab, arti aseksualitas bagi seseorang aseksual berbeda dengan yang lain.

4. Ada kelompok orang yang tidak termasuk dalam penjelasan di atas. Laiknya seksualitas yang memiliki berbagai spektrum, aseksualitas pun demikian.

Salah satunya adalah kategori aseksual gray-A, atau aseksual abu-abu. Asexual Visibility & Education Network (AVEN) menjelaskan, gray-A kerap terlihat sebagai titik tengah antara seksualitas dan aseksualitas. Orang-orang dalam kategori Gray-A tidak mengalami ketertarikan seksual, namun terkadang mengalaminya. Gray-A juga terkadang memiliki ketertarikan seksual pada taraf yang sangat rendah, atau dalam kondisi yang benar-benar spesifik.

5. Aseksual bukan berarti abstinence atau pemantangan, bukan pula celibacy atau selibat. Baik abstinence atau celibacy, keduanya didasari oleh kesadaran penuh dari dalam diri seseorang. Berbeda dengan keduanya, aseksual datang secara alami, tidak disengaja.

Abstinence atau pemantangan berarti memutuskan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Hal ini biasanya tidak berlangsung selamanya.

Abstinence biasanya dilakukan karena beberapa alasan. Nilai-nilai agama atau norma sosial, misalnya, membuat seseorang memantangkan dirinya untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan. Atau alasan lain seperti depresi, trauma atas pengalaman di masa lalu, atau karena alasan prinsip yang dibuat oleh seseorang.

Sedangkan celibacy atau selibat adalah memutuskan untuk menghilangkan sama sekali seksualitas di dalam hidupnya. Selibat biasanya dilakukan dengan alasan agama, kepercayaan, atau memang alasan personal. Selibat diberlakukan dalam jangka waktu yang lama, bahkan seumur hidup orang tersebut.

6. Aseksualitas tidak ada kaitannya dengan kondisi medis apapun. Aseksualitas bukan penyakit, sehingga tidak perlu pengobatan apapun. Aseksualitas tidak pula sama dengan beberapa kondisi berikut ini:
  • ketakutan akan hubungan intim
  • kehilangan dorongan seksual atau libido
  • menahan hubungan seksual
  • keengganan berhubungan seksual
  • disfungsi seksual
Semua orang dapat mengalami beberapa kondisi di atas, terlepas orientasi seksual apa yang ia miliki.

7. Aseksual muncul tanpa sebab. Laiknya homoseksualitas atau biseksualitas, aseksualitas muncul tanpa sebab yang melatarbelakanginya. Aseksualitas bukan turunan genetik, disebabkan oleh trauma, atau penyebab-penyebab lainnya.

8. Aseksualitas tidak ada hubungannya sama sekali dengan ketidakmampuan mencari pasangan. Beredar anggapan bahwa seorang aseksual akan memiliki ketertarikan seksualnya setelah menemukan "orang yang tepat". Anggapan ini tidak benar sama sekali.

Banyak orang aseksual yang juga merasakan hubungan romantis, dan banyak pula hubungan romantis aseksual yang berjalan bahagia, dan baik-baik saja.

9. Beberapa orang aseksual baik-baik saja tanpa hubungan romantis. Mereka lebih memilih untuk menjalani hubungan non-romantis bersama pasangannya.

Seseorang yang tidak mengalami ketertarikan romantis disebut aromantis. Bila aseksual dengan aromantis digabung, maka terjalin hubungan yang disebut queerplatonic. Semua orang dapat menjalani hubungan queerplatonic, apapun gender maupun orientasi seksualnya.

10. Beberapa orang, merasa orientasi seksualnya berubah-ubah, dan ini tidak masalah. Orientasi seksual dapat berubah dari waktu ke waktu.

Ada orang yang pernah merasa dirinya aseksual. Namun beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian lebih sering merasakan ketertarikan seksual. Sama halnya dengan orang yang merasa dirinya heteroseksual, namun dalam jangka waktu tertentu ia kehilangan ketertarikan seksualnya dan menjadi aseksual.

Perubahan orientasi seksual tidak lantas diartikan sebagai sebuah fase. Orientasi seksual tidak pula dapat diartikan sebagai sebuah pencapaian.

Masyarakat dapat mengukur sendiri tingkat seksualitas atau aseksualitas mereka dengan menanyakan kepada diri sendiri beberapa pertanyaan berikut:
  • Apa arti ketertarikan seksual bagiku?
  • Apakah aku merasakan ketertarikan seksual?
  • Apa yang ada di benakku tentang konsep hubungan seksual?
  • Apakah aku merasa harus tertarik dengan hubungan seksual karena itulah yang seharusnya kulakukan?
  • Apakah hubungan seksual penting bagiku?
  • Apakah ketika aku tertarik dengan seseorang, aku merasa aku harus menyetubuhiny?
  • Bagaimana caraku menunjukkan rasa sayang pada seseorang? Apakah hubungan seksual merupakan salah satunya?
Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat membantu seseorang untuk dapat menentukan identitasnya, apakah ia seksual atau aseksual.

Aseksualitas di Ranah Akademik

Hingga kini, fenomena aseksual menjadi objek penelitian di berbagai disiplin ilmu, seperti psikologi dan seksologi. Namun, para peneliti masih perlu mendalami aseksualitas secara mendalam. Sebab, selama ini para peneliti masih kesulitan untuk merumuskan penjelasan secara mendalam tentang aseksualitas.

CJ Deluzio Chasin dari Windsor University di Kanada menjelaskan beberapa kesulitan yang dialami oleh peneliti dalam membahas aseksualitas. Pada studinya yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Sexual Behavior, ia menulis bahwa para partisipan dalam penelitian-penelitian aseksualitas tidak konsisten mengidentifikasi diri mereka sebagai aseksual.

Chasin dalam penelitian tersebut juga menyinggung tentang self-identification. Ia mempertanyakan apakah self-identification penting dalam menentukan aseksualitas seseorang. Hal ini, sebutnya, perlu mendapat perhatian khusus bagi para peneliti untuk penelitian aseksualitas di kemudian hari.


Baca juga artikel terkait ASEKSUALITAS atau tulisan menarik lainnya Adilan Bill Azmy
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Adilan Bill Azmy
Penulis: Adilan Bill Azmy
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight