Mengenal Apa Itu Endometriosis Seperti yang Dialami Chrissy Teigen

Oleh: Yonada Nancy - 7 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Endometriosis adalah kondisi tumbuhnya jaringan yang mirip seperti rahim di luar rahim.
tirto.id - Christine Diane Taigen atau yang lebih dikenal sebagai Chrissy Taigen mengabarkan ia menjalani operasi endometriosis melalui akun Twitter pribadinya. Dalam cuitannya, istri dari penyanyi John Legend ini mengatakan bahwa operasi ini mengingatkannya pada buah hatinya yang meninggal empat bulan lalu karena keguguran.

"Jack kecilku (seharusnya) akan lahir pada minggu ini, sehingga aku sedikit merasa tidak enak. Aku benar-benar merasakan tendangan di perutku, tapi itu bukan ilusi" tulis Taigen dalam cuitannya, Kamis (4/2/2021).

Endometriosis sendiri merupakan kondisi tumbuhnya jaringan yang mirip seperti rahim di luar rahim. Jaringan tersebut tumbuh membentuk lapisan-lapisan pembungkus rahim yang disebut endometrium.

Dilansir dari Healthline, endometriosis terjadi ketika jaringan endometrium tumbuh di ovarium, usus, dan jaringan yang melapisi panggul penderitanya.

Perubahan hormonal dalam siklus menstruasi seseorang dapat memengaruhi jaringan endometrium yang salah tempat. Hal ini menyebabkan area tersebut meradang dan nyeri setiap penderitanya mengalami menstruasi. Selain itu kondisi ini juga dapat mengakibatkan sejumlah keluhan seperti luka, iritasi, hingga masalah pada fertilitas.

Forum global mengenai endometriosis mencatat bahwa kondisi ini dialami oleh 10 persen wanita di dunia. Persentase ini membuat endometriosis diklaim sebagai masalah ginekologi yang umum.

Gejala endometriosis

Gejala endometriosis biasanya dirasakan penderita saat mengalami menstruasi. Gejala utamanya adalah kram dan nyeri panggul ekstrim selama periode haid. Penderitanya juga lebih berisiko mengalami disminore atau periode nyeri selama haid. Kondisi ini selain menyebabkan kram dan nyeri di area panggul, juga menyebabkan kram dan nyeri di punggung bawah dan perut

Dilansir dari Mayo Clinic, selain nyeri panggul dan kram ada beberapa gejala umum lainnya yang berkaitan dengan endometriosis, yakni:
    • Nyeri saat berhubungan seks.
    • Nyeri saat buang air besar atau buang air kecil, khususnya selama periode menstruasi.
    • Pendarahan berlebihan atau mengalamai periode menstruasi yang berat.
    • Infertilitas.
    • Kelelahan selama masa menstruasi.
    • Diare, sembelit, kembung, atau mual terutama selama periode menstruasi.
Tingkat keparahan nyeri adalah indikator utama untuk memutuskan perlu penanganan medis atau tidak. Gejala endometriosis juga sering disalahartikan dengan gejala sindrom iritasi usus besar, penyakit radang panggul, atau kista di ovarium. Sehingga memeriksakan diri ke dokter sangat disarankan untuk mengetahui diagnosis lebih lanjut.

Penyebab dan faktor risiko

Belum ada yang tahu mengenai penyebab pasti endometriosis, namun Healthline mencatat ada beberapa klaim yang berkaitan dengan hal tersebut. Proses menstruasi retrograde misalnya. Proses ini terjadi ketika darah menstruasi yang seharusnya keluar dari tubuh melalui vagina malah mengalir kembali melalui saluran tuba ke dalam rongga panggul.

Teori lainnya menyebutkan bahwa kondisi ini dipengarui oleh hormon. Disebutkan bahwa hormon mampu mengubah sel-sel di luar rahim menjadi sel-sel yang mirip dengan yang melapisi bagian dalam rahim, yang dikenal sebagai sel endometrium. Sementara teori lain ada yang menyebutkan bahwa endometriosis ada kaitannya dengan kondisi imun.

Apapun itu penyebabnya, faktanya siapapun bisa mengalami endometriosis. Namun, Johns Hopkins Medicine mencatat wanita-wanita dengan kondisi tertentu lebih berisiko mengalaminya. Risiko-risiko tersebut antara lain:

    • Wanita yang memiliki kerabat tingkat pertama (ibu, saudara perempuan, anak perempuan) yang menderita penyakit tersebut
    • Wanita yang melahirkan pertama kali setelah usia 30 tahun
    • Wanita dengan rahim abnormal

Penanganan endometriosis

Menurut Mayo Clinic, penanganan endometriosis melibatkan pengobatan dan pembedahan, tergantung dari diagnosis dokter. Dokter mungkin akan menyarankan penderita mengonsumsi obat-obatan nyeri yang dijual bebas di pasaran.

Namun, ada juga penanganan seperti terapi hormon. Obat hormon diklaim mampu memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium dan mencegah implan baru jaringan endometrium. Terapi ini melibatkan konsumsi pil kontrasepsi, konsumsi gonadotropin-releasing hormone (Gn-RH), hingga terapi progrestin menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim.

Jika penanganan dengan obat-obatan maupun terapi tidak bekerja atau ada kondisi pertimbangan lainnya, dokter mungkin akan menyarankan untuk pembedahan. Dalam kasus dimana penderita mencoba untuk hamil pembedahan berfungsi untuk mengangkat implan endometriosis. Pengangkatan ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan dan tetap mempertahankan rahim juga ovarium.

Selain pembedahan, ada perawatan kesuburan yang melibatkan metode stimulasi ovarium. Metode ini menstimulasi ovarium agar membuat lebih banyak telur hingga fertilisasi in vitro. Setiap opsi perawatan memerlukan rekomendasi medis dari dokter.


Baca juga artikel terkait ENDOMETRIOSIS atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight