Mengapa Sandiaga Uno Amat 'Memeable' bagi Laman Shitposting?

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 2 Juni 2018
Dibaca Normal 5 menit
Pengamat: Sandi wagub Jakarta dan dari partai besar. Tampil di meme boleh saja, tapi sentimen yang muncul tetap perlu dipantau.
tirto.id - Sandiaga Uno mengangkat kedua tangan ke depan. Lengan kanan lurus ke atas, yang kiri melintang di depan dada. Rekannya, Anies Baswedan, menjajal pose serupa. Momen itu terekam kamera dan diunggah di akun Instagram Sandi pada 26 April 2018, dan kemudian viral di media sosial.

Anda-anda, terutama generasi 90-an, pasti langsung menerka Sandi sedang menirukan gaya Ultraman yang sedang mengeluarkan jurus pamungkas. Tapi Sandi menjelaskan bahwa pose itu adalah salam pencak silat tapak suci, khusus ditujukan untuk para petugas Satpol PP Jakarta yang lembaganya sedang berulang tahun.

Karena memenuhi gaya lelucon laman Facebook shitposting P e n ah a n R a s a B e r a k (PRB), foto tersebut diunggah oleh sang admin dua minggu setelahnya. Komentar-komentar lucu memakai teks, gambar, gif, dan video berhamburan. Banyak di antaranya yang membanyol soal Ultraman.

Sandi cukup sering muncul sebagai meme di PRB. Bisa dibilang sebagai salah satu politisi langganan. Usai menelusuri unggahan lama PRB, saya menemukan dua jenis meme Sandiaga Uno.

Pertama, foto yang ditampilkan polos tanpa keterangan. Kedua, meme yang berasal dari tangkap layar sebuah berita di mana keterangan unik Sandiaga dipakai sebagai judul.

Untuk meme jenis pertama, Sandi dan senyum khasnya pernah ditampilkan sedang membonceng Anies di masa permulaan bekerja sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.


Ia juga pernah ditampilkan sebagai seorang peserta suntik difteri. Warganet terhibur dengan ekspresinya saat ditusuk jarum di lengan tangan kiri, sementara tangan kanan menirukan pose bangau terbang.

Pose bangau terbang pertama kali dilakukan Sandi saat sedang keliling Jakarta dalam rangka kampanye Pilkada 2017. Niatnya untuk lucu-lucuan, dan dilakukan beberapa kali di lain kesempatan.

Sandi berpose bangau terbang saat sesi pemotretan memakai baju resmi wagub Jakarta. Foto tersebut kemudian jadi meme, dan tak hanya diunggah oleh PRB, namun juga laman Facebook shitposting lain.

Untuk meme jenis kedua, sumbernya berasal dari beberapa media online. Misalnya bertajuk “Sandiaga Uno Kaget Melihat Berita-Berita Tentang Dirinya Kaget”, “Sandiaga Usul DWP 2017 Angkat Budaya Lokal yang Persatukan Warga”, atau “Sandiaga akan Lakukan Inspeksi Mendadak terhadap PNS DKI pada 2 Januari”.

Favorit saya, dengan tingkat absurditas yang mumpuni, adalah “Sandiaga Ucapkan Terima Kasih kepada Warga yang Polisikan Anies Baswedan”.

Saking terhiburnya, para pengunjung PRB sampai beberapa kali mengucap terima kasih kepada Sandi. Naiknya politikus kelahiran Pekanbaru ke kursi nomor dua di Jakarta membuat “stok meme untuk lima tahun ke depan aman”, komentar seorang pengunjung.

Lainnya memuji: “5 tahun melayani rakyat, it's too mainstream. Gubernur menjabat 5 tahun jadi bahan meme, it's ultimate extraordinary anti-mainstream”.

Perspektif dari Admin Penahan Rasa Berak

Demi secercah penjelasan atas fenomena tersebut, pada Rabu (30/5/2018) saya menemui admin sekaligus pencetus laman PRB di sebuah kafe di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan. Admin yang meminta namanya tak perlu disebutkan ini menilai Sandi tidak sebodoh kelihatannya. Sandi cerdik, sebagaimana politikus lain.

“Barangkali ia berpemahaman bahwa tidak ada publisitas yang buruk. Saya sendiri sih tidak berpikir apakah meme itu nantinya bikin elektabilitasnya jatuh atau bagaimana. Hanya karena lucu saja,”

PRB berdiri pada akhir tahun 2016 untuk menampung meme-meme yang dibuat oleh para admin. Sebelumnya meme-meme itu hanya dibagikan melalui akun pribadi. Referensinya tak jauh-jauh dari laman Facebook shitposting seperti S e m i o t i k a A d i l u h u n g 1 9 4 5.

“Sumber kontennya bisa dari mana saja. Kita ambil yang memang bagus, yang mengandung kelucuan di luar kenormalan. Yang aneh, absurd, nyeleneh. Misalnya meme Setya Novanto waktu dia di rumah sakit sambil mencukur rambut seekor monyet. Itu memang untuk merespon kasus yang sedang ramai diperbincangkan,” jelas Admin.

Perilaku Sandi mewakili elemen-elemen lelucon khas PRB itu: aneh, nyeleneh, absurd. Sandi mewakili politisi yang dalam kacamata konvensional dipandang formal serta dikungkung etika agar sikap dan citranya terjaga. Namun sesekali ia melabraknya, hingga kemudian berbuah foto-foto lucu.

Admin, dan keempat pengurus PRB lain, menyatakan tidak tertarik dengan politik praktis. Mereka juga tidak pernah diprotes oleh pihak Sandi atas meme-meme yang beredar. Sandi sendiri pernah berujar bahwa seorang tokoh besar tidak perlu alergi jadi lelucon, sehingga posisi PRB cukup aman.


Para politisi elite dan keriuhan di ranah kekuasaan memang sering dianggap sebagai sirkus yang memancing tawa rakyat Indonesia. PRB, kata Admin, hanya ingin secara humoris menampilkannya ke muka umum. Sebab tidak berpolitik praktis, sasarannya juga mencangkup semua pihak, baik dari kubu rezim maupu oposisi.

“Ini lho wakilmu. Ini lho yang kamu pilih di pemilu,” katanya.

PRB pernah menampilkan Tjahjo Kumolo saat mukanya kena bulu penghias topi yang dikenakan seorang pegiat drumband yang ingin mencium tangannya. Mereka mengunggah foto duo Fahri Hamzah dan Fadli Zon muda, yang sedang duduk semeja, entah berdiskusi tentang apa.

Foto Joko Widodo yang sedang olahraga tinju juga pernah diunggah untuk hiburan khalayak, termasuk saat sang sang presiden bermain game virtual bersama Mark Zuckerberg, lalu di bawahnya muncul foto wacana pemblokiran Facebook di Indonesia.

Wajah Jokowi bahkan pernah dicampur dengan foto wajah Prabowo Subianto, dan oleh seorang pengunjung PRB yang kreatif dinamai Joko Wiwowo.

Saat ditanya siapa politisi yang se-memeable Sandi, Admin PRB menjawab Jokowi dan kepolosannya, juga Habib Rizieq atau Setya Novanto.

“Kadang-kadang politisi yang sedang kena masalah. Yang jelas yang punya nama. Kalo orang biasa berpose bangau terbang, tentu tidak menarik. Tapi jika Sandi yang melakukan, itu baru unik,” imbuhnya.

Meme sebagai Senjata Politik(?)

“Meme” (dibaca 'mim') pertama kali dikemukakan Richard Dawkins (1976) di buku The Selfissh Gene, merujuk pada “unit imitasi dan transmisi budaya dalam gen”.

Saat istilah ini dibawa ke dunia internet, muncul istilah “meme culture”. Artinya kurang lebih ide yang diimitasi, disebarkan, dan dimediasi dari orang ke orang, lewat interaksi atau pembicaraan, baik melalui medium analog maupun digital.

Meski tidak berbentuk sebagaimana meme pada umumnya, konten visual PRB bagi si Admin bisa disebut meme atas dasar proses duplikasi dan penyebarannya yang masif.

Kombinasi gambar/foto dan teks ditujukan pembuat meme untuk merespon isu sosial-politik kekinian. Pada perkembangannya, meme berevolusi menjadi medium penyampai banyak hal: humor, iklan produk maupun jasa, hingga kampanye politik.

Sasaran utama, tak lain dan tak bukan, adalah milenial dan generasi Z sebagai konsumen terbesar internet dan medsos.


Rendy Pahrun Wadipala dalam artikel ilmiahnya bertajuk "Meme Culture & Komedi-Satire Politik: Kontestasi Pemilihan Presiden dalam Media Baru" (2015) pernah menggolongkan meme sebagai “graphic satire”. Meme, termasuk meme politik, mengandung unsur-unsur seperti absurditas, hiperbola, paradoks, simbolis, metafora, parodi, dan kejutan.

Meminjam pemikiran para ahli komunikasi visual lainnya, Rendy menulis satire sebagai elemen lelucon terpokok dari sebuah meme. Pembuat meme mengombinasikan ironi dan sarkasme untuk menyampaikan pesan kepada seseorang atau kelompok. Akibat meme politik abai sopan-santun, maka pesan tersebut kerap terasa ofensif, dan biasanya berbentuk kritik.

Shitposting, sebagai label dari kanal penyedia unggahan-unggahan absurd seperti PRB, berarti tindakan mengirimkan konten yang agresif, ironi, baik dalam skala kecil maupun besar. Unggahan PRB barangkali lucu bagi mereka yang paham soal shitposting, namun kemungkinan besar menyinggung mereka yang tak memahaminya.

Shitposting juga kerap diasosiasikan dengan meme atau konten viral yang tak bermakna apa-apa. Sebagaimana yang PRB yakini, murni untuk lucu-lucuan. Oleh sebab itu, jika Anda perhatikan di kolom komentar PRB, pengunjung berkomentar secara serius justru akan mendapat cemoohan.


Para pencemooh seperti tak rela jika status shitposting PRB diganggu. Mereka bisa amat cerewet dengan warganet yang tidak memahami hal ini.

Sementara yang dicereweti biasanya disebut “normies”. Admin PRB mengatakan para "normies" ini jamak ditemukan di laman meme yang jauh lebih populer di kalangan remaja Indonesia, semisal Meme Comic Indonesia (MCI).

Sayangnya, jika menyinggung soal politik, tak mungkin 100 persen aman dari debat partisan.

“Cebong” dan “kampret” sesekali hadir di PRB. Pada awalnya komentar-komentar ini dihapus atau akunnya di-banned sebab melanggar aturan PRB. Tapi lambat laun dibiarkan, dan menjadi minoritas secara alamiah, mengingat makin lama audiens PRB makin banyak.

Infografik MEME

Peran Meme dalam Politik Elektoral

Ada beberapa laporan yang menyebutkan meme politik dan politisasi meme merusak demokrasi di Amerika Serikat. Pasalnya pesan politik yang muncul ke permukaan kian kehilangan kedalaman serta esensinya. Salah satunya diulas oleh Douglas Haddow di Guardian dengan berkaca pada pemilihan presiden AS tahun 2016.

Yose Rizal dari PolitcaWave memandangnya sebagai konsekuensi dari bentuk meme sendiri yang sederhana sekaligus efektif sebagai medium penyampai pesan. Di era banjir informasi, meme lebih mudah diterima oleh pengguna medsos sebab bisa dikonsumsi secara singkat. Berbeda dengan narasi teks yang panjang.


Oleh sebab itu, umur meme juga singkat. “Ada yang hitungan hari, atau bahkan jam, lalu hilang dari peredaran,” katanya melalui sambungan telepon, Rabu (30/5/2018).

Untuk konteks Indonesia, Yose belum bisa meraba efek meme terhadap elektabilitas seorang politisi. Namun yang perlu diperhatikan adalah sentimen yang dibawa meme tersebut: positif atau negatif?

Pembangunan citra melalui meme lucu mengandung resiko tinggi jika dilakukan di awal karier, katanya. Selera humor milenial itu kompleks, bahkan segmented. Jika gagal dan dianggap garing, apalagi ofensif, maka yang didapat justru kecaman atau minimal tidak digubris. Sandi berbeda, sebab meme muncul saat dirinya sudah dikenal publik.

Namun Sandi tetap perlu berhati-hati, imbuhnya, sebab ia berposisi sebagai orang nomor dua di DKI Jakarta dan berasal dari partai politik besar di Indonesia. 2018 adalah tahun politik dan berpuncak pada gelaran pemilihan presiden pada tahun 2019. Sentimen yang dihasilkan dari meme-meme di PRB dan lainnya tetap perlu dipantau.

“Sebaiknya memang tidak melakukan hal yang mudah menjadi bahan olokan. Dia sudah populer. Masyarakat tentu mengharapkan pejabat publik, yang dipilih dari sebuah pesta demokrasi, untuk menonjolkan prestasi kerja. Bukan konyol-konyolan belaka.”

Baca juga artikel terkait MEME atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf