Mengapa Persentase Kematian Akibat COVID-19 di Indonesia Tinggi?

Petugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Oleh: Aditya Widya Putri - 9 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Hingga Selasa (7/4/2020), persentase kematian akibat COVID-19 di Indonesia sebesar 8%—lebih tinggi 2,3% dibanding tingkat kematian di dunia.
Tingkat kematian akibat COVID-19 dipercaya berhubungan dengan umur dan penyakit bawaan. Sementara proses pemulihan pasien dikaitkan dengan kekuatan sistem imun melawan infeksi virus SARS-CoV-2.

Tapi sejauh mana sebenarnya pengaruh kedua faktor tersebut menentukan tingkat keselamatan pasien?

Waktu bergulir melewati bulan keempat ketika dunia tengah bertarung dengan pandemi COVID-19. Ada 208 negara turut berperang melawan virus jenis baru tersebut. Sebagian negara berhasil menang, tapi lebih banyak lagi yang kalah dan kehilangan nyawa ratusan, bahkan ribuan, rakyat mereka.

Data yang dikumpulkan Worldometers menunjukkan hingga 7 April 2020 pukul 18.00 WIB, total angka kasus positif COVID-19 di dunia telah mencapai lebih dari 1,3 juta pasien. Ada lebih dari 75 ribu nyawa telah melayang akibat infeksi virus ini. Meski begitu terdapat sekitar 293 ribu pasien berhasil sembuh dan memulai lagi kehidupan normal seperti sedia kala.

Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, dan Perancis adalah negara-negara dengan angka kasus positif COVID-19 tertinggi di dunia. Tiga dari negara tersebut, yakni Italia, Spanyol, dan Perancis, memiliki jumlah kematian terbanyak. Tingkat kematian mereka berturut-turut sebesar 12,4 persen, 9,8 persen, dan 9 persen.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Negara kita sempat mencapai tingkat kematian tertinggi sekitar 9,11 persen pada Sabtu, 4 April 2020. Saat ini, berdasar data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Selasa, 7 April 2020), angka tersebut turun menjadi 8 persen. Tapi tetap masih lebih tinggi dibanding angka kematian global sebesar 5,7 persen.

Sebanyak 2.738 kasus terkonfirmasi di Indonesia dengan 221 kasus kematian. Indonesia sudah bersanding dengan tiga negara yang memiliki tingkat kematian tertinggi dunia. Sebagai informasi, tingkat kematian diperoleh dengan menghitung jumlah pasien meninggal dibagi dengan kasus positif, lalu dikali 100 persen.

Jika ditilik dari pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian individu dikaitkan dengan umur dan riwayat kesehatannya. Orang-orang yang rentan terinfeksi COVID-19 dan membutuhkan penanganan khusus adalah kelompok umur tua dan/atau dengan penyakit bawaan seperti hipertensi, gangguan jantung, paru-paru, kanker, atau diabetes.


Kelompok Rentan Berdasar Usia

Semakin tua umur seseorang, risiko infeksi virus SARS-CoV-2 akan lebih berat. Begitu juga dengan orang-orang yang memiliki penyakit seperti disebutkan di atas. Lembaga kesehatan masyarakat nasional Amerika Serikat (CDC) mencatat 8 dari 10 kematian di Amerika terjadi pada usia 65 tahun ke atas.

COVID-19 membawa risiko perawatan inap di rumah sakit sebanyak 31-59 persen pada lansia umur 65-84 tahun. Risiko ini meningkat menjadi 31-70 persen ketika berada di umur lebih dari 85 tahun. Kemudian kelompok lansia juga punya risiko mendapat perawatan intensif sebanyak 6-31 persen. Sementara risiko kematian bagi mereka yang berumur 65-84 tahun mencapai 4-11 persen dan menjadi 10-27 persen ketika usianya di atas 85 tahun.

Statistik risiko kematian milik CDC tidak berbanding jauh dengan probabilitas pada laman Worldometer: 60-69 tahun 3,6 persen; 70-79 tahun 8 persen; lebih dari 80 tahun 14,8 persen. Sementara rentang umur 50-59 tahun risikonya hanya 1,3 persen dan kisaran umur 40-49 tahun bertambah kecil menjadi 0,4 persen.

Di Indonesia, data kelompok umur seperti ini tidak tercatat dengan baik, sehingga risiko kematian kelompok rentan berdasar faktor umur tidak bisa ditentukan. Namun sedikit data yang tercatat dalam laman Kawal Covid-19 menunjukkan sebanyak 40 persen korban meninggal berumur lebih dari 60 tahun.

Sementara 56 persen lainnya ada di rentang umur 50-59 tahun. Data di laman tersebut juga menyatakan kelompok umur 40-49 tahun menyumbang angka kematian sebanyak 12,5 persen dan umur di bawah 40 tahun 6,25 persen. Artinya tak cuma lansia, tapi juga pralansia (45-59 tahun) di Indonesia termasuk dalam kelompok rentan terpapar infeksi berat COVID-19.

Mari petakan kelompok rentan berdasarkan usia dari Data Susenas Maret 2019 di Indonesia. Pada 2019 persentase lansia di atas 60 tahun mencapai 9,6 persen atau sekitar 25,64 juta orang dan pra-lansia sebanyak 17,16 persen. Separuh lansia Indonesia mengalami keluhan kesehatan dan persentasenya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur lansia.

“Satu dari empat lansia sakit dalam sebulan terakhir,” demikian catat Sesenas 2019.

Keadaan ini semakin tampak buruk akibat statistik penyakit berat di Indonesia yang juga memprihatinkan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyajikan statistiknya. Sebanyak 34,1 persen penduduk Indonesia berusia lebih dari 18 tahun sudah memiliki hipertensi. Kemudian diabetes melitus pada usia lebih dari 15 tahun mencapai angka 10,9 persen.

Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) juga mencatat ada 1,5 persen rakyat menderita penyakit penyerta kardiovaskular, 3,7 persen dengan gangguan paru-paru kronis, kanker dengan jumlah kasus 1,8 per 1 juta penduduk, dan autoimun sebanyak 3 persen. Usia tua dan penyakit bawaan adalah kombinasi faktor mematikan yang bisa membawa risiko terburuk infeksi COVID-19 bagi Indonesia.



Cara Sembuh dari Infeksi COVID-19

Sampai sekarang, meski banyak negara berlomba-lomba memproduksi vaksin COVID-19, penawar infeksi virus SARS-CoV-2 itu belum juga tersedia. Satu-satunya cara untuk pengobatan hanya bersifat suportif. Maksudnya meredakan gejala atau efek COVID-19. Misal ketika pasien sesak napas, maka tenaga kesehatan akan memberi alat bantu pernapasan.

Hanya ada satu cara yang bisa digunakan untuk melawan virus ini yakni dengan memercayai kemampuan alamiah tubuh membentuk kekebalan. Sel darah putih pada tubuh akan melawan virus dan patogen lain yang menginfeksi tubuh dan membentuk kekebalan ketika berhasil memenangkan pertarungan.

Tapi menurut penelitian Harvard Medical School, imun bukanlah entitas tunggal. Mereka bekerja seperti sistem. Agar dapat berfungsi dengan baik, butuh keseimbangan dalam tubuh yang dibentuk terus menerus. Terdengar klise, tapi kuncinya memang ditempuh dengan menerapkan gaya hidup sehat, olahraga, dan makan makanan bergizi.

Asupan makanan dan olahraga berkontribusi dalam melancarkan sirkulasi sel imun melakukan pekerjaan mereka secara efisien. Pola hidup yang buruk secara tidak langsung akan mempersulit sirkulasi imun, ditambah meningkatkan risiko penyakit kronis. Jika sudah begitu, sistem imun akan bekerja ganda: melawan infeksi COVID-19 sekaligus berperang dengan penyakit bawaan.


Di Indonesia, Riskesdas 2018 menyebutkan terdapat 14,5 persen perempuan usia subur menderita kurang energi kronis. Jumlahnya naik menjadi 17,3 persen pada perempuan hamil. Kemudian persentase balita gizi kurang dan buruk berjumlah 17,7 persen. Ini kemudian menjadi masalah berkelanjutan karena setiap janin dari ibu kurang energi kronis dan balita gizi kurang dan buruk berisiko memiliki imunitas rendah.

Tanpa mengesampingkan fakta tersebut, Indonesia bisa belajar dari Vietnam yang berhasil menyembuhkan semua pasien COVID-19. Negara ini per Rabu, 8 April 2020 memiliki total kasus 251, sembuh 122 jiwa, dan belum ada kasus kematian. Bahkan pasien tertua berumur 73 tahun pun sembuh dari infeksi, padahal ia termasuk dalam kelompok rentan.

“Di tahap penyembuhan dokter akan mengobati gejala pasien, pasien diminta menjalani diet ketat bergizi. Lalu tingkat saturasi oksigen dalam darah pasien selalu dimonitor,” tulis Al Jazeera merangkum upaya-upaya penanganan yang dilakukan negara komunis itu.

Dr. Kidong Park, perwakilan WHO di Vietnam, mengatakan keberhasilan Vietnam adalah buah usaha pemerintah yang proaktif dan konsisten. Selain memperhatikan status gizi rakyatnya, dua pekan setelah kasus COVID-19 pertama kali diumumkan, Kementerian Kesehatan Vietnam langsung melarang sekitar 10 ribu penduduk Son Loi keluar rumah selama 20 hari.

Alih-alih seperti Vietnam, tampaknya Indonesia masih harus berjuang keras menuntaskan spektrum masalah di belakang COVID-19. Mungkin Indonesia bisa memulainya dengan transparansi data persebaran pasien, sehingga kelompok rentan bisa lebih berhati-hati dan memproteksi diri mereka secara lebih ketat.

==========

Informasi seputar COVID-19 bisa Anda baca pada tautan berikut:

1. Ciri-Ciri Corona & Gejala COVID-19, Apa Beda dari Flu & Pneumonia?

2. Gejala Coronavirus Selain Demam dan Batuk: Tak Mampu Mencium Bau

3. Pentingnya Jaga Jarak di Tengah Pandemi COVID-19

4. 8 Cara Mencegah Penularan Virus Corona pada Lansia

5. Cara Deteksi Dini Risiko Covid-19 Secara Online

6. Update Corona Indonesia: Daftar Laboratorium Pemeriksaan COVID-19

Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight