Menuju konten utama

Mengapa Orang Percaya Terapi Ini-Itu yang Termasuk Pseudosains?

Sudah coba metode penyembuhan alternatif? Ah, jangan-jangan pseudosains.

Mengapa Orang Percaya Terapi Ini-Itu yang Termasuk Pseudosains?
ILustrasi Terapi. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Terapi Su Jok, yang belakangan menjadi bahan perbincangan di dunia maya, konon mudah diterapkan oleh orang awam. Jika membuka #TerapiSujok di media sosial seperti Facebook atau Twitter, ada saja unggahan yang menjelaskan “metode penyembuhan” ini; mewarnai bagian tangan atau kaki dengan spidol atau tinta.

Mereka yang menerapkan alternatif ini katanya akan sembuh dari penyakitnya dalam waktu sekejap. Su Jok adalah pengobatan alternatif yang disebut-sebut berasal dari Gujarat. Populer sejak dikembangkan oleh Park Jea Woo pada 1987, Su Jok menyasar bagian-bagian telapak tangan dan telapak kaki. "Su" sendiri artinya tangan, sementara "Jok" adalah kaki.

Menurut Plamen Ivanov dalam Su Jok and Moxa: A Self-Treatment Manual (PDF), terapi ini mudah dipelajari dan diterapkan, serta tak bisa dilakukan kapan saja. Anda juga tak perlu repot dan berlama-lama belajar ilmu kedokteran, sebab “pengobatan” ini bisa dipelajari tak sampai dua jam.

Terapis Sujok, Anju Gupta dalam wawancaranya kepada India Times menjelaskan bahwa terapi ini mengandalkan kekuatan alami di dalam dan sekitar tubuh. Ia pun mengklaim bahwa terapi ini membantu memberikan kedamaian mental bagi para pasien.

“Melalui Su Jok, orang dapat mendiagnosis masalah dengan mudah. Dengan menekan titik-titik kunci dan memberikan tekanan ke arah yang benar, penyakit dapat disembuhkan,” ungkap Gupta kepada India Times.

Menurut Gupta, Su Jok adalah terapi alternatif yang mengandalkan ketenangan jiwa melalui meditasi senyum yang dianggap mampu menyelaraskan pikiran, tubuh, dan jiwa manusia.

“Dengan ini, seseorang dapat meningkatkan kesehatan, kepercayaan diri, mengembangkan dan memperkaya kemampuan seseorang, memperoleh keberhasilan dalam pendidikan dan pekerjaan, dan menjadi orang yang bersemangat yang bisa turut mendorong terciptanya masyarakat progresif,” ujar Gupta dilansir India Times.

Untuk memperoleh kesembuhan tersebut, mereka mengandalkan terapi warna. Alat yang digunakan sederhana dan murah, misalnya spidol, pulpen, atau tinta yang hampir pasti ada di setiap rumah.

Dalam Pseudoscience: A Critical Encyclopedia (2009, hlm. 2) yang ditulis oleh Brian Regal, akupresur (acupressure) adalah praktik pengobatan yang hampir mirip dengan akupuntur. Meski mengklaim teknik itu kerap digunakan pada masa lampau, tapi dokter menganggap bahwa praktik ini hanyalah pseudosains. Alasannya, tidak ada studi yang jelas tentang praktik akupresur. Laporan-laporan positif tentang praktik itu tak berdasar, serta tidak konsisten.

Pseudosains di Dunia Kesehatan

Su Jok bukan satu-satunya terapi kesehatan yang belum jelas terbukti ilmiah. Beberapa waktu lalu, kita mengenal terapi aksesoris dalam bentuk gelang, kalung, dan cincin. Berbeda dengan Su Jok yang menawarkan harga murah, aksesori terapi ini punya harga yang cukup mahal.

Para penjual umumnya mengklaim benda-benda ini sebagai alat terapi magnetik yang mampu menyembuhkan sakit punggung hingga kanker. Nyatanya, sebagaimana dilaporkan BBC, benda-benda ini tak memiliki dampak apa-apa bagi penggunanya.

Profesor Leonard Finegold dari Drexel University, Philadelphia, dan Profesor Bruce Flamm dari Kaiser Permanente Medical Center, California juga menyampaikan bahwa sang konsumen bisa merugi secara finansial akibat terapi ini.

“Uang yang dihabiskan untuk terapi magnet yang mahal dan tidak terbukti [secara klinis] lebih baik digunakan untuk pengobatan yang memiliki bukti,” ujar Finegold dan Flamm kepada BBC.

Akibat kepercayaan orang terhadap barang-barang tak jelas ini, penjualan global magnet terapi ini bisa mencapai setidaknya $1 miliar per tahun.

Menurut studi berjudul “Static magnets for reducing pain: systematic review and meta-analysis of randomized trial” (2007, PDF) yang dirujuk Live Science, para peneliti menyimpulkan tak ada bukti yang mendukung penggunaan magnet statis untuk menghilangkan rasa sakit, sehingga benda “ajaib” itu tak bisa menjadi pengobatan alternatif.

Anda mungkin bisa berkilah dan menyebut beberapa studi yang mendukung terapi ini. Salah satu yang populer adalah riset dari Baylor College of Medicine (1997) yang mengklaim bahwa magnet terapi mampu meredakan nyeri. Namun studi itu terlalu kecil dan bisa diperdebatkan. Apalagi kedua dokter yang meneliti menyebutkan bahwa mereka telah membuktikan khasiat magnet ini untuk meredakan nyeri lutut mereka sebelum penelitian. Di kalangan ilmuwan, studi macam itu justru memunculkan keraguan atas objektivitas para peneliti.

Pada 2009, Indonesia pernah mengenal nama Ponari, bocah dari Dusun Kedungsari, Desa Balungsari, Kecamatan Megaluh, Jombang yang dipercaya mendapat batu bertuah. Seperti diberitakan Liputan6, batu yang diyakini turun dari langit itu dianggap mampu menyembuhkan penyakit.

Cara yang dilakukan Ponari sederhana: mencelupkan batu ke dalam air yang dibawa oleh orang yang datang. Air itu lantas diminum oleh si sakit. Batu “sakti” itu akhirnya mampu membuat Ponari kaya raya berkat uang dari orang-orang yang datang meminta kesembuhan.

Belakangan ini muncul daun bajakah yang diklaim mampu menyembuhkan kanker dan berhasil mengantar tiga siswa dari SMA 2 Palangkaraya berdiri di podium sebuah kompetisi internasional di Korea Selatan.

Peneliti LIPI Ahmad Fathoni mengatakan kepada Tempo bahwa kajian ilmiah lanjutan perlu dilakukan untuk mempertegas kegunaan tanaman ini. Proses itu tentu tidak sederhana, sebab harus melalui uji praklinis dan uji klinis.

Mengapa Pseudosains Tumbuh Subur?

Tak bisa dipungkiri, di dunia serba modern ini, segala bentuk pengobatan alternatif justru berkembang pesat dan penggunanya juga semakin banyak. Menurut sebuah artikel di Plos, hanya ada 14% orang yang menyatakan menggunakan terapi alternatif pada 1970. Tapi, jumlah tersebut meningkat menjadi 34% pada tahun 2002, dan saat ini diperkirakan lebih dari 40%.

Menurut sosiolog Gordon Gauchat yang merujuk pada data survei di Amerika Serikat 1974-2010, kepercayaan publik terhadap sains memang menurun. Fenomena ini umumnya terjadi di kalangan konservatif.

Infografik Pseudosains

Infografik Pseudosains. tirto.id/Nadia

Di sisi lain, pada 1974, kalangan konservatif yang mengenyam pendidikan tinggi memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap sains dan komunitas ilmuwan. Namun, tingkat kepercayaan mereka kini termasuk yang paling rendah,” ujar Gauchat kepada The New Yorker.

Untuk memperkuat argumennya, kalangan konservatif biasanya akan memaparkan informasi yang menentang pandangan ilmiah. Sayangnya, informasi yang dipaparkan adalah olahan 'peneliti' tanpa rekam jejak kredibel.

Umumnya orang-orang yang menyebarkan pseudosains ini akan memakai pendekatan yang seolah historis. Su Jok, misalnya, diklaim sebagai terapi tradisional dari Gujarat. Contoh lainnya adalah terapi bekam yang dianggap berasal dari Tiongkok kuno.

Dalam kajian psikologi, pendekatan pengobatan alternatif ini memanfaatkan Efek Dunning-Kruger, yakni kepercayaan diri yang tumbuh karena ketidaktahuan. Artinya, makin sedikit Anda tahu, maka semakin kecil kemampuan Anda untuk mengenali seberapa sedikit pengetahuan yang Anda miliki, sehingga tingkat kemungkinan Anda mengenali kesalahan dan kekurangan pun semakin minim.

Ini tentu jarang terjadi di kalangan periset terlatih. Sebab, bagi mereka, semakin banyak yang diketahui, maka semakin besar kemungkinan seseorang meragukan kompetensi mereka sendiri.

Biasanya pakar-pakar gadungan akan mendekati orang-orang dengan kondisi kesehatan buruk atau kritis. Kerja-kerja mereka kini makin dipermudah oleh perkembangan teknologi. Pakar gadungan dengan mudah menyebarluaskan informasi tentang metode penyembuhan alternatif dengan bantuan media sosial.

Baca juga artikel terkait PENGOBATAN ALTERNATIF atau tulisan lainnya dari Widia Primastika

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf