Mengapa Microsoft Menggratiskan Upgrade Windows?

Walpaper Windows 7. Screenshot/Windows 7
Oleh: Ahmad Zaenudin - 21 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Upgrade Windows 7 ke Windows 10 masih gratis.
Di setiap Selasa pekan kedua tiap bulan, Microsoft merilis security patch alias pembaruan program komputer demi keamanan sistem operasi Windows. Namun, ada yang berbeda pada 14 Januari 2019 lalu. Windows 7, sistem operasi yang lahir dengan wallpaper ikan cupang sebagai default--yang menggantikan “Bliss” alias pemandangan Lembah Napa di Windows XP--menerima patch terakhir.

Tanpa perilisan security patch, Windows 7, sebagaimana Windows XP atau bahkan Windows 98, masih dapat digunakan. Namun, Jack Schofield, dalam publikasinya di The Guardian, menyebut bahwa secara umum Windows 10, sistem operasi paling baru milik Microsoft, memiliki berbagai kode pemrograman yang sama dengan pendahulunya. Untuk menghemat pengeluaran, Microsoft hanya melakukan pencarian lubang keamanan dan membuat tambalannya pada sistem operasi yang masih didukung. Sebelum Selasa pekan kedua Januari kemarin tiba, sistem operasi yang didukung itu ialah Windows 7, Windows 8.1, dan Windows 10.

Jika celah keamanan ditemukan pada Windows 10, karena berbagi kode, sangat mungkin lubang yang sama ditemukan pada Windows 8.1, Windows 7, bahkan Windows Vista dan Windows XP. Untuk sistem operasi lawas yang masih didukung Microsoft, ini tak mengkhawatirkan. Lain halnya bagi yang sudah tidak didukung.


Dengan memanfaatkan security patch yang dirilis, peretas hingga pembuat virus dan malware dapat memanfaatkannya untuk menganalisis agar dapat mendobrak pertahanan sistem operasi yang sudah tidak didukung Microsoft.

Sebanyak 26,79 persen dari 1,2 miliar komputer berbasis Windows adalah menggunakan sistem operasi Windows 7. Sebanyak itulah kira-kira jumlah 'calon korban' peninggalan sistem operasi yang dirilis Oktober 2009 silam.

Singkatnya, Windows 7 telah mati.

Sebagaimana dilaporkan BBC, National Cyber Security Center, badan pemerintahan yang mengurusi masalah keamanan maya di Inggris, “mendesak pemilik perangkat yang sudah tidak didukung sistem operasinya untuk sesegera mungkin mengganti dan memindahkan data sensitif ke perangkat lain dan tidak menggunakan perangkat yang tidak didukung untuk mengakses bank atau akun sensitif lain.”

Pilihan lain, khusus bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan pada Windows 7, adalah membayar biaya $200 per perangkat per tahun sebagai biaya untuk membayar program dari Microsoft bernama “The Windows 7 Extended Security Updates,” program memberikan dukungan teknis khusus yang dibuka hingga 2023 kelak.

Bagi pengguna umum, dihentikannya dukungan bagi Windows 7 hanya menghasilkan dua pilihan terbaik: membeli perangkat baru atau meng-upgrade Windows 7 ke sistem operasi paling baru, Windows 10 atau alternatifnya.

Pada 2015, tatkala Windows 10 baru lahir, Microsoft menggratiskan upgrade ke sistem operasi anyarnya itu selama setahun. Melansir laman The Verge, upgrade gratis dari Windows 7 ke Windows 10 pun masih dapat dilakukan hari ini.

Tunggu. Kok bisa Upgrade ke Windows 10 gratis? Bagaimana mungkin perusahaan yang hidup dari menjual Windows, yang versi pertamanya (Windows 1.0) dijual seharga $99, kini menggratiskan upgrade ke Windows 10?

Bisnis Sistem Operasi yang Berubah

Sejak lahir di dunia, Windows pada dasarnya berbayar. Sistem operasi yang disebut Bill Gates sebagai “perangkat lunak unik yang dirancang bagi kalangan pengguna komputer serius" itu diperkenalkan ke publik pada 10 November 1983. Dua tahun berselang, tepat pada 20 November 1985, versi awal Microsoft Windows 1.0 dijual seharga $99. Namun, bila dikonversi dengan nilai dolar saat ini harganya mencapai $232. Harga itu jauh lebih mahal dibandingkan versi anyar Windows 10 Home Edition yang dibanderol dengan harga $139 pada laman resmi Microsoft.

Awalnya, pengguna harus membayar dengan sejumlah uang baik untuk membeli baru maupun upgrade, misalnya dari Windows Vista ke WIndows 7. Namun, sejak Windows 8.1 lahir, segalanya berubah. Pembaruan dari Windows 8 ke Windows 8.1 (atau kadang disebut sebagai Windows 9) yang meluncur pada 2013 silam bersifat gratis.

Penggratisan oleh Microsoft atas upgrade Windows dilakukan mengikuti pesaingnya, Apple yang lebih dulu melakukan langkah serupa. Sejak Mac OS X 10.9 Mavericks meluncur di awal 2013, Apple menggratiskan upgrade. Padahal, sebelumnya, pengguna Mac harus membayar $12 untuk melakukan upgrade segala jenis Mac sebelum OS X 10.6 lahir. Lalu, tatkala OS X 10.6 Snow Leopard lahir, pengguna Mac diwajibkan membayar $29 dan $19 untuk melakukan upgrade pada OS X 10.8 Mountain Lion.


Sebagaimana dilaporkan Wired, sistem operasi umumnya gratis. Misalnya UNIK, yang kemudian dijadikan landasan Mac dan inspirasi bagi Linux, yang dibagikan cuma-cuma di dekade 1970-an. Perusahaan memperoleh uang bukan dari sistem operasi, melainkan dari perangkat keras yang secara default menggunakan sistem operasi, serta daribantuan teknis. Namun, Microsoft mengubahnya.



Ketika Windows Vista lahir, Microsoft memperoleh 47 persen total pendapatan dari berjualan sistem operasi. Kemudian, selepas Windows mulai melakukan penggratisan, laporan keuangan mereka tidak lagi menautkan pendapatan dari sistem operasi dan memilih menggunakan nama “devices and services".

Pertanyaannya, kenapa sistem operasi kembali gratis?

iOS dan Android adalah jawabannya.

Baik iOS dan Android adalah sistem operasi mobile yang tidak diperjual-belikan. iOS, atas kebijakan Apple, hanya dapat dipasang pada perangkat ciptaan mereka sendiri, iPhone, iPad, dan iPod. Pengguna iPhone, iPad, dan iPod tidak membayar untuk sistem operasi yang tersemat di perangkat mereka. Juga, pengguna tidak dibebankan biaya apapun tatkala upgrade iOS dilakukan. Di sisi lain, Android dapat dipasang di perangkat mobile apapun. Google, sebagai pemilik, tidak menetapkan harga untuk sistem operasinya itu. Tidak ada pula ongkos yang harus dibayar pengguna untuk upgrade.

Melalui iOS, Apple memperoleh pendapatan bukan dari jualan upgrade, tetapi dari aplikasi pihak ketiga yang berjalan di atas iOS, yang ada di App Store.

Pertama, Apple memperoleh uang dari Apple Developer Program sebesar $99 per tahun dari siapa pun yang ingin aplikasinya ada di App Store. Nilai meningkat menjadi $299 tatkala pembuat aplikasi versi “enterprise”.

Lalu, jika aplikasi iPhone atau iPad atau iPod berbayar dan menggunakan sistem in-app purchase milik Apple, Apple membebankan biaya sebesar 15 hingga 30 persen.

Apple memperoleh nilai penjualan kotor sebesar $50 miliar dari skema bisnis tersebut.

Skema iOS ditiru Android. Google mewajibkan pembuat aplikasi Android membayar $25 untuk membuat mereka dapat mengakses Play Store. Lalu, bagi aplikasi yang memanfaatkan sistem in-app purchase, Google memberlakukan biaya sebesar 30 persen per transaksi.

Diperkirakan, Google memperoleh pendapatan sebesar $24,8 miliar dari Android.

Melalui Windows Store pula Microsoft akhirnya meniru iOS dan Android.

Baca juga artikel terkait WINDOWS 7 atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight