Mengapa Kubu Jokowi & Prabowo Ogah-ogahan Menggaet Ahok?

Oleh: Felix Nathaniel - 22 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ahok akan bebas Januari 2019. Namun sebagai sosok yang punya banyak pendukung mengapa kubu Jokowi maupun Prabowo terasa enggan menggaet mantan gubernur DKI itu?
tirto.id - Basuki Tjahaja Purnama bakal menghirup udara bebas pada 24 Januari 2019. Mantan gubernur DKI Jakarta yang divonis bersalah melakukan penodaan agama ini bebas dari penjara setelah menerima remisi natal. Apakah bebasnya Ahok akan membuat kubu Jokowi dan Prabowo memprebutkannya ke dalam tim pemenangan?

Abdul Kadir Karding, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf melihat belum ada situasi mendesak untuk menggaet Ahok ke dalam tim. Karding mengatakan perlu ada pembicaraan di internal TKN jika Ahok masuk ke dalam TKN. Namun Karding mengatakan Ahok berhak memberikan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf .

“Apakah akan bergabung di TKN tentu itu ada mekanisme sendiri dan nanti kita bicarakan bersama dengan banyak pihak. Jadi saya kira kita lihat nanti saja seperti apa," kata Karding kepada Tirto, Sabtu (22/12/2018).

Karding berharap Ahok bisa tetap berguna bagi masyarakat. "Yang jelas kita syukuri dan kita doakan Pak Ahok bisa kembali bekerja di tengah-tengah masyarakat dan dapat diterima di tengah-tengah masyarakat,” ucap Karding .


Sikap TKN yang terkesan ogah-ogahan menampung juga sejalan dengan sikap Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Juru bicara BPN Prabowo-Sandi Andre Rosiade memandang Ahok tak mungkin memihak ke jagoannya di Pilpres 2019 mendatang.

Hal ini lantaran pada Pilpres 2014 lalu Ahok yang masih menjadi kader Gerindra saja tak mau memilih Prabowo yang saat itu menjadi ketua umum partai. “Kemungkinan Ahok nanti akan mendukung Pak Jokowi. Dulu di 2014 saja tak mau mendukung Pak Prabowo padahal dia kader Gerindra,” ucap Andre kepada Tirto.

“Yang masuk akal saja lah.”

Andre menyimpulkan tak ada kesempatan bagi Ahok berada di partainya, apalagi BPN. Tokh, Andre merasa dukungan Ahok tidak terlalu signifikan sebab pendukung Ahok dengan pendukung Jokowi berada dalam satu irisan.

“Tidak akan bertambah terlalu besar juga. Stabil saja seperti sekarang 54, 53 persen suara,” ucapnya lagi.

Juru bicara BPN Prabowo-Sandi dari Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan pihaknnya tidak akan menggaet Ahok. Namun jika Ahok ingin bergabung untuk membantu BPN tidak akan menolak.

Ferdinand menyadari di antara pendukung Prabowo ada orang-orang yang selama ini gencar menentang Ahok seperti Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif dan juga Dewan Penasihat PAN Amien Rais. Namun menurut Ferdinand hal itu tidak akan menjadi soal asalkan Ahok mau mengikuti cara kerja BPN.

“Justru ini (jika Ahok bergabung) semakin menegaskan bahwa dia bersalah pada Pilkada 2017 lalu dan ini bentuk pertaubatannya dia,” kata Ferdinand kepada Tirto.

“Akhirnya dia bertobat dan kembali ke jalan yang benar.”


Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bertemu dengan Ahok tiga minggu lalu. Ahok, kata Djarot, belum siap kembali terjun ke dunia politik selepas keluar dari penjara. Djarot mengatakan ada sederet agenda Ahok di luar negeri yang harus dipenuhi.

"Beliau masih ada urusan pribadi yang harus beliau selesaikan termasuk memenuhi berbagai macam undangan untuk berbicara di beberapa forum di luar negeri," kata Djarot di Serang, Banten, Jumat (21/12/2018).

Djarot mengatakan kalaupun Ahok kembali terjun ke politik ia mengklaim Ahok akan bergabung ke PDIP. Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari menyatakan PDIP akan gembira apabila Ahok bergabung ke partainya. Eva menuturkan Ahok sangat menghargai kaum minoritas yang sesuai dengan apa yang diperjuangkan PDIP selama ini. “Kami akan menyambut apabila beliau masuk dan itu akan menambah energi bagi kita. Tapi itu semua terserah Pak Ahok, sih,” kata Eva kepada Tirto, Sabtu (22/12/2018).

"Tapi menurutku karena dia telanjur janji enggak akan ke politik, mungkin sekeluar dari bui dia ingin istirahat dulu.”

Infografik Tunggal Putusan Sidang Ahok 9 Mei 2017
Infografik Putusan Sidang Ahok 9 Mei 2017. tirto.id/Mojo

Politik Identitas Masih Dimainkan


Direktur Populi Center Usep S. Ahyar menyatakan kubu Jokowi maupun Prabowo terkesan ogah-ogahan menarik Ahok lantaran mereka masih memainkan politik identitas. Menurutnya identitas Ahok sebagai kelompok minoritas tidak akan menguntungkan kedua kubu.

Usep beri contoh bagaimana Jokowi memilih Ma'ruf Amin sebagai cawapres demi menghalau isu anti Islam dan ulama. Di sisi lawan, ada kubu Prabowo yang didukung ormas-ormas penentang Ahok sejak 2012 dan 2017 lalu. Sehingga wajar apabila pragmatisme politik kedua kubu membuat Ahok tidak mendapat tempat sama sekali.

“Sangat riskan bagi kedua kubu kalau Ahok bergabung. Dan itu juga berlaku bagi Pak Ahok juga,” ucap Usep kepada Tirto.

“Sikap politik sudah diambil oleh Ahok atau pendukungnya, memilih Jokowi, tetapi kalau masuk TKN atau BPN riskan tentunya.”


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menilai akan ada kontradiksi jika Ahok bergabung ke TKN Jokowi. Sebab menurutnya Ma'ruf merupakan orang yang punya andil besar menyeret Ahok ke penjara. Sehingga alih-alih menguntungkan, kehadrian Ahok justru dirasa bisa memecah belah soliditas kubu Jokowi-Ma’ruf.

Ujang memperkirakan Ahok tidak akan bergabung ke TKN Jokowi-Ma'ruf. Ia mungkin hanya akan memberi dukungan secara pribadi kepada petahana..

“Dia tidak akan jadi magnet politik. Dua kubu enggak akan memperebutkan Ahok. Ahok menurut saya dia akan lebih kepada agenda pribadinya dan memperbaiki citra politik apabila ingin kembali ke panggung politik,” kata Ujang kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Jay Akbar
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live