Mengapa di Peta Greenland Lebih Besar daripada Afrika?

Penulis: Ahmad Zaenudin - 30 Mar 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Gerardus Mercator membuat peta hanya untuk kebutuhan navigasi, tidak untuk merepresentasikan topografi Bumi sesungguhnya.
tirto.id - "Peta mengandung petunjuk mengapa menusia menjadi manusia. Ia menghubungkan dan menyelaraskan kembali sejarah kita, merefleksikan yang buruk serta yang baik dari penjelajahan dan keingintahuan manusia," tulis Simon Garfield dalam On The Map: Why the World Looks the Way it Does (2012).

Peta pernah menjadi senjata utama Barat menguasai Asia dan Afrika. Kini, melalui application programming interface (API) Google Maps, Openstreetmap, hingga Mapbox, peta menjadi senjata utama Gojek, Grab, Uber, hingga AirBnB dalam menjangkau masyarakat dengan buruh-buruh mereka--atau "mitra" dalam eufemisme ala startup. Sejak diciptakan hingga saat ini, peta tak pernah dan tak akan pernah sempurna.

Mula-mula peta dibangun dari desas-desus "para pelaut tentang pengembaraan mereka, dari Barat ke Timur, Utara ke Selatan," tulis Andrew Taylor dalam World of Gerard Mercator: The Mapmaker Who Revolutionized Geography (2004).

Salah satu peta pertama di dunia, yaitu peta T-O, digambar dengan hanya berisikan tiga benua, yakni Asia yang berada di Utara (ujung huruf T), Eropa di sebelah Barat, dan Afrika di bagian Timur--dengan Samudra mengelilingi tiga benua itu. Dulu, peta dianggap sebagai bagian dari karya seni sehingga peta Lembah Valcomanica di Italia dihiasi ornamen berupa gambar binatang, belati, hingga matahari. Hal ini mengaburkan makna peta yang dikenal saat ini.

Seratus tahun setelah kelahiran Yesus, Ptolomeus--cendekiawan asal Timur Tengah berkewarganegaraan Romawi--memperbaiki cacat peta dengan menginisiasi penggunaan koordinat (grid/graticule, kemudian berevolusi menjadi garis lintang dan garis bujur) pada peta. Ia memulai standarisasi bahwa misalnya Inggris berada di titik 21 grid dan 61 1/3 graticule dalam peta melalui membandingkan dan menghitung geometri Bumi dengan keberadaan bintang kutub (polestar/North Star/Northern Hemisphere).

Melalui buku berjudul Geographia (terbit sekitar tahun 150), Ptolomeus berhasil merangkum delapan ribu wilayah--termasuk sungai, pergunungan, hingga semenanjung--lengkap dengan koordinatnya. Melalui buku inilah lahir peta-peta yang berbentuk dan bermakna hampir sama dengan peta yang kita kenal saat ini.

Peta dalam buku ini menjadi rujukan Christopher Columbus menemukan "India". Dan melalui buku ini pula, sebagaimana dipaparkan Karen Vezie dalam "Mercator’s Projection: A Comparative Analysis of Rhumb Lines and Great Circles" (2016) dan "History of the Mercator Projection" (2018) karangan Marc Vis, Gerardus Mercator berhasil menciptakan peta yang dianggap paling akurat untuk merepresentasikan Bumi pada tahun 1538 melalui Peta Mercator atau peta yang dibuat dengan teknik proyeksi ala Mercator.

Mentranslasikan keadaan Bumi sesungguhnya (3D) ke dalam bentuk peta (2D) dengan memanfaatkan silinder, Mercator membuat peta dengan tiga kondisi.Pertama, arah Utara-Selatan adalah arah vertikal (garis lintang). Kedua, arah Timur-Barat adalah arah horizontal di mana panjang ekuator wajib dipertahankan (garis bujur). Dan ketiga, semua garis lurus pada peta merupakan garis-garis yang memiliki bantalan konstan.


Mercator tidak pernah mengungkap resep di balik keakuratan petanya. Namun, para ahli sejarah percaya bahwa kesuksesan Mercator membuat peta yang akurat terjadi atas bantuan studi yang dilakukan Pedro Nunes.

Sebelum Peta Mercator hadir, Nunes memperkenalkan rhumb line atau loksodrom, yakni jalur antara dua titik di sebuah permukaan bola yang jika ditelusuri arahnya tidak pernah berubah. Jika seseorang terus mengikuti arah kompas secara konstan, maka ia akan menemukan bahwa garis-garis ini berputar mengelilingi bola dunia menuju kutub. Menggunakan rumus spherical trigonometry (trigonometri bola), Nunes merangkum tabel loksodrom berbagai titik di dunia. Hal ini menjadi pijakan Mercator--dengan mengelaborasi karya Ptolemeus--dalam membuat peta yang akurat.

Google Maps memanfaatkan proyeksi Mercator pada peta yang ditampilkannya. Begitu juga Openstreetmap, Mapbox, Esri, hingga pelbagai peta yang dipajang di dinding-dinding sekolah.

Namun, dengan memanfaatkan proyeksi Mercator, Google Maps oleh sebagian masyarakat dianggap memberikan informasi sesat karena, misalnya, Greenland yang hanya memiliki luas area sebesar 2,166 juta kilometer persegi ditampilkan lebih besar di peta dibandingkan Afrika yang memiliki total area sebesar 30,37 juta kilometer persegi.

Di Tiktok, Youtube, hingga Facebook, memanfaatkan layanan internet bernama The True Size, masyarakat mengolok-olok Google Maps atas kekeliruan representasi ini. Hal ini membuat Google sejak 2 Agustus 2018 menyerah dan memilih menampilkan globe (representasi Bumi dalam bentuk yang diperkecil), alih-alih peta datar ketika Google Maps di-zoom-out ke titik maksimal (Zoom Level Zero).

Karena proyeksi Mercator hadir jauh lebih dulu di tengah-tengah masyarakat dibandingkan Google Maps, maka sasaran pertama masyarakat terhadap kekeliruan memproyeksikan Greenland lebih besar daripada Afrika adalah proyeksi Mercator itu sendiri. Pada 1970, seorang sejarawan kesohor asal Jerman bernama Arno Peters, misalnya, menuduh peta berproyeksi Mercator "tidak adil bagi masyarakat dunia karena negara-negara berkembang-miskin atau negara-negara yang berada di sekitaran khatulistiwa--Belahan Bumi Selatan tidak direpresentasikan dengan baik, berbeda dengan negara-negara Barat." Peta Mercator, tegas Peters, "meremehkan negara-negara Dunia Ketiga."

infografik google maps
infografik google maps


Tuduhan ini seharusnya tak terjadi. Pertama, Bumi bulat dan karenanya peta akurat mustahil dibuat.Kedua, pengetahuan manusia (kartografer) terbatas hingga membuat, misalnya, Ptolomeus memasukkan "benua besar di sebelah Utara" pada peta ciptaannya agar Bumi seimbang terhadap porosnya. Terakhir, semua peta dibuat oleh penciptanya untuk tujuan spesifik. Dalam kasus Mercator, ia tak pernah berniat membuat peta yang merepresentasikan keadaan Bumi.

"Gerardus Mercator," tulis Mark Monmonier dalam Rhumb Lines and Map Wars: A Social History of the Mercator Projection (2004), "membuat peta ala proyeksi buatannya hanya untuk kebutuhan navigasi."

Sebelum Mercator berhasil membuat peta, para pelaut Barat yang tengah gencar-gencarnya menjelajah Bumi punya dua ketakutan, yakni cuaca buruk dan tersesat di tengah samudra. Untuk menghilangkan ketakutan terhadap cuaca buruk, tak ada yang dapat dilakukan selain pasrah. Dan, untuk menghilangkan ketakutan terdapat ketersesatan di laut, pasrah juga jawabannya.

Ketika Mercator berhasil membuat peta, "pasrah" berubah menjadi "bisa diupayakan". Mengapa? Dalam proses pembuatan peta, Mercator memanfaatkan rhumb lines, sebuah garis yang memotong semua meridian dengan sudut yang sama, konstan. Ia membagi peta (persegi panjang) ke dalam kotak-kotak bersudut serupa. Masalahnya, karena Bumi bulat, penciptaan kotak bersudut serupa tak bisa dilakukan seketika, alias harus dilakukan dengan kompromi.

Mercator berkompromi pada Bumi bagian Selatan dan Utara untuk menciptakan keadaan konstan dengan menambah luas wilayah dua kali lipat. Untuk menghindar dari ketersesatan di laut, para pelaut tinggal menghubungkan titik keberangkatan dan tujuan di peta Mercator dalam garis lurus, mencari berapa dejarat lengkung dua titik tersebut dibandingkan dengan kutub utara. Jika 90 derajat merupakan jawabannya, misalnya, pelaut tinggal meluncur ke arah tersebut.

Karena mencari sudut antara dua titik sukar dilakukan, maka Mercator tak hanya merilis peta hasil proyeksi buatannya yang berjudul "New and More Complete Representation of the Terrestrial Globe Properly Adapted for Use in Navigation",tetapi juga chart atau bagan rhumb line.

Memanfaatkan peta buatan Mercator, ke wilayah manapun di Bumi, para pelaut tinggal menarik garis lurus--dan mengikuti sudut yang diperoleh sesuai dengan bagan yang disediakan--untuk tiba di tujuan.

Perlahan, karena peta buatan Mercator populer digunakan pelaut (lalu pilot), masyarakat umum yang tidak membutuhkan peta untuk navigasi pun menggunakannya. Dan semenjak Perang Dunia II berakhir, chart atau bagan rhumb line tidak disertakan. Ini membuat peta Mercator, sebut Monmonier, "direnggut dari maksud penciptaannya."

Baca juga artikel terkait PETA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight