Menuju konten utama

Mengapa Bos Djarum Hingga Bill Gates Menggilai Permainan Bridge?

Sejumlah konglomerat dunia seperti Warren Buffett, Bill Gates, Jimmy Cayne, dan Ben Graham dikenal sebagai penggila olahraga bridge. Orang kuat Cina Deng Xiaoping bahkan mengepalai sebuah asosiasi bridge.

Mengapa Bos Djarum Hingga Bill Gates Menggilai Permainan Bridge?
Bambang Hartono, salah satu atlet senior Bridge. tirto.id/Renalto Setiawan

tirto.id - Pada Minggu (26/8), pertandingan cabang olahraga Bridge di Asian Games 2018 memasuki babak semifinal. Berlokasi di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Indonesia mengutus perwakilannya melalui nomor tim campuran putra, tim supermixed.

Utusan Indonesia memang gagal melewati babak semifinal ini. Baik tim campuran maupun tim supermixed harus mengakui keunggulan tim kuat perwakilan Cina masing masing dengan skor 87-121 dan 60-137. Kedua tim harus puas membawa pulang medali perunggu.

Namun ada hal lain yang menarik dalam pertandingan ini. Atlet Bridge Indonesia yang berlaga di nomor tim supermixed diperkuat oleh Michael Bambang Hartono, yang tidak lain adalah orang nomor satu di Djarum Group.

Di usia 79 tahun, tangan Bambang masih lihai memainkan kartu bridge di atas meja. Bambang yang mengaku sudah bermain bridge sejak usia enam tahun itu, menjadi atlet paling senior dalam kontingen Indonesia.

"Saya bermain bridge agar tidak cepat pikun, hobi saya yang lain adalah senam taichi yang banyak membantu agar tetap fokus," kata Bambang di kantor PT Djarum di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (25/8) dilansir dari Antara.

Dalam esainya yang ditulis untuk Tirto, Bambang Hartono menyatakan mimpinya untuk membesarkan nama Indonesia di dunia bridge, yang baru pertama kali dipertandingkan di Asian Games pada 2018 ini.

Cara bermain bridge hampir sama dengan permainan kartu pada umumnya. Setiap peserta diberi 13 kartu dengan nilai yang berbeda-beda. Peserta yang mengeluarkan kartu dengan nilai paling besarlah yang akan menang.

Bagi Bambang Hartono yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI), bridge adalah permainan kartu yang rumit. Variasi kartunya jutaan. Ada sistem penawaran atau biasa disebut bidding. Jika ingin menang, pemain harus mengumpulkan data, melakukan analisis, menerapkan strategi, mengambil keputusan tepat, dan tentunya berani mengambil risiko.

Infografik Orang kaya main bridge

Mainan Kaum Jetset

Dalam opininya di Tirto, Bambang sempat menyinggung kegemaran pengusaha Bill Gates bermain bridge. Namun rupanya tak hanya Gates yang gemar bermain bridge. Pemimpin Cina mendiang Deng Xiao Ping juga pernah dikabarkan sebagai penggemar berat bridge.

Selain Bill Gates, tercatat pula nama miliarder Warren Buffett, pemilik saham terbesar Berkshire Hathaway, salah satu perusahaan raksasa di AS. Keduanya dikenal sebagai penggila bridge. Selain kerap tampil di turnamen bridge, mereka kerap mengundang instruktur sekaligus atlet AS Sharon Osberg untuk menjadi lawan main. Osberg sendiri pernah berkarier di dunia perbankan.

Bear Stearns, sebuah perusahaan perbankan investasi di New York, pernah dijuluki "the bridge firm", merujuk pada kegemaran bermain bridge para dedengkotnya. Bahkan ketika Bear Stearns kolaps pada 2008 silam, Jimmy Cayne selaku CEO malah ikut turnamen bridge sebagai pelarian, sebuah tindakan yang dibanding-bandingkan dengan mitos Kaisar Nero yang bermain biola saat Kota Roma terbakar hebat.

Mengapa bridge jadi permainan kesukaan kaum superkaya?

Dilansir dari Time, Ben Graham, investor dan mentor Warren Buffett, mengatakan bahwa bermain bridge tak ubahnya mengelola investasi. Strategi matang diperlukan, kerugian sesekali tak bisa dihindari, dan kesuksesan bisa diraih dengan perencanaan cerdas dan langkah yang tepat. Semua elemen itu ada dalam permainan bridge.

"Pendekatan dan strateginya sangat mirip [dengan berinvestasi]. Anda mengumpulkan semua informasi yang Anda peroleh dan menyimpannya seiring waktu," ujar Buffet mengenai permainan bridge. Bahkan, menurut Buffett, kerja tim dalam menjalankan bisnis juga hadir dalam filosofi permainan kartu remi.

Hampir semua pebisnis cum penggila bridge melontarkan jawaban yang sama. "Bridge adalah permainan kartu yang kompleks yang cocok dengan sisi analitik keuangan, sebagaimana permainan kartu poker yang juga menarik karena mengasah insting," ujar Gus Lubin, wakil editor Business Insider merangkap fanatikus bridge.

Cikal bakal permainan bridge berasal dari Inggris pada awal abad ke-16. Permainan ini pertama kali populer pada 1860-an di kalangan pedagang dan diplomat Yunani, Armenia, Rusia, Turki dan wilayah Mediterania Timur. Dikutip dari New York Times, orang kuat Cina Deng Xiaoping tercatat sebagai penggila bridge, bahkan mengepalai Chinese Bridge Association.

Dikutip dari situs resmi Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI), permainan bridge diperkirakan dibawa masuk oleh orang-orang Belanda ke Nusantara pada 1880-an. GABSI sendiri baru terbentuk pada 12 Desember 1953, sementara kejuaraan nasional pertama kali diselenggarakan di Yogyakarta pada 1957.

Permainan bridge sudah jadi gaya hidup sebagian konglomerat dunia. Namun bagi pemain bridge profesional yang bukan konglomerat, bonus yang diboyong tiap kali pulang dari turnamen disebut-sebut sudah lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari.

Barangkali bridge bagi pengusaha sudah setara dengan mitos bahwa para politikus menggemari catur. Bukan kebetulan jika para jenderal-jenderal Jerman abad ke-19 adalah penggila berat catur dan juara dunia Gary Kasparov belakangan merintis karier sebagai politikus.

Jadi, siapkah Anda mengasah insting bisnis lewat bridge?

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan lainnya dari Tony Firman

tirto.id - Olahraga
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf