Mengapa Belakangan Ini Suhu di Jawa dan Nusa Tenggara Lebih Dingin

Oleh: Tony Firman - 26 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Aliran massa udara dingin dan kering dari wilayah benua Australia yang menyapu wilayah selatan Indonesia menjadi penyebab terjadinya suhu dingin pada bulan Juni sampai Agustus di Jawa dan Nusa Tenggara
tirto.id - Kota Malang dan sekitarnya identik dengan hawa sejuk dan dingin karena berada di dataran tinggi. Namun, menjelang puncak musim kemarau, suhu udara di Malang dilaporkan cenderung lebih dingin dibanding hari-hari biasa. Beberapa warganet di Twitter ramai-ramai mengunggah fenomena dinginnya Malang.

"Tadi suhu di Kota Batu mencapai 16° - 18°. Sekarang udah 22°, pokok dingin banget Batu - Malang hari-hari ini." kicau @NuruddinYusuf pada Selasa (25/6) pagi sembari melampirkan foto status suhu udara Kota Batu.

Di waktu yang kurang lebih sama, akun @bisomico juga melaporkan kondisi serupa. "Malang lagi dingin-dinginnya apa lagi kalo udah malam ato subuh," sambil menunjukkan foto status suhu udara Kota Malang yang mencapai 19 derajat celcius.

Bagi Faizal Ad Daraquthny (24) yang sejak 2005 tinggal di Malang, suhu dingin yang menyambangi Malang di pertengahan tahun memang selalu menjadi tradisi tahunan. "Memang, di bulan-bulan segini Malang selalu dingin" ujarnya.

Hal ini diamini pula oleh Yolla Marta Kusuma (24). "Tiap malam suhu dari 21 bisa anjlok ke 17 (celcius)," ujar wanita yang lahir dan besar di Malang yang tiap pertengahan tahun selalu hafal dengan suhu Malang yang relatif lebih dingin dari biasanya.

Bahkan muncul istilah populer "Musim Maba" untuk menjuluki datangnya musim suhu dingin di Malang yang berbarengan dengan berdatangannya para mahasiswa baru.

"Sudah menjadi stereotip banyak orang kalau Malang lagi dingin berarti lagi (musim) pembukaan mahasiswa baru," imbuh Yolla yang turut diamini oleh Faizal.

Tanggapan BMKG Malang

Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso, Kabupaten Malang, Aminudin Al Roniri membenarkan suhu di Malang dan sekitarnya relatif lebih dingin dari biasanya. Suhu lebih dingin biasanya muncul pada malam hingga pagi hari dan kerap terjadi saat memasuki puncak musim kemarau tiap tahunnya.



Saat ini, suhu rata-rata di Malang Raya berkisar antara 16 derajat celcius. Sempat menyentuh angka 15,6 derajat celcius (18 Juni 2019 ). Bahkan, Aminudin memprediksi suhu dingin di Malang sangat mungkin menyentuh angka kisaran 14 derajat celcius pada puncak kemarau bulan Agustus nanti.

"Sekarang masih 16-an. Berarti mencapai 14 (derajat) bisa." ujarnya saat dihubungi Tirto. Bila benar nantinya, ini akan menjadi rekor tersendiri lantaran suhu serendah itu yang tercatat di BMKG Karangploso terjadi sekitar 20 tahun yang lalu saat musim kemarau tiba.

Lantas, adakah fenomena khusus yang melatarbelakangi terjadinya suhu yang lebih dingin dari biasanya di Malang Raya? Jawabannya, tidak ada.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, suhu dingin yang kerap datang di pertengahan tahun masih tetap disebabkan oleh fenomena kombinasi posisi bumi dan matahari, serta aliran angin munson dari Australia.

"Sekarang kita posisinya jauh dari matahari. Khususnya Malang berada di lintang bumi bagian selatan. Sedangkan matahari posisinya paling ujung bagian utara. Ditambah angin dari timuran dari Australia. Di sana juga musim dingin dan saya yakin Australia sampai Kutub Selatan lebih dingin dari biasanya juga," kata Aminudin.

Menurut Aminudin, jika di Stasiun BMKG Karangploso yang berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) saja suhu terendah sudah mencapai 15,6 derajat celsius, berarti di daerah yang lebih tinggi suhunya jelas lebih rendah lagi.

Benar saja. Di kawasan Bromo dan Semeru dilaporkan terdapat fenomena embun beku atau frost yang dapat dijumpai di daerah Ranupani, Cemoro Lawang, dan Penanjakan. Dilaporkan, suhu di ketiga tempat tersebut berkisar antara 10 hingga 0 derajat Celsius.

Jawa hingga Nusa Tenggara Dingin

Hawa dingin tidak cuma dirasakan oleh warga Malang Raya. Banyak warga di daerah lain juga melaporkan merasakan suhu dingin. Donnie Trisfian (26) yang tinggal di daerah Palagan kilometer 9 Yogyakarta merasakan dalam seminggu terakhir, suhu udara di wilayahnya terasa lebih dingin dari biasanya.

"Kalau malam, di tempatku bisa sampai 19 derajat," ujarnya.

Ia mengaku sempat flu seminggu yang lalu lantaran perubahan suhu tersebut. Sementara di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, dilaporkan terdapat fenomena frost pula seperti yang terjadi di Bromo - Semeru.

Di wilayah lain di Jawa – Nusa Tenggara juga tercatat BMKG sedang terjadi suhu dingin.

"Berdasarkan data pengamatan BMKG, selama sepekan ini suhu udara lebih rendah dari 15 derajat celcius tercatat di beberapa wilayah seperti di Frans Sales Lega (NTT) & Tretes (Pasuruan), suhu udara rendah terukur di Frans Sales Lega (NTT) hingga 9.2 derajat Celcius pd 15 Juni 2019," tulis BMKG dalam rilisnya yang disebar di akun Twitter pada Selasa (25/6) pagi.

Infografik Suhu Dingin Tengah Tahun
Infografik Suhu Dingin Tengah Tahun. tirto.id/Sabit



Jika melihat pemaparan R. Mulyono Rahadi Prabowo selaku Deputi Bidang Meteorologi BMKG Pusat, fenomena penurunan suhu terutama pada malam hari memang sedang terjadi di Jawa dan Nusa Tenggara. Penjelasannya senada dengan apa yang dipaparkan Aminudin dari BMKG Karangploso Malang.

Kondisi suhu dingin terjadi akibat ulah aliran massa udara dingin dan kering dari wilayah benua Australia (aliran monsun dingin Australia) yang bergerak dipengaruhi oleh posisi bumi dan matahari.

"Aliran udara monsoon dingin Australia secara reguler terjadi setiap tahun," ujarnya kepada Tirto. Saat matahari di belahan bumi utara maka aliran monsun dingin Australia akan merambah masuk bagian wilayah indonesia sebelah selatan (Jawa, NTB, NTT)".

Lebih lanjut, dalam rilis BMKG, desakan aliran udara kering dan dingin dari Australia inilah yang menyebabkan kondisi udara yang relatif lebih dingin, terutama pada malam hari dan dapat dirasakan lebih signifikan di wilayah dataran tinggi atau pegunungan.

Secara klimatologis, monsun dingin Australia aktif pada periode bulan Juni-Juni-Agustus yang umumnya merupakan periode puncak musim kemarau di wilayah Indonesia selatan ekuator.

Kondisi musim kemarau yang memunculkan cuaca cerah dengan sedikit awan yang menutupi langit Jawa – Nusa Tenggara turut berperan dalam menciptakan suhu dingin di malam hari. Pasalnya, di waktu malam, pelepasan panas bumi ke atmosfer tidak lagi terjebak oleh awan yang menutupi langit.

BMKG memprediksi potensi kondisi suhu dingin masih terus berlangsung selama periode puncak musim kemarau di bulan Juni hingga Agustus.

Baca juga artikel terkait CUACA DINGIN atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono