Mengapa Afganistan Menjadi Magnet Kaum Hippie 1960an?

Oleh: R. A. Benjamin - 4 September 2021
Dibaca Normal 4 menit
Afganistan yang dulu sempat jadi surga kaum hippie, mereka yang menolak perang dan lebih suka kedamaian. Kini jejaknya sudah tak ada.
tirto.id - Dengan slogan "We're going to India", anak-anak muda kulit putih berambut gondrong, bercelana cutbrai, dan berbaju bunga-bunga dari Amerika Serikat dan kota-kota besar Eropa menuju Istanbul dan menyeberangi Bosporus, memulai perjalanan panjang lewat jalan darat menuju Asia pada dekade 1960-an. Mereka, yang lebih familier dengan slogan "make love, not war", tergiur mistisisme dan spiritual Timur.

Para "Generasi Bunga" itu, yang menolak perang dan mendengarkan musik psikedelik, lelah akan hidup modern yang serba cepat di Barat.

Dari pintu-pintu keluar Woodstock 1969, para hippie melewati Turki-Iran-Afganistan menuju India dan Nepal, kadang sampai ke Bangkok di Asia Tenggara dengan menaiki VW Kombi, bus murah, atau hitchhiking 'menumpang' mobil orang asing. Ada pula yang memilih rute lain dengan membelok ke Suriah, Yordania, Irak, dan Pakistan.

Mereka menatap Timur untuk mencari pencerahan spiritual. Sebagian lagi melihatnya sebagai kesempatan untuk melancong murah dan melihat kebudayaan asing belaka.

Dalam Magic Bus (2006), Rory MacLean mencatat perjalanan anak-anak muda ini sebagai "gerakan pertama manusia dalam sejarah yang bepergian untuk dijajah alih-alih menjajah." Hippie trail, demikian perjalanan itu disebut, terinspirasi dari Generasi Beatnik yang berkelana ke seantero AS pada 1950-an dan The Beatles yang merengkuh ketimuran dengan menuju India pada 1968. Kelak, dua di antara ribuan muda-mudi Barat yang melintasi Hippie Trail, Tony dan Maureen Wheeler, mengawali Lonely Planet, "kitab suci" bagi para pelancong.

Sebagian muda mudi dari Generasi Bunga itu tidak meneruskan sisa trek. Mereka berhenti di suatu negeri yang terbiasa menerima orang-orang asing berkat posisinya yang krusial di Jalur Sutra. Negeri yang dimasuki dari perbatasan Iran menuju Herat yang bahkan—saat itu—belum tersedia lampu jalan. Negeri di mana hashish, opium, dan psikotropika ringan lainnya murah dan mudah didapatkan. Negeri di mana invasi asing nyaris selalu gagal. Negeri itu adalah Afganistan.

Di Afganistan, tepatnya Kabul, para hippie menemukan surga mereka.


Surga yang Pernah Ada

Kabul merupakan salah satu kota paling berkembang dan modern di Asia pada awal 1970-an. Aroma kebebasan menerpa para hippie yang baru tiba dari perbatasan Persia. VW Kombi atau bus yang ditumpangi para hippie lazimnya masuk Afganistan lewat rute berikut: menyusuri panasnya Gurun Registan dari Herat-Farah-Kandahar, lantas ke arah utara menuju Ghazni dan Kabul.

Kota itu teramat damai, seakan menjadi manifestasi dari "summer of love" itu sendiri. Di Jalur Sutra alternatif itu, alih-alih rempah dan sutra, keuntungan yang dikejar adalah kebebasan dan cinta. Beberapa hippie bersaksi mereka cukup merasa tidak nyaman karena kontrol dan pemeriksaan di Turki dan Iran. Tak mengherankan jika Herat, salah satu kota terbesar di Afganistan, dianggap sebagai "perhentian pertama di Hippie trail", di mana perjalanan spiritual ini terasa lebih layak dilakukan.

Orang-orang Afgan berdiri di pinggir jalan dan menjajakan dagangan mereka layaknya penjual es krim di negara-negara asal para hippie. Bedanya yang mereka teriakkan adalah: "hashish! hashish!"

Di balik kepulan asap hashish yang disulut warga lokal dan para pelancong, berdiri hostel, perusahaan tur, dan restoran untuk kaum hippie dari Herat hingga Kabul. Pemandangan orang-orang kulit putih berambut pirang dengan jeans dan gaun bunga-bunga menjadi hal yang relatif biasa. Kota ini jadi lebih terlihat seperti di Eropa ketimbang di Asia.

Destinasi utama hippie terletak di bagian paling barat Kabul: Chicken Street. Tony Wheeler dalam Across Asia on the Cheap, panduan Lonely Planet pertama yang diterbitkan pada 1973, menggambarkan jalan itu sebagai "the freak centre of Kabul." Suatu titik yang disesaki para hippies demi mencari perbekalan, peta, makanan berat, dan bertemu pelancong lain.

Dalam dokumenter Verlorenes Paradies-das Kabul der Hippies, orang-orang Afgan mengenang hari-hari penuh warna itu seperti ia takkan pernah terulang. Ada berbagai perayaan dan pesta yang dilakukan oleh para hippie di jalanan, di hotel, di mana saja. Mudah untuk berpikir bahwa warga lokal jengah dan barangkali kesal dengan keberadaan para pelancong hedonis ini. Tapi yang terjadi sebaliknya, mereka diterima dengan tangan terbuka, bahkan dibebaskan untuk tinggal sampai kapan pun.

Karimi termasuk salah satu orang yang menyambut baik muda mudi Barat kere itu. Ia mengenang area yang dijadikan para hippie sebagai tempat mendirikan tenda. Pria dan wanita tak ada beda, semua damai. "Saya dulu mengelola wisma kecil di sana, mereka bisa tinggal di dalamnya secara gratis. Saya juga memberi mereka makanan dan minuman," kataya.


Selain menerima bantuan dari warga yang bisa dibilang tidak kaya-kaya amat, cara lain yang dilakukan para hippie untuk mendapatkan uang adalah dengan mendonorkan darah atau menjadi penyelundup hashish. Beberapa yang berhasil menghindari obat-obatan atau tak terbunuh di jalanan Kandahar mampu melanjutkan eksistensi dengan memperoleh pekerjaan atau berbisnis. John Butt, misalnya, yang berangkat demi mencari "Makkah spiritual" di Timur, bertahan di Kabul dengan menjadi jurnalis radio independen yang juga memainkan musik-musik Afganistan.

Ada pula yang bertahan dengan memproduksi serta mengekspor "pakaian hippie" ke Eropa. Mantel Afganistan seperti pustincha dan pustin kian populer ketika dikenakan nama-nama besar dunia musik seperti para personel The Beatles dan Jimi Hendrix. Mantel itu lantas diterima Barat sebagai salah satu pakaian khas hippie.

Selain penerimaan yang ramah, ketimbang titik-titik dalam Hippie Trail lain, Afganistan juga jadi negara favorit karena dinilai oleh para hippie sebagai "less harassment"—tempat paling aman untuk para hippie perempuan.

History Extra mencatat memang ada aspek "gelap" dari fenomena "pencarian spiritual ke Timur" ini, mulai dari pelecehan seksual, prostitusi, hingga penyelundupan narkoba. Para hippie juga tidak membawa dampak sepenuhnya positif pada budaya yang mereka temui seperti di Afganistan. Ketika ribuan orang Barat tiba pada akhir 1960-an dan awal 70-an lah Afganistan menjadi produsen utama heroin.

Mungkin bukan kebetulan bahwa peta Hippie Trail lebih menyerupai panduan ke beberapa tempat paling berkonflik di dunia.

Akhir Hippie Trail

Pemandangan yang indah, alam yang tak terjamah, orang-orang nomaden yang ramah, dan hashish terbaik di dunia membuat Afganistan menjadi surga kaum hippie.

Perdamaian dan pencerahan merupakan dua tema yang menginspirasi kaum muda untuk menjelajah Asia selama tahun-tahun ini. Wajar belaka jika lokasi indah seperti danau-danau Band-e-Amir di bagian paling barat rangkaian Pegunungan Hindu Kush menjadi situs Hippie Trail paling banyak yang diabadikan ke dalam foto.

Selain nongkrong di tepian Band-e-Amir seraya mengisap hashish, salah satu tujuan favorit para hippie adalah Lembah Bamiyan. Di sana berdiri dua patung Buddha setinggi 38 dan 55 meter. Situs ini kembali terdengar namanya di dunia luas pada 2001, ketika kelompok barbar Taliban meratakannya dengan tanah.

Dengan kondisi seperti itu, tentu sulit untuk mengulangi Hippie Trail lagi. Ketika fundamentalisme tumbuh semakin kuat, kaum hippie bakal dianggap tak ubahnya satanis yang pantas digebah dari jalanan.


Infografik Jejak Hippies di Afghanistan
Infografik Jejak Hippies di Afghanistan. tirto.id/Fuad


Bahkan sebelum Taliban berkuasa dan membatasi budaya dan sosial pun telah terjadi Perang Arab-Israel pada 1973. Peristiwa ini mengawali pembatasan ketat di titik-titik yang dilewati hippie. Ada pula invasi Soviet pada 1979 dan roket-roket mujahidin yang beterbangan pada perang sipil awal 1990-an.

Slogan "make love, not war" gagal terwujud dan Hippie Trail pun tak berumur panjang.

Konflik demi konflik di kawasan tersebut membuat perjalanan darat ke India menjadi usaha yang berbahaya dan menakutkan. Seiring dengan populernya low-cost airlines yang menjajakan tiket-tiket pesawat murah, para pelancong yang berniat menapaktilasi jejak para hippie pun kini beralih ke jalur udara.

Tak akan ada lagi kisah berjejalan di dalam bus macam sarden atau nongkrong di rumah sakit yang didirikan misionaris Jerman di tengah antah-berantah. Tiada pula patung Buddha raksasa sebagai tujuan ziarah atau giting hashish di pinggir danau. Di Chicken Street bukan hanya tak ada lagi ayam, pelanggan pun sudah tak datang.

Selain dalam kenangan mereka yang pernah melintasinya, nyaris tak ada jejak surga para hippie di Kabul sebagai penanda masa yang lebih damai di negeri yang menjadi kuburan bagi banyak kekaisaran, yang kini kembali ke tangan Taliban.

Baca juga artikel terkait HIPPIES atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight