Mengapa Ada Orang yang Suka Menonton Video Sadis?

Gambar diambil dari sebuah video yang beredar media sosial, sepertinya diambil oleh seorang pria bersenjata dan diposting langsung saat serangan dilakukan, memperlihatkan ia masuk ke sebuah mesjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019). ANTARA FOTO/Social Media Website/Handout via REUTERS TV/cfo
Oleh: Tony Firman - 25 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Orang-orang AS menonton video eksekusi dua jurnalis oleh ISIS pada 2014.
tirto.id - Mengunggah video kekerasan di media sosial sering dilakukan oleh para pelaku teror. Mereka ingin menyebarkan ketakutan secara lebih masif melalui dunia maya. Media sosial yang memungkinkan miliaran orang dari penjuru dunia bisa berinteraksi menjadi medan pertempuran maya.

Misalnya saja saat aksi teroris supremasi kulit putih Australia menembaki jamaah salat jumat di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan 50 orang. Aksi brutal itu disiarkan oleh pelaku secara langsung melalui akun Facebook miliknya dengan durasi 17 menit. Secara cepat, video teror tersebar di berbagai di platform media sosial. Selama berjam-jam setelah serangan mengerikan tersebut terjadi, video tersebut bisa ditonton oleh siapapun.

Jauh sebelumnya, kelompok ISIS mengunggah video eksekusi keji pemenggalan dua orang jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat (AS) bernama James Foley dan Steven Sotloff. Foley menjadi orang AS pertama yang dibunuh militan ISIS.

Tidak butuh lama untuk membuat video tersebut berlipat ganda tersebar luas di Twitter. Media-media di AS dan dunia memberitakan peristiwa itu di halaman depan maupun menampilkan cuplikan video tersebut di TV maupun media online.

Di tengah aksi biadab tersebut, Sarah Redmond dari University of California, AS bersama kawan-kawannya meneliti tentang respon psikologis terhadap peristiwa Bom Boston 2013. Dikutip dari Big Think, Sarah sudah mengumpulkan 4.675 responden orang dewasa di AS secara online. Mereka juga sudah dipetakan kesehatan mental, kebiasaan menonton TV, demografi, afiliasi politik, dan agamanya.

Melihat peristiwa pemenggalan dua jurnalis AS yang viral itu, Sarah dan kawan-kawannya terusik untuk menyelidiki orang seperti apa yang memilih untuk menonton video tersebut, serta mengapa mereka menontonnya.

Berbekal data responden dari Bom Boston, antara April sampai Juni 2015 sebanyak 3.294 responden melaporkan secara anonim soal apakah mereka telah menonton video sadis pemenggalan jurnalis AS oleh ISIS baik secara penuh, sebagian atau tidak melihat sama sekali.

Hasilnya, sekitar 20 persen responden melaporkan mereka menonton sebagian video tersebut yang artinya tidak sampai tuntas. Sebesar lima persen lainnya mengatakan mereka menonton hingga akhir.

Lantas dari segi demografi, siapa yang menonton tayangan kekerasan tersebut? Mereka yang menonton baik sebagian maupun penuh lebih cenderung laki-laki, beragama Kristen dan pengangguran. Mereka juga gemar nonton TV dan memiliki pengalaman kekerasan yang lebih tinggi dari orang-orang lainnya.


Apa yang memotivasi orang-orang menonton video pemenggalan oleh ISIS itu, sebagian maupun penuh, karena didorong rasa ingin tahu dan membuktikan bahwa berita soal pemenggalan itu memang ada videonya.

Mereka yang memilih tidak meneruskan menonton video atau tidak menonton sama sekali menyatakan bahwa karena tidak kuat secara emosional atau karena tahu bahwa dengan menonton bakal termakan propaganda ISIS.

Penelitian Susan dkk tak berhenti sampai di situ. Setahun setelah para responden memberikan data jawaban di atas, mereka masih diberikan banyak pertanyaan survei online.

Dalam penelitian lanjutan itu, ditemukan bahwa mereka yang menonton setidaknya sebagian video memiliki tingkat kesusahan yang lebih tinggi dan ketakutan yang lebih besar terhadap peristiwa negatif yang bakal terjadi di masa depan dibandingkan mereka yang tidak menonton video ISIS. Ada kecenderungan bahwa yang menonton video tersebut adalah orang-orang dewasa, alih-alih para muda yang lebih gesit mengakses konten-konten gelap.

Hal itu memberi keyakinan para peneliti dan menyimpulkan bahwa menonton tayangan kekerasan pemenggalan oleh ISIS dapat memperburuk rasa ketakutan yang sudah ada sebelumnya, sekaligus meningkatkan gangguan psikologis.

Ujungnya, menonton tayangan seperti itu memang dapat membantu teroris mencapai tujuan mereka yaitu menanamkan rasa takut. Terlebih menurut David Patrikarakos penulis War in 140 Characters: How Social Media Is Reshaping Conflict in the Twenty-First Century (2017), video tersebut memang sengaja dibikin agar viral untuk menunjukkan kepada dunia keberingasan ISIS.



Penelitian Sarah dkk ini baru saja diterbitkan dengan judul “Who watches an ISIS beheading—and why” (2019) yang dipublikasikan oleh American Psychological Association.

Jika dikaitkan dengan peristiwa penembakan di Christchurch, di mana videonya tersebar dan ditonton oleh banyak orang sebelum akhirnya Facebook dan platform media lainnya berusaha menghapus, bisa dibayangkan efek psikologis apa yang terjadi pada orang-orang yang menonton. Atau video-video kekerasan kelompok ekstrem dan milisi lainnya yang kerap berseliweran di media sosial.

Menurut Stephanie A. Sarkis, spesialis klinis konseling anak dan remaja dalam Psychology Today video kekerasan seperti tayangan penembakan massal atau peristiwa sadis lainnya dapat membuat orang yang menonton rentan terserang depresi, kecemasan, dan PTSD, apalagi ketika video tersebut terus membanjiri layar gawai. Bila video kekerasan diterima oleh orang-orang yang pernah mengalami trauma sebelumnya, perasaan itu bisa muncul kembali.


Sejumlah platform media sosial mulai sadar diri bahwa mereka tidak bisa cuci tangan dengan maraknya video kekerasan dari kelompok ekstrem tertentu yang sengaja disebar melalui dunia maya.

Upaya bersama Google, Facebook, Twitter, dan Microsoft dilakukan pada 2017 dengan membentuk Forum Internet Global untuk Menangkal Terorisme (GIFCT). Tujuannya, adalah untuk menyingkirkan bibit-bibit ketakutan yang ditimbulkan oleh aksi teror yang terkandung dalam konten media sosial.

Selain itu, penelitian Sarah turut memantik diskusi penting tentang bagaimana seharusnya program berita menangani liputan peristiwa mengerikan seperti itu? Ketika media memproduksi tayangan yang turut menampilkan cuplikan video kekerasan dari kelompok teror, bukankah akan memantik sebagian orang untuk mencari video lengkapnya? Ujungnya, seperti dalam hasil penelitian tersebut, media secara tidak sadar telah membantu tujuan teroris dalam mereproduksi ketakutan.

Baca juga artikel terkait TEROR ISIS atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tony Firman
Editor: Suhendra
DarkLight