Mengamati Erupsi Gunung Berapi dari Aplikasi Digital

Aplikasi smartphone Alarm Gempa. FOTO/Google Play
Oleh: Ahmad Zaenudin - 27 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Aktivitas erupsi gunung api bisa dipantau melalui aplikasi MAGMA.
Sabtu malam, tiga hari sebelum Natal 2018, masyarakat sekitar Pantai Anyer, Banten dan Lampung Selatan dikejutkan oleh tsunami yang meluluhlantakan daerah pesisir. Gelombang tsunami muncul akibat longsor bawah laut karena erupsi Gunung Anak Krakatau.

Tak berselang lama dari kejadian yang berlangsung sekitar pukul 21.30 itu, layanan internet berbasis peta digital Earth Alerts (earthalerts.manyjourneys.com) yang memuat informasi bencana geologis, memperlihatkan tanda peringatan tepat di koordinat Gunung Anak Krakatau. Jika diklik, tanda tersebut memunculkan “kode:merah” yang berarti berbahaya.

Selain Gunung Anak Krakatau, laman tersebut menampilkan tanda peringatan, berupa “kode:oranye”, bagi Gunung Dukono, gunung api yang berada di Maluku Utara.

Laman Earth Alerts tidak memperoleh informasi dari otoritas Indonesia mengenai dua tanda bahaya di dua gunung api Indonesia itu. Status “merah” bagi Gunung Anak Krakatau dan “orange” bagi Gunung Dukono mereka tampilkan selepas memperoleh informasi dari Himawari-8, satelit cuaca buatan Mitsubishi Electric dan Boeing yang dioperasikan oleh Japan Meteorological Agency.


Melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Indonesia memiliki layanan serupa yang bernama Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia (MAGMA Indonesia). Saat ini, MAGMA termaktub dalam dua platform, aplikasi Android dan laman web. Devy Kamil Syahbana, pencipta MAGMA sekaligus Kepala Sub Bidang Mitigasi Pengamatan Gunung Berapi di Wilayah Timur PVMBG, mengatakan bahwa Magma merupakan “aplikasi untuk sistem monitoring yang menampilkan informasi geologis seperti aktivitas gunung api, gempa bumi, tanah longsor, dan lain sebagainya.” Letusan Gunung Anak Krakatau, juga terekam melalui MAGMA.

Berbeda dengan Earth Alerts, informasi letusan Gunung Anak Krakatau yang diperoleh MAGMA tak berasal dari satelit, melainkan dari laporan petugas-petugas PVMBG. Menurut Devy, ketika “ada informasi gunung meletus di tiap daerah misalnya, petugas akan melaporkan kejadian tersebut melalui aplikasi internal PVMBG” dan secara otomatis laporan tersebut muncul pula di MAGMA.

Dalam penuturan Devy, informasi yang berasal dari laporan petugas punya keunggulan dibandingkan informasi yang ditangkap melalui satelit. Menurutnya, informasi dari satelit sekadar merangkum erupsi. Dalam informasi yang diperoleh dari petugas terdapat “analisis”, seperti tinggi letusan yang teramati dan kejadian-kejadian lainnya terkait erupsi. Soal kecepatan, Devy mengklaim bahwa informasi yang diperoleh via petugas tak kalah dibandingkan satelit. Menurutnya, informasi bisa didapat “hanya dalam hitungan detik”.

Untuk menyuplai informasi pada aplikasi MAGMA, layanan itu memanfaatkan 74 pos PVMBG, 500 stasiun pemantau, dan lebih dari 200 petugas PVMBG yang mengamati 70 gunung api di Indonesia. Petugas-petugas ini melaporkan aktivitas gunung api tiap 6 jam. Jika terdapat aktivitas khusus seperti letusan, petugas bisa melaporkannya tiap saat.

Selain memperoleh data dari PVMBG selaku pengayom aplikasi MAGMA, layanan tersebut memperoleh informasi pula dari BMKG, khususnya untuk informasi seputar gempa bumi.


Layanan Earth Alerts mengandalkan pasokan data dari Earthquake Hazards Program untuk informasi gempa bumi, Pacific Tsunami Warning Center untuk informasi soal tsunami, Volcano Hazards Program untuk informasi seputar gunung api, Weather Underground dan National Weather Service untuk informasi perihal cuaca, U.S. Forest Service Remote Sensing Applications Center untuk informasi tentang kebakaran, dan informasi dari berbagai satelit.

Salah satu fitur kunci dari MAGMA ialah informasi peringatan tentang aktivitas gunung api yang terletak di dekat pengguna. “Begitu dibuka, aplikasi akan mendeteksi kita sekarang sedang berada di mana, misalnya di Bali. Aplikasi akan memetakan berapa meter posisi saya dari Gunung Agung (gunung api di Bali). Ada pula fitur rekomendasi," ujar Delvy.

Fitur tersebut tidak dimiliki Earth Alerts.

Selain Earth Alerts dan dan MAGMA, terdapat cukup banyak layanan serupa guna memperoleh informasi seputar bencana geologis. Misalnya myVolcano yang dikembangkan oleh British Geological Survey dan didukung oleh Smithsonian Institution.





Smithsonian sendiri memiliki program bernama Global Vulcanism Program. Program ini mendata segala hal seputar gunung api, misalnya Gunung Anak Krakatau yang diberi kode “262000.” Dari data Smithsonian, disebutkan Gunung Anak Krakatau telah mengalami 56 kali erupsi, dengan catatan awal terjadi pada tahun 250.


Letusan gunung api adalah salah satu bencana yang sering terjadi. Data yang dipacak dari Ourworlddata, mencatat 500 erupsi berefek signifikan pada 2017. Erupsi signifikan yang dimaksud ialah yang menimbulkan kerugian setidaknya hingga $1 juta.

Chen Guo-ping, dalam makalahnya yang berjudul “Implementation of a Geological Disaster Monitoring and Early Warning System Based on Multi-source Spatial Data: A Case Study of Deqin County Yunnan Province” (2018) menyebutkan bahwa sistem peringatan dini terhadap bencana geologis bisa dibangun dengan memanfaatkan teknologi terkini, misalnya Three-dimensional (3D) laser scanning, interferometric synthetic aperture radar (InSAR), high-resolution imaging, unmanned aerial vehicles (UAVs), global navigation satellite systems (GNSSs), serta bermacam teknologi lainnya seperti The Internet of Things dan intelligent sensors.

Dalam penuturan Guo-ping, The Internet of Things dapat memonitor perubahan struktur internal dan perpindahan mikrokosmik dari fenomena geologis. Lantas, teknologi seperti video surveillance dapat melakukan identifikasi cepat atas perubahan eksternal.

Penelitian Guo-ping mengungkap bahwa sistem peringatan bencana mestinya tak dipahami sebatas seismograf atau teknologi-teknologi lama yang mampu membaca erupsi, gempa bumi, dan bencana geologis lainnya.

Baca juga artikel terkait MITIGASI BENCANA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight