Menuju konten utama

Menengok 3 Crisis Center untuk Keluarga Korban Kecelakaan Lion Air

Keluarga korban setia menunggu di Crisis Center, meski tempatnya tidak begitu nyaman.

Menengok 3 Crisis Center untuk Keluarga Korban Kecelakaan Lion Air
Petugas melakukan pendataan terhadap keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/10/2018). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

tirto.id - Sebuah tenda dadakan didirikan di depan Gedung Angkasa Pura II yang terletak di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sejak Senin (29/10/2018) pagi. Di dalamnya tersedia banyak kursi, televisi, kipas angin, dan colokan listrik. Petugas bersiaga untuk menerima laporan.

Tenda tersebut adalah pusat informasi keadaan genting atau Crisis Center yang disediakan untuk keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di daerah Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Crisis Center akan jadi pusat informasi sekaligus tempat pelaporan keluarga korban.

Data yang diperoleh dari keluarga korban adalah data penting untuk mengidentifikasi jenazah yang telah berhasil diangkut dari laut.

Lion Air sebelumnya telah membuka posko serupa di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Jika dibandingkan, kondisi keduanya cukup jomplang. Crisis Center di Halim terletak di pinggir jalur terminal kedatangan, sementara yang ada di Cengkareng terletak di ruang VIP Terminal 1B. Meski begitu awak media tidak diperbolehkan masuk ke dalam Crisis Center VIP. Dengan demikian tidak diketahui bagaimana proses pelaporan yang terjadi di sana.

Para awak media yang berjaga di Crisis Center Bandara Soekarno-Hatta cuma bisa berjaga di depan ruangan sembari memantau siapa saja yang datang dan pergi.

Lion Air juga membuka satu posko lagi di Hotel Ibis yang terletak di Cawang, Jakarta Timur. Alasan dibukanya Crisis Center di sana karena keluarga korban dari luar Jakarta diberi fasilitas penginapan di hotel tersebut. Berdasarkan pantauan reporter Tirto Selasa (30/10/2018) kemarin, Crisis Center di sana relatif lebih ramai dibanding dua yang lain.

Crisis Center di Hotel Ibis juga jauh lebih layak ketimbang yang ada di Bandara Halim. Setidaknya keluarga korban bisa berlindung dari cuaca panas atau hujan. Mereka diberi satu ruangan khusus untuk menunggu informasi terbaru.

Pemilik maskapai penerbangan Lion Air, Rusdi Kirana, sempat mendatangi Crisis Center itu pada Selasa sore. Ia berada di lokasi selama lebih kurang 15 menit, mengobrol dengan keluarga korban.

Keluarga atau kerabat korban yang melapor tak ada yang mengeluh meski misalnya menunggu di tempat yang kurang nyaman. Salah satunya adalah Nabila (26) yang sempat ikut mendampingi keluarga korban bernama Luthfi Nurramdhani.

"Memang bukan tempat yang bisa dibilang nyaman. Tapi penanganannya kemarin relatif bagus. Tempatnya begitu karena mungkin jumlah pelapornya yang terus bertambah," kata Nabila di Halim kepada reporter Tirto, kemarin.

Menurut Nabila, keluarga Luthfi pun cukup mudah ketika melapor. Nabila mengatakan ia tiba di Bandara Halim bersama keluarga Luthfi pada pukul 16.00 WIB, dan bakda magrib, semua urusan sudah selesai. Mereka pun kembali ke rumah keluarga Luthfi di Bekasi, Jawa Barat.

"Yang di Crisis Center Bandara Halim itu enggak ada masalah. Daftar [nama] penumpangnya ditempel. Ibunya Luthfi sebelumnya sempat ke Crisis Center di Bandara Soekarno-Hatta, tapi memang diarahkan ke Halim," ujar Nabila.

Ditemui terpisah, Asep (45), paman dari seorang korban bernama Vivian Afifa, juga mengatakan, Lion Air melayani keluarganya dari Bandung dengan cukup baik. Hanya saja penginapan cuma tersedia untuk dua orang per keluarga, padahal yang datang bisa lebih banyak dari itu.

"Tapi enggak jadi masalah karena kami juga dibantu pihak-pihak lain," ujar Asep kepada reporter Tirto.

Kabar terakhir dari pihak Rumah Sakit Polri—tempat identifikasi seluruh korban yang ditemukan—menyebut sudah ada 48 kantong jenazah telah datang. Ada 87 bagian tubuh yang belum teridentifikasi.

Baca juga artikel terkait LION AIR JATUH atau tulisan lainnya dari Damianus Andreas

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Rio Apinino