Periksa Fakta

Menelusuri Klaim Vaksin COVID-19 Memakan Ratusan Ribu Korban

Oleh: Irma Garnesia - 27 Oktober 2021
Dibaca Normal 3 menit
Reiner Fuellmich sering menyampaikan klaim-klaim konspirasional terkait COVID-19.
tirto.id - Saat kasus COVID-19 masih cukup parah di Indonesia pada Agustus lalu, dengan kasus terkonfirmasi positif harian mencapai 30 ribu menurut Our World in Data, sebuah akun Facebook dengan nama Robert Kusnadi (tautan) menyebarkan tangkapan layar yang menyebut bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui virus penyebab COVID-19 sama seperti flu biasa, dan bahwa 500 ribu orang di Amerika Serikat (AS) meninggal karena divaksin.

Unggahan tertanggal 12 Agustus 2021 ini tampak mengutip sebuah cuitan di platform media sosial Twitter dari akun bernama @ArdinalRais.

Periksa Fakta Klaim-klaim Menyesatkan Pengacara Jerman Terhadap COVID-19
Periksa fakta klaim-klaim menyesatkan pengacara Jerman terhadap COVID-19. (screenshot/facebook)


Unggahan dengan informasi serupa seperti yang disebarkan oleh Robert Kusnadi juga dapat ditemukan di sini, sini, dan sini. Unggahan-unggahan tersebut juga memuat tangkapan layar dengan narasi yang diklaim berasal dari WHO, yang disandingkan dengan foto pria berkulit putih yang diduga menyebarkan narasi ini.

Lantas, benarkah klaim-klaim yang disebutkan?


Penelusuran Fakta

Tirto melakukan pengecekan dengan mengunjungi link yang disediakan di tangkapan layar. Dalam video tersebut, tampak sebuah protes yang dilakukan di depan Trafalgar Square di London, Inggris, pada 24 Juli 2021 lalu.

Tim Tirto dapat memastikan bahwa protes tersebut bertempat di London dengan melakukan pengecekan key frame video lewat situs YanDex. Tirto lalu menemukan arsip dari cuitan akun Twitter bernama @syayan86 yang menyebutkan bahwa protes tersebut diselenggarakan oleh orang-orang yang antivaksin dan anti-lockdown. Akun @syayan86 sendiri adalah milik Shayan Sardarizadeh, yang telah diverifikasi oleh Twitter sebagai jurnalis BBC yang memiliki spesialisasi dalam menginvestigasi isu terkait disinformasi, teori konspirasi, dan ekstrimisme yang tersebar secara daring.

Menurut cuitan Shayan, dalam protes tersebut hadir seorang mantan perawat sekaligus aktivis antivaksin, Kate Shemirani, mantan anggota senat London David Kurten, dan seorang pengacara Jerman, sekaligus pria yang tampil di tangkapan layar Facebook, Reiner Fuellmich. Fuellmich sendiri menyampaikan pendapatnya lewat layar besar yang disediakan saat aksi protes. Ia tidak berada di London saat itu.

"Vaksinasi ini adalah terapi gen eksperimental tanpa studi ilmiah sebagai dasarnya," kata Fuellmich saat itu. Ia juga menambahkan, "Kemungkinan besar, akan ada 500.000 kematian setelah vaksinasi di Amerika Serikat saja."

Selain menyampaikan hal tersebut, Fuellmich pada dasarnya juga menyampaikan semua narasi yang juga disampaikan para penganut teori konspirasi pada umumnya; seperti pandemi yang telah direncanakan, keraguan terhadap tes polymerase chain reaction (PCR) yang tidak bisa mendeteksi infeksi, dan bahwa orang-orang kaya seperti Bill Gates punya andil di balik pandemi ini.

Terlepas dari poin-poin yang disampaikan Fuellmich, kali ini Tirto hanya akan mengecek klaim bahwa WHO menyampaikan bahwa COVID yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 sama dengan flu biasa dan sebanyak 500 ribu warga AS meninggal karena vaksin.

Perlu diketahui bahwa beberapa klaim Fuellmich pernah dipatahkan oleh lembaga pemeriksa fakta AFP, di antaranya adalah bahwa virus Corona direncanakan oleh para filantropis dan elit global, serta klaim bahwa virus Corona adalah tipuan terhadap kemanusiaan.

Fuellmich juga terdaftar dalam perusahaan legal Elders Without Borders yang pernah menuntut pemerintah Kanada atas "kejahatan terhadap kemanusiaan" yang diklaim disebabkan oleh tindakan pemerintah dalam penanganan virus Corona. Pengadilan Tinggi Ontario menolak kasus tersebut berdasarkan ketentuan yang menyebut aduan tersebut "sembrono".

Kemudian Tirto menelusuri klaim Fuellmich bahwa COVID sama seperti flu biasa. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, influenza (flu) dan COVID-19 memang sama-sama merupakan penyakit pernapasan menular, tetapi disebabkan oleh virus yang berbeda. COVID-19 disebabkan oleh infeksi virus Corona yang pertama kali diidentifikasi pada 2019, sedangkan flu disebabkan oleh infeksi virus influenza.

WHO sendiri pertama kali mengetahui virus baru ini pada 31 Desember 2019, menyusul laporan sekelompok kasus 'virus pneumonia' di Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok.

Menurut CDC, COVID-19 tampaknya menyebar lebih mudah daripada flu. Namun, karena semakin banyak orang yang divaksinasi sepenuhnya terhadap COVID-19, penyebaran virus yang menyebabkan COVID-19 diperkirakan akan melambat.

Menurut CDC pula, dibandingkan dengan flu, COVID-19 dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius pada beberapa orang. COVID-19 juga dapat memakan waktu lebih lama dari influenza sebelum seseorang mulai menunjukkan gejala. Orang yang terinfeksi COVID juga dapat menularkan virus tersebut dalam jangka waktu yang lebih lama.

Mengingat bahwa beberapa gejala flu, COVID-19, dan penyakit pernapasan lainnya dapat dikatakan serupa, perbedaan antara keduanya tidak dapat dibuat berdasarkan gejala saja. Pengujian diperlukan untuk mengetahui apa penyakitnya dan untuk memastikan diagnosis. Orang dapat terinfeksi flu dan virus penyebab COVID-19 secara bersamaan dan memiliki gejala influenza dan COVID-19.

Selanjutnya, klaim bahwa 500 ribu orang mati karena vaksinasi COVID-19 juga tidak tepat. Menukil dari Our World in Data, kematian akibat COVID-19 di AS sendiri mencapai 737,3 ribu orang per 25 Oktober 2021.

Namun, menukil laman CDC, laporan terkait kematian setelah vaksinasi COVID-19 cukup jarang ditemukan di Amerika. Lebih dari 408 juta dosis vaksin COVID-19 telah diberikan di Amerika Serikat mulai 14 Desember 2020 hingga 18 Oktober 2021. Selama waktu ini, Sistem Pelaporan Kejadian Tidak Diinginkan Vaksin (VAERS) telah menerima sebanyak 8.878 laporan kematian (0,0022%) di antara orang-orang yang menerima vaksin COVID-19. Kasus kematian setelah vaksinasi dapat dikatakan jarang sebab persentasenya yang relatif kecil.

Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (FDA) Amerika Serikat sendiri mewajibkan penyedia layanan kesehatan untuk melaporkan kematian pascavaksinasi COVID-19 kepada VAERS, meskipun tidak jelas apakah vaksin sebagai satu-satunya faktor yang menyebabkan kematian. Laporan efek samping kepada VAERS setelah vaksinasi, termasuk kematian, tidak selalu berarti bahwa vaksin menyebabkan masalah kesehatan. Tinjauan informasi klinis yang tersedia, termasuk sertifikat kematian, otopsi, dan catatan medis, belum menetapkan hubungan sebab akibat antara kematian dengan vaksin COVID-19.

Oleh karena itu, klaim Fuellmich yang menyebutkan bahwa kematian akibat vaksin yang mencapai 500 ribu kasus tersebut tidak tepat, sebab laporan kasus kematian pasca vaksinasi pada VAERS di Amerika hanya sebanyak 8.878 kasus atau sebesar 0,0022% dari 408 juta dosis vaksin dari pemantauan pada 14 Desember 2020 hingga 18 Oktober 2021.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, tak benar bahwa COVID-19 sama dengan flu biasa dan kematian pascavaksinasi COVID-19 di AS tidak mencapai angka 500 ribu kasus. Klaim-klaim yang disampaikan pengacara Jerman Reiner Fuellmich bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6288223870202 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight