Menelusuri Bekas Rumah Raja Keraton Agung Sejagat di Kampung Bandan

Oleh: Adi Briantika - 18 Januari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Raja Keraton Agung Sejagat Totok Santoso pernah tinggal di kontrakan pinggir rel, di Kampung Bandan, Pademangan, Jakarta Utara.
tirto.id - Saya menuruni bibir peron Stasiun Kampung Bandan, Jumat, 17 Januari 2020. Lantas menyusuri bebatuan sepanjang bantalan rel, ke arah barat. Semak setinggi 1,5 meter di kiri saya menjadi pemisah antara rel, saya, dan Kampung Daop Bawah.

Daop Bawah adalah sebutan Kampung Bandan di Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, yang berada lebih rendah dari rel. Jika rel yang saya lewati terus disusur, maka bisa tiba di Stasiun Jakarta Kota.

Saya berhenti usai 500 meter perjalanan, di seberang dinding putih setinggi 2,5 meter dengan kawat melingkar di atasnya.

Tiga pohon pisang dengan sebagian daunnya mati, masih kokoh menjejak tanah yang dipenuhi sisa-sisa daun kering, sampah-sampah domestik rumah tangga dan kerikil. Satu meter dari pohon pisang deret terakhir, ada dinding tercoak. Dinding itu sebelumnya berdiri bedeng berukuran 2 meter x 3 meter, dua lantai.

Hingga tujuh tahun lalu, bedeng itu masih ada dan ditempati oleh Totok Santoso dan seorang perempuan yang namanya tidak diketahui. Namun PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengambil alih lahan di atas pemukiman tersebut pada 2015, lantaran stasiun itu akan beroperasi kembali setahun berikutnya.

Pada 2016, Kampung Bandan terbakar. Totok dan warga lain yang berada di pinggir rel pun mengungsi.



Ketika warga pindah ke Daop Atas, Totok lenyap, tak ada kabar. Tidak ada yang tahu ia ke mana hingga media memberitakan penangkapan raja dan permaisuri Keraton Agung Sejagat, pada Selasa (14/1/2020).

Totok ialah raja Keraton Agung Sejagat, sementara Fanni Aminadia jadi ratu kerajaan yang berlokasi di Purworejo, Jawa Tengah itu. Mereka mendeklarasikan keraton pada Minggu (12/1/2020) dan miliki 400-an pengikut.

"Saya tak ingat dia siapa, sampai ada viral di media, Totok Santoso. Dia pernah minta bikin surat pengantar ke saya," ucap Abdul Manaf, Ketua RT012/005, Kampung Bandan, ketika saya temui, Jumat (17/1/2020).

Manaf mengaku kaget ketika Totok pernah jadi warga Daop Atas. Ia tak menyangka lelaki berusia 42 tahun itu jadi raja, padahal petugas bank pernah menyambangi kediaman Manaf untuk menanyakan keberadaan Totok atas dugaan utang.

"Totok punya utang di bank, nominalnya tidak disebutkan. Tapi dia bukan berutang Rp1,3 miliar seperti yang diberitakan. Orang yang punya utang miliaran itu lelaki asal Surabaya," jelas Manaf.

Dia melihat kertas yang ditunjukkan pegawai bank, ada foto Totok. Ia mengira lelaki itu keturunan Cina Pontianak.

Berdasar penuturan petugas bank, Manaf menirukan, Totok memiliki toko kelontong di daerah Angke, Jakarta Barat. Duit itu diduga untuk modal usaha. Tapi dia tidak pernah ke toko tersebut. Tidak diketahui pula siapa perempuan yang hidup bersama Totok.

Daop Atas jadi tempat pelarian 'orang bandel', lanjut dia, banyak pendatang yang tidak ber-KTP menghuni daerah padat penduduk itu. Maka, bekas pegawai kelurahan setempat 'membantu' warga Daop Atas untuk memiliki KTP.

Totok pernah ke rumah Manaf ditemani oleh petugas bernama Ganda, sekitar tahun 2008-2009, untuk dibuatkan surat pengantar.

Manaf tidak punya lagi berkas kependudukan Totok karena Kampung Bandan kebanjiran. Dia hanya bertemu sekali dengan Totok, maka tidak tahu bagaimana keseharian pria itu.

Bekas Rumah Raja Keraton Agung Sejagat
Ramusin menunjuk ke bekas bedeng 2 meter x 3 meter, dua lantai, yang ditempati Totok Santoso. Kini bangunan pinggir rel Stasiun Kampung Bandan, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, telah digusur dan dibangun dinding pembatas. tirto.id/Adi Briantika




Sementara, ketika menempati bedeng, Totok mengenal Ramusin, Ketua Kelompok Daop Atas sekaligus Ketua RT013/05.

Ramusin menuturkan, kontrakan yang disewa Totok hanya Rp150 ribu per bulan. "Kontrakan punya Pak Dasman," kata dia.

Ia pun tak mengetahui pekerjaan Totok dan dinilai tiada pengaruh kuat untuk merekrut pengikut Keraton Agung Sejagat. Lagi-lagi, saya tidak menemukan jawaban siapa perempuan yang bersama Totok.

"Apakah mirip dengan ratu keraton?" Ramusin menggelengkan kepala.

Interaksi sosialnya pun sewajarnya. "Biasa saja, tidak ada yang heboh. Tidak pernah buat masalah," imbuh Ramusin.

Warga setempat baru sadar itu Totok melalui pemberitaan. Ketika saya menyusuri gang warga bersama Ramusin, warga pun berceletuk: "Mau ke rumah raja, ya, Mas?" Saya mengiyakan.

Jika Totok menempati Daop Bawah kini, ia harus masuk melalui Jalan Mangga Dua VIII ke arah Stasiun Kampung Bandan, ada gapura dan plang stasiun. Sedangkan menuju Daop Atas, dia harus melalui gang di belakang Pasar Pagi Mangga Dua. Keduanya hanya bisa dilalui motor atau berjalan kaki.

Warga yang ingin menjemur pakaian, bisa melintangkan tali di bagian belakang dinding rumah yang terbuat dari seng, batako atau triplek. Saya mendapati wajan, dandang yang digantung di dinding samping rumah. Misalnya saya menyelonjorkan kaki, maka pejalan harus melompati atau memiringkan badan untuk melewati saya.

Jalanan di gang Daop Atas didominasi kerikil, tapi ada warga yang menaruh karpet usang untuk jadikan alas agar batu, paku, atau tulang ayam tak menyolok tapak kaki. Selain itu, sikap Totok kontras dengan keadaan yang saya temui.

Antarwarga saling menyapa ketika papasan, yang asyik berceloteh di warung kopi beberapa kali ditegur pengendara motor untuk sekadar menanyakan jam berapa mereka akan bepergian.

Bahkan seorang pedagang makanan tak perlu lagi pemuda itu ingin pesan apa lantaran keseringan minum di warungnya.

Bekas Rumah Raja Keraton Agung Sejagat
Ramusin menunjuk ke bekas bedeng 2 meter x 3 meter, dua lantai, yang ditempati Totok Santoso. Kini bangunan pinggir rel Stasiun Kampung Bandan, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, telah digusur dan dibangun dinding pembatas. tirto.id/Adi Briantika




Seorang warga Daop Bawah, Sugiyono, memperkuat pendapat Ramusin. "Selama di sini, dia (Totok) biasa saja. Asing, tidak terlalu dikenal," ucap dia.

Bila kerja bakti warga berlangsung, kata Sugiono, sang raja tak pernah turun tangan. Tak tahu pula ihwal pekerjaannya.

Sontak Sugiyono kaget ketika Totok diringkus kepolisian, ia berusaha meyakinkan dirinya siapa yang dia lihat.

"Ini orang yang mengaku raja, sepertinya saya pernah tahu. Saya lihat (tegaskan) betul atau tidak (itu Totok). Lulusan tidak seberapa, kok bisa jadi raja?" ucap dia.

"Di sini saja mengontrak di rumah gubuk. (Penghuni) rumah gubuk bisa jadi raja? Ternyata penipuan." Meski satu Daop, keduanya tidak bersosialisasi lebih, Sugiyono menyatakan kalau Totok kerap melintas saja di sekitar pemukiman.

Totok punya sebutan Sinuwun, sementara Fanni dipanggil dan dikenal Kanjeng Ratu Dyah Gitarja, oleh pengikutnya. Mereka bukan pasutri, melainkan teman, serta deklarasikan keraton di Desa Pogung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Keduanya diketahui memiliki KTP dengan domisili DKI Jakarta dan tinggal di indekos yang ada di Sleman, DI Yogyakarta.

Penyidik kepolisian memiliki bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan keduanya sebagai tersangka. Menurut Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, keduanya memiliki motif untuk menarik dana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya.

"Dengan simbol-simbol kerajaan, tawarkan harapan dengan ideologi, kehidupan akan berubah. Semua simbol itu palsu," ucap Rycko.

Jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah bukan menangkap Totok dan Fanni di istananya yang ada di Purworejo, tapi di sekitar daerah Wates, Yogyakarta.

Keduanya kini jadi tersangka dan dijerat Pasal 14 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang penyebaran berita bohong yang mengakibatkan keonaran serta Pasal 378 KUHP tentang penipuan. Sejumlah barang bukti disita, termasuk dokumen yang diduga dipalsukan pelaku.

Totok melengkapi dirinya dengan dokumen palsu, termasuk kartu dari PBB untuk meyakinkan bahwa dirinya memiliki kredibilitas sebagai seorang raja. Rycko menyebut ada sekitar 150 orang terpengaruh dan akhirnya menjadi pengikut Totok.

Pasangan itu menjanjikan jika siapapun bergabung jadi bagian Keraton Agung Sejagat akan terbebas dari malapetaka dan bencana, serta meraih kehidupan yang lebih baik, tapi keduanya kini dipenjara.

CABANG KERATON AGUNG SEJAGAD
Warga memotret batu prasasti di sanggar cabang Keraton Agung Sejagad, Desa Brajan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (17/1/2020). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/ama.

Baca juga artikel terkait KERATON AGUNG SEJAGAT atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Abdul Aziz
DarkLight